Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
120. Pulang


__ADS_3

Rasul SAW bersabda:


 ”Hak suami terhadap isterinya adalah isteri tidak menghalangi permintaan suaminya sekalipun semasa berada di atas punggung unta , tidak berpuasa walaupun sehari kecuali dengan izinnya, kecuali puasa wajib. Jika dia tetap berbuat demikian, dia berdosa dan tidak diterima puasanya.


Dia tidak boleh memberi, maka pahalanya terhadap suaminya dan dosanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika dia berbuat demikian, maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali , sekalipun suaminya itu adalah orang yang alim.” (HR Abu Daud)


Ilham duduk disudut mesjid tak jauh dari apartemen mertuanya. Mendengar ceramah dari salah satu yang mereka sebut ustad. Kebetulan yang dibahas adalah kaidah dalam rumah tangga. Salah satu yang menjadi pembahasan adalah ketika istri pergi tanpa izin suami.


Pas seperti yang menjadi permasalahannya saat ini. Ketika Tiara pergi tanpa izin dirinya, kalau pergi ke rumah orangtuanya dia tidak melarang. Tapi istrinya malah ikut perkumpulan yang menurutnya tidak penting.


Ilham sadar kalau dirinya masih banyak kekurangan termasuk dalam mendidik istrinya. Selama ini dia selalu menuruti semua keinginan Tiara. Walaupun kadang mendapat teguran dari mamanya. Karena menurut mama Mila istri yang terlalu dimanja akan melunjak nantinya. Bagi Ilham apa yang dilakukan masih standar-standar saja, dia malah menganggap ketakutan sang mama terlalu berlebihan.


Flashback on


"Mas"


Tiara memeluk punggung Ilham yang masih mendiaminya. Merasa sedang didiamkan Tiara melepas pelukannya pelan-pelan. Mata coklatnya berputar kebawah, seolah tahu penyebab kediaman suaminya.


"Ti, kamu aku antarkan ke mama Fatimah, ya."


Ilham beranjak dari ranjang hotel yang baru saja mereka datangi. Menurut Ilham, lebih baik mengungsi ke hotel dulu. Karena ini masalah rumah tangganya, Ilham tak ingin mereka tahu masalah ini.


"Mas."


Terdengar suara lirih. Suara yang merasa sakit saat mendengar suaminya akan membawanya ke rumah papa Adolf. Tangannya terus saling melipat tanda kegelisahan. Tiara bangkit mengikuti suaminya.


"Maaf"


Ilham berbalik menatap istrinya yang masih menunduk. Pelan-pelan dia mengangkat wajah yang wanita yang sudah mengisi hari-harinya.


"Aku ini siapa?"


"Maksudnya?"


"Aku ini siapa buatmu, siti?"


"Kamu itu lelaki yang mengisi hatiku sejak kamu pacaran sama Gita, Kamu itu lelaki yang buat aku bertahan hingga menggeserkan sosok jonathan sebagai menantu pilihan ibu, tapi kamu juga lelaki yang pernah buat aku hancur saat aku tahu kamu merusak sahabatku, kamu juga yang membuatkan sakit saat kamu masih mencintai gita, kamu juga buat aku sempat menyerah karena kamu bertunangan dengan kak jihan."


"Seburuk itukah aku dimatamu? Aku tidak membahas masalah kita dimasa lalu. Yang aku mau tanya, aku posisiku sekarang?"


Tiara menundukkan kepalanya. Dia takut menatap wajah suaminya yang sedang murka.


"Kamu suamiku. Lelaki yang sudah menghalalkan aku. Kamu adalah Imamku." jawabnya mulai terisak.

__ADS_1


"Mas, maafkan aku. Bukan maksudku tidak mematuhimu. Aku hanya ingin refreshing. Aku bosan dirumah sendirian, mas.Tadinya aku juga tidak mau datang kesana. Tapi Mbak Lani datang menjemputku. Aku pikir kasihan mbak Lani sedang hamil capek-capek menjemputku. Makanya aku mau ikut.


Kalau aku tahu mereka mengadakan arisan berondong, nggak akan mau aku ikut mereka."


"Tapi setidaknya kamu bilang sama aku,ti! Aku ini suami kamu. Semua yang terjadi sama kamu adalah tanggung jawab aku. Bukan tanggung jawab orangtuamu."


"Aku sudah menghubungi kamu, mas. Tapi nggak pernah kamu angkat. Dua hari aku kesepian dirumah, mas.


Sedangkan banyak istri yang bersuamikan dokter. Sesibuk apapun mereka masih punya waktu untuk anak dan istrinya.


Apa salah kalau aku ingin sekali-sekali refreshing? Apa salah kalau aku juga butuh suamiku yang super sibuk ini? Aku cuma mau kamu punya waktu buat aku, mas. Itu saja."


" Jadi karena kamu merasa sudah menghubungiku dengan seenaknya kamu main pergi saja. Ti, apa pernah aku ngelarang kamu? Enggak, kan. Tapi setidaknya kamu izin sama aku, ti. Kamu lagi hamil, kalau terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita, aku lah orang yang akan disalahkan keluargamu."


Ilham menghempas nafas panjang. Sesekali melirik sang istri yang masih terlihat pucat dan lemas.


"Kamu pikir kejadian tadi tidak bikin aku sedih, mas. Rasanya masih menari-nari lelaki itu menarik tanganku dengan paksa, hanya karena merasa sudah dibayar mbak Lani. Kamu pikir aku sudah bisa bernafas lega karena selamat dari kejadian tadi. Enggak, mas! Tapi disaat aku sedang butuh dukungan atau support kamu malah berbicara seolah menuduhku."


Ilham pergi keluar kamar untuk menenangkan diri. Selama dikamar bawaannya emosi mengingat yang dilakukan Tiara.


Ya Allah maafkanlah hamba. Hamba bukan suami yang baik untuk siti. Maafkan hamba yang tadi emosi padanya.


Hamba belum bisa mendidik istriku menjadi istri yang shalehah.


📞 Mas, ayo kita pulang ke rumah papa Adolf. Mungkin lebih baik kita saling intropeksi diri dulu.


Pulang?


Ilham hanya mematung saat istrinya meminta pulang ke rumah orangtuanya.


Kakinya melangkah berbalik ke kamar menemui istrinya.


klik


"Wah, kalian sudah pulang? sini nak duduk. Mama sudah siapkan menu spesial buat anak mama." Mama Fatimah menyambut kedatangan sang putri dan menantunya.


Langkah mereka berpindah dari depan pintu menuju ruang makan. Setelah mendudukan istrinya, ilham berpindah ke arah kulkas, menegak air es sambil menatap kearah Tiara.


Mata mereka saling bertatapan dari jauh. Tiara tahu hati suaminya masih panas dengan kejadian semalam. Dia cuma berharap suaminya bisa bersikap biasa saja didepan orangtuanya.


Ilham yang masih berdiri didepan kulkas sambil menenteng botol mineral. Dia mencemaskan memar yang ada diwajah istrinya, takut kalau mertuanya berpikiran macam-macam.


"Anak papa sudah pulang." Adolf muncul mengecup kening sang putri.

__ADS_1


Ilham tertegun melihat kedatangan Adolf. Dia takut Adolf melihat memar di wajah istrinya. Memar yang tak sengaja dia lakukan, saat Tiara mencegah dirinya menghajar lelaki "suami brondong" istrinya. Ilham menunduk pasrah. Pasrah jika harus menghadapi amukan papa mertuanya.


"Ma ... Pa ... Ibu ... Ilham mau ke mesjid dulu. Ini sudah mau Ashar."


Flashback Off


Ilham duduk dipelataran mesjid. Menunggu waktunya azan ashar. sambil menunggu Ilham duduk mendekati seorang lelaki. Lelaki yang diyakini seorang ustad.


"Assalamualaikum ustad" Ilham duduk dihadapan pak ustad.


"Waalaikumsalam, anak muda. Ada yang bisa saya bantu?"


llham membetulkan gaya duduk agar terlihat lebih sopan.


"Nama saya Ilham pak. Saya mau sedikit minta pendapat pak tentang masalah yang saya hadapi."


Dengan penuh wibawa pak ustad tersenyum.


"Silahkan nak, mungkin ada yang bisa saya bantu"


ilham menghembus nafas beratnya. Berharap ada solusi dengan permasalahannya.


"Jika seorang istri keluar rumah tanpa izin suami. Apakah yang harus suami lakukan?"


"Begini ya, saudara Ilham.


Allah peringatkan wanita untuk tetap berada didalam rumah.


Rasul SAW bersabda: “Tidaklah istri menyakiti suami di dunia kecuali ia bicara pada suami dengan mata yang berbinar, janganlah sakiti dia (suami), agar Allah tidak memusuhimu, jika suamimu terluka maka dia akan segera memisahkanmu kepada Kami (Allah dan Rasul).” (HR Tirmidzi dari Muadz bin Jabal).


Apabila seorang istri meminta izin kepada suaminya untuk pergi ke masjid, lalu suaminya melarang nya untuk pergi, maka taatilah perkataan suami, suami tidak berdosa melarang istri untuk pergi ke masjid, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah bersabda kepada para wanita:


“Shalatnya salah seorang di makhda’-nya (kamar khusus yang digunakan untuk menyimpan barang berharga) lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Dan shalatnya di kamar lebih utama daripada shalatnya di rumahnya. Dan shalatnya di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid kaumnya. Dan shalatnya di masjid kaumnya lebih utama daripada shalatnya bersamaku”. (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahih keduanya.Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al-Mar-ah Al-Muslimah Hal .155)


Kaki ilham sudah berada didepan pintu apartemen mertuanya.


"Apapun alasannya, tidak etis seorang suami melakukan ini pada istrinya."


"Tapi, pa.Dia tidak sengaja, dia melakukan itu untuk membela aku, pa."


Kaki Ilham langsung lemas seketika.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2