
Sebuah kaki melangkah menuju ruang rawat Siti. Kaki indah tinggi semampai, membuat siapapun yang melihat menjadi tidak fokus. Si pemilik kaki tidak peduli dengan tatapan orang orang. Tangannya menenteng sebuket buah tanda ingin menjenguk seseorang.
"Siti!" Jihan memeluk tubuh gadis itu.
Siti tetap tersenyum pada Jihan. Tak ada kemarahan pada wanita yang sudah banyak membantu keluarganya. Jihan mengambil kursi untuk duduk di samping Siti. Sambil meletakkan buah di nakas.
"Kak Jihan apa kabar?" tanya Siti melihat wanita itu sedang mengupas apel.
"Alhamdulillah baik,ti. Kamu gimana kabarnya?"
Jihan mencoba basa-basi dengan Siti. Walaupun sebenarnya dia malas bicara dengan Siti.
"Seperti yang kakak lihat. Aku belum bisa bangun. Kakiku di gips." Siti ingin menunjukkan kakinya tapi tubuhnya tidak bisa bangun.
Ya Allah, rasanya sakit sekali badanku ini. Untuk bangun saja tidak bisa. Aku takut lumpuh, mungkin ini yang dirasakan Gita dulu. Ya Allah maafkan aku yang sudah jahat pada Gita.
Seandainya dulu aku tidak menutup akses antara kak Alam dan Gita mungkin mereka sudah lama bersatu.
"Kak aku tidak bisa gerak. Rasanya badanku sakit sekali saat bangun!" keluh Siti.
Jihan menjelit ke arah Siti yang masih sibuk menggerakkan badannya. Saat Siti melihatnya, jihan kembali memasang wajah malaikatnya.
"Siti, maafkan aku. Ini semua pasti gara gara kamu menyelamatkan nyawaku. Aku berhutang nyawa padamu,ti.
Sebagai gantinya aku akan memenuhi permintaanmu, apapun itu."
Siti menatap Jihan seolah meyakinkan ucapan wanita itu " Apapun itu?" Jihan mengangguk.
"Termasuk soal Ilham?" Jihan terdiam. Entah kenapa dia takut kalau Siti memintanya meninggalkan Ilham.
"Kenapa kak Jihan diam? Apa ini tidak termasuk dalam permintaanku?" Siti masih meyakinkan diri bahwa Jihan keberatan dengan permintaannya.
"Kak, permintaanku nggak muluk-muluk kok. aku cuma minta tolong bahagiakan Ilham. Tetap berada di sisinya, selalu ingatkan dia ketika berbuat salah. Tolong ingatkan dia untuk menjadi imam yang baik untuk kakak. Ilham itu orangnya temperamental, kak. Dia gampang emosi, Hanya kakak yang bisa menenangkan dia.
Cuma itu permintaanku kak. Nggak ada yang lain. Maafkan aku yang sudah menjadi duri dalam hubungan kalian." ucap Siti Sambil menatap pintu kamar inapnya.
"Siti, maafkan jika aku bertanya seperti ini? Apakah kamu mencintai Ilham?"
Lama Siti tak menjawab.
Aku mencintainya kak, tapi tidak mendapat restu dari ibu. Aku tidak ingin mengecewakan ibu.
Aku rasa ini jalan terbaik untuk kami. Apalagi mama Linda sudah memberi lampu hijau untuk aku dan kak Jo.
Ilham yang tadinya merasa lemas, bangkit ingin menengok keadaan Siti. Kakinya terhenti saat mendengar ucapan Siti pada Jihan.
"Aku tidak mencintainya lagi, aku cuma dijadikan pelarian saja. Sepertinya kak jihanlah yang sekarang dicintai Ilham.
Aku dan kak Jo sudah di restui oleh mama Linda. Sepertinya memang jodohku adalah kak Jo, bukan ilham."
"Kamu yakin dengan keputusanmu menerima Jo?Kamu tidak menjadikan Jo sebagai pelarian juga,kan."
__ADS_1
"Tidak kak. Kak Jo lebih tulus dari Ilham. Dia mencintaiku tanpa pamrih sejak dulu."
jangan bohong, siti. Matamu menyiratkan kalau kamu mencintai Ilham. Aku tahu kalau ibu lebih suka Jo daripada Ilham.
Tapi aku juga lega jika kamu memang mau mengikhlaskan Ilham untukku.
Dari matamu menyiratkan kamu begitu terluka. Dari sikapmu memperlihatkan kamu terpaksa.
"Aku janji, ti. Aku akan mencintai Ilham sepenuh hatiku. Aku janji,ti aku akan membimbing Ilham menjadi imam untuk rumah tangga kami nanti.
Aku senang kamu mengikhlaskan ilham. Semoga ini benar-benar dari hati kamu yang paling dalam.
Terimakasih Siti, kamu telah menyelamatkan nyawaku.
Tapi juga menyelamatkan masa depanku" jihan memeluk tubuh Siti yang masih terbaring.
Jihan pamit pulang. Sepeninggalan Jihan Siti terus menangis dalam diam. Hatinya terasa sakit, tapi semua itu harus terjadi. Dia tidak bisa mempertahankan ilham, Siti bisa membayangkan betapa murkanya ibu bila masih mempertahankan Ilham.
Siti mendengar suara pintu terbuka. Siti pura-pura tidur. Langkah kaki memasuki ruangannya. Siti tahu siapa yang masuk.
"Aku tahu kamu belum tidur,ti." suara Ilham yang memasuki kamar rawatnya.
Ilham duduk disamping Siti. Lalu memegang tangan gadis itu, Siti pura-pura terbangun.
"Kamu mau apa, ham?"
"Bersumpah di sini dan katakan apa yang kamu bilang tidak benar?" Ilham meletakkan tangan Siti diatas kepalanya.
"Tolong keluar! Sudah cukup banyak masalah yang kamu timbulkan dalam hidupku. Aku tidak ingin terlibat urusan denganmu lagi. Mulai sekarang urusan kita selesai! Sekarang kamu keluar dari sini!" usir Siti.
Siti mencoba bangkit tapi tetap saja tidak bisa.
"Badanku kenapa badanku tidak bisa bergerak. Apa aku lumpuh? Ham, tolong jelaskan!" Siti tetap memaksakan untuk bangkit, tapi semakin bergerak semakin sakit.
"Aku tidak mau lumpuh! Aku tidak mau lumpuh!" pekik Siti.
Ilham memeluk Siti mencoba menenangkan gadis pujaannya. Siti mendorong tubuh Ilham dengan kasar. Dia tidak peduli tubuhnya sakit sekali, tapi dia tidak ingin lagi berurusan dengan Ilham.
klik
"Bagaimana penampilanku, sayang." ucap Jo memamerkan penampilan barunya pada Siti.
Saat ini Jo lagi di uji oleh papa Hermawan untuk bekerja di perusahaan keluarganya. Apalagi sebentar lagi dia akan menyandang status baru yaitu kepala rumah tangga.
Siti menatap calon suaminya dengan senyum.
Siti belajar menerima Jo yang sudah menjadi tunangannya. Sambil menggerakkan kursi rodanya Siti mendekati Jo.
"Bungkuk sedikit sayang, biar aku rapikan bajunya."
Jo membungkuk berhadapan dengan Siti. Jo melihat senyum di wajah gadis itu. Tapi Jo tidak melihat cinta itu ada.
__ADS_1
"Ti..."
"Iya, kak." jawab Siti sambil membetulkan dasi milik Jo.
"Apakah kamu mencintaiku?"
Aktivitas tangan Siti terhenti sejenak. Lalu menatap pria yang akan menikahinya bulan depan.
"Iya..." jawab Siti datar.
"Yakin?" Jo masih ingin memastikan lagi.
"Apa kak Jo meragukanku?"
"Karena yang aku tahu kamu masih ..." Siti menutup jari telunjuknya di bibir Jo. Siti menggeleng cepat, meminta Jo tidak usah membahas lebih lanjut.
"Sekarang berangkat ya. Lagian kak Jo aneh, subuh-subuh kesini cuma mau pamer baju kerja." Ledek Siti sambil tertawa.
"Kak Jo nggak malu kan?" jawab Siti saat Jo mengajak keliling taman didekat rumah Gita. Sejak Siti pulang dari rumah sakit, Jo rajin menemui calon istrinya hanya sekedar jalan-jalan keliling komplek.
"Malu kenapa sayang?"
"Aku sekarang cacat kak, kalau kak Jo mengajakku pergi resepsi pernikahan teman kakak. Aku nggak mau nanti orang melihat kita."
"Siti, aku mencintaimu bukan karena kamu cantik. Aku mencintaimu tulus dari lubuk hatiku. Aku tidak peduli omongan orang. Satu yang pasti. Mau kamu lumpuh, mau kamu cacat muka. Atau wajah kamu seperti Omas pun aku tetap cinta sama kamu."
Siti tertawa mendengar gombalan Jo. Baginya, saat ini hanya Jo yang memang benar-benar tulus padanya.
Kak Jo, izinkan aku belajar mencintaimu. Izinkan aku membahagiakan orang sebaik dirimu.
Maafkan aku yang saat ini belum bisa membalas perasaanmu
semoga dengan seiring berjalannya waktu aku bisa menerimamu.
Jo mengecup kening Siti dengan lembut. Restu sudah di tangan kedua orangtua mereka. Tidak akan ada aral melintang untuk hubungan mereka.
Semoga kamu bahagia dengan kak jihan.
Aku mundur, ham.
Lalu bagaimana dengan Ilham?
Apakah ada secercah harapan pada pria itu?
Nah gimana tuh
disini dukung siapa hayooo!
bersambung
...######...
__ADS_1