Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
69. Tuan Ford


__ADS_3

Seorang laki-laki berperawakan gagah turun dari helicopter pribadinya. Tampilannya yang parlente dengan kaca mata hitam. Tampak terlihat gagah berjalan menurun tangga pesawat. Beberapa orang menunggunya.


Ya, Helicopter yang turun dipelataran perusahaan Ford indonesia. Tante Fatimah sudah menunggu suaminya di ruang kerjanya. Sesekali wanita itu menatap jam arlojinya. Sesaat dia mendengar suara helicopter sedang mendarat. Fatimah yakin suaminya sudah sampai.


Beberapa staf dan relasi yang bergaya parlente menyambut kedatangannya. Tak ketinggalan para lelaki berbaju hitam dan kacamata hitam mengikuti langkah Pria itu. Mereka adalah Bodyguard pribadi keluarga Ford.


Sayang" Ucap Tante Fatimah menyalami sang suami yang sudah di depan lobby perusahaan.


"Selamat datang, tuan Adolf ford" Seorang lelaki menyambut kedatangannya. Beberapa staf menunduk menyambut kedatangan sang CEO.


"Sayang, kamu tunda dulu rapat pentingnya. Tidakkah kamu ingin bertemu putri kita. Apalagi besok keluarga calon suaminya akan datang."


Adolf menghela nafas kasar. Entah mengapa dia kurang sreg dengan anak keluarga Pramono. Saat Adolf mendengar kabar itu, Dia langsung meminta informasi seluk beluk masa lalu ilham dari para intelnya.


Saat menerima kabar tentang masa lalu ilham. Adolf langsung bertindak, dia tidak ingin putri semata wayangnya salah pilih. Tapi saat mendengar sang putri sudah menerima lamaran pria. Adolf langsung berangkat ke indonesia untuk memastikannya.


"Apakah tidak ada calon lain yang lebih berbobot dari lelaki ini?" Tuan Ford masih memandang langit jakarta dari kaca kantornya.


"Sayang, mereka saling mencintai. Tolong restui mereka." Bujuk sang istri yang sudah mendengar hawa tak enak dari logat bicara suaminya.


"Besok ada kolegaku yang berasal dari New York akan datang mengenalkan putranya untuk Tiara. Dia lebih baik dari anaknya Pramono. Dan jangan coba mengubah keputusanku."


"Mas, coba bicarakan dulu dengan Tiara. Biar dia nggak kaget." Tante fatimah masih berusaha meyakinkan sang suami.


"Sayang." Tante Fatimah mengejar sang suami yang akan mengikuti rapat.


Sementara itu, Tuan Adolf Ford berjalan ke ruang aula, tanpa menoleh sedikit pun kearah para karyawan yang memberi hormat padanya. Bahkan tatapan matanya terlihat keangkuhan, tanpa senyum atau membalas sapaan para karyawan.


"Silahkan masuk tuan" Ucap salah satu karyawan yang membuka pintu untuknya. Langkah kakinya menandakan sang CEO siap membuka rapat.


"Bagaimana dengan pendapatan perusahaan kita? Kenapa banyak sekali yang menurun." Amuk Tuan Ford saat melihat hasil kerja anak buahnya.


Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, faktor utama kerugian ini lantaran pendapatan yang turun drastis mencapai 67,83% year on year (YoY) menjadi sebesar Rp 1,13 miliar (Rp 16,51 triliun) pada akhir September lalu.

__ADS_1


Kemudian penerbangan tidak berjadwal juga turun menjadi US$ 46,92 juta dari sebelumnya US$ 249,91 juta. Penurunan ini utamanya karena tak adanya penerbangan haji tahun ini, padahal pendapatan penerbangan haji ini berkontribusi cukup besar di pos ini.


"Saya tidak mau tahu. Pokoknya dalam seminggu ini saya akan pantau pekerjaan kalian.Saya tidak segan-segan memecat kalian kalau ada pekerjaan ini yang tidak beres. Rapat selesai." Tuan Ford langsung keluar dari ruang rapat.


Tuan Adolf dan istrinya Fatimah langsung pulang ke apartemen. Adolf tak sabar ingin bertemu sang putri yang sudah bertahun-tahun dilupakannya. Lain dengan Tuan Adolf, lain lagi dengan sang istri.


Tante Fatimah justru cemas dengan rencana suaminya.


klik


Sampai dirumah kedatangan adolf disambut oleh ibu Aisyah dan Siti. Tanpa aba-aba Adolf memeluk Siti dengan erat. Rasa rindu yang mendalam pada putri tunggalnya. Rasa bersalah karena keegoisannya dulu, karena berharap anak laki-laki.


"Maafkan papa, nak. Maafkan papa." Adolf berkali- kali meminta maaf pada Siti.


Siti melepas pelukan Adolf, dirinya heran kenapa Adolf meminta memanggil papa. Siti menatap ketiga sosok dewasa didepannya. Meminta penjelasan dengan semua ini.


Tante Fatimah mengajak Siti duduk untuk menjelaskan yang sebenarnya. Karena sudah waktunya Siti harus tahu siapa orangtua kandungnya.


"Orangtua kandungku? Bu apa benar ini?" Siti meminta penjelasan dari Ibu Aisyah. Perempuan usia 56 tahun itu hanya terdiam. Seolah berat mengatakan yang sebenarnya.


"Bu.." Rengek Siti yang masih menunggu jawaban ibu Aisyah.


"Ti, mereka memang orangtua kandungmu,nak. Ibumu menitipkan kamu karena kamu lahir sebagai perempuan. Ayahmu ingin anak pertamanya laki-laki." jelas ibu Aisyah.


Jadi aku anak yang tidak mereka harapkan? Mereka membuangku, sekarang minta diakui sebagai orangtuaku. Enak sekali mereka! Aku pikir mereka orang baik. Tapi ternyata mereka egois!


"Ti" Suara Tuan Adolf


Siti melepaskan pelukan ibu Aisyah. Kakinya melangkah pergi menjauh dari ketiganya. Siti meninggalkan apartemen, lalu turun ke lobby bawah. Siti menangis duduk di semen kolam mancur, sakit hatinya saat tahu penyebab dirinya dibuang oleh kedua orang tuanya.


Sementara di ruang keluarga Adolf, Ibu Aisyah meminta mereka memberi waktu Siti untuk menenangkan diri.


"Aku harap kalian mengerti keadaan siti saat ini. Butuh waktu untuknya menerima semua ini. Kalian lihat kan dia masih syok."

__ADS_1


"Mas aku juga minta sesuatu?" Tante Fatimah mulai membujuk suaminya perihal perjodohan bisnis kolega suaminya.


"Soal?"


"Ehmm..soal perjodohan siti dengan anak kolegamu, mas. Tolong batalkan. Siti mencintai Rama anak Pramono. Rama bahkan sudah melamar anak kita. Besok malam keluarga Pramono akan datang kesini. Tolong pikirkan lagi, mas."


Tuan Ford tampak terdiam. Dalam diam pikirannya tetap bersikukuh menjodohkan Tiara dengan Zack anak koleganya. Adolf sudah lama mendengar berita tentang skandal kasus yang dialami ilham, tapi dia tidak menyangka kalau ilham adalah kekasih putrinya.


Jujur dulu aku suka dengan anak itu. Tapi saat skandal pelecehan yang dilakukannya pada mantan pacarnya, rasa simpatikku hilang padanya. Tapi aku tidak menyangka kalau lelaki itu juga memacari anakku.


Sebagai seorang ayah, aku tidak ingin anakku dapat lelaki yang salah. Bagiku, Zack sudah termasuk paket lengkap untuk calon suami Tiara, anaknya pintar, mapan, tampan, setara dengan keluarga kami.


Keinginan kuat Adolf Ford tentang perjodohan Tiara dan Zack tidak main-main. Apalagi dia sudah mengenal keluarga Williams bertahun-tahun. Baginya, Pramono itu masih terbilang kecil dengan semua kolega yang dia kenal. Hanya Pramono dan Spencer yang dikenalnya dikalangan pengusaha indo.


Hal inilah yang membuat Adolf meremehkan anak Pramono. Adolf bisa saja menyingkirkan Ilham jika dia sudah merasa terhalang.


Kotak pipih milik Adolf berbunyi, membuyarkan lamunannya tentang masa depan putrinya. Senyumnya mengembang ketika tahu siapa yang menelpon.


Note:


Sepertinya ilham akan berjuang kembali mengejar restu dari calon papa mertua.


Bagaimana usaha ilham mencuri hati papa Adolf Ford?


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2