
Jihan berangkat ke kantor karena ada rapat penting. Sepertinya Jihan akan full schedule, dimana dia akan menggembleng sekretaris barunya.
Belum lagi rencananya bersama Rangga yang akan menemui Ina. Sejak perusahaan jatuh ke tangan Alex, lelaki itu berusaha menggembleng anaknya. Mencetak jihan agar nanti bisa menjadi penerusnya.
Bagaimana tidak? Selain mengurus perusahaan, jihan juga diminta mengurusi aset lain dari keluarga Hermawan. Seperti resto, taman bermain, salon milik Mama linda.
Belum lagi rapat penting dengan staf perusahaan untuk membahas proges kerja bulanan. Membuat Jihan tidak bisa merasakan lagi kumpul bareng teman-temannya.
Lamunannya buyar saat benda pipih ditangannya bergetar. Tatapannya terlihat kecut saat tahu siapa yang menelponnnya.
"Jihaaaaan!"
"Iya Clara, Ada apa?"
"Kangen. Kamu jam berapa pulang kantor? Ngumpul yuk."
"Maaf Clara hari aku full schedule. Nanti sore aku juga ada janjian sama Rangga."
"Ciyeeee yang sudah move on dari ilham. Katanya tadi malam kamu pertemuan keluarga, ya? Gimana hasilnya? Kapan kalian menikah?" Cerca Clara.
Jihan tersenyum kecut saat mendengar ucapan sahabat. Rasanya tidak etis kalau dia menceritakan di telepon.
"Malam minggu kamu nginap dirumah, ya clara." Ajak Jihan.
"Kenapa harus malam minggu? kan pastinya kamu lagi sama Rangga?"
"Pokoknya aku tunggu dirumah pas malam minggu. Udah dulu Clara aku sudah sampai kantor.
Sampai di kantor jihan mulai memasuki ruang rapat dibukakan pintu oleh Rangga. Jihan tersenyum saat Rangga juga memapahnya untuk duduk. Banyak tatapan indah yang ditujukan untuk kedua. Walaupun yang sebenarnya tak seperti kenyataan.
Ji."
Panggilan Rangga membuyarkan lamunannya. Semua staf di ruang rapat ternyata menunggu dirinya untuk membuka rapat.
Helaan nafas panjang terdengar dari wanita itu. Jihan memulai rapat dengan lancar. Rangga tersenyum melihat kinerja Jihan.
"Ji, aku ada urusan. Nanti sore jadikan menemui Ina." Tagih Rangga.
"Insyaallah, ya, ga. Nanti aku kabari lagi. "
Rangga berlalu dari hadapan Jihan. Lama Jihan menatap punggung lelaki itu. Sekarang dia terkepung dengan hubungan palsunya bersama Rangga.
Semoga kamu bisa mendapatkan hati Ina, ga. Supaya aku tidak terjebak dengan semua ini.
__ADS_1
...****...
Mata jihan menatap ketakutan saat tahu siapa yang menjadi sekretarisnya. Sesekali mengumpati dalam hati. Dia sungguh tidak tahu rencana ayahnya ketika memasukkan lelaki itu bekerja di perusahaan.Tubuhnya mencoba menetralisir saat lelaki itu tersenyum.
"Apa kabar, jihan?"
"Baaaa....iiiik... kak Jo." Jihan berusaha menjawab meskipun dalam hatinya ketar-ketir.
Jihan merasa hidupnya sudah tenang saat lelaki itu tak lagi menguntitnya. Tapi sekarang berbeda, sosok itu satu ruangan dengannya, menjadi sekretarisnya.
"Jadi apa tugas pertamaku sebagai sekretarismu?" Ucap Jo yang duduk di sofa ruangan tersebut.
"Belikan aku burger chesse double, Capocino ice dan beberapa makanan ringan."
Rasain, kamu jo! Kerjain aja sekalian! Biar dia tahu sekarang berhadapan dengan siapa.
"Aku sekretaris, jihan. Bukan OB"
Jo mendekatkan wajahnya kearah Jihan sekitar 2 centi. Membuat gadis itu menelan salivanya. Dia berusaha untuk tidak terpesona dengan lelaki itu, walaupun dia merasa jantungnya berdegup kencang.
"Ya, kalau tidak mau kamu tidak di terima. Oke silahkan keluar dari ruangan saya." Jihan berdiri di depan pintu ruangannya.
Terdengar helaan nafas panjang dari lelaki itu. Jo berjalan mengitari ruangan yang dulu adalah ruang kerjanya. Langkah kakinya berjalan menuju kearah Jihan tangan mengunci tubuh Jihan. Tangannya membelai rambut Jihan membuat gadis itu bergidik ngeri.
"Kamu tahu, jika aku sedang menyukai sesuatu, akan aku kejar apapun rintangannya. Termasuk mendapatkan hatimu, nona Jihan Almira." Bisik Jo sambil mendekap tubuh Jihan.
"Oke, aku akan mengikuti keinginanmu.Mana daftar belanjaannya. Aku tidak mau jadi pengangguran lagi."
Jihan menyerahkan catatan belanja pada Jonathan. Setelah lelaki itu pergi, jihan memencet tombol sebuah nomor
"Halo, Renata! Kalau kalian mau pesan makanan titip saja dengan si Jonathan. Suruh dia beliin semua pesanan kalian."
Jo... Jo... Jihan kok dilawan!
Jihan kembali berkutat dengan pekerjaan kantornya. Berusaha menjalankan yang sudah diamanatkan. Sesekali mata Jihan melirik ke kaca kantor.
Zreeeet Zreeeet
"Iya,ma?"
"Ini aku sedang di kantor. Papa mana, ma. Jihan pengen ngomong penting!"
"Oh, gitu ya, ma. Ya udah ma. Jihan lanjut kerja lagi."
__ADS_1
Tak lama Jo datang membawa pesanan yang diminta Jihan.
"Makanan sebanyak ini apa kamu sanggup habiskan sendiri." Ucap Jo.
"Mau saya makan sekarang atau tidak itu bukan urusanmu. Oh, ya saya ada urusan di luar! Jadi saya minta kamu bersihkan ruangan saya sampai kinclong." Jihan beranjak dari hadapan Jonathan. Setelah keluar ruangan Jihan tersenyum penuh arti.
"Renata saya minta kamu pantau kerjaan Jonathan di ruangan saya. Terus kamu suruh dia gantiin pekerjaan mbak nilam yang sedang cuti." Perintah Jihan sambil berlalu.
Renata hanya menggelengkan kepalanya.
"Kasian mas Jo. Padahal ini perusahaan dia tapi malah diperlakukan seperti OB." Renata berjalan menuju ruang kerja Jihan.
Tampak Jo sedang membersihkan kaca. Matanya berkeliling menatap ruangan, lalu membuka sebuah laci. Jo yakin tidak ada yang pernah menyentuh laci yang terletak disudut pintu toilet ruangan.
Sebuah barang yang membuka kenangannya pada Siti, contoh sampel undangan pernikahan mereka, kartu nama butik yang dulu akan mereka pakai untuk fitting pengantin. Terakhir koleksi photo kebersamaannya dengan siti yang saat itu masih dikursi roda.
"Mas Jo." panggil Renata.
Jo mengusap wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Dia mengenal Renata sebagai staf papanya dulu, dengan senyum yang sedikit dipaksa Jo akhirnya mengobrol dengan Renata. Dari cerita Renata Jo akhirnya tahu kalau papanya mengkorupsi gaji karyawan demi memuaskan sifat hedonis mamanya.
klik
Kediaman Pramono
Pukul 10:00 WIB
Tiara baru saja selesai masak untuk menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya. Entah kenapa dia merasa kepalanya sangat pusing. Dipaksakannya untuk duduk di kursi. Tapi pandangannya makin berbayang membuat dirinya takut kalau terjadi sesuatu.
Tiara memencet nomor suaminya. Saat ini hanya dirinya sendirian dirumah, mama mila dan papa pramono sudah dua hari menginap dirumah Oma. Tiara ingin sekali ikut tapi takut nggak ada yang menemani suaminya. Sudah beberapa hari ini Ilham kembali disibukkan dengan pasien covid yang semakin bertambah.
Sayangnya panggilan tersebut tidak mendapat respon.
Mas, Sepertinya aku mau demam. Pulang, mas.
Tiara mengirimkan pesan suara kepada suaminya.
Kakinya melangkah ke kamar mandi, kepalanya dia dekatkan ke lobang wc.
Hueeeeekkkk Huuuekkk
Semua isi perut keluar dari tubuhnya. Seketika dirinya merasa lemas. Kakinya kembali melangkah untuk membuka kunci kamar mandi.
"Ibuuuuu!" ucapnya pelan. Pandangannya mulai buram.
__ADS_1
Apakah aku akan mati? kenapa tubuhku lemas sekali? ya Allah aku belum mau mati.
Tubuhnya terhempas ke lantai kamar mandi.