
Dua hari kemudian
POV Jonathan
Aku terbangun dari sofa rumah sakit. Mataku mengerjap melihat wanita yang masih terbaring di hospital bed. Sudah dua hari Jihan terbaring disana, sejak operasi malam itu sampai hari ini, dia belum juga membuka matanya.
Jihan saat tidur seperti ini terlihat lebih cantik. Padahal tanpa make up, wajah seperti penyayang. Tapi dia memang penyayang, aku ingat waktu Siti tinggal dengannya, dimana dia memperlakukan Siti seperti adiknya sendiri. Ya, walaupun pada akhirnya mereka sekarang jadi renggang gara-gara ilham.
Ah, aku kenapa malah memujinya! Ingat Jo, kamu mendekatinya demi memperjuangkan aset orangtuamu, ingat Jo! dia anak Alex, orang yang sudah mengkhianati keluargamu.
"Kak jo!"
Aku menoleh saat Ilham memanggilku. Kulihat wajahnya kusut, sepertinya Ilham tidak pulang dan menginap dirumah sakit.
"Kamu kenapa,ham? Kusut bener!"
"Kak Jo mau temenin aku ngopi?" tawarnya.
Aku mengikuti kemana arah ilham berjalan. Memang aku ingin sekali mengopi, apalagi semalaman aku tidak bisa tidur.
Disudut koridor rumah sakit, aku melihat ada wanita hamil masuk memeriksakan ke obgyn. Melayang ingatanku pada adikku yang dulu sedang hamil muda. Tapi, malah diceraikan sama suaminya.
"Ham!"
"Iya, kak."
Aku masih menatap wanita itu, pergi kontrol hamil tanpa didampingi suaminya.
"Andai Raisa masih ada. Mungkin anaknya sudah lahir."
Kulirik ilham yang sepertinya merasa tersindir dengan omonganku. Sengaja, biar dia tahu penderitaan adikku selama ini.
"Sejak dia menemuimu di rumah sakit. Sejak dia tahu kalau lelaki yang dicintainya akan menikah dengan mantan pacarnya. Dia mendadak menjadi penyendiri. Jangankan menjaga kesehatan janinnya, untuk dirinya sendiri saja dia abaikan. Raisa sering menangis saat berada dikamar. Untung saat itu Gita menyelamatkannya, walau pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, setelah dikuret Raisa menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Gita."
"Maafkan aku,kak. Aku tidak tahu kalau kejadiannya seperti itu. Maafkan aku Raisa, aku memang bukan suami yang bertanggung jawab."
Aku tersenyum melihat reaksi ilham yang menurutku basi. Dia meminta maaf setelah semuanya terjadi, enak benar. Setelah semua yang dia lakukan, setelah dia membuat adikku menangis sepanjang pernikahan mereka. Oke, aku akui kalau Raisa juga salah sudah menjebak ilham dalam pernikahan itu.
Tapi apa salahnya untuk menerima seseorang yang telah mengikat janji sakral, bukan terus memikirkan mantan yang sudah bahagia dengan yang lain.
Sikap Ilham yang seperti ini, membuatku sulit memaafkannya. Apalagi dia mendekati gadis yang kucintai, sering membuat Siti menangis dengan obsesinya pada Gita.
"Kak!"
"Hmmm.."
__ADS_1
"Apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku?"
"Kamu mau melakukannya?"
Ilham mengangguk. Aku hanya bisa tersenyum menang.
"Tinggalkan Siti! Kamu hanya akan membuatnya menderita, ham!"
"Kak aku mohon jangan seperti ini! Kak jo tahu aku dan siti saling mencintai. Aku ... aku nggak sanggup jauh dari Siti, kak."
"Ya, sudah kamu belum bisa kumaafkan. Satu lagi, ham! Apa kamu sudah bilang pada Siti tentang kekuranganmu? Belum kan! Kamu tahu tidak kalau siti sangat menyukai anak-anak. Dia pernah bilang padaku kalau setelah menikah dia ingin cepat hamil."
"Iya, kak. Dia juga pernah bilang padaku seperti itu."
"Lalu? Kamu tidak tergerak untuk mengatakan yang sebenarnya. Ilham..Ilham itulah kelemahanmu egois. Kamu hanya memikirkan diri sendiri. Kamu nggak pernah memikirkan perasaan Siti! Kamu tahu kenapa waktu itu Siti drop! Karena dia kecewa sama kamu, kamu memilih menerima perjodohan dengan Jihan."
"Itu karena keluarga Siti mengatakan kalau kak jo dan siti sudah menikah. Bagiku saat itu, Siti sudah
memutuskan hubungan dengan menikahi kak jo."
POV Author
Jo dan Ilham masih saling berdebat membahas masalah raisa dulu, hingga merembet persoalan kejujuran ilham pada Siti. Dimata Jo, ilham hanya akan membuat Siti menderita. Apalagi yang Jo ketahui kalau Siti sangat menyukai anak-anak.
Ilham dan Jo duduk dikantin, seperti tujuan awal mereka mengisi perut yang sedang kosong. Semalaman Ilham tidak bisa tidur, memikirkan keberadaan siti. Begitu juga Jonathan, dia baru bisa tidur setelah menjaga Jihan dan juga Ibu Aisyah.
Mereka memilih tetap satu meja, walaupun sama-sama dirudung kekesalan. Sambil menyeruput kopi, Jo pura-pura sibuk.
"Dokter ilham!"
Suster berlari menemui dirinya. Ilham pun menoleh kearah suster, Jo yang disamping ilham masih cuek.
"Mbak Jihan sudah sadar. Dia menanyakan dokter."
Ilham langsung beranjak dari kursi kantin. Dia tidak ingat ada Jonathan yang tadi bersamanya.
Jo mengikuti ilham menuju ruangan Jihan. Entah kenapa ada rasa senang saat mendengar jihan sudah sadar.
Sementara di ruang inap Jihan, mama kiki duduk menemani sang putri yang baru siuman. Derap langkah memasuki ruangan sang putri, mama tetap tidak tergerak untuk menyambut dua pria yang sedang dekat dengan sang putri.
"Ma, aku.haus."
"Ini, nak." mama menyodorkan air mineral pada sang putri.
Jihan langsung meneguknya sampai habis. Rasa haus sangat terasa dikerongkongan. Mama melihat sang putri meneguk habis satu botol air mineral.
__ADS_1
"Lagi, ma?"
"Tinggal itu airnya, nak. Mama keluar dulu, ya. beli aqua lagi."
Jihan mengangguk lalu menatap langit kamar rawatnya.
Alhamdulillah, ya Allah engkau masih memberiku kesempatan hidup. Aku janji akan belajar memperbaiki diri.
"Jihan!"
Jo masuk langsung memeluk jihan. Jihan terpaku saat mendengar Jo seperti menangis melihat dirinya.
"Kamu tahu, jihan! Dua hari kamu tak sadarkan diri membuat aku cemas. Kamu tahu, jihan! Aku bahkan berpikir tidak akan bisa melihat kejutekanmu, karena kejutekanmu yang menarik aku untuk mencoba mengenalmu." Cerocos Jonathan masih memeluk Jihan.
ilham menatap pemandangan didepannya. Perasaannya terharu saat Jo mengungkapkan perasaannya pada Jihan.
Jihan masih bingung dengan tingkah Jo.
"Kak jo kenapa?"
"Jihan..."
"Iya"
"Will you marry me.. maukah kau menikah denganku, lelaki yang sekarang bukan anak seorang pengusaha lagi, lelaki yang sekarang adalah lelaki miskin yang tinggal dikontrakan kecil, lelaki yang sekarang hanya berpenghasil sebagai potografer kecil, mau kah kamu menerimaku apa adanya .."
"Maaf kak Jo ... bisakah aku meminta waktu. Ini sangat cepat, bukankah selama ini kita tidak terlalu dekat. Kenapa kak Jo tiba-tiba melamarku. Aku ... belum bisa menjawabnya ... maaf kak jo?" jihan melepaskan pelukan jonathan.
Kak Jo orang baik, aku bisa melihat bagaimana kak jo memperlakukan Siti. Ya, mungkin karena dia cinta sama Siti. Tapi tetap saja aneh buatku, benarkah seperti yang dikatakan Clara kalau jo itu ada maksud tertentu.
Akankah Jihan mau menerima pinangan jonathan atau malah menolaknya?
...####...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1