Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
38. Subuh di desa Sukasari (2)


__ADS_3

Untukmu Ilham


Setiap kenangan yang kita miliki akan menjadi cerita indah. Kisah perjalanan hidup dan cinta yang tidak akan aku lupakan, meskipun kita tidak bersama lagi.


...-Siti-...


...***...


Aku duduk di samping jendela menatap matahari sore yang masih memberikan sinarnya. Entah sejak kapan aku mulai menyepi di kamar. Mungkin sejak kakiku lumpuh. Tapi mungkin juga sejak aku pulang ke Sukasari meninggalkan semua permasalahan yang ada di Jakarta.


Sejak dokter mengatakan aku akan sembuh lama. Sejak itulah aku mencoba mandiri untuk tidak merepotkan ibu, bang Ed dan keluarga yang lain. Walaupun pada akhirnya aku tetap merepotkan mereka. kak Jo selalu bilang kalo kesempatan sembuhku sangat besar. Ah, mungkin itu sebagai bentuk menghiburku.


Hubunganku dengan kak Jo terbilang lumayan baik. Keseriusan kak Jo membuatku yakin untuk melupakan Ilham. Walaupun aku tahu ini masih sulit. Tapi kalau berusaha pasti bisa,kan. Aku berusaha bahagia untuk menyenangkan calon suamiku itu.


"ti"


"Iya, kak."


"Kamu bahagia denganku?"


"Bahagia dong kak. Nih lihat aku senyum."


Kulihat dia tertawa " Itumah senyum Pepsodent.Mau pamer gigi kamu putih bersih."


"Iya dong itu tandanya aku sudah mandi."


"Mandi sendiri ya? Nanti kalau kita menikah aku yang mandiin kamu."


"Aku sudah gede ngapain dimandiin."


"Iyalah, kan mandi wajib ... Hahaha."


"Dasar otak mesum."


"Siti Marlina"


"Iya apa lagi."


"Terimakasih,ya."


Aku menaikkan alis mataku" untuk apa?"


"Karena mau menerima pinanganku. Menerima lelaki seperti aku yang jauh dari lelaki impianmu. Semoga saat kita menikah nanti aku bisa belajar sedikit demi sedikit untuk memahamimu."


"amin" jawabku sedikit memberinya semangat.


"Cuma gitu jawabnya." nada suaranya sedikit kecewa.


"terus mau aku jawab gimana?Aku tidak pandai ngegombal. ya kali cewek ngegombali laki-laki. Harusnya ..."


"harusnya aku ada disana, menjadi kakimu, menjagamu. melindungimu, siti. maafkan aku yang tidak bisa berbuat sesuatu untukmu."


Aku hanya bisa menunduk. Aku memang membutuhkan seseorang yang bisa menjadi sandara. Tapi entah kenapa yang ku harapkan bukan kak Jo.


Klik


buuuughhh


Jangan sentuh Siti! Kalau tidak kamu akan mati ditanganku.

__ADS_1


Siti menoleh siapa yang menolong. Ada rasa bahagia saat sosok itu menyelamatkannya. Tangan itu tidak berhenti menghajar Rudi dan komplotannya.


Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Siti. termasuk bajingan ini. Aku akan melindungi kamu,ti. Walaupun pada akhirnya tidak diangggap oleh kamu.


"Dodo! Bawa pergi Siti dari sini! Mereka biar aku yang urus. Sekalian laporkan kepada orang-orang atau pihak berwajib atas kejadian ini." titah Ilham pada dodo teman sejawatnya.


"Baik, ham!" Dodo pergi membawa Siti yang sudah duduk di kursi rodanya.


"Kak Dodo, Ilham gimana?"


"kamu tenang saja, Ilham sudah biasa berantem. Apalagi kalau untuk orang yang dia sayang." jelas Dodo sambil tersenyum melihat Siti.


"Maksudnya?" Siti masih belum paham maksud Dodo. Walaupun sebenarnya dia senang mendengarnya.


"Ti, semua orang di rumah sakit sudah tahu hubungan kalian. Bukan rahasia umum lagi. Sejak kenal kamu, Ilham banyak berubah. Jadi rajin sholat. Terus mau belajar ngaji. Kamu dengarkan tadi siapa yang ngaji. Kenapa kalian putus?" Dodo jongkok mensejajarkan dengan posisi Siti.


"Panjang ceritanya kak?"


"Jadi benar kamu mau nikah dengan kakaknya Raisa."


Siti mengangguk "Iya, kak Dodo. Aku akan menikah dengan kak Jonathan."


"Kamu tahu kalau rumah sakit itu, milik keluarga Hermawan." Siti menggeleng. Dia tidak pernah tahu hal itu. Yang dia tahu Jo punya perusahaan di bidang textile.


"Begini ya Siti. Ada yang harus kamu tahu soal donor darah saat kamu kecelakaan dulu." Dodo mulai bercerita sambil membawa Siti bersama kursi rodanya.


"Donor darah?" Siti cukup kaget.


Separah itukah aku? sampai harus memakai donor darah. Lalu siapa yang memberikan donor darah untukku.


Dodo mengajak Siti berhenti di sebuah warung. Lalu duduk di dipan untuk kembali bercerita.


"Iya, halo assalamualaikum."


"Oh, aku lagi jalan mau pulang. Ada apa?"


"APA!"


"Iya iya aku kesana sekarang!"


Siti penasaran dengan pembicaraan Dodo.


"Ada apa kak?" tanya Siti.


"Eng .. anu .. ini .. nggak ada apa-apa,ti. Aku disuruh kembali ke mess. Kamu aku antarkan pulang ya. Rumahmu dekat mana?"


"Lurus aja kak. Nanti ada simpang jalan besar." Dodo mengikuti arah jalan yang ditunjukkan Siti.


"Siti!" suara seorang wanita memanggil dari belakang mereka.


"Kak jihan."


Alis Dodo langsung mengkerut melihat Siti dan Jihan saling mengenal.


Mereka saling mengenal, astaga dunia ini sempit sekali. Yang satu mantan, yang satu calon istri. Haduh...haduh kalau aku jadi Ilham bakalan warning nih! Gawat!"


Dodo masih berjalan bersama Siti melihat persawahan yang sudah mulai menguning. Dodo yakin sebentar lagi orang-orang mulai panen raya. Seperti di kampungnya, menjelang lebaran pasti ada tradisi panen raya. Hasil panen dijual untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Apalagi kalau menjelang lebaran.


Jihan menghampiri Siti dan Dodo. Ada rasa aneh bagi jihan kenapa Siti bisa bersama Dodo.

__ADS_1


"Ayo kita pulang." Jihan menarik paksa kursi roda Siti dari tangan Dodo.


Entah kenapa dia takut Dodo cerita macam-macam soal Ilham kepada Siti. Termasuk rahasia tentang pendonor Siti yang sebenarnya.


"Kamu kemana saja tadi, kan kakak suruh tunggu." omel Jihan pada Siti.


Apa aku harus cerita soal tadi pada kak Jihan? Aku takut kak Jihan berpikir macam-macam.


Aku harus menjaga perasaan kak Jihan.


"Tadi ada Rudi yang mau macam-macam sama aku. Untung ada kak Dodo yang menolongku. Kalau nggak ada dia, nggak tahu deh nasib aku bagaimana" cerita Siti.


Jihan memeluk Siti "Maafin aku ya,Siti. Kalau saja tadi aku nggak ninggalin kamu mungkin tidak ada kejadian itu."


"Kak Jihan? aku mau nanya sesuatu."


"Tanya saja."


"Apa aku kemarin cukup parah?"


"Iya, ti. Sampai kamu kehilangan banyak darah. Kamu sempat kritis."


"Terus yang donorin darah aku siapa?"


"Pihak rumah sakit ngambil ke PMI katanya."


Kok beda ya sama yang dibilang kak Dodo. Ah, entahlah. Kalau aku ketemu sama pendonor itu akan kuucapkan terimakasih.


Jihan merasa kacau, dia takut kalau Siti tahu yang sebenarnya.


Jangan sampai Siti tahu siapa yang sudah mendonorkan darahnya. Bisa kacau nantinya, bukannya menjauh malah tambah dekat. Dodo harus di ultimatum nih. Biar nggak ngomong macam-macam sama Siti.


Klik


Sementara itu ilham masih melawan Rudi cs. Dengan sekuat tenaga dia menghajar Rudi sampai babak belur. Emosi yang memuncak membuatnya tidak terkendali lagi. Karena ini adalah menyangkut gadis yang dicintainya.


"Siapa kamu! Apa urusan kamu dengan Siti!" ucap Rudi sambil melawan Ilham.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku! Jangan pernah coba-coba menyentuh Siti! kalau tidak nyawa kamu melayang!" ancam Ilham.


Rudi menyeringai lebar "Kamu siapa Siti! Sudah pernah ngapain sama Siti! heyyy! teman-teman! Lihat pria ini sepertinya mau jadi pahlawan Siti!" Rudi mengedipkan mata pada kedua temannya yang sudah menunggu dari belakang Ilham.


Buuuughhh! sebuah kayu menghantam kepala Ilham.


Seketika Ilham tersungkur tak sadarkan diri.


"Yuk pulang!" ajak Rudi dipapah kedua temannya.


"Angkat tangan." sebuah suara menghentikan langkah mereka.


Rudi berbalik melihat beberapa polisi dan warga sudah mengepung mereka. Kedua temannya sudah terikat, dan Rudi hendak kabur. Ada sebuah tangan yang mengikat Rudi.


Mata Rudi terbelalak " Si gondrong!"


bagaimana nasib Ilham!


apakah yang dilihat Rudi adalah Jonathan?


...#####...

__ADS_1


bersambung


__ADS_2