
"Awwww...." jerit Jo saat Sari mengobati lukanya diwajah.
"Belum juga kena udah jejeritan, si bapak cemen banget, sih." Omel Sari sambil membersihkan memar di wajah lelaki itu.
Sari mencoba menghindari kontak mata dengan Jonathan. Mencoba meredakan detak jantungnya yang berdetak kencang. Tubuhnya berdiri meninggalkan Jo, lalu mengambil plester dikotak obat tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Nak, Jo terimakasih sudah menolong Sari dari nak Radit. Ibu tidak menyangka Radit bersikap seperti itu. Untung Tuhan langsung kasih jalan untuk menyelamatkan Sari." Ucap Ibu Kurnia, ibunya Sari.
"Sama-sama, bu. Bukankah memang kewajiban kita sebagai sesama manusia harus saling tolong menolong. Lagian Sari ini teman kantor saya, bu."
Ucap Jo sambil meringis kesakitan saat Sari menempelkan plester ke jidatnya.
"Nak, Jo nginap saja disini. Ini sudah larut malam." Tawar Bu Kurnia.
"Biarin aja, bu. Dia kan laki-laki, masa takut pulang sendiri. Ya kan, pak Jonathan." Jonathan menjelit kearah Sari yang sepertinya mengusirnya secara halus. Dia paham kalau Sari takut jadi bahan omongan warga setelah kejadian tadi.
Kenapa aku merasa takut menatap mata pak Jo. Ah, tidak Sari, Jo itu jauh dari tipe-mu. Kau tahu kalau kau suka dengan pria seperti Akbar. Agamanya bagus, baik dan penyayang. Bukan pria bujang lapuk seperti pak Jo.
Sari mencoba menetralkan pikirannya. Sungguh sosok lelaki didepannya jauh dari pria idamannya. Tapi Sari bingung pada dirinya sendiri, kenapa dia bisa deg-degan saat didepan lelaki itu.
"Sar" Sebuah tangan meraba wajahnya. Seketika Sari kaget "Eh ... pak ... kenapa pegang wajah saya? Modus ya?" Ucap yang Sari yang masih kaget.
"Heeeeh... "
"Pak, sebaiknya anda pulang sekarang. Tidak baik lama disini, apa kata warga nanti."
Jo memegang tangan Sari, menahan tubuh wanita itu untuk melanjutkan langkah kaki. Sari memilih mengalihkan pandangannya kearah lain. Menguasai perasaannya yang mulai tak karuan. Mencoba menata detak jantung. Hingga dirinya tak menyadari lelaki itu sudah ada didepannya.
"Sar ..."
"...."
"Ehm, tolong panggilkan kedua orangtuamu. Saya mau pamit. Nggak enak aku nyelonong pulang saja tanpa bertemu tuan rumah."
Sari meninggalkan Jo yang masih berdiri di ruang tamu. Lelaki itu kembali mendaratkan bokongnya ke atas sofa hijau lumut. Matanya berkeliling melihat aksesoris rumah yang bergantung didinding.
"Nak, Jo mau pulang. Apa nggak nginap saja?"
"Nggak, Bu. keluarga saya sudah menunggu dirumah."
"Oooh, iya." Pak Tamrin, ayah Sari hanya mengangguk pelan.
"Pak, bu .. saya mau pamit."
"Mau pulang, kan?" Tebak pak Tamrin.
__ADS_1
"Apakah saya boleh duduk lagi?"
"Silahkan, nak Jo." Pak Tamrin mempersilahkan tamunya kembali duduk disofa.
"Ibu, bapak... Sari kekamar dulu, ya."
"Sari, ini tamu kamu, nak. Masa kami yang menemani nak Jo."
"Saya nggak papa, bu, pak. Biarkan Sari beristirahat setelah kejadian yang baru saja dialaminya. Saya cuma perlu dengan bapak dan ibu."
Sari masuk ke kamarnya yang dekat arah dapur. Istirahat? Entah kenapa dia tidak bisa memejamkan mata. Rasa kekepoannya dengan obrolan Jo dan kedua orangtuanya membuatnya makin tak tenang. Diatas ranjang Sari bolak-balik antara memilih keluar atau tetap dikamar. Telinganya di tempelkan di daun pintu, walaupun dia tahu kalau tak akan terdengar jelas.
"Sebenarnya apa yang mau nak Jo bicarakan dengan kami." tanya Pak Tamrin.
"Saya mau bicarakan soal Sari, pak. Kalau bapak dan ibu mengizinkan. Saya akan bawa orangtua saya untuk datang kemarin satu minggu lagi."
Pak Tamrin menangkap arah pembicaraan Jonathan "Apa nak Jo mau melamar Sari?" Jo mengangguk, tak disangkanya kalau pak Tamrin sudah paham dengan arah omongannya.
"Kalau bapak akan menyerahkan semua keputusan kepada Sari. Sebab yang akan menjalaninya ya kalian berdua."
"Nak Jo, ibu tahu kamu orang baik. Tapi untuk saat ini biarkan Sari berpikir tenang dahulu. Karena dia baru saja mengalami kejadian yang pasti mengguncang hatinya."
"Ibu kok ngomong gitu. Kan Sari belum jawab apa apa."
Nak Jo, maaf ... bukan kami menolak lamaran anda. Tapi sekarang waktunya belum pas. Tunggulah satu atau dua bulan lagi." Ucap Bu Kurnia.
Jo menghela nafas panjang.Usianya saat ini sudah memasuki 42 tahun. Sepanjang perjalanan hidupnya, sudah terbiasa ditolak wanita dan sekarang dia ditolak keluarga si wanita. Walaupun sebenarnya dia juga salah, melamar seorang wanita di momen yang kurang tepat.
"Pak, bu. Biar Sari yang antar pak Jo." Ucap Sari yang tiba-tiba muncul.
Sari dan Jonathan berjalan menuju gang komplek. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Sari tidak tahu apa yang akan mereka bahas sementara gerbang gang masih jauh.
"Sar; apa kamu dengar pembicaraan tadi?"
Sari hanya mengangguk.
"Maaf, sar. Bukan maksud ..."
"Pak, kasih saya waktu berpikir. Ini terlalu cepat buat saya."
"Sar, apapun jawaban kamu saya terima. Umur saya bukan untuk pacaran main-main. Saya cari istri bukan cari pacar."
"Makasih, calon suami ..."
"Barusan apa kamu bilang? ..."
__ADS_1
"Eh, emang saya bilang apa tadi?" Sari menepuk Jidat karena ucapannya barusan.
"Saya dengar kamu bilang, calon suami? Kamu terima lamaran saya."
"Eh...Anu..ini ... maksud saya calon suami untuk pasangan bapak nanti. Ya saya doakan supaya bapak jadi calon suami untuk wanita yang menerima bapak nantinya."
" Saya pegang ucapannya."
"Ucapan yang mana, pak?"
"Yang pertama dong. Saya anggap kamu terima lamaran saya."
"Haah!"
Sari menepuk bibirnya terus menerus. Dia terus menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa menjaga mulutnya.
"Oke, sudah sampai. Saya pulang dulu, bye bye calon istri." Jo melambaikan tangannya sambil naik ke atas motornya. Motor yang sedari tadi hanya didorong demi memanfaatkan waktu untuk ngobrol berdua.
Sariiiiii, mulut lo nggak dijaga sih. Kan jadi Geer pak Jo nya. Aduh gimana kalau ketemu dikantor besok.
Mampus aku ...
Apa yang aku ucapkan tadi benar-benar diluar kendali. Rasanya aku tidak punya muka buat masuk kekantor besok. Apa aku libur saja, ya? Astaga, Tuhaaan Tolong ... Apa kata orang nantinya? masa iya aku jadi istri pria usia 40 an. Jauh banget, padahal cita cita ku cari laki paling banter 30 an.
"Eciyeeee ..."
Sari menoleh suara yang datang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Akbar. Kok kamu disini?"
"Sar, ini jadwal Rondaku. Lagian ngapain kalian berjalan berdua sambil menggotong motor."
Wajah Sari langsung memerah "Au ah .... gelap" Sari pergi meninggalkan Akbar yang masih menertawakannya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1