Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
83. Akad


__ADS_3


Sound instrument A thousand years-nya milik Christina Perry mengiringi langkah kaki Tiara menuju meja akad nikah. Tanpa Tiara sadari sosok pria yang duduk di sebelahnya, juga merasakan hal yang sama.


Suara mc pun terdengar


"Kedua pengantin sudah berada di altar akad nikah. Sebentar lagi kita akan menyaksikan sepasang dua anak manusia yang akan mengikrarkan janji sehidup semati. Berjuang bersama mengarungi kehidupan baru yaitu rumah tangga.


Kepada pendamping pengantin harap membuka penutup mata keduanya."


Kepala mereka yang tadinya menunduk kini terangkat. Keduanya pun akhirnya saling menoleh. Hening, itulah terjadi diantara keduanya. Tatapan mereka belum beranjak kearah penghulu. Raut wajah mereka menggambarkan kebahagiaan, antara rasa tidak percaya, bahwa pasangan yang akan mereka nikahi adalah pacarnya sendiri.


Terdengar instruksi dari wali nikah


"Saudara Ilham Ramadhan. Apakah anda sudah siap?"


Hening. Tak ada reaksi dari mempelai pria.


"Saudara Ilham Ramadhan, apakah anda siap?" Sebuah suara mengingatkan dirinya.


Ilham masih tak bergeming, begitupun dengan Tiara. Mata mereka masih bertatapan. Rasa tak percaya siapa yang akan mereka nikahi.


Ilham memegang tangan Tiara, lalu kembali melamar gadis itu.


"Siti tolong jawab didepan semua orang. Mau kah kamu menikah denganku, menjadi istriku, mendampingiku dalam suka dan duka. Menerima semua kekuranganku, menerima masa laluku yang kelam."


Setiap ucapan ilham hanya anggukan yang ditunjukkan Tiara. Sejak dulu, sejak dirinya mengagumi Ilham saat masih menjadi tunangan Gita. Sejak dulu, tak pernah bergeser perasaan cintanya pada Ilham. Sekarang, setelah kejutan yang diberikan orangtua, perasaan itu belum luntur sama sekali.


"Iya aku bersedia."


Ilham berbalik ke arah Tuan Adolf lalu menjabat tangan calon mertuanya.


"Saudara Ilham Ramadhan, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Siti Tiara Marlina binti Adolf Ford dengan mas kawin saham rumah sakit dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Siti Tiara Marlina binti Adolf Ford dengan mas kawin saham Rumah Sakit dibayar tunai."


"SAH...!!!"

__ADS_1


"SAH...." Jawab semua yang ada di acara.


"Alhamdulillah."


Ilham memasangkan cincin pernikahan mereka, begitu juga Tiara yang memasangkan cincin ke jari manis. Sekarang mereka SAH menjadi suami. Tiara mencium tangan suaminya dibalas dengan Ilham yang mengecup kening sang istri.


Suara mc kembali bergema "Mari kita sambut pengantin baru, Rama dan Tiara."


Mereka berdiri disambut dengan tepuk tangan para tamu undangan.


Akad nikah yang berlangsung di taman pelataran Hotel Selabintana, sukabumi. Lokasi dibuat konsep Shabby chic nuansa putih ditambah pemandangan gunung gede pangrango.


Ilham dan Tiara pun berhasil melewati kejutan demi kejutan yang diberikan kedua orangtua mereka. Pernikahan yang takkan mereka lupakan seumur hidup.


Bagaimana tidak, konsep Shabby chic nuansa putih adalah cita-cita Tiara sejak dulu. Apalagi setelah hal yang tak terduga yang barusan mereka alami.


Masih dalam menata perasaan mereka. Ilham dan Tiara lebih banyak diam setelah akad. Syok! itu pasti. Karena tak pernah terbayangkan mereka akan bersanding hari ini.


Tuan Adolf menatap haru saat sang putri memasangkan cincin dan mencium tangan suaminya. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emasnya, untuk putri semata wayangnya. Berapapun biayanya akan dikeluarkan tidak masalah baginya.


Saat ini akad nikah hanya dilaksanakan oleh keluarga terdekat saja. Mereka tidak mengundang banyak orang demi mematuhi protokol kesehatan.


Di dalam sebuah ruangan para orangtua sudah dikursi yang sudah disediakan. Pengantin diminta melakukan sungkeman pada orangtua mereka.


Pada prosesi sungkeman, orang tua duduk di kursi atau posisi yang lebih tinggi, sedangkan kedua mempelai pengantin berjongkok dengan bertumpu pada lutut di lantai. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah membesarkan mereka hingga hari pernikahan tiba.


Tangis haru menyelimuti para orangtua dan juga pasangan pengantin baru. Dimana mereka akan melepaskan anak mereka untuk kehidupan yang baru. Mama Mila tak hentinya menangis. Baginya, inilah pernikahan yang sesungguhnya.


"Titip Tiara, ham. Jaga dia, seperti ibu menjaga dan membesarkannya." Bisik ibu Aisyah.


"Iya, bu. Saya menjaga Tiara, mencintai Tiara dengan segenap jiwa raga." Jawab Ilham.


Tuan Adolf memberi wejangan pada sang putri.


"Mama dan papa sebagai orangtua hanya dapat memberikan restu dan doa untuk niat baikmu ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam menjalani biduk rumah tangga, yaitu senantiasa berpegang pada ajaran agama, sabar, tawadu, ikhlas. Jadilah istri yang istiqomah, menjaga kehormatan suami dan rumah tanggamu. Jadilah istri yang penyayang dan penuh kasih untuk anak-anakmu kelak. Ingatlah bahwa kehidupan ini tidak selamanya berjalan sesuai dengan apa kita harapkan. Tetapi dengan kasih sayang dan saling pengertian, maka biduk rumah tanggamu tidak akan goyah diterpa badai dan gelombang kehidupan. Anggap keluarga Rama adalah seperti keluargamu sendiri."


"Tiara, maafkan mama dan papa atas segala hal yang kurang berkenan di hatimu, baik berupa kata kata maupun perlakukan. Namun ketahuilah bahwa itu semua bagian dari besarnya kasih sayang kami kepadamu. Ya Allah, bahagiakan lah rumah tangga Tiara dan Rama. Karuniakanlah mereka dengan rahmat dan hidayah-Mu. Limpahkanlah rezeki-Mu yang halal. Perindahlah rumah tangga mereka dengan putra-putri sholeh dan sholehah serta sehat wal afiat," lanjut sang papa.

__ADS_1


Mama Fatimah pun tak ketinggalan memberi wejangan pada sang putri.


"Ya Allah, jadikanlah orang yang telah engkau pilihkan yang akan menjadi suami anakku nanti menjadi orang yang sholeh, yang akan mencintai dan menjaga serta saling menyempurnakan dalam ibadah. Sempurnakanlah kebahagiaan anakku ini dengan menjadikan pernikahan mereka sebagai ibadah dan bukti ketaatan kepada-Mu dan bukti cinta pada Rasul. Anugerahkan kelak kepada anak kami keturunan sehat, soleh soleha dan cerdas."


Kini berbalik sang yang meminta maaf pada orangtua mereka.


Tiara mencium tangan Ibu Aisyah. Seorang Ibu yang membesarkannya.


"Ibu, maafkan Siti jika selama ini belum bisa membahagiakan ibu. Maafkan Siti yang sering membuat ibu menangis. Jasa ibu tidak bisa siti balas."


Tiarapun menggunakan kata yang sama pada kedua orangtua kandungnya. Tak banyak kata-kata yang diucapkannya, karena mereka belum lama bertemu.


Proses acara akad dan sungkeman pun telah selesai. Pengantin diminta kembali ke kamar untuk mempersiapkan resepsi yang akan diadakan jam 3 sore di gedung hotel. Tadinya resepsi akan diadakan outdoor. Tapi ternyata mendung datang sehingga acara dialihkan ke dalam gedung.


Tiara berdiri menatap kaca kamar hotel. Mereka sudah disiapkan kamar khusus pengantin dan menginap selama 3 hari.


Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Tiara tersenyum saat dari memantul kedatangan seseorang. Sebuah tangan melingkar dipinggang kecilnya. Tiara berbalik menghadap suaminya, tangan Ilham memainkan bibir istrinya, mereka tenggelam dalam nikmatnya bibir pasangannya.


"I love you, istriku."


Ceklek


Pintu terbuka ...


"Ti, ini periasnya sudah sampai" Jihan terdiam saat melihat keduanya tengah berciuman.


Kenapa aku masih merasa sakit saat melihat mereka.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2