
7 tahun kemudian
"Mas"
"Iya, sayang."
Siti duduk menepi disamping suaminya. Tangannya diletakkan pada bahu Ilham. Terlihat wajah suaminya sangat lelah setelah seharian bekerja. Apalagi mereka sedang dinegeri orang.
"Kamu capek, mas. Aku pijitin, ya." Tangan Siti yang lentur membuat Ilham nyaman dan hampir saja tertidur.
PLAAAAK
Seketika ilham kaget saat pahanya ditepuk keras. Seorang gadis kecil berdiri sambil melipat kedua tangannya.
"wat is er, mooi ( Ada apa, cantik)" tanya ilham melihat putri bungsu seperti malu-malu.
"ik ben slaperig kan papa een verhaal voor me vertellen?( aku mengantuk. Bisakah papa mendongeng untukku?)"
"Of course, beb. Come here ( Tentu sayang. mendekatlah)"
Gadis kecil itu duduk dipangkuan mamanya. Lalu merebahkan kepalanya dipaha sang mama. Siti membelai rambut putri bungsunya dengan lembut. Lalu menyanyikan lagu pengantar tidur, lalu ilham membacakan cerita tentang beruang hutan yang membesarkan seorang anak kecil. Baru separuh cerita si bungsu sudah terlelap. Dengan telaten Siti memindahkan putrinya keatas ranjang.
"Nggak terasa ya, mas. Zalika sudah 4 tahun. Perasaan baru kemarin kamu bilang kalau kamu mandul dan tahu-tahu aku hamil. Melahirkan Daffa dan Dita, lalu saat mereka berusia 3 tahun Zalika datang."
Zalika khumairah Ramadanty adalah buah cinta siti dan Ilham yang kedua. Zalika lahir di Belanda, saat ini ilham masih menjadi dokter di rumah sakit di Belanda. Sedangkan Siti baru saja tamat kuliah di universitas yang sama dengan kampus Ilham. Siti mengambil jurusan manajemen.
__ADS_1
"weet je, ti. Als jij die vrouw niet was, zou ik niet zijn zoals nu ( kamu tahu,ti. Kalau wanita itu bukan kamu aku tidak mungkin bisa seperti sekarang)."
"Kapan kamu mengajari mereka bahasa indonesia, mas? kan aku sudah bilang tolong ajarkan mereka bahasa kita. Jangan dibiasakan pakai bahasa Belanda."
"Apa pepatah mengatakan dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung: haruslah mengikuti/menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita. Jadi dimana kita tinggal itulah yang kita ikuti."
Siti hanya manyun mendengar ucapan suaminya. Ketiga buah hatinya tidak ada yang bisa bahasa Indonesia. Padahal Siti sudah berusaha mengajari ketiganya. Tapi selalu dihalangi oleh Ilham.
Ketiga buah hatinya memang sangat dekat dengan papanya. Terkadang Siti merasa dinomorduakan oleh ketiga buah hatinya.
Pagi ini
Siti menyiapkan sarapan untuk Ilham dan ketiga buah hatinya. Saat Ini Daffa bersekolah di sekolah ternama. Sedangkan Dita bersekolah disekolah islami, Ditta bahkan sudah meminta dibelikan hijab. Siti senang putri pertamanya mau belajar hijab.Beda dengan putra Daffa yang terkenal suka berkelahi, Siti sering dibuat pusing sama kelakuan anak lelakinya.
"Daffa kalau masih bandel. Mama kirim kamu ke tempat Oma."
"Ma, pagi-pagi jangan marah-marah, nanti cepat tua.
Mama jangan suka marah-marah
Nanti kamu lekas tua."
Ilham menghentikan nyanyiannya setelah mendapat jelitan dari Siti. Tubuhnya perlahan mundur sebelum ada yang melayang ketubuhnya.
"Wah ada cicak diatas sana" Ilham menunjuk dinding atas.
__ADS_1
"Mana?" Siti mendongakkan kepalanya keatas.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat dipipi Siti. Ilham langsung kabur menuju mobil. Siti berlari mengejar suaminya sampai ke depan mobil.
"Papa! Tanggung jawab!" Pekik Siti
"Tanggung jawab apa, ma? Papa telat nih."
"Tanggung soalnya yang disini belum." Siti menunjuk bibirnya.
Ilham memberikan sarapan bibir pada istrinya. Ciuman kecil menjadi panas, sampai mereka lupa ada ketiga anak mereka yang menonton adegan kedua orangtuanya.
"Pa, bibir mama jangan digigit. Nanti sakit mamanya." Ucap yang membuat kedua tersentak.
"Ya, Allah, nak. Maafin mama. Papamu nakal tuh."
"Ya elah, aku lagi yang disalahkan. Tadi yang minta siapa." Gerutu Ilham.
"Sudah kalian berangkat, ya." Siti menyalami tangan suaminya dan disalami ketiga anaknya.
Mobil mereka sudah berjalan keluar rumah. Siti pun kembali kedalam rumah.
Tiba-tiba
__ADS_1
Huuuuueeeeekk ...
Oh no .... jangan sampai aku hamil lagi.