Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
106. Rahasia Ina #3


__ADS_3

Jihan duduk di tepi ruangan kantornya. Menatap kaca yang bertengger tak jauh dari meja kerjanya. Pena yang sedari tadi berada ditangannya hanya jadikan mainan lalu diputar layaknya jarum jam.


Jo yang sedari tadi melihat Jihan hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Kakinya berdiri mendekati wanita yang sudah satu minggu menjadi atasannya. Ada rasa kasihan pada gadis itu, namun sesekali dia menepis perasaan itu karena itu bukan tujuan utama.


"ji?" Panggil Jo


Tak ada sahutan dari yang dipanggil hanya semenit menoleh. Jo berdiri didepan Jihan menutupi akses pandangan wanita itu. Tapi percuma kalau itu tidak menggeser sikap jihan dan tetap berdiam diri.


"Ji, sebentar lagi kita ada rapat. Kalau kamu kayak gini bisa kacau. Kamu tahu kan rapat ini menentukan nasib perusahaan ini."


"Bukannya ini yang kamu inginkan, Jo. Melihat perusahaan tak bernasib agar kamu bisa leluasa merebutnya kembali." Sela Jihan yang merasa sudah hapal dengan tujuan Jonathan.


Lelaki itu tetap saja bersikap santai saat jihan mencoba membuka kedoknya. Tubuhnya mendekati Jihan seolah mencoba empati dengan apa yang dirasakan. Jo tahu kalau Jihan dan Rangga itu bertepuk sebelah tangan. Dimana yang dia dengar kalau Rangga menerima Jihan karena hanya menyenangkan orangtua mereka.


Pikiran lelaki itu berputar saat dirinya menjalin hubungan dengan Siti. Dimana dirinya menerima sikap manis gadis itu yang palsu. Karena dia tahu pikiran siti bukan untuk dirinya tapi untuk lelaki lain. Seandainya dia berjuang lebih keras lagi mungkin dirinya dan Siti sudah bahagia, Seandainya dirinya tidak ngotot meminta Siti menerima lamarannya, mungkin hubungan mereka akan berjalan alami.


Dan seandainya tidak ada campur tangan mamanya mungkin siti tidak akan membatalkan rencana pernikahan mereka.


Jo paham sekarang posisi Jihan seperti dirinya dulu. Tapi sepertinya Jihan cukup kuat menutupi semuanya dari keluarganya.


"Ji, Aku tahu yang kamu rasakan saat ini. Tapi kenapa kamu nggak minta Rangga tegas dengan masalah ini." ucap Jo duduk didepan Jihan.


Jihan menatap lelaki itu yang duduk berjarak dekatnya. Entah kenapa dia enggan menatap Jo terlalu lama. Netranya memilih menyibukkan diri dengan beberapa berkas yang bertumpuk di hadapannya.


"Kalau orang ngomong dilihat dong." Jo menarik wajah Jihan agar menatap dirinya.


Oh, Tidak kenapa jantungku seperti ini. Jangan jihan, Kamu tidak boleh terpengaruh dengan lelaki ini. Ingat apa kata mereka tentang Jo, please Jihan kamu harus punya harga diri.


"Well, bukannya kita ada rapat kak Jonathan. Tolong siapkan berkasnya aku mau ke pantry dulu." Jihan berdiri lalu berjalan keluar ruangannya. Meninggalkan Jo yang masih menatap heran kearah Jihan.


"Jihan." Sebuah suara memanggilnya yang berjalan menuju pantry.


Jihan menoleh ke arah sosok yang dikenalnya.


"Om, kok nggak ngabari kalau mau kesini?" ucap menyalami lelaki tersebut.


"Surprise dong buat calon menantu. By the way nanti malam kamu sibuk nggak?" Ucap om Donal


"Nggak, om. Emang ada apa?"


"Nanti malam dinner keluarga. Buat bahas pernikahan kalian. Bisa kan?"


Jihan terdiam


Pernikahan? Ya Allah kapan semua ini terungkap kalau aku dan Rangga tidak memiliki hubungan apapun.


Rangga? Kenapa dia belum bilang pada keluarganya soal hubungannya dengan Ina? Aku ingin bebas dari semua ini.

__ADS_1


"Jihan" Suara Om Donal mengagetkan lamunan Jihan.


"Insyaallah, ya om. Soalnya papa masih di hongkong. Paling aku sama mama bisa datang."


"Nggak papa, nak. Om ngerti kok papa kamu sibuk banget. Ya,sudah om pulang dulu."


Jihan menatap nanar ke arah punggung Om Donal. Beban itu kembali menghimpit kepalanya. Sesak semakin menghimpit dadanya. Tapi dia bisa apa? Dia hanya bisa menunggu ketegasan dari lelaki itu.


Klik


"Apaan sih pacar kamu, Ina? dia yang ngajak dinner tapi dia juga nggak jemput kamu.Nggak gentle!" Omel Alam yang kesal diminta mertuanya mengantar Ina yang mau dinner dengan kekasihnya.


"Udah jalan aja, kak." sungut Ina.


"Ini udah mau sampai, non."


Alam memandang Restoran yang ada didepannya. Terngiang di ingatannya dimana saat dirinya bertemu kembali dengan Gita yang saat itu sudah menjadi kekasih Ilham. Gita yang saat itu tak mengingat dirinya.


"Kok kak Alam ikut masuk? Udah kak Alam pulang saja kasihan shasa nggak ada yang jaga. Jangan ngandelin tante Yulia." Ina kaget saat Alam mengikutinya sampai kedalam.


"Aku capek nyetir jadi mau istirahat sebentar dulu." Alam mencari lokasi tempat duduk.


Mata Ina berputar mencari Rangga. Tapi tidak menemukannya.


"Inaaaa..."


"Alhamdulillah baik, tante apa kabar?"


"Alhamdulillah baik juga. Kamu disini sama siapa? sama pacarmu, ya. mana kenalin dong sama tante. Mas kenalin ini Karina, anaknya mas Aryo."


Ina menelan salivanya, bagaimana dia bisa menjelaskan kalau pacarnya adalah anak tante Raya itu sendiri. Matanya berputar melihat kedatangan Jihan dan mamanya yang berbaur dengan keluarga Donal.


"Na, aku pulang ya?" Pamit Alam


"Eh, ini pacarmu ya, nak. Cakep juga. Sini Ina dan siapa namamu anak muda?"


"Ronal Wassalam Spencer, tante."


"Jadi kamu anaknya Bobby spencer. Wah, kesempatan emas nih bisa bertemu dengan keluarga terkaya no 5 se-jakarta. Kalian jangan pulang dulu, tante mau mengajak kalian berbagi kebahagiaan." ajak tante Raya.


Tante Raya menarik Ina dan Alam untuk berbaur dengan semua keluarga yang sudah berkumpul. Rangga kaget saat melihat Ina yang ada dirombongan keluarganya.


Assalamualaikum


Semua menoleh kearah suara. Tante Raya mendudukan Ina disamping Rangga. Dibawah meja tangga mereka saling menggenggam, Rangga tidak bisa membayangkan reaksi Ina kalau tahu malam ini membicarakan pernikahan dirinya dan Jihan. Begitu juga dengan Ina, dia masih takut hubungannya diketahui oleh tante Raya.


"Jihan dan Rangga kemarilah!" seru Tante Raya.

__ADS_1


Keduanya berdiri dan perlahan mendekati.


"Semuanya, saya mau memperkenalkan calon menantu saya yang bernama Jihan Almira. Yang akan menikah dengan Rangga bulan depan."


Jihan, Rangga dan Ina menegakkan kepalanya. Mereka sama-sama terkejut dengan pengumuman yang dikeluarkan tante Raya.


Ina semakin berdebar, tangannya terasa dingin. Lama Alam mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Pada akhirnya dia menyadari kalau yang paling terluka adalah Ina. Alam menggenggam tangan Ina mencoba menguatkan gadis itu.


"Kak kita pulang." Ucap Ina dengan nada suara bergetar.


"Tapi..."


"Pulang! aku mau pulang!" Ina berlari meninggalkan acara.


Mata Rangga terus menatap Ina. Rangga merasakan ada kekecewaan dalam diri gadis itu. Dengan cepat dia mengejar Ina yang menangis berlari memasuki mobil.


Jihan merasa bersalah dengan semua yang terjadi saat ini. Dia terus merutuki dirinya sendiri yang mau saja datang keacara itu. Bodyguard keluarga Donal menahan Rangga yang mengejar Ina.


Rangga...Rangga kan kamu pikir mama tidak tahu hubungan kalian.


Sementara Ina tak mampu menahan tangisnya. Bahkan untuk tersenyum saja dia tak bisa. Tangannya menahan rasa sakit yang sudah lama tak datang. Sekelebat memori kejadian tadi terus berputar.


Akhir-akhir banyak sekali kejadian tak terduga dalam hidupku.


Di jauhi sahabat, fitnah dikampus, terancam di keluarkan.


Saat dia menyatakan cintanya padaku adalah obat terindah setelah luka yang pernah diberikan oleh kak Dodo.


Tapi ternyata luka itu juga dia berikan padaku. Sama seperti yang kak dodo dulu lakukan.


Ina terus bermonolog mengingat semua kejadian yang dialaminya. Dadanya terasa sesak membuatnya tak bisa bergerak. Pandangannya mulai kabur dan gelap.


Yang dia dengar teriakan Alam yang terus memanggil namanya.


...#####...


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2