Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
70. Tuan Ford 2


__ADS_3

Siti masih duduk termenung memikirkan yang terjadi saat ini. Air matanya sudah mengering, tapi perihnya belum sembuh. Saat dirinya mengetahui bahwa dia lahir bukan keinginan orangtuanya. Dirinya dititipkan ke Ibu Aisyah karena gendernya tak sesuai keinginan keduanya.


Tangan Siti memencet sebuah nomor.


Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi.


Siti mengumpulkan tenaga untuk melampiaskan kekesalannya


Kenapa dia tidak bisa dihubungi? Saat seperti ini aku butuh seseorang sebagai tempat curhat. Tapi yang dibutuhkan tak punya waktu.


Dulu kalau ada masalah aku selalu curhat sama Gita dan Kak jo.


Kak jo! Apakah dia masih mau mendengar curhatku?


Aku rindu Gita kalau saat seperti ini. Bahkan disaat terakhirmu aku tidak bisa melihatmu. Maafkan aku, Gita.


Siti mengumpulkan tenaga untuk kembali ke apartemen. Siap tidak siap, dia harus menerima kenyataan kalau mereka adalah orangtua kandungnya.


Sekali lagi Siti mencoba menghubungi ilham. Tapi tetap saja lelaki itu tidak bisa dihubungi. Berbagai pikiran buruk mulai menghiasi otaknya. Kakinya terus melangkah hingga ke kediamannya.


"Nak.." Panggil tante Fatimah


Panggilan itu tak digubrisnya. Suara bantingan pintu yang terdengar keras. Hingga terdengar isakan tangis dari dalam kamar.


Terkadang kita butuh seseorang untuk berbagi cerita, dalam suka maupun duka. Aku sadari semenjak kembali pada ilham, pertemananku sedikit demi sedikit menjauh.


Entah mereka punya kesibukan sendiri. Mungkin mereka ...


Ah, seingatku sepanjang aku tinggal dijakarta aku cuma dua sahabat, Gita dan Kak Jo.


Mereka yang selalu ada buatku, setiap saat. Tapi sekarang mereka pergi meninggalkanku sendiri.


Siti terus mengingat kenangannya bersama orang-orang terdekatnya. Entah kenapa sekarang dirinya merasa dijauhi, padahal dirinya tak pernah menjauhinya.


Lamunannya buyar saat mendengar ketukan pintu kamarnya. Dengan malas Siti membuka pintunya.


"Ti..Kamu masih marah sama mama." Ucap tante Fatimah.


"Maafkan mama ya, nak..." tapi tetap saja yang diajak ngobrol diam seperti patung.


Siti mendaratkan bokongnya di empuknya ranjang. Perasaannya masih tak menentu, apalagi ilham seharian ini tak bisa dihubungi.

__ADS_1


Siti memeluk tante Fatimah "Mama.." sahutnya.


"Sekali lagi, nak..."


"Ma .... ma." Tante Fatimah langsung memeluk siti. Bahagianya saat mendengar anaknya memanggil dirinya dengan sebutan mama.


Klik


Sebelum acara lamaran


Ilham baru saja selesai memeriksa pasien di sebuah kamar kelas 2. Akhir-akhir dia disibukkan dengan pasien covid yang membeludak di rumah sakit.


Tubuhnya merasa lelah hingga di memilih kembali ke ruang kerjanya. Decitan pintu pun terdengar, ilham melihat seorang lelaki duduk di sofa depan meja kerjanya.


Dimata ilham lelaki itu masih asing, wajah bule dengan rambut yang mulai memutih, tapi tetap tampan. Dia menebak lelaki itu berusia sekitar 50-an.


"Silahkan duduk, pak. Ada yang bisa saya bantu, atau mempunyai keluhan pada kesehatan anda?"


"Iya, dok. Akhir-akhir ini saya merasa kurang sehat. Makanya saya mau periksa ke dokter. Saya sering mendengar orang-orang merekomendasikan kinerja anda."


Puji pria itu sembari menyunggingkan senyuman penuh arti.


Lelaki itu mengikuti instruksi sang dokter untuk diperiksa. Dengan tatapan teduhnya ilham memeriksa sang pasien yang sedari tadi belum sempat mengenalkan diri.


Selesai memeriksa ilham mengajak sang pasien kembali ke meja.


"Bapak tidak papa, hanya perlu istirahat saja. jangan terlalu forsir kerjanya."


"Bagaimana saya bisa santai, dok? Saya baru tahu pacar anak saya pernah melakukan asusila ke wanita lain. Dua kali masuk penjara pula." Si bapak mulai curhat.


Ilham mencoba menjadi pendengar untuk pasiennya. Terlihat kecemasan di wajah lelaki didepannya. Menurutnya, wajar seorang ayah khawatir pada putrinya. Apalagi riwayat pacar anaknya seperti itu.


"Pak, saya boleh saran." Ilham mencoba mengajukan saran buat pasien.


Ilham berkaca dengan apa yang dialaminya sendiri. Terjebak dengan rencana Raisa, dia juga tak menampik rasa cemburunya saat Gita datang bersama Ronal. Sehingga dia meminum apa yang disodorkan Raisa. Tapi soal masuk penjara, dia masuk penjara karena menyelamatkan Gita saat ketakutan melihat ronal. Begitu pun saat dia menghajar Alex karena mencoba melecehkan siti.


Karena beberapa kejadian itu imagenya jadi buruk.


"Dokter!" Bapak didepannya membuyarkan lamunannya.


"Eh.. iya.. maaf. Sampai dimana pembicaraan kita tadi." Ilham mencoba mengalihkan pikirannya dari kenangan buruknya.

__ADS_1


"Anda tadi mau memberi saran."


"Iya... Begini, pak. Maaf nama anda siapa?"


"Oh iya, nama saya Adolf."


"Oh, oke Pak Adolf. Begini pak, setiap orang punya masa lalu yang kelam, jangan hanya karena masa lalunya bapak menjudge buruk pacar anak bapak. Beri kesempatan lelaki itu membuktikan kalau memang dia sayang sama anak bapak. Kalau memang dia tidak bisa menepatinya, bapak harus memisahkan mereka. Tapi jangan pake cara kasar, beri pengertian pada putri bapak."


Tuan Adolf mendengar penjelasan ilham dengan seksama. Sedikit membenarkan dengan ucapan lelaki itu. Tak lama sebuah kopi terhidang didepannya, diantar seorang OB. Sambil menyeruput kopinya Tuan Adolf nampak terkesima saat melihat ada lambang Allah di dinding praktek.


"Beberapa hari ini, saya mendengar kalau lelaki itu menghamili seorang perempuan. Lalu saya harus bagaimana dokter?"


Ilham menghela nafas panjang. Tangannya sedikit gemetar ketika mendengar hal itu.


"Suruh putri anda meninggalkan lelaki bejat itu? Kasih pengertian pada putri anda. Jangan dikasari atau dimarahi, karena itu malah membuat putri anda tambah membangkang."


"Aku rasa aku sudah mengatakan pada lelaki itu agar menjauhi putri saya." Jawab Adolf bersemangat lalu berdiri didepan Ilham.


"Perkenalkan nama saya Adolf Ford. Ayah kandung dari Tiara Ford. Terimakasih dengan janji anda barusan bahwa akan melepaskan putri saya. Saya minta dengan hormat Dokter Ilham Ramadhan untuk tidak lagi menemui Tiara atau Siti.


Oh ya saya sudah memiliki calon menantu yang lebih baik dari anda. Paling tidak calon menantu saya tidak memiliki catatan kriminal seperti anda."


"Pa...pak ... saya ...saya.." Ilham tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Anehnya tubuhnya serasa ditujam berkali-kali.


"Saya mencintai siti sejak dia masih menjadi OB sampai saat ini walaupun dia sudah jadi orang kaya. Saya tahu, saya bukan lelaki sempurna untuk siti. Tapi asal anda tahu, saya tidak akan pernah menyerah untuk menghalalkan siti. Kecuali siti sendiri yang meminta saya berhenti." Ucap ilham dengan lantang.


Tuan Adolf hanya tersenyum penuh arti. Kakinya melangkah keluar dari ruang kerja ilham. Meninggalkan ilham yang sudah pucat setelah berbicara lantang padanya.


Bagiku sekali kriminal, selamanya tetap kriminal. Mau taruh dimana muka saya kalau punya menantu seperti dia.


####


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2