Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
BONCHAP 6


__ADS_3

POV Jihan


Aku hanya wanita biasa. Hidupku memang tak sesempurna cerita dongeng atau pemeran novel yang berujung indah. Terdidik dengan segala kemewahan yang diberikan mama dan papaku. Meskipun mereka tahu kalau aku bukan anak mereka. Tapi kasih sayang mereka setara dengan orangtua kandung.


Aku bukan anak yang menyalahkan ibu kandungku. Aku juga tidak pernah mempertanyakan kenapa ibu tidak mencariku. Mungkin dia sudah mencariku tapi sayangnya aku bersembunyi dan menikmati kehidupan mewah dari orangtua angkatku.


Hingga saat karena kemewahan membuat aku tidak menjaga yang aku punya.


Aku pernah kegerebek di sebuah hotel bersama seorang teman yang bernama Indra. Kami mabuk-mabukan bersama lalu mencoba indehoy dihotel. Sayangnya sebelum kami melakukannya sudah terhendus oleh antek-antek papa.


"Dasar anak tidak tahu diri!"


Saat itu aku melihat amarah papa. Kekecewaannya padaku yang teramat dalam. Aku terus meminta maaf pada Papa tapi dia sudah terlanjur marah. Papa berkali-kali memukul tubuhku dengan payung. Amukan plus rasa malunya terpancar dengan jelas.


Mamaku beberapa kali terkena imbas saat papa memukuliku. Drama tangisan berlangsung lama dirumah ini.


Hingga papa memindahkan kuliahku dari UI ke Harvard. Aku juga harus tinggal di Asrama yang super ketat. Aku terima karena ini adalah hukuman dari papa.


Sekarang aku sudah menikah dengan seorang lelaki berjabatan perwira saat ini. Dialah Akbar Syahputra, lelaki yang menjadi suami dadakanku. Kenapa dadakan? Karena seharusnya yang menjadi suamiku adalah Rangga. Tapi dihari pernikahan kami Rangga tak datang. Aku paham hal itu, karena tidak ada cinta diantara kami. Karena cinta Rangga untuk Ina.


Usia pernikahan kami menginjak tahun ketujuh. Aku pernah hamil setelah menikah dan lagi-lagi dokter mengatakan kalau aku hanya hamil anggur. Sama seperti kasusku saat hamil anak Dodo. Apa ini karma? mungkin. Mungkin juga Tuhan memintaku untuk belajar mencintai anak kecil. Karena dulu aku kurang begitu suka anak-anak. Kehadiran Azka sepertinya bisa mengobati hatiku. Aku melimpahkan kasih sayang layaknya anakku sendiri.


Tia, mantan istri Akbar sering menitipkan Azka padaku. Katanya Azka sering minta diantar kerumah main sama oma dan Bunda Jihan. Aku senang Tia begitu welcome dengan pernikahan kami. Dia sering mampir kerumah, mengobrol ringan antar wanita. Tak ada kisah istri pertama dan kedua bagi kami berdua.


Akbar selalu bilang "Anggaplah Tia seperti adikmu sendiri. Tia itu lebih muda dari kamu, dia juga dibawah usiaku."


Dan sejak itu hubungan kami menjadi dekat Layaknya saudara. Kami sering bergantian mengurusi kebutuhan Azka. Meskipun Azka hanya anak sambung Akbar.


Hingga ..


Kejadian dirumah sakit semalam yang membuat aku tercubit. Aku menemukan Akbar menemani Tia dirumah. Akbar selalu bilang kalau Tia sudah seperti adik, karena usia Tia jaraknya dua tahun dibawah Akbar. Tapi kenapa aku masih sesak melihat kebersamaan mereka.


Sejak itu hingga hari ini, Akbar belum ada pulang kerumah. Aku yakin Akbar masih bersama Tia.


Ya Allah sesakit ini rasanya ditikung. Aku tidak mau suudzon, tapi pikiran itu terus menari-nari dipikiranku.


Sekarang ..


Dirumah sedang heboh ketika mendengar Siti hamil lagi. Apalagi mereka bakal mengadakan penyambutan Siti.

__ADS_1


Ah, Iya ... Siti pantas bahagia setelah perjalanan hidupnya yang rumit. Dan aku, mungkin pantas bersedih setelah yang aku lakukan dimasa lalu.


Klik


Jihan duduk ditaman sepulang dari kantor. Tangannya menari dilayar gawainya. Hingga pada akhirnya terdengar deringan menandakan keaktifan si penerima telepon.


"Assalamualaikum, Sayang" Jihan mendengar sapaan itu tersenyum.


"Waalaikumsalam, Mas. Kamu dimana?"


"Aku dibandung.Jenguk Azka, kamu mau ngomong sama Azka."


Jihan tersenyum kecut.


"Bunda ...." Suara bariton kecil itu terdengar riang.


Lama Jihan menghela nafas. Menenangkan hati dan pikirannya. Sangat terasa beban berat dihatinya.


Mas, Kamu bahkan tidak pamit kalau pergi ke bandung. Sebenarnya aku ini siapa buatmu?


"Azka, kamu apa kabar, nak?" sapa Jihan pada anak sambungnya.


"Iya, nak Bunda banyak kerjaan. Kamu sehat-sehat kan, nak."


"Bunda.." Suara Azka terdengar berbisik.


"Iya, nak. Kenapa suaramu berbisik?"


"Azka mau pulang. Tapi nggak boleh sama nenek." Suara Azka masih berbisik.


"Azka dengar Bunda, ya. Azka harus tetap disana biar jadi anak yang pintar." Bujuk Jihan.


"Tadi malam Azka dengar pembicaraan nenek, bun. Katanya mama sakit tapi nggak bisa sembuh. Azka takut mama diambil Tuhan."


Deeeeer! Jihan mendengar berita tersebut serasa disambar petir. Tia sakit parah! apakah dia tidak salah dengar.


"Azka, Mama Azka pasti sembuh kok."


"Bener bunda?" Suara Azka terlihat lebih tenang.

__ADS_1


"Bunda mau ngomong sama Abi kan? Azka panggilin, ya."


"Halo, sayang." Terdengar suara Akbar.


"Mas, kenapa kamu nggak bilang kalau pergi ke bandung. Kenapa kamu akhir-akhir ini berubah bukan Akbar yang dulu aku kenal."


"Aku nggak berubah, sayang. Kamu yang berubah. Kamu sadar nggak beberapa bulan kamu sibuk kerja sampai melupakan kewajibanmu sebagai istri. Kamu sadar nggak akhir-akhir ini kamu malah terlihat lebih ansos."


"Kalau memang ada salah padaku kenapa kamu diam saja, mas. Bukankah sebagai suami kamu berhak menegurku. Apakah kamu ingin tahu kenapa aku seperti ini?"


"Aku tahu. Kamu masih minder kan karena Ibu Aisyah terus membanggakan Siti yang tinggal diluar negeri dan hamil lagi. Aku tahu itu, han."


Jihan menutup teleponnya. Dia terlanjur kecewa pada suaminya. Baginya itu bukan alasan supaya Akbar menjauhinya.


Langit ditaman mulai menguning bersamaan dengan detik-detik turunnya matahari. Jihan membereskan beberapa barang yang keluar dari tasnya.


"Jihan"


Dengan cepat Jihan menoleh kearah sosok dibelakangnya. Matanya membulat melihat siapa yang didepan.


"Ra.. Rangga!"


Rangga hanya tersenyum kecil. Jihan kaget dengan lelaki didepannya. Lelaki yang pernah meninggalkannya di hari pernikahannya. Setelah tujuh tahun menghilang sekarang dia muncul.


"Kamu apa kabar?" Tanya Rangga sambil duduk disamping Jihan.


"Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar?"


"Aku juga Alhamdulillah masih utuh tanpa kurang apapun. Gantengnya belum luntur." Seperti biasa Rangga selalu memancing tawa Jihan.


"Han"


"Iya."


"Maaf soal dulu."


"Aku sudah maafin kamu, Ga. Toh dari awal aku sudah wanti kamu supaya bergerak lebih cepat. Sayang, kamu terlambat."


"Aku pamit, han. Besok aku mau pulang ke lombok."

__ADS_1


Jihan mengangguk. Rangga pun meninggalkan Jihan yang sendiri di kursi taman.


__ADS_2