
Seminggu kemudian
Siti duduk pinggir jendela. Menatap langit sore yang mulai memerah. Sinar matahari yang begitu menyilaukan, seolah menembus atap atap rumah dan pepohonan di sekitar rumahnya. serpihan sinar yang memantul ke jendela membuat dirinya berulang kali mensyukuri karunia-Nya.
Kamar Siti menghadap ke arah belakang rumah. Tak jauh dari arah kamarnya, ada lapangan kecil di dalam kebun. Dimana anak-anak berlari bermain bola, tertawa riang sambil menunggu buka puasa. Siti menatap mereka seolah rindu untuk bergabung.
"Kak Siti ayo main kesini" teriak Dimas yang masih berusia lima tahun.
Siti hanya bisa melambaikan tangan. Kerinduannya untuk berbaur bersama anak-anak tersebut sangat dalam. Lama dirinya menatap kakinya yang terlipat di kursi rodanya.
Tak jauh dari tempat anak-anak itu bermain. Beberapa muda-mudi sedang duduk bersama pasangannya, membuat Siti menggelengkan kepalanya.
Senja itu menjadi ajang para muda mudi itu saling bertemu, melepaskan rindu yang mereka rasakan. Seperti yang di rasakan Siti saat ini, entah rindu itu untuk siapa, yang pasti ada rasa iri yang membelenggunya.
Siti ingat ucapan Jo saat itu "Kalau kamu rindu kumpulkan semuanya, hingga saatnya tiba, kita lepaskan rasa rindu itu saat sudah halal. Aku harap kita saling menjaga,ti. Aku juga sudah rindu kebawelan kamu."
Siti menyahuti ucapan Jo dalam kesendiriannya "Insyaallah, kak. Aku akan menjaga amanat kak Jo. Aku akan membuka hatiku untuk kak Jo. saling mendoakan agar rencana pernikahan kita menjadi Istiqomah. Karena aku yakin sekarang, jodohku sepertinya memang kak Jo, Bukan Ilham."
Walaupun dalam istikharahku yang terlihat malah Ilham. Ah, sepertinya aku memang harus lebih khusyuk.
Siti tersenyum membayangkan ucapan lelaki itu. Ah, kenapa dirinya sekarang gampang tersenyum tatkala segala sesuatu yang dilakukan Jo.
Janganlah jangan kau sakiti cinta ini
Sampai nanti di saat ragaku
Sudah tidak bernyawa lagi
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir
Setiap nafasku
Hembuskan namamu
Sumpah mati
Hati ingin memilihmu
Dalam hidupku oh sayang
Kau segalanya untukku ooh
(Kupilih hatimu, Ussy-Andhika)
Siti kembali berkutat memandang suasana senja sore itu. Anak anak sudah pada pulang karena sebentar lagi buka puasa. Senja itu semakin menampakkan sinarnya. Matahari yang tadinya berkilauan kini mulai bersembunyi dibalik awan.
Flashback on
__ADS_1
"Kamu lihat matahari itu. Sebentar lagi akan tenggelam." seru Ilham saat mereka duduk dipantai Ancol.
"Iyalah, ini sudah mau Maghrib. Ya kali matahari masih berdiri." sahut Siti.
"Bukan itu." tubuh Ilham berbalik menatap Siti.
Tangannya menggenggam erat. Mata mereka saling bertatapan.
"Kamu itu rembulan buat aku. Karena aku sedang dalam kegelapan dan kamulah yang datang menyinari. Dan aku akan menjadi mataharimu, dimana hati kamu yang dingin akan kuhangatkan dengan cinta yang kumiliki."
Siti tergelak mendengar ucapan Ilham.
"Kamu nyontek di mana. Pasti baca di google." ledek Siti. Selama dirinya berbulan-bulan pacaran dengan Ilham. Belum pernah lelaki itu bersikap romantis.
Ilham cuma menyeringai lebar. Kakinya langsung berdiri mendekati ombak. Siti pun menatap jam tangannya, menandakan sebentar lagi Maghrib. Lalu menarik lelakinya untuk mencari masjid atau musholla.
Sampai di mushola kecil, Ilham duduk di dekat saf paling depan. Ketika tadi sampai di Mushola Ilham hanya memakai celana pendek, lalu memakai sarung yang disediakan pihak mushola. Siti melihat kekasihnya menggunakan sarung sedikit terpana. Lelaki itu tampak gagah.
"Nak, kamu bisa adzan." Sapa petugas di mushola. Ilham menolak karena dia belum pernah adzan.
"Nggak bisa pak. Saya belum pernah adzan." tolaknya.
"Coba dulu dek." Si bapak petugas langsung menarik Ilham berdiri di dekat mic.
Suara adzan Ilham berkumandang. Menyerukan orang-orang di sekitarnya untuk sholat. Merdunya suara Ilham membuat banyak yang datang ikut sholat.
"Terimakasih, nak. Suara kamu bagus." kata bapak petugas mushola.
Flashback off
Siti tersentak saat mendengar sirine menandakan buka puasa telah tiba. Dinda datang mengantar Siti kemeja makan. Sejak awal puasa Dinda dan Edwar berbuka di rumah ibu Aisyah. Karena mereka tahu, ibunya pasti kesulitan menangani Siti sendirian.
Tak lama suara adzan berkumandang. Siti tersentak mendengar adzan tersebut. Serasa mengenal suara tersebut.
"itu siapa yang adzan?" tanya Siti penasaran.
"Oh, itu dokter yang sedang jadi panitia training untuk petugas kesehatan disini. Kan Sarolangun mau buka rumah sakit swasta baru.
Kenapa, ti?" sahut Edwar sambil menyantap terong rebus kesukaannya.
"Kayak kenal suaranya." jawab Siti.
"Emang pasti kamu kenal, kok, ti. Itu kan adik kandungnya Alam."
Uhukkk! Uhukkk!
Siti langsung tersedak. Saat mendengar cerita dari Edwar "Ilham!" Jawab Siti kaget.
__ADS_1
"Iya." Jawab Edwar santai.
Siti menatap wajah ibu yang mulai masam. Ada ketakutan yang dirasakannya, takut kalau ibu kembali mengurungnya seperti waktu itu. Moodnya langsung hilang. Seketika Siti langsung mengunci diri di kamar. Edwar heran kenapa adiknya begitu sensitif dengan pembahasan tadi.
"Ti, ibu mau ngomong?" suara ibu dari luar.
Tak ada sahutan dari dalam. ibu mengira Siti sudah tidur. Walaupun sebenarnya Siti tidak tidur, pikirannya berkecamuk antara mencoba menjaga perasaan orang-orang di sekitarnya seperti Jonathan, Jihan dan ibunya. Kemunculan Ilham yang dia rindukan, justru bukan membuatnya bahagia. Melainkan membuat hatinya kalut.
klik
seminggu yang lalu
Jihan di kagetkan dengan rencana perjodohan orangtuanya. Kalau laki-laki lain mungkin masih bisa dia cari alasan untuk menghindarinya, tapi ini keluarga Hermawan. Jihan mendapat angin segar bisa bernegosiasi dengan Jo.
Sama dengan Jo, pemuda usia 40 tahun itu tak kalah kagetnya, saat orangtuanya mau mengenalkan dirinya dengan wanita lain. Padahal orangtuanya tahu kalau Jo mau menikah dengan Siti. Jo menghela nafas panjang, ada perasaan marah pada kedua orangtuanya.
Jo dan Jihan akhirnya kembali bertemu, saat acara makan malam di kediaman keluarga Hermawan. Mereka hanya diam saat kedua keluarga saling bertukar cerita. Jo dan Jihan pamit ingin bicara berdua.
"Kok bisa?" Jo masih tidak percaya bahwa Jihan mau dijodohkan. Pasalnya, yang dia tahu Jihan pacarnya Ilham. Bahkan sudah bertunangan.
"Terpaksa kak." Jawab Jihan sendu.
Ya, dia terpaksa menerima perjodohan itu karena Ilham taruhannya. Jihan berharap jika dia menerima perjodohan itu maka Ilham akan dibebaskan.
"Kenapa? Ilham bagaimana?" tanya Jo masih penasaran bagaimana kelanjutan hubungan Ilham dan Jihan.
"Ilham dipenjara kak?" Jihan mulai sesenggukan. Tangannya memegang tangan Jo, seperti mengharapkan pertolongan.
"Tolong, kak. Tolong terima perjodohan ini. Untuk pura-pura saja. Biar papa bisa membebaskan Ilham."
"Emangnya kenapa Ilham dipenjara?" jo
"Dulu dia menghajar papaku karena .. " Jihan nampak berpikir panjang untuk menjelaskan kasus yang sebenarnya.
"Karena apa?"
"Karena.. karena ... papa mau melecehkan Siti." jawab Jihan masih terisak.
"Apa!" Jo berdiri seakan hendak menghajar papa Alex yang melecehkan calon istrinya.
"Waktu itu, Ilham sangat emosi menghajar papa habis-habisan. Sampai papa mengalami kram di perut akibat perbuatan Ilham. Aku tidak menyalahkan Ilham atau Siti. Karena aku tahu karakter papa memang genit. Tolong kak Jo, tolong tetap berpura-pura menerima perjodohan ini. Supaya papa bisa membebaskannya Ilham." Mohon Jihan.
"Nggak perlu harus menunggu papa kamu, Jihan. Kamu bisa langsung membebaskan Ilham dari penjara. Besok aku rencana akan ke WO temanku mengurus untuk pernikahan aku dan Siti. Biar kita bertemu di penjara."
Wajah Jihan berbinar "Makasih kak Jo. Terimakasih, nggak salah kalau Siti memilihmu." Jihan mencium-cium tangan Jo.
Jihan siti memang memilihku, tapi hatinya tidak bisa kumiliki.
__ADS_1
...#######...
Bersambung