
Jo menunda mengungkapkan niatnya untuk melamar Siti. Karena dia ingin menikmati liburannya selama di Sukasari. Menurutnya, kalau dia katakan sekarang, dampaknya Siti akan menjauhinya lagi.
Mungkin lebih baik aku tunda dulu rencanaku.
Aku tak ingin terlalu terburu-buru. aku takut kalau terlalu cepat Siti malah akan menjauhiku.
Biar ku nikmati proses ini sambil liburan. Ya, walaupun aku tahu Siti masih pacar Ilham. Tapi apa salahnya aku mencoba dulu, toh sepertinya ibu suka padaku.
Ah, mama papa maafkan aku. Sementara ini aku tidak akan pulang ke rumah sebelum membawa Siti ke hadapan kalian.
Sheila, aku akan membawa Siti buat kamu dek. Bukankah kamu ingin sekali menjadikan Siti sebagai calon kakak.
Jo duduk di pinggir tempat tidur kamar Edwar. Menatap rumah yang berlapis kayu dan semen. Udara desa yang sejuk membuat Jo ingat kampung neneknya di Bengkulu.
"Nak, Jo! makan malam dulu, nak." panggil ibu dari bilik kamar.
Ya, kamar yang Jo tempati tidak memiliki pintu. Hanya kain tirai yang menutupi kamar itu. Hanya kamar Siti yang memiliki pintu, karena kamar perempuan harus bersifat pribadi.
Jo keluar dari kamar. Belum mengganti bajunya, masih menggunakan oblong dan celana jeans.
Siti Melihat tubuh Jo yang atletis, sempat terpana namun tersadar kalau Jo mengingatkan dirinya pada ilham.
Mereka sama, sama sama ganteng. Sama sama punya lesung pipi, sama sama sayang sama keluarganya. Ah, tidak! mereka beda! Ilham masih belum dewasa pikirannya! om Jo serius sama pacarnya, sampai rela datang ke Jambi untuk melamar pacarnya.
Andai yang datang Ilham. Bahagianya aku.
"Nak Jo katanya ada yang mau di omongin." sahut ibu memulai pembicaraan.
Aduh, aku harus bilang apa nih! gumam Jo dalam hati.
Siti langsung masuk ke kamar meninggalkan ibu dan Jo. Pikirannya kembali berkutat pada hp nya untuk mengabari Ilham. Tapi entah kenapa gengsinya lebih tinggi.
"Ngapain aku yang menghubunginya? Seharusnya dia yang ngabarin aku? emang aku perempuan apaan? enak banget dia, kalau aku yang ngubungi langsung!" omelnya di hadapan hp nya.
Siti sayup-sayup menguping pembicaraan Jo dan ibu.
"maaf, Bu. saya mau izin tinggal disini untuk waktu yang lama." ucap Jo pada ibu.
"Berapa lama, nak Jo! ibu harus lapor ke pak kades dulu. Kenapa nak Jo ingin tinggal di sini? Emang keluarga nak Jo nggak nyariin nanti?"
"Ah, ibu. Aku sudah besar, sudah 40 tahun. Ya, mereka sudah tahu kok." ucap Jo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ibu mengelus rambut Jo. Dari awal sejak pertama lelaki itu datang ke rumahnya, ibu sudah jatuh hati dengan kesantunan pria itu. Lama dia berharap kalau Jo bisa jadi menantunya.
klik
__ADS_1
Satu Minggu kemudian
"Hayoooo! Kak Siti bisa!" teriak anak-anak di dekat kebun belakang rumah bibi nya alam.
Siti mengambil jambu sambil menaiki pundak Jo. Walaupun dia merasa pegal, tap bagi Jo ini kesempatannya untuk mengambil hati Siti. Di tatapnya gadis itu. Hanya memakai kaos dengan celana pendek Siti memanjat pohon jambu dengan cekatan.
Jo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Siti. Ada rasa kagum terselip untuk gadis itu. Tidak ada rasa jaim dalam dirinya. Siti sudah berdiri diatas batang jambu berteriak "Kak Jo tangkap!"
Jo yang kaget mendongak keatas melihat beberapa jambu air turun menghantamkan kepalanya. Sambil meringis kesakitan, tapi di tahannya karena masih cemas melihat Siti diatas.
"Hati-hati sayang!" teriak Jo yang takut melihat gadisnya terjatuh.
Siti tidak terlalu jelas mendengar suara Jo menyebutnya sayang. Dia masih sibuk dengan beberapa jambu yang dimakannya diatas pohon.
"Turun, ti. masa makan sendiri sih!" omel Jo
"Itu makan aja yang sudah jatuh!"
Kreeeek
Siti merasa ada yang patah. Belum sempat dia menghindar, tubuhnya jatuh bersama salah satu ranting pohon jambu.
Bruuuukkk!!!!
Selamat!
"Bang!" Teriak Siti berlari menuju kediaman Edwar.
"Kenapa, ti? Kok ngos-ngosan! Kamu diapain sama Jo?"
"Om ... om Jo! Tolong om Jo, bang!" Siti terlihat panik.
"Iya, Jo kenapa?" Dinda ikut nimbrung melihat adik iparnya sebegitu cemasnya.
"Ketimpa ranting batang jambu. Dia tidak bisa bangun! Tolong bang, kasihan! Gara-gara Siti naik batang jambu ranting nya jatuh menimpa tubuh om."
Maaf om Jo aku terpaksa berbohong. Kalau tidak begitu, kita bisa diarak warga. Seperti yang terjadi pada Gita dulu. Berbohong demi kebaikan kan nggak masalah, om.
Beberapa warga bersama Edwar mendatangi kebun belakang rumah bibi. Mereka melihat Jo, masih terkapar di tanah. Mereka berbondong-bondong menggotong tubuh Jo yang besar. Siti yang melihat dari jauh merasa bersalah. Ah, seandainya dia tadi nggak nekat manjat batang jambu mungkin kejadiannya tidak seperti.
Sekilas Siti terbayang saat bibir mereka beradu tadi. Ada jantung yang berdebar kencang dirasakan. Dulu saat Jo menciumnya di depan kostnya Siti tak merasakan apapun. Hanya syok, karena pertama kali di sentuh lelaki.
Di puskesmas
"Maaf om. Gara-gara aku, om jadi begini." ucap Siti merasa bersalah melihat Jo masih terbaring.
__ADS_1
"Kejadiannya gimana sih, nak?" tanya ibu
"Kejadiannya ..." Jo ingin menjelaskan pada ibu tapi di potong sama Siti
"Kejadiannya begini, bu. Tadi Siti naik batang jambu di belakang rumah bibi. terus pas Siti lagi makan jambu rantingnya patah, dan menimpa tubuh om Jo." cerita Siti buru-buru takut Jo cerita sebenarnya.
Jo kaget, Karena Siti membeloklah cerita yang sebenarnya. Dia tidak mengerti mengapa Siti tidak menceritakan yang sebenarnya. Jo hanya mengikuti alur yang di buat Siti.
Saat mereka tinggal berdua saja, Jo mengutarakan rasa penasarannya pada Siti.
"Kenapa kamu tidak jujur pada mereka?"
"Om mau kita diarak kampung gara-gara kejadian tadi?" omel Siti sambil mempelototi Jo.
"Apa aku bilang sama ibu soal ..."
"om, jangan aneh-aneh, ya." Siti mulai kesal dengan Jo
"Kenapa? Aku harus tanggung jawab yang terjadi diantara kita." ucap Jo sambil menatap tajam ke arah Siti.
"Diantara kita tidak terjadi apa-apa, om! jadi please jangan memperparah keadaan. Setelah sehat aku mohon Om pulang ke Jakarta. Oh ya, bukannya om mau menemui calon mertua. Setelah Om sehat silahkan selesaikan urusan om."
Siti pergi dari hadapan Jo. Dia melampiaskan kekesalannya dengan duduk di Empang milik orangtuanya. Siti melempar makanan ikan sambil mengomel.
"Dasar bujang lapuk! di baiki malah minta jantung. Masih untung di tolong malah minta yang aneh-aneh!" Omel Siti sambil melempar makanan ikan di empangnya.
Zreeeeet zreeeeet zreeeeet
Hp Siti berdering.
📞 Edwar
Siti, kamu dimana? keluarga sudah berkumpul di rumah.
📞 Siti
Ada apa?
📞 Edwar
Pokoknya kamu pulang dulu! cepat!
Siti heran dengan instruksi abangnya. Ada apakah gerangan? Ah, dia tak ingin berpikiran bermacam-macam. Siti pulang ke rumah dengan hati yang penasaran.
#####
__ADS_1
Bersambung