
"Mas" Tiara menatap suaminya yang masih asyik membaca majalah di pesawat.
Sampai saat ini dirinya masih belum percaya kalau pesawat akan menurunkan mereka di bali. Seperti mimpi rasanya. Tiara mencubit lengannya, terasa sakit! Itu artinya dia memang benar akan ke Bali. Pulau Dewata yang menjadi surga dunia.
"Apa sayang?" Ilham menatap lekat istrinya.
"Ini beneran kita mau ke Bali?"
Ilham tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Sepanjang waktu istrinya terus bertanya tiada henti.
"Emang kenapa? kamu nggak mau ke Bali? Kita bisa turun kok mumpung pesawatnya belum jalan. Kita ganti tiketnya ke kota yang kamu mau, gimana?"
Tiara menggeleng. Ke Bali adalah impiannya sejak dulu. Selama ini dia hanya bisa berkhayal melihat gambar pantai dibali, pemandangan sawah yang terhampar luas, dia juga pernah berkhayal tinggal di hotel yang langsung menghadap pantai. Sekarang semua jadi kenyataan, apalagi perginya bersama kekasih halalnya.
"Sayang, kencangkan bel nya. Pesawat sudah jalan, nih." Bisik Ilham.
Pelan-pelan pesawat mulai berjalan, Tiara masih fokus melihat kaca. Ini pertama kalinya dirinya naik pesawat. Ilham membetulkan belt milik istrinya. Pesawat mulai berjalan cepat.
Tiara kaget saat posisi pesawat naik keatas. Sontak tangannya memeluk Ilham saking takutnya.
"Mas, kok jalannya begini sih?" Ucap Tiara sambil memeluk suaminya.
Ilham tertawa melihat tingkah istrinya, lalu memilih diam membiarkan istrinya memeluknya.
"Mas" Rengek Tiara, wajahnya pucat sejak pesawat naik keatas.
"Apa sayang?" Ilham membelai rambut istrinya. Para pramugari menatap adegan itu sambil terkikik.
Ilham menatap lucu istrinya yang masih ketakutan.
"Duduklah, sayang. Jika kamu masih merasa ketakutan peganglah tanganku. Barusan pesawat melandas. Sekarang lihatlah ke kaca."
Tiara menaikkan kepalanya dan memandang kaca. Matanya takjud melihat langit dari atas awan, melihat hamparan laut yang luas. Ilham tersenyum melihat istrinya tidak ketakutan lagi. Kali ini dirinya yang menggenggam erat tangan istrinya, seakan memberi tanda kalau tidak perlu cemas lagi.
"Ti." Bisik Ilham
Tiara menoleh kearah suaminya. Kecupan kecil menempel pada bibir mereka. Seketika wajahnya merona. Tangannya menahan debaran jantung yang berdetak kencang.
"Maaf, mas. Aku .. aku ... belum pernah naik pesawat. Pasti aku malu-maluin, ya."
"Banget. Tapi kalau mereka tahu kamu adalah anak pemilik pesawat ini, kamu pasti akan ditertawakan."
Bibir Tiara mengerucut saat mendengar ucapan suaminya. Lagian dirinya emang baru pertama kali naik pesawat. Matanya kembali Fokus ke kaca menatap awan putih yang banyak membentuk.
Di ujung kursi deretan mereka. Sepasang mata lelaki menatap pilu kebahagiaan mereka. Entah kenapa rasa sakitnya kembali terasa. Berkali-kali dia mencoba memalingkan wajahnya, tapi ternyata tidak bisa. Pada akhirnya dia memilih menutup wajahnya, mencoba pura-pura tidur.
Ti, asal kamu tahu sudah mencoba melupakanmu. Tapi kenapa kita selalu dipertemukan di momen yang salah. Kenapa aku selalu saja di dekatkan denganmu,ti? Oke, kamu menganggapku saudara. Tapi apakah kamu melupakan kebahagiaan yang pernah terjadi diantara kita.
Sakit rasanya saat kamu bilang tidak ingin melanjutkan rencana pernikahan kita. Tapi kenapa pilihanmu ke lelaki itu. Lelaki yang sudah mencampakkan adikku, lelaki yang pernah menodai sahabatmu, lelaki yang mengkhianatimu dengan memilih bertunangan dengan wanita lain.
Seharusnya aku yang ada disana, aku yang berhak atas dirimu, bukan lelaki seperti dia.
Akan kukejar cintamu kembali, ti. Tunggu aku!Aku akan mengembalikan hak orangtuaku.
klik
Bandara Ngurah Rai, Bali
16.15 Wib
__ADS_1
Tiara dan ilham tiba di Bandara Ngurah Rai, Bali tepat pukul 4 sore. Perjalanan dua jam tidak terasa bagi pengantin baru tersebut. Sepanjang perjalanan mereka tertawa dan bercerita. Tiara menggenggam erat tangan suaminya menuju ruang bagasi. Ilham meminta Tiara duduk disebuah kursi, sementara dirinya menunggu di tempat bagasi.
"Kamu disini dulu, ya. Aku mau cek bagasi." Ilham menuntun istrinya ke tempat duduk.
"Mas, aku mau beli makanan disana. bolehkan?" Tiara memandang sebuah resto tak jauh tempat dirinya duduk.
"Nggak usah, ti. nanti biar aku yang beliin." Larang Ilham.
Tiara kembali duduk menahan perutnya yang lapar.
Matanya menatap kesal kearah suaminya, seperti seorang anak pada ayahnya.
Cekekecek
Bunyi goncangan bungkus makanan. Tiara menoleh kearah asal suara. Sosok lelaki yang dikenalnya sedang menikmati makanan ringan dari rumput laut tersebut.
"Mau?" Tawarnya.
Tiara mengangguk sambil mengelus perutnya. Lelaki itu menyodorkan makanannya yang belum dibuka.
"Kamu kan suka banget sama makanan ini. Ingat nggak, ti? Kamu pernah ngambek sama aku gara-gara aku ngambisin makanan kamu."
Tiara tersenyum kecut, memorinya berputar saat dirinya masih berstatus tunangan Jo, saat dirinya meninggalkan makanan itu untuk ke wc, lelaki itu dengan santai bilang makanannya habis.
"Padahal yang rasa itu tinggal satu lagi." ucapnya kesal saat itu.
Tiara tertawa saat mengingat kejadian itu. Sesaat dia tersadar, tak ingin terlalu dekat lagi dengan Jonathan. Karena saat ini dia sudah punya suami, harus menjaga perasaan suaminya.
"Kak Jo liburan ke bali?" Jonathan mengangguk.
"Sendiri?" Lagi-lagi lelaki itu mengangguk.
"Ke ubud, ti. Kamu mau kemana? Honeymoon ya?" Tiara mengangguk.
"Bentar, kak. Aku panggil mas Ilham dulu." Tiara berlari mencari suaminya.
"Apaaaa! Kamu mau ajak kak Jo bareng sama kita."
Ilham kaget melihat permintaan istrinya untuk mengajak Jo satu vila sama mereka.
"Ti, ini bulan madu kita. Ini momen untuk kita berdua, bukan acara kumpul rame-rame. Apalagi dia itu mantan tunangan kamu."
"Tapi..." Tiara enggan melanjutkan omongannya. Ada rasa bersalah setelah membuat suaminya kesal.
"Maaf, mas."
Tiara kembali ketempat duduknya. Jo sudah tak ada ditempat. Satu sisi dia takut suaminya marah, di sisi lain dia juga tidak enak pada Jonathan.
Aduh, ti polosnya dirimu.
"Sore, saya Made yang akan mengantar tuan Rama dan nyonya Tiara ke vila." seorang lelaki berpakai bali berdiri di depan mereka. Made adalah sopir keluarga Ilham selama di bali nanti.
Perjalanan dari bandara Ngurah Rai ke Ubud bali tidak sampai satu jam. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tak lama mobil berhenti sebuah rumah yang arsitekturnya unik. Tiara menatap takjub saat masuk ke dalam ruangan tersebut. Di teras belakang terdapat kolam renang yang menghadap langsung pantai. Matanya tak berhenti berkedip karena inilah lokasi impiannya.
Saat didalam kamar Ilham merebahkan tubuhnya di ranjang springbed. Tiara menatap suaminya yang masih acuh padanya.
"Aku mau cari angin dulu. Kamu istirahat saja dulu." Ilham meninggalkan Tiara sendiri dikamar.
__ADS_1
"Mas masih marah. Maaf soal tadi, mas." Tiara memeluk punggung suaminya. Ilham tetap melepas tangan Tiara lalu keluar dari kamar.
Pukul 23:00 malam
Tiara terbangun melihat suaminya tak ada disampingnya. Wanita berusia 29 tahun berdiri keluar dari kamar. Saat di ruangan tengah Tiara melihat jejeran lilin dan taburan bunga mawar merah.
Kakinya terus mengikuti arah lilin berjejer. Tiara ingat saat membantu Alam dan mama Yulia untuk memberi surprise untuk Gita yang baru keluar dari rumah sakit. Jadi dia sudah hapal rute surprise tersebut.
Didepan sebuah kamar, Tiara mendapati sebuah kotak lalu membukanya. sebuah gaun mini berwarna merah,membuat keningnya berkerut. Pasalnya gaun itu sangat mini, membuat dirinya takut memakainya.
Sebuah catatan tertulis :
Pakailah baju ini, kutunggu di kamar.
Tiara kembali ke kamar untuk mengganti bajunya.
Apakah ini pertanda malam pertamaku dimulai. Ya, Allah jantungku berdegup kencang. Tapi mau tidak mau aku harus melakukannya. Ini sudah kewajibanku.
Kakinya kembali melangkah ke kamar tadi dengan memakai baju pemberian suaminya.
Kriiiiikkk
Tiara membuka pintu kamar. Tak ada siapapun disana, kamar pun dibuat dengan taburan mawar merah dilantai. Tiara terus berjalan mengitari kamar. Mencium wanginya aroma bunga mawar.
Sebuah tangan melingkar dipinggangnya. Tiara membalikkan tubuhnya langsung diserang dengan ciuman. Matanya melotot karena tidak diberi jeda untuk bernafas. Tiara melingkarkan tangan ke leher Ilham, menikmati sentuhan bibir suaminya.
Tangan Ilham menarik kearah lingerie yang dikenakan Tiara. Mencoba membuka tali yang membelit di pinggang istrinya, tanpa melepas pagutan mereka. Ilham pelan-pelan membuka pagutan mereka, senyum terpancar di wajah keduanya.
"Mas." Terdengar desahan dari bibir Tiara.
"Apa?" bisik ilham ke telinga istrinya.
"Kamu nggak marah lagi kan." Tiara mencoba meyakinkan kalau suaminya tidak marah lagi padanya.
Ilham menggeleng.
"Aku tidak bisa marah sama kamu, ti. Aku minta maaf dengan sikapku tadi. Aku tahu maksud kamu baik mau menolong kak Jo. Tapi please ini momen kita."
"Maukah kamu melepaskannya untukku, sayang. Maukah kamu menyerahkannya untukku..." bisik Ilham.
"Mas, aku istrimu. Apapun yang aku punya. Itu seutuhnya milikmu. Aku ikhlas menyerahkannya padamu." Ilham mengecup kening Tiara. Bertanda ritual mereka akan segera dimulai.
Ilham menggendong Tiara keatas ranjang bersprei putih. Mereka saling menghadap dengan tatapan bahagia. Tangannya membelai rambut sang istri sekaligus melepas ikatan rambut Tiara.
"Apapun yang terjadi dalam rumah tangga kita, jangan terucap kata berpisah. Karena perjuangan kita hingga sekarang tidak mudah, ti."
"Iya, mas. Tapi kamu juga harus janji. Jangan pernah kecewakan aku seperti yang dulu kamu lakukan padaku. Jangan pernah memandang wanita lain selain aku. Jangan pernah kamu mengungkit seseorang dari masalalumu didepan aku. Jangan ...."
Ilham merengkuh bibir Tiara. Merebahkan tubuh wanita itu, lalu meremas dada kecil Tiara, pagutan semakin dalam. Pagutan berpindah ke leher hingga ke dada tiara. Layaknya seorang bayi yang meminum Asi ibunya. Terdengar desahan panjang dari wanita itu.
Baju mereka berserakan di lantai, dua kaki manusia saling bergesekan diatas ranjang. Tubuh mereka tak tertutup tanpa sehelai benangpun. Saatnya Ilham melakukan pelepasan, Ilham berusaha menggenjot bagian sensitif Tiara.
"Ti, sempit sekali."
"Mas sakit!" Pekik Tiara.
Lagi-lagi ilham berusaha masuk. Tapi ternyata miliknya tidak bisa mengeluarkan cairan itu. Teriakan Tiara yang kesakitan membuatnya menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
Maafkan aku, ti!