
Ilham berdiri didepan apartemen keluarga Tiara (Siti). Tubuhnya yang kekar dan tinggi, mengenakan kemeja motif kotak-kotak dan celana jeans biru tua. Pikirannya melayang, teringat beberapa hari yang lalu dia melamar Tiara didepan kedua orang tuanya. Menunjukkan keseriusannya pada gadis itu.
Ilham melipat tangannya didepan dadanya. Tadinya dia ingin menyusul sang kekasih ke depan pintu apartemennya. Tapi Tiara meminta dirinya menunggu di bawah. Alasannya karena dirumah tidak ada orang.
"Biar aku yang turun. Kamu tunggu dibawah saja." Titah Tiara.
Mau tidak dia harus merelakan tubuhnya dipanggang terik matahari. Dia hanya bisa menggerutu kesal, anehnya dia tidak bisa protes. Bisa-bisa gadisnya mogok ikut.
Beberapa saat kemudian mereka duduk manis didalam mobil.Ilham melajukan mobilnya dengan santai, agar Tiara bisa menikmati perjalanan. Gadis itu duduk manis disamping ilham, menikmati udara lepas. Sesekali dia mengeluarkan kepalanya, membuat ilham sedikit cemas dengan tindakan sang kekasih.
Tiara melirik box nasi yang terletak dibelakang kursinya.
"Ini untuk apa?"
Yang ditanya hanya diam saja, sembari mengulum senyum. Tiara jadi jengkel karena merasa dicuekin.
"HEY!" Tiara menepuk paha ilham dengan kencang.
Membuat ilham kaget dan mengerem sedikit laju mobilnya.
"Maaf" Tiara hanya bisa nyengir sambil mengangkat jari dua.
"Kamu tuh, ya! Coba feminim sedikit, lah. Untung aku nggak jantungan. Coba kalau aku jantungan.." omel ilham yang masih syok karena hampir nabrak pembatas jalan.
"Ya, kalau kamu jantungan... terus kamu meninggal ... terus aku cari pasangan baru.."
"Eh... mulut tu mulut ... enteng benar ngomongnya."
Ilham mencubit bibir Tiara. Membuat Tiara tertawa melihat sikap ilham yang agak ngambek.
"Ya salah sendiri! Ditanya malah cuek. Emang aku ini apa!" Tiara memalingkan wajahnya.
Ilham menarik wajah Tiara, kedua tangannya memegang wajah gadis itu.
"Kamu itu adalah anugerah terindah yang kini kumiliki. Penerang hatiku disaat aku dirudung kegelapan. Penerang hatiku yang cahayanya tidak akan padam sampai kapanpun."
Tiara memegang dahi ilham "Sehat,kok."
Tiara menghela nafas panjang. Lalu tersenyum pada ilham "Terimakasih."
Ilham kembali menghidupkan mobilnya sambil tersenyum "Terimakasih tidak kembali."
"Jadi?" Tiara kembali menatap box makanan di belakangnya.
"Apa?"
"Box itu untuk siapa?"
"Oh... Kita mau berbagi kebahagian."
"Dengan siapa?"
__ADS_1
"Nanti kamu juga tahu."
Sebuah perkampungan kecil yang masih belum dijamah modernisasi. Suhu yang sejuk dengan terpaan angin kecil. Terlihat perkebunan warga yang terhampar luas menambah kesegaran untuk sekedar melepas penat.Sekarang saja tempat ini terlihat indah, mungkin kalau malam hari akan lebih indah. Ditemani kelap kelip lampu desa.
Tiara menghirup udara ditempat itu. Kakinya berdiri di pinggir dekat perkebunan. Tiara menatap sekitar areal perkebunan. Pikirannya teringat kampungnya, Tiara jadi rindu pada Sukasari.
Sebuah tangan mengalung ke pinggangnya "Kamu suka?" Tiara mengangguk.
"Makasih, ya. Kamu kayaknya tahu aku rindu kampungku." ucap Tiara sambil mengelus pipi ilham.
"Kita kan sehati, sayang..Kita kesana yuk?" ilham menunjuk sebuah persawahan kecil.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Sesekali Tiara melihat ikan kecil yang berlari di air. Tangannya menyibak riak air yang jernih.
Ilham memandang sang gadis yang masih asyik bermain ditengah sawah. Sesekali tangannya melirik jam. Karena masih ada tujuan yang lain yang harus mereka tempuh. Sejenak ilham mengikuti keinginan Tiara untuk ikut berbaur menikmati indahnya udara tempat itu.
"Sayang, yuk!" ilham menarik tangan Tiara.
"Kita mau kemana lagi?"
"Ke tujuan awal kita." ilham menggendong tubuh Tiara seperti memanggul beras.
"Ham, kamu pikir aku beras. Pake gendong kayak gitu!" Protes Tiara.
"Habis kamu laaaamaaaaa! Kan lebih praktis bawanya. Itung itung latihan."
Tiara mengkerutkan keningnya "Latihan? emang kamu mau masuk militer pake latihan segala?"
"Iya.. Militer rumah tangga.."Bisiknya
"Makanya jangan sok gombal." Tiara melototi ilham.
"Siapa yang sok gombal. Kamu aja yang udah ngeres otaknya." Ilham tak mau kalah.
Ilham melajukan mobilnya dengan kencang. Tiara kaget menarik kemeja ilham erat.
"ILHAM JANGAN NGEBUT!" Pekik Tiara masih menarik kemeja ilham karena ketakutan. Tiara memeluk ilham saking panik nya.
Ilham hanya tersenyum saat Tiara memeluknya makin erat.
"ILHAM AKU BELUM MAU MATI... AKU MAU NIKAH DULU .. PUNYA ANAK YANG BANYAK DAN LUCU-LUCU!"
Seketika ilham mengerem mobilnya saat mendengar ucapan terakhir Tiara. Tiara kaget, kepalanya membentur rak setir.
"Ilham! Kamu apa-apaan sih! Mau buat aku celaka! Iya!" amuk Tiara.
Sumpah hari ini kenapa dia jadi nyebelin sih! Emang ada kata-kataku yang salah? Emang salah kalau mau menikah dan punya anak!
"Maaf, sayang tadi refleks" Ilham merasa bersalah saat melihat Tiara yang sedang kesal.
klik
"Kita sudah sampai" ilham memberhentikan mobil disebuah rumah yang lumayan besar.
__ADS_1
"Om rama datang! Oma ada om rama!" anak berlarian mengerumuni mobi ilham.
Sebuah rumah dengan arsitektur classic. Mirip rumah peninggalan belanda. Balutan cat putih dengan beberapa pot bunga yang menggantung dilangit teras rumah.
Sebuah papan putih tertulis " RUMAH SINGGAH RAMADHAN"
"Ini tempat apa, ham? banyak anak-anaknya."
"Ini rumah singgah, tempat penampungan anak-anak jalanan. Tapi disini nggak harus anak jalanan sih, itu ada beberapa anak yang sudah tidak punya orangtua lagi."
"Ini punya kamu?"
ilham menggeleng "Ini punya omaku."
"Omaaaa, rama datang." ilham masuk ke rumah singgah memanggil omanya.
"Rama" Sebuah suara yang lembut menyambut kedatangan sang cucu. Ilham langsung berhambur memeluk omanya.
"Oma apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat wal afiat. Ini siapa?" oma melihat seorang gadis yang asyik berbaur dengan anak-anak di teras.
"Itu cucu menantu oma."
Ilham tersenyum melihat Tiara bahagia didekat anak-anak. Sejak dulu ilham kalau Tiara menyukai anak kecil. Makanya terbersit ide mengajaknya jalan ke rumah singgah.
Walaupun ilham sadar saat mereka menikah nanti, dia tidak bisa memberikan yang diharapkan gadis itu.
"Apakah kamu mencintainya, nak?"
Suara oma mengagetkan ilham. Oma yang tanpa ilham sadari, sejak tadi sudah berdiri disampingnya.
Ilham menggeser tubuhnya, lalu mendaratkan di kursi yang terpajang di teras.
"iya, oma."
ilham belum melepaskan pandangannya ke arah lapangan bermain. Dimana Tiara sedang duduk sambil menggendong candra, seorang anak usianya 2 tahun.
"Apa dia tahu kalau kamu tidak bisa memberikan keturunan?"
Ilham menggeleng. Berat hatinya mengatakan yang sebenarnya. Dia takut Tiara pergi meninggalkannya lagi.
"Langkah awal untuk membangun kepercayaan adalah saling terbuka, jujur dan memahami antara satu sama lain. Tanpa keterbukaan sikap, rasanya sulit untuk bisa memahami apalagi percaya.
Bersikaplah transparan tentang apapun pun yang muncul di dalam hubungan. Sedikit rahasia dan kesalahan bisa mengikis rasa cinta juga kepercayaan di hati satu sama lain.”
ucap oma yang tahu kegundahan sang cucu.
klik
Saat asyik bermain bersama anak-anak, Tiara mendapat pesan dari jihan. Entah kenapa wajah Tiara mendadak serius saat membacanya.
...####...
__ADS_1
Bersambung