Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
118. Pergi ke arisan


__ADS_3

(Sayang, sepertinya aku tidak bisa pulang lagi malam ini.)


Tiara membaca pesan dari suaminya dengan perasaan gondok. Sudah dua hari suaminya tak pulang ke rumah karena kesibukannya sebagai dokter. Ada rasa rindu yang dirasakannya. Tapi dia tak ingin dianggap istri yang manja.


(Tapi, Mas, kamu kan bisa pulang sebentar. Ganti baju atau apa kek)


(Kemarin aku sudah pulang sebentar ngambil baju ganti. Kata Indro kamu pergi ke tempat Mama, ya. Setidaknya aku tenang kamu berada ditempat yang aman)


Tiara panas mendengar pesan suaminya.


Tenang?Jadi selama ini aku nggak bikin kamu tenang, Mas. Nengokin, kek, apa kek. Ini main lempar tangan saja.


Beuhhh! sabar, ti. Untung sudah jadi suami kalau masih jadi pacar sudah kupecat.


Tiara membanting hp nya saking kesal membaca pesan dari suaminya. Tiara langsung masuk ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang di kamar. Saat ini dirinya masih berada di apartemen orangtuanya. Membalikkan badan kearah samping kanan. Lengannya mendekap bantal dengan sekuat tenaga.


Sejak kemarin aku berusaha sabar, mas. Aku iri sama Fitri bersuamikan Dokter Dicky. Padahal Dokter Dicky juga sibuk tapi dia tetap punya waktu buat istrinya dan calon anaknya.


Tiara menghela nafas panjang, tak lama ibu Aisyah masuk ke kamar menemani sang putri yang terlihat seperti berwajah mendung. Sejak putrinya menikah Ibu sudah hapal sekali kalau mereka suka ribut terus akur lagi. Ibu membelai rambut putrinya yang masih berbaring menyamping.


"Kamu makan, ya. Ibu buatin rebung gulai kesukaan kamu pake ikan nila."


Tiara menggeleng. Dia cuma mau suaminya, itu saja. Tidak tahu kenapa sejak hamil dia malas melihat suaminya, tapi kalau suaminya tak ada pasti dicarinya.


"Ti"


Tiara duduk berdampingan dengan ibu Aisyah. "Terimakasih bu, udah masakin gulai favorit siti. Maafin siti ya, bu. Jika selama ini aku sering mengecewakan ibu. Ibu benar, Ilham bukan suami yang bertanggung jawab, dia lebih sayang sama pekerjaannya daripada menemani istri dan anaknya.


"Ti, Ilham bukan lelaki seperti itu, ibu percaya dia sayang sama kamu, mencintai kamu, ibu yang minta maaf sama kalian. seandainya ibu tahu betapa jahat linda, ibu tidak akan merestui kamu dan Jo.


Jo memang lelaki baik, tapi orangtuanya jahat sekali. Sampai memfitnah kamu hingga kita diusir dari kampung. Dampaknya sekarang ke keluarga Edwar. Maafin ibu, ya, nak." Ibu Aisyah memeluk sang putri.


"Bang Ed apa kabarnya,bu?"


"Kata Dinda, Bella sampai mogok sekolah karena masalah kita, ti."


Tiara tidak menyangka dampaknya begitu besar karena masalah dulu. Matanya menerawang seolah pedih mengingat kejadian itu. Ibu Aisyah tahu apa yang dirasakan sang putri.


"Bu, ajak bang Ed dan Kak Dinda pindah kesini. Tinggal sama ibu, biar soal pendidikan Bella dan Aura aku yang mengurusnya."


Ibu Aisyah terharu mendengar keinginan sang putri. Meskipun bukan berasal dari rahimnya tidak menyurutkan rasa sayangnya pada Tiara. Seketika dia teringat pada sang putri sulung.


Dimana kamu, nak. Ibu rindu padamu. Jika memang kamu masih hidup. Ibu yakin kamu sudah bahagia dengan keluargamu sekarang.


Ibu berharap bisa bertemu denganmu, nak. Sebelum ajal menjemputku.


Ibu menyeka air matanya. Dulu dia sudah melaporkan hilangnya sang putri pada pihak berwajib. Tapi sayang, tidak gurun waktu satu minggu kasusnya ditutup. Polisi menyimpulkan putrinya mungkin masih ada disekitar pasar.


Zreeet Zreeet


Handphone Tiara berbunyi dengan rasa malas dia mengangkatnya.


"Hallo, assalamuailaikum."


"Waalaikumsalam, benar ini nomor mbak Tiara istri dokter Ilham."

__ADS_1


"Iya, benar. Ada apa mbak?"


"Kami akan mengadakan acara arisan khusus para istri dokter. Jadi kami mengundang anda untuk bergabung di cafe Great."


Tiara menggaruk kepalanya, dia belum paham acara ini. Saat mendengar nama cafe tersebut pikirannya melayang. Teringat insiden salah sebut nama saat dinner bersama.


"Hmmmm... saya bilang ke suami saya dulu, mbak."


"Aduh, mbak. Dokter Ilham pasti setuju kok. Pokoknya kami tunggu, ya kedatangannya." Perempuan itu menutup teleponnya. Meninggalkan sejuta rasa penasaran.


Tiara menghela nafas panjang. Arisan? dia tak pernah berminat dengan acara seperti itu. Yang dia tahu itu banyak mudaratnya, jadi ajang pamer dan rumpi.


"Kenapa,ti?" Tanya ibu melihat wajah putrinya sedikit mendung.


"Mereka ajak aku arisan istri dokter." Jawab Tiara setengah malas.


Tiara kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil memeluk guling. Hari ini dia malas mau ngapain, dia malas mau kemana-mana. Dia maunya tidur saja.


"Bu... aku mau ke rumah sakit. Ibu temenin aku ke rumah sakit, ya. Sekalian siapin bekal makan siang mas ilham." Tiara beranjak ke dapur mempersiapkan nasi bento untuk suaminya.


"Kamu makan dulu, nak. biar ada tenaga, ingat kamu lagi hamil harus banyak makan."


Ting


"Tiara ini lani istrinya dokter Toni. Kamu datang nggak ke arisan dokter. Aku mau datang tapi nggak ada temen, kalau kamu mau datang aku jemput ke rumah kamu."


Aduh kasihan juga mbak Lani. Aku pengen banget ikut tapi lagi keadaan begini. Pengennya selonjoran di kamar. Tapi...


Apa aku ikut saja, ya. Itung itung refreshing.


"Ti"


"Iya,bu."


"Jangan pake jeans, kamukan lagi hamil." Tegur ibu Aisyah.


"Siti cuma punya celana jeans, bu." ucapnya sambil menatap pakaiannya.


Pada akhirnya dia kembali menggunakan pakaian longdress sabrina, tak lupa tas kecil yang selalu dibawanya. Kakinya melenggang ke luar kamar, ibu aisyah mengikuti dari belakang.


"Kamu yang namanya Tiara, saya lani istrinya Dokter Toni." Lani memperkenalkan diri.


Tiara menatap perut Lani yang membuncit membuatnya bergidik ngeri. Bukan masalah apa? Kalau dia tahu Lani sedang hamil besar, tidak akan mau mengikuti wanita istri teman suaminya.


Tangannya kembali menghubungi suaminya. Tapi tetap saja tidak diangkat, lagi-lagi dia menggerutu kesal.


Aaarrrggghh


Sesibuk itukah


"Kamu kenapa,Tiara?" Lani melihat wanita disebelahnya wajahnya mengkerut.


"Ini, mas Ilham dari tadi nggak bisa dihubungi"


"Buat apa?"

__ADS_1


"Buat pamit lah mbak,nanti dia nyari, gimana?"


Lani tertawa, menurutnya Tiara terlalu polos. Zaman sekarang masih ada istri yang takut pada suaminya. Zaman sekarang waktunya wanita menjadi kuat supaya tidak dibawah laki-laki.


"Kamu tuh polos banget, Tiara. Nggak perlu pake izin segala. Mas Toni pasti dah bilang sama bilang Ilham kalau aku ngajak kamu ke acara ini. Udah pokoknya kamu tenang saja." Lani mengambil handphone Tiara dan melemparkannya di kursi belakang.


Seperti si Tiara ini masih lembek. Bisa gampang dimainkan laki-laki.


Tiara memandang wanita yang duduk disampingnya. Ada rasa bangga melihat Lani bisa menyetir sendiri tanpa sopir. Dalam khayal, dia menyetir mobil sendiri tanpa harus mengandalkan sopir atau menunggu suaminya.


Namun dia kembali merasa takut ketika melihat kondisi kehamilan Lani yang sudah membesar, buatnya yang dilakukan Lani termasuk bahaya.


"Berapa bulan mbak?" Tiara memulai obrolan.


"Lima masuk enam, Ra." Jawab Lani.


"Mbak, nggak takut bawa mobil sedang hamil kayak gini?"


Lani tertawa renyah "Aku sudah bisa nyetir saat baru dapat SIM, Ra. Jadi sudah nggak kaget lagi. Ra, kita ini perempuan, jangan terlalu lembek sama suami. Kita harus serba bisa, kalau suami kita bisa kerja masa kita nggak bisa.


Contohnya Raisa, menurut aku dia keren, Ra. Masih muda cantik, jadi dokter, punya suami dokter. Pokoknya keren, sayang dia meninggal seperti itu."


"Seperti itu gimana, Mbak?"


"Lo kamu nggak tahu kalau yang bawa Raisa ke rumah sakit adalah selingkuhannya Ilham. Bisa jadi yang buat Raisa meninggal si selingkuhan, biar mereka bisa menikah lagi."


Tiara terdiam saat Lani membanggakan Raisa yang notabene mantan istri suaminya. Dadanya terasa sesak setelah mendengar cerita Lani. Tiara merasa Lani menuduh Gita yang membuat Raisa meninggal dunia.


Mobil mereka sampai didepan cafe yang dituju.


Tiara merasa handphone berdering.


"Halo, assalamualaikum, mas."


"Waalaikumsalam, kamu dimana?"


"Aku dicafe bareng mbak Lani. Ikut acara arisan dari kantormu."


"Pulang."


"Tapi, mas ..."


"Aku jemput kamu kesana sekarang!" Suara Ilham terdengar menahan marah.


####


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2