
"Kamu suka?"
Siti melihat sebuah gaun pengantin yang diupload Jo ke WhatsAppnya Siti.
Bibir mengembang melihat gaun yang dia rasa takkan mampu membelinya.
"Suka nggak?" Ucapan itu kembali membuyarkan pikirannya.
"Suka, kak Jo." jawab Siti dengan lembut.
"Alhamdulillah kalo gitu." terdengar nada lega dari suara Jo.
"Cuma..." Siti membayangkan tatapan orang yang melihatnya memakai gaun pengantin tapi duduk di kursi roda.
Terbayang dalam benaknya nyinyiran para tetangga atau mungkin para tamu. Dimana dirinya sekarang hanya gadis miskin yang bermimpi menikah dengan pria kaya seperti Jo.
"Kenapa, sayang? Apa bajunya kurang bagus? Apa kamu kangen sama aku, Siti?"
Siti tertawa mendengar rayuan jo. Sambil menuju kursi rodanya Siti tetap memegang handphonenya untuk video call dengan Jo.
"Aku malu, kak. Aku cacat. Kak Jo tolong pikirkan lagi soal rencana pernikahan kita." Jo menatap wajah Siti yang mulai sendu. Tapi bukan Jo namanya kalau tidak memperlihatkan wajah lucunya. Demi menghibur Siti, Jo memuncungkan bibirnya, sehingga membuat Siti tertawa.
"Duh, mantu ibu. Pagi-pagi udah laporan." Wajah ibu muncul dibelakang Siti.
"Ibuuuu!!! Jo kangen!!!" seru Jo.
Ibu tertawa "Kangen ibu apa Siti?" goda ibu. Membuat wajah Jo memerah. Siti menatap ibu yang bahagia saat dirinya dengan Jo.
"Dua-duanya,Bu. Karena berkat ibu aku bisa bertemu bidadari seperti dia."
"Nak Jo pintar ngerayu, ya."
"Ada yang ngajarin Bu." jawab Jo
"Siapa?"
"Mas Rama suaminya Elliana. Itu lo, Bu yang punya restoran di Bandung. Eh, maaf saya malah mempromosikan orang lain. Soalnya saya kenal baik sama mas Rama. Dulu sering makan di tempat dia."
"Ooooh, mas Rama yang kisahnya diangkat mbak Rasti ya. Emang keren novelnya kak, aku suka baca juga." Sahut Siti.
"Iya suka baca juga ya sayang."
"Iya kak. Kan karya kak Rasti keren-keren."
Siti menatap wajah ibunya yang berbinar. Bagi Siti seandainya yang menelpon bukan Jo, mungkin dia tidak akan melihat wajah ibunya yang begitu bahagia. Sesekali kepalanya menunduk mengingat Ilham sudah tak ada kabar, setelah dirinya seminggu di Sukasari.
__ADS_1
Bu seandainya yang menelpon itu Ilham, apakah sikap ibu masih seramah ini. Ah, kenapa aku memikirkan laki-laki yang tidak memberi kepastian. Laki-laki pengecut yang tiba-tiba menghilangkan jejaknya. Kalau aku tahu bakal seperti ini lagi, aku tidak akan membuka hatiku lagi padamu, ham.
Benar kata orang, kalau doa ibu adalah langkah hidup yang paling mujarab. Doa ibu paling cepat didengar oleh Allah.
Siti janji,Bu. Siti akan belajar mencintai kak Jo. Apalagi keluarga kak Jo sudah menerima aku sebagai menantunya.
Aku akan selalu mendengarkan kata-kata ibu. Maafkan Siti, Bu. Yang selama ini buta dengan cinta. Siti janji akan membahagiakan ibu dengan menerima kak Jo sebagai suami.
"Bu, aku ingin bicara serius dengan Siti. Bisa tinggalkan kami berdua." pinta Jo.
"Oke...oke...Ibu berasa nyamuk disini." jawab ibu sambil terkekeh meninggalkan Siti dan Jo yang sedang video call.
"Siti?"
"Iya, kenapa kak Jo?" jawab Siti sambil tersenyum.
"Hmmmm... Kamu mau sembuh kan?"
"Mau dong. Aku mau dihari pernikahan kita menjadi ratumu yang sempurna. Tidak mau memalukan kak Jo dan keluarga."
"Ah, aku nggak masalah, ti. Nanti setelah kita nikah, kita berobat sekalian bulan madu."
"Ih, kak Jo. Udah mikir bulan madu segala. Jangan jangan kakak udah mikir ...."
"kamu mau bilang aku sudah mikirin malam pertama kita, kan." tebak Jo dengan tampang nakalnya.
wajah Siti langsung memerah. Dia cuma mau bilang sama Jo, kalau mikir jangan kejauhan. Tapi ternyata malah dibungkam sama ucapan lelaki itu.
Entah kenapa Siti merasa Jo memiliki pesona tersendiri, walaupun pesona Ilham masih kuat di hatinya.
"Kak Jo nggak ngantor." Siti mengalihkan pembicaraan.
"Ini lagi dikantor. Pusing lihat berkas sebanyak ini. Makanya aku nelpon kamu biar kangennya terobati."
"Udah ah, merayu Mulu. Kerja, gih. Cari duit yang banyak."
"Siti Marlina..."
"Iya apa lagi, kak Jonathan Abraham."
"Apakah kamu tulus menerima pinanganku?"
"Oh, jadi kak Jo meragukanku. Apa kak Jo mikir aku menerima kakak karena berasal dari keluarga berada gitu, iya kan." Siti mulai kesal dengan pertanyaan Jo.
"Bukan begitu, sayang." Jo mencoba meralat ucapannya.
__ADS_1
Tuuuuuut tuuuuuut tuuuuuut
Siti mematikan hpnya. Perasaannya kesal dan tersinggung dengan pertanyaan Jo. Walaupun sebenarnya Siti tahu pertanyaan Jo tidak akan bisa dia jawab. Tapi entah kenapa dia tidak suka mendengarnya.
Entah kenapa sejak kakinya lumpuh siti merasa dirinya gampang tersinggung. Walaupun yang jadi permasalahan adalah hal yang kecil. Tapi bagi Siti itu bisa membuatnya sensitif.
Sejak pulang ke Sukasari, Siti belum pernah keluar rumah. Dia malu dengan kondisinya yang sekarang. Selalu terbayang olehnya cibiran orang tentang kondisi lumpuhnya. Walaupun sebenarnya tidak ada yang mengatakan itu, tetapi cibiran yang sering dia dengar waktu di Jakarta, selalu menari-nari di otaknya.
✉️ Kak Jo.
"Ti, sebenarnya aku mengirim seorang dokter untuk menanganimu. Mungkin beberapa hari lagi dia datang ke rumah.
Kamu harus semangat, Siti. Jangan minder lagi.
Siti terharu dengan kebaikan Jonathan. Siti kembali membandingkan antara Jo dan Ilham.
Karena Dimata Siti Jo lebih baik daripada Ilham. Baginya Ilham hanya memberinya harapan palsu. Beda dengan Jo yang membuktikan perasaannya tanpa menuntut dirinya harus menerima lelaki itu.
Siti menggeret kursi rodanya, menuju kamar Edwar yang terkunci dari luar. Tangannya menggapai kasur yang hanya beralaskan tikar. Tubuhnya terhempas keatas kasur, mata Siti tertuju pada sebuah buku tuntunan sholat. Siti membuka halaman pertama.
Sebuah tulisan yang dulu dirinya buat untuk seseorang. Seorang lelaki yang dulu memberinya harapan tinggi, seorang lelaki yang dulu dan sampai saat ini belum berpindah dari hatinya. Seorang lelaki yang membuat dirinya terluka dengan janji-janjinya. Selalu ada yang indah dalam ingatannya tentang lelaki itu.
Siti menangis memeluk buku tersebut. Menangis mengingat keinginannya membantu Ilham untuk menjadi pria yang lebih baik. Tapi Siti sakit, karena apa yang dia inginkan tidak sesuai dengan kenyataan.
Kamu jahat!
Kamu memberikan harapan padaku!
Lalu menghancurkan harapan itu!
Tapi mungkin ini yang namanya hidayah.
Karena Tuhan sudah meyakinkan aku kalau Jo lebih baik dari kamu.
Tapi kenapa di istikharahku selalu kamu yang terlihat.
apa aku kurang khusyuk sholatnya.
Maafkan aku ya Allah, aku tidak bermaksud mengatai perintahmu.
Mungkin memang benar aku kurang khusyuk
Jadi yang terlintas hanya bawaan halusinasiku.
Tak lama Siti tertidur di kamar Edwar. Entah kenapa Siti bermimpi seorang lelaki tangannya di borgol. Hanya saja tidak memperlihatkan wajahnya.
__ADS_1
####
Bersambung