
Pukul 21:00 di Rumah Sakit Kasih Bunda
Jo berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Tangannya menggenggam sebuket bunga mawar pink, dengan wajah sumringah masuk ke ruang inap jihan. Entah itu senyum tulus atau bukan hanya lelaki itu yang tahu.
Matanya mencari sosok yang akan dijenguk karena ruangannya kosong. Hanya ibu saja, sedangkan siti sudah pulang karena terus ditelepon papanya.
"Ibu" Sapa melihat wanita yang hampir menjadi mertuanya.
"Siapa ya?" Ibu mencoba menebak lelaki didepannya.
"Aku jonathan, bu." jo jongkok agar bisa bicara sejajar dengan ibu Aisyah.
Sontak ibu Aisyah langsung memeluk Jonathan. Ibu Aisyah sebenarnya masih berharap Jo jadi menantunya. Entah kenapa hati kecilnya belum bisa menerima ilham. Tapi karena Siti sangat mencintai lelaki itu, mau tidak mau ibu harus mengalah. Menerima kenyataan kalau ilham yang dipilih putrinya.
"Ya Allah, nak. Ibu rindu padamu. Seandainya tidak ada kejadian itu mungkin kamu sudah menikah dengan Siti. Kamu apa kabar, nak?"
Jo mengulum senyum, baginya ibu Aisyah sudah seperti ibunya sendiri. Walaupun saat ini Siti sudah kembali pada Ilham, Jo tetap menganggap ibu Aisyah masih sama seperti saat dulu dirinya mendekati Siti.
"Alhamdulillah aku baik, bu. Alhamdulillah aku sehat wal afiat,bu. Ibuku tambah cantik saja. Ibu apa kabar? kenapa di ruangan jihan? Jihannya mana?"
"Jadi anak ibu yang ganteng ini lagi dekat dengan jihan.Sampai rela menjenguk jihan malam-malam begini."
Jo menunduk, dia sedang berusaha move on dari Siti. Jo mencoba mendekati Jihan, walaupun Jihan tidak pernah menanggapi dirinya.
"Tadi saya ke rumah jihan. Saya dengar dari satpam dirumah kalau Jihan masuk rumah sakit dan akan dioperasi malam ini. Sebenarnya Jihan sakit apa, bu? Kenapa ada yang bilang Jihan akan dikuret?"
Jo mencoba mengorek dari ibu.
"Jo!" Suara dari belakang memanggil dirinya.
"Mau apa kamu kesini?" Pertanyaan yang terdengar sinis.
Suara yang berasal dari Papa Alex, ada rasa tidak suka yang dirasakan lelaki itu. Jo tersenyum pada lelaki didepannya. Mencoba ramah walaupun ada rasa benci saat menatap Papa Alex.
"Mau jenguk jihan, om." balasnya.
"Ini sudah malam, jo. Sebaiknya kamu pulang saja. Bukankah jam besuk sudah habis." Ucap Papa alex mengusir Jo secara halus.
__ADS_1
"Keluarga Jihan Almira" Seorang suster mendatangi ruang inap jihan.
Semua keluarga berkumpul didepan ruang operasi. Tersirat kecemasan di kedua orangtua jihan, Ibu Aisyah, ilham dan Jo. Tadi sebelum Siti pamit pulang, gadis itu meminta sang ibu tetap dirumah sakit. Dengan alasan biar bisa mengabari perkembangan Jihan. Ibu menyanggupinya karena dia juga ingin tahu keadaan jihan sekarang.
Sejak awal aku bertemu jihan 7 tahun yang lalu. Saat anak itu menginjakkan kaki di sukasari untuk penelitian thesisnya. Aku merasa Jihan bukan sosok asing. Entah mengapa aku seperti melihat putriku yang dulu hilang.
Ah, kalau Ira masih ada, mungkin dia sudah sebesar Jihan. Apalagi usia mereka sama.
Ya Allah lindungilah putri kandungku dimanapun dia berada. Atas izinmu, pertemukanlah kami.
Tak lama dokter keluar. Wajahnya menyiratkan ada yang tidak beres dalam ruang operasi. Mata dokter berkeliling memandang semua yang ada didepannya.
"Dok, bagaimana putri saya." Ucap mama kiki.
"Anak ibu membutuhkan donor darah, apakah disini ada yang memiliki golongan darah O. Kebetulan stok darah O sedang kosong." Jelas dokter Toni.
"Kalau tidak pasien tidak akan bertahan hidup. Syukur-syukur kalau dia bisa bertahan sampai besok. Kalau bisa secepatnya kami akan mencari donor darah O."
"Saya O, dok!"
"Ibu Aisyah!" sahut Jonathan.
"Terimakasih mbak. Terimakasih mau menyelamatkan anak saya." Ucap mama kiki sambil memeluk Ibu Aisyah.
"Sama-sama. Kebetulan aku memiliki golongan darah yang sama dengan jihan. Jihan itu sudah kuanggap seperti anakku sendiri."Ucap ibu Aisyah.
"Bu, silahkan menuju ruang untuk donor darah."
Ibu Aisyah mengikuti intruksi perawat. Dalam sebuah ruangan ibu berbaring menatap langit atap.Berharap bisa menyelematkan nyawa Jihan.
Klik
Mama Fatimah cemas, sudah pukul 02:00 dinihari Tiara belum juga pulang ke apartement. Beberapa kali mencoba menelepon sang putri, tapi tetap saja tidak.
Ya Allah kemana Tiara? Seharusnya dia sudah pulang tapi kenapa sampai sekarang belum sampai.
Mama Fatimah mencoba menghubungi Ilham. Tapi tetap saja nihil. Dia tak ingin suudzon pada lelaki itu, mama yakin Tiara masih dirumah sakit. Pada akhirnya Fatimah menelepon sang kakak. Ternyata handphonenya ada pada Ilham.
__ADS_1
"Assalaamuailaikum, kak."
Tapi ternyata yang menjawab bukan Ibu Aisyah.
"Tante, ini aku ilham. Ibu Aisyah sedang istirahat. Tadi dia donorin darah ke kak Jihan. Apa ada yang mau disampaikan?"
"Hammm... siti..."
"Tante, siti kenapa? Apa yang terjadi padanya?" terdengar suara Ilham ikutan panik. Takut terjadi sesuatu pada gadis yang dicintainya.
"Siti, apakah ada dirumah sakit?" tanya tante Fatimah.
"Bukannya tadi Siti pulang diantar bodyguard om Adolf. Sudah sejak jam sembilan malam dia pulang.
Ada apa tante?"
Fatimah yakin ini adalah kerjaan suaminya. Dada Fatimah sesak melihat tindakan sang suami sudah terlalu jauh.
"Tante .... Tante!" Speaker dari handphone masih terdengar.
"Ham, Siti sampai sekarang belum pulang. Tante takut terjadi sesuatu padanya. Tolong bantu cari siti. Tante mohon, ham... tante janji akan bantu meyakinkan suami tante untuk merestui kalian."
Ilham mendengar nada bicara Fatimah seperti panik.
"Tante tenang dulu, mungkin siti ke tempat Gita. Biasanya Siti suka menginap disana. Aku coba hubungi yang disana."
Ilham dengan cepat mengambil handphonenya menghubungi Alam. Tapi percuma tidak ada yang ada yang mengangkat.
Kamu dimana, sayang. Kenapa belum kembali? semoga tidak terjadi sesuatu padamu? Ya, Allah Siti kenapa kamu suka sekali bikin aku khawatir. Bukan aku saja tapi kami disini mengkhawatirkanmu.
ilham terus bermonolog, perasaannya cemas memikirkan keberadaan siti. Matanya melirik jam tangannya, sudah hampir subuh. Ilham membentang sajadahnya untuk sholat malam.
Ilham membentang tangannya memohon pada sang pemilik semesta. Berdoa agar diberi kemudahan di setiap masalah yang menerpanya, diberi kemudahan dalam setiap langkah hidupnya.
Ya Allah bagi-Mu-lah segala puji, Engkaulah yang mengurus langit dan bumi serta semua makhluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau Raja langit dan bumi beserta semua makhluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi beserta semua makluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau Maha benar, janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, ucapan-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, para nabi adalah benar dan Nabi Muhammad Saw adalah benar serta hari kiamat adalah benar.”
“Ya, Allah lindungilah Siti dimanapun dia berada. Jauhkanlah dia dari segala marabahaya. Buatlah dia pulang dengan selamat. Ya Allah hanya kepadamu hamba meminta dan memohon. Beri hamba petunjuk tentang keadaan Siti."
__ADS_1
Bersambung.