
POV ilham
Dua hari sebelum siti melahirkan.
"Aauuuuhhh."
Suara rintihan kudengar saat kami sedang beristirahat malam.
"Kenapa, sayang?"
"Mereka lagi berantem kayaknya, sakit banget, mas."
Kupegang perut Siti yang sudah membesar. Keras sekali, strechmart yang melingkar menghilangkan kemulusan tubuhnya.
"Nak, jangan berantem, ya. Kasihan mama tuh kesakitan. Akur dong, masa anak papa suka berantem. Mmmmuuuah"
"Mas geli, ah."
Aku tahu semenjak kehamilan 7 bulan keatas, dia sering menolak aku mencium perutnya. Itu kan sebagai rasa sayangku padanya. Dia bilang geli. Tidak tahan dengan bibirku, tapi setiap aku melahap bibirnya dia tidak pernah menolak.
"Mas, mereka berhenti setelah kamu bilang seperti itu. Sepertinya mereka memang anak papa. Aku yakin kalau sudah lahir mereka lebih menempel sama papanya ketimbang mamanya."
"Kamu istirahat, ya sayang. Udah mau pagi nih. Anak papa istirahat ya."
Tak lama kulihat Siti terlelap indah. Aku menatap wajah itu. Wajah yang tidak kusangka akan menjadi ibu dari anakku, wajah yang selalu sabar menghadapi aku yang katanya tidak peka, wajah yang selalu membuat aku semangat menjalani hari-hari. Susah aku ungkapan dengan kata-kata.
Kudekatkan wajahnya "Terimakasih sayang, terimakasih mau menjadi ibu dari anakku." Bisikku.
Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Sebuah status baru dimana aku bukan sekedar membagi cintaku pada istriku saja, tapi juga untuk anak-anakku. Aku akan menjadi panutan keluarga, aku akan belajar menjadi seorang ayah dari orang-orang yang terlebih dahulu berpengalaman, belajar menjadi papa Pramono yang menerimaku walaupun aku bukan anak kandungnya, belajar dari papa Adolf bagaimana protektifnya seorang ayah pada anak perempuannya, belajar dari kak Alam yang kuat menjadi orangtua tunggal. Mereka bisa menjadi panutanku.
"Mas."
"Iya, sayang"
"Kamu sudah siapin nama anak kita?"
"Sudah."
"Siapa namanya?"
"Alexander Pratama Ramadhan, Alexandra Pratami Ramadhan. Gimana?"
Kulihat Siti datar saja menanggapinya. Pada akhirnya dia menggeleng menandakan ketidaksetujuannya dengan nama yang kuajukan.
"Namanya terlalu kebaratan, mas. Yang biasa saja lah, tapi memilki arti yang bagus."
Huft
"Terserah kamu aja, ti. Perasaan apa yang aku lakukan salah terus, nggak ada yang bener dimatamu." Aku memilih merebahkan diri daripada kalah debat dengan bumil yang satu ini.
"Idiiih, papa ngambek tu, nak." Kudengar suaranya menertawakan aku.
Aku ingin begini.
Aku ingin begitu
Ingin ini
Ingin itu
__ADS_1
banyak sekali.
Bu...perutku...." Pekik Siti
Suara erangan kesakitan istriku membuat aku tersadar. Ya Allah apakah dia akan melahirkan
Semua panik saat mendengar rintihan Siti.
"Ham, Kamu bawa siti ke rumah sakit. Biar barang perlengkapan bayinya ibu yang siapkan." Titah ibu Aisyah, ibu mertuaku yang satu ini memang lebih sigap daripada ibu kandungnya Siti. Aku rasa dia lebih paham karena sejak kecil ibu Aisyahlah yang membesarkan istriku.
"Maaaas....sakit!" Pekik Tiara.
"Sabar, ti. Kita akan kerumah sakit. Indro bisa tolong cepat jalannya."
"Iya den. Ini sudah cepat den, kalau terlalu ngebut nanti kasihan non Tiara." jawab Indro.
Aku berusaha menenangkan Siti yang masih merintih. Sengaja kuminta Indro yang membawa mobil karena aku ingin menemani siti duduk dibelakang. Sebentar sebentar kulihat dia sudah sedikit mengeden, menarik nafas.
"Cepat, ndro. Ntar keburu brojol!" titahku.
Akhirnya aku mencoba menyanyikan sholawat untuk menenangkannya. Aku pernah mendengar kalau cara itu ampuh, dan bisa membuat bayi kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Sholatullah Salamullahi
‘Alaa Thoha Rosulillah
Sholatullah Salamullahi
‘Alaa Yasiin Habibillah
Tawasalna Bibismillah
Wabil Hadi Rosulillah
Bi Ahlil Badri Ya Allah
Ajaibnya kontraksi sedikit berkurang dari sebelumnya.
"Sayang bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai dirumah sakit. Kamu harus kuat, ti. Demi aku, demi anak anak kita kamu harus kuat."
Aku mencoba tidak melihat siti yang sudah tak sadarkan diri. Tapi ternyata tidak bisa, aku benar-benar takut kalau Siti akan pergi meninggalkan aku, sama sakitnya saat dulu aku melihat Gita yang sedang koma dinikahkan dengan kak Alam. Karena saat itu harusnya aku yang disana bukan kak Alam.
Sekarang rasa itu kembali menderaku, melihat sosok tubuh yang terkulai lemah dalam pangkuanku.
*
*
*
"Apa Tiara tidak cerita sama kamu, ham?" Ucap Mona saat selesai memeriksa istriku.
"Soal?"
"Kondisi janinnya, kamu ingatkan dulu saat dia pendarahan. Ada masalah dengan salah satu janinnya. aku sudah menjelaskan pada istrimu kalau dia memilih induksi akan mempengaruhi kesehatannya."
"Mon, apapun cara lakukan yang terbaik. Aku mau ketiganya selamat. Nggak papa sesar, kalau memang itu yang terbaik. Aku percayakan sama kamu, mon."
Terdengar helaan nafas yang berat dari suara Mona. Kulihat dia sepertinya takut salah langkah, tapi aku yakin apapun hasilnya aku terima. Mau normal atau sesar tidak masalah yang penting mereka selamat.
__ADS_1
"Ham?"
"Iya, mon."
"Kami kekurangan dokter untuk membantu operasi istrimu. Apakah kamu mau membantu?"
"Aaaku? Aku kan bukan .."
"Ham, kamu masih dokter disini, kok. Pokoknya apapun yang terjadi setelah ini. Aku akan tanggung jawab, jadi kamu tenang saja."
"Iya..Mon ..."
Akhirnya aku akan melihat anakku lahir secara langsung. Bergegas kuganti pakaianku dengan seragam hijau muda.
"Ya Allah semoga aku bisa menyelamatkan anak dan istriku."
*
*
*
Ilham memasuki ruang operasi bersama dokter Mona. Ada empat dokter yang terlibat termasuk Ilham. Mereka berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan operasi.
Saat ini suasana ruang operasi berjalan begitu tegang. Suster terlihat berjalan dalam ruangan ICU mengikuti perintah Ilham untuk mengambilkan alat-alat. Beberapa dokter melihat kearah Ilham, lelaki itu terlihat gugup saat dimeja operasi.
"Kamu kenapa, ham? Kalau belum siap jangan ikut." protes dokter Hendra.
"Aku yang mengajaknya mas hen. Kamu tahu sendiri kan kalau Toni sudah dimutasi. Jadi kita kekurangan dokter." bela Mona.
"Wajarnyalah dia tegang, ini istrinya. Dia mau lihat proses kelahiran anaknya." bela dokter Rayhan.
"Kamu tenang, ham." Seru Rayhan.
"Oke kita mulai pembedahan." Ucap Dokter Hendra yang lebih senior dari mereka.
Operasi sudah berlangsung 2 jam. Semua keluarga sudah menunggu diluar ruang ICU. Semua tampak cemas, tak terkecuali kedua orangtua Tiara, Adolf dan Fatimah.
"Ya, Allah selamatkan anak dan cucu kami." Doa Adolf.
Tak lama dokter berhasil mengeluarkan bayi pertama berjenis kelamin perempuan. Suara tangisan bayi yang begitu kencang.
"Selamat, ham. Bayi pertamamu perempuan."
Oooooooweeeeee ooooweeee
Kembali terdengar suara tangisan kencang nyaring terdengar diluar ruangan.
"Bayi kedua laki-laki. mereka berjarak lima menit."
Luruh sudah airmatanya. Melihat kedua buah hatinya sudah datang kedunia.
"Selamat datang, nak"
Adakah yang mau bantu mereka cari nama yang bagus.
Siapa yang bisa mengajukan nama mereka yang paling bagus beserta artinya akan dapat hadiah pulsa data 25 ribu untuk satu orang.
__ADS_1
Ditunggu ya partisipasinya.
Pemenang akan di umumkan setelah episode terakhir.