
Sebelum penangkapan Risma
Ilham berdiri memasuki ruang praktek dokter Sasono. Kecemasan meliputi wajah dokter blasteran itu. Kenapa disebut blasteran? Karena wajahnya putih dan matanya biru layaknya keturunan bule. Padahal dirinya tidak mempunyai keluarga bule, mungkin ada hanya saja dia belum mengenalkannya.
Tangannya mengepal mengalihkan rasa cemasnya. Rasanya ini lah akhir karirnya, konon katanya, dokter yang bermasalah dirumah sakit ini tidak akan diterima bekerja dirumah sakit manapun. Ilham ingat bagaimana dulu ada seniornya yang ketahuan main serong dengan salah satu suster disana, seniornya yang sudah beristri itu dipecat. Tapi tak bisa bekerja dirumah sakit manapun. Menurut Ilham hukuman itu berlebihan. Karena ini hanya masalah pribadi seniornya, tapi setelah dipikirkan lagi ada benarnya. Kalau tidak begitu seniornya akan melakukan hal yang sama para staf rumah sakit yang lain.
"Duduk, ham."
Dokter Sasono masih terdengar ramah saat Ilham masuk dan duduk di kursi. Matanya tak berani menatap lelaki sepupu Papanya. Helaan nafas pun terdengar dari dokter senior itu. Ilham yang mendengar helaan itu hanya bisa bungkam. Semangat emosinya saat melawan birokrasi rumah sakit mendadak turun. Ilham yang lantang menyerukan kalau dia lakukan sudah tepat, mendadak menjadi seonggok anjing yang takut pada tuannya.
"Kamu tahu kenapa kamu dipanggil, ham?" sepertinya dokter Sasono memulai sidangnya pada keponakannya itu.
Ilham mengangguk pasrah. Pasrah karena itu resiko perbuatannya.
"Kamu tahu yang kamu lakukan itu salah, tapi hanya karena urusan pribadi, kamu menyalahgunakan jabatanmu."
"Tapi, om. Siti kejang-kejang lalu jantungnya melemah. masa aku harus diam saja, sementara dokter yang menangani istriku sudah pulang. Apa aku harus menunggu mereka sampai nyawa siti diujung tanduk." Bela Ilham.
"Tetap salah karena kamu bukan lagi dokter disini. Kamu harus menunggu dokter lain, bukankah kamu bisa menelepon Mona.
Kamu tetap disini, sebentar lagi direksi rumah sakit akan tiba untuk meminta pertanggungjawabanmu."
Titah dokter Sasono.
Ilham tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia pasrah kalau seandainya mereka menuntut penjara. Tapi Ilham yakin dia bisa kerja ditempat lain, karena dia tidak dikeluarkan karena skandal, melainkan keputusannya sendiri. Toh yang dilakukannya juga darurat. Rumah sakit swasta terbesar di jakarta ini memang sedang kekurangan dokter. Empat dokter andalan rumah sakit tersebut satu persatu hengkang, seperti Dodo yang ketahuan terinveksi HIV, Toni yang dimutasi akibat kelakuan istrinya, Nanda yang lebih memilih praktek mandiri semenjak bercerai, dan dirinya sendiri yang memilih resign karena terganggu dengan kehadiran Risma.
Ilham menatap pintu masuk, sambil berdoa agar para direksi mau mendengarkan penjelasannya dan meringankan tuntutannya. Langkah kaki beberapa staf dan direksi pengelola rumah sakit, termasuk pak Wibowo yang saat ini menjadi pemilik rumah sakit menggantikan Hermawan, mantan mertuanya yang sekarang mendekam dipenjara.
"Assalamuailakum"
Sapaan itu terdengar, dokter Sasono mempersilahkan masuk para direksi rumah sakit. Pak Wibowo menatap Ilham dengan wajah penuh kekecewaan. Dulu dia berharap banyak pada anak muda didepannya. Tapi setelah mendapat laporan negatif dari berbagai pihak, harapannya pupus pada dokter muda itu.
"Apa kabar, Ilham?"
"Baik, pak."
"Bagaimana keadaan istrimu? Saya dengar dia dirawat juga."
__ADS_1
"Istri saya sempat pendarahan. Tapi Alhamdulillah tidak mengganggu janinnya." Jelas Ilham.
"Syukurlah kalau begitu. Kebetulan saya tadi bertemu investor baru untuk rumah sakit ini. Dia sudah malang melintang dengan beberapa perusahaan diindonesia. Karena kamu sudah melakukan kesalahan fatal melanggar birokrasi rumah sakit, maka dia yang akan memutuskan apakah hukuman yang pantas. Silahkan masuk, pak."
Ilham membulatkan matanya saat melihat siapa yang dimaksud pak Wibowo "Papa Adolf!" Ucapnya kaget.
Adolf hanya tersenyum kecil. Sesekali mengedipkan matanya pada menantunya.
Pak Wibowo kaget mendengar panggilan Ilham pada Adolf.
"Jadi... kalian."
"Iya, wibowo ini Ilham menantu saya. Lelaki yang mau kalian adili adalah menantu saya. Ilham jelaskan kronologis masalah sebenarnya." Sahut Adolf pada menantunya.
"Saya Ilham Ramadhan, disini saya seorang dokter penyakit dalam, menangani jantung, masalah lambung, saya juga menangani tentang kanker, disini saya akan menjelaskan bagaimana saya diminta oleh dokter Sasono untuk menjadi dokter saudari Risma. Yang namanya penyakit diderita Risma tidak ada hubungan dengan ilmu yang saya miliki. Ketika saya menolak, dokter Sasono mengancam saya memutasikan saya ke daerah yang jauh. Dan saya memilih resign karena sudah tidak sesuai dengan jalur saya."
Wibowo menatap Dokter paling senior di rumah sakit Kasih Bunda. Lelaki yang usianya masih 48 tahun masih belum percaya dengan penjelasan Ilham. Netranya masih terarah pada lelaki muda didepannya.
"Teruskan, ham." Pinta Adolf yang sudah banyak menyelidiki ketidakberesan dalam kinerja direksi rumah sakit itu.
"Saya mau tanya pak Dokter Sasono. Kenapa anda memilih Ilham untuk menangani anaknya pak Barata? Apa karena dia keponakan anda, padahal anaknya Barata itu mengalami depresi dengan percobaan bunuh diri. Bukan memiliki penyakit jantung ataupun kanker. Bisa anda jelaskan?"
Dokter Sasono mendadak terdiam. Dia tahu kalau pertanyaan ini seakan menuduh dirinya sudah menumbalkan Ilham. Ini dilakukannya demi pemasokan obat-obat rumah sakit yang menipis. Beberapa obat generik yang harus disediakan karena harganya murah. Serta tidak banyak mengeluarkan banyak dana. Walaupun sebenarnya Investasi yang disuntik Adolf sangat besar. Tapi bagi Sasono pemasukan gaji lebih penting dari pengembangan rumah sakit.
"Dokteerrr!" salah seorang suster berlari menuju ruang praktek Sasono.
"Ada apa?" Tanya mereka berbarengan.
"Anak pak Barata mau mencelakai mbak Tiara." adu suster.
"Ya, Allah Siti!" Ilham terkejut mendengar berita tersebut.
"Ham, kamu temani siti biar papa yang urus soal Barata."
"Terimakasih, Pa." Ilham langsung pergi menemui istrinya.
Sampai disana Tiara masih seperti ketakutan. Ilham mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Mas, aku takut. Perempuan sepertinya tidak waras. Datang-datang langsung mengamuk. Aku takut, mas..." Tiara terus memeluk suaminya. Tangannya seperti gemetar.
"Aku disini...sayang... Maafkan aku terlalu lama meninggalkanmu tadi." Ilham terus mendekap tubuh istrinya. Terasa tubuh Tiara yang masih gemetar. Tangan tak lepas mengelus punggung Tiara dan mengecup pucuk rambut istrinya.
Di Ruang Rawat Risma
Pak Barata ada polisi mencari mbak Risma." ucap suster yang mengantar beberapa polisi.
"Saudari Risma, anda kami tangkapan atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap saudari Tiara."
"Nggak, pak. Saya nggak salah! Dia ngambil suami saya! Dia pelakor!" Risma terus menjerit sambil memberontak.
"Barata!"
Pak Barata kaget saat tahu siapa lelaki memanggilnya. Tangannya gemetar saat tahu siapa yang menyapanya.
"Tuan Adolf" Ucapnya gemetar.
Kenapa Tuan Adolf ada disini? Bukannya dia pulang ke brunei. Aduh gawat kalau dia tahu skandal anakku, bisa dicabut investasinya nanti. Tuan Adolf kan tidak suka punya klien bermasalah.
"Apa kabar Barata? Rasanya sudah lama, ya kita tidak bertemu." Sapa Adolf sambil masuk ke kamar rawat Risma.
"Oh, jadi ini anakmu. Cantik, tapi sayang kelakuannya tak sebanding dengan wajahnya. Kamu tahu kan resiko berbisnis bersama saya."
"Tu..tuan... kenapa anda disini? Apa yang anda lakukan dirumah sakit ini?" Pak Barata masih gugup dengan kemunculan Adolf.
"Saya kesini mengantarkan pak polisi untuk menjemput seseorang yang mencelakai putri saya."
"Pu...pu..tri anda? Maksudnya..."
Adolf tersenyum "Nanti kamu akan tahu di kantor polisi. Satu lagi Barata? Mulai sekarang saya bukan lagi investor perusahaan anda. Saya sudah cabut kerjasama perusahaan kita."
Barata hanya terdiam. Habis sudah masa kejayaannya jika saham dan investasi yang ditanamkan Adolf dicabut.
Bruuuuukkk!
"Suster tolong suami saya."
__ADS_1