Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
44. Menjelang pernikahan (1)


__ADS_3

Seminggu kemudian


"Siti!" Siti menatap Wanita yang berjalan kearahnya. Ada rasa heran kenapa wanita itu bisa sampai di desanya.


"Kak Vika, kan." tebaknya


Vika jongkok mensejajarkan dirinya dengan Siti.


Jadi ini perempuan yang akan dinikahi Jonathan. Ah, nggak ada cantiknya juga. Masih cantik aku.


Heran perempuan cacat seperti dia bisa disukai Jo.


"Hai, aku Vika Yasmine. Aku yang mengurus untuk acara pernikahan kalian." sapa Vika mencoba bersikap manis di hadapan Siti.


"Iya, aku tahu. Namaku siti Marlina." Siti mencoba memperkenalkan diri.


Kak Vika sangat cantik dan ramah. Perempuan secantik ini, kenapa bisa putus sama kak Jo. Ah, kamu ngomong apa sih, Siti? Tentu saja karena kak Jo ingin menikahiku.


Ya ampun, aku ngomong apa sih? Kok mulutku kayak jahat begini. Aku memang menerima kak Jo, tapi entah kenapa aku merasa tidak enak pada kak Vika. Lagian kak Jo gimana sih? nggak punya perasaan. Masa ngajak mantan ngurusin pernikahan kami.


Bukan cemburu sih?Ah, entahlah.


"Kamu sudah sampai." sebuah suara ikut menyapa Vika.


"Sudah, than." jawab Vika yang sambil duduk di teras rumah siti.


"Eh, ada tamu ya. Kok nggak diajak masuk sih. Ayo, nak duduk didalam saja." sapa ibu Aisyah melihat Vika sedang duduk di teras. bersama Siti dan Jo.


Jo mengajak Vika masuk kedalam rumah. Cara Jo saat mengajak Vika masuk membuat Siti sedikit cemburu. Siti merasa heran kenapa mereka bisa akur, padahal Vika dan Jo pernah hampir menikah.


"Kak Jo." panggil Siti saat Vika diminta beristirahat di kamar Siti. Gadis itu memegang tangan Jo.


"Apa sayang?" Jo mencium tengkuk jari Siti sambil membelai rambut Siti yang dikuncir panjang.


"Kenapa kak Jo ajak kak Vika?"


Jo mengulum senyum. Jo merasa ada bibit cemburu di pikiran Siti. Kakinya langsung jongkok mensejajarkan dengan Siti.


"Cemburu, ya... Aku senang kalau kamu mulai cemburu padaku." Jo menjentikkan hidung Siti karena gemas.


"Bukan seperti itu, kak. Kak Jo mikir nggak sih bagaimana perasaan kak Vika. Apalagi kalian pernah gagal menikah.


Dengan kak Jo meminta dia mengurus pernikahan ini. Itu sama saja bunuh diri perlahan-lahan. Dasar nggak peka!" Ucap Siti yang masih tidak enak pada Vika. Sekaligus kesal pada calon suaminya.


Jo tertawa mendengar ucapan Siti


"Sayang, dengar ya! Aku dan Vika itu sudah sepakat tetap bersahabat. Makanya dia mau menjadi Wedding organizer di pernikahan kita. Aku dan Vika sudah tidak memiliki perasaan apa-apa. Jadi aku minta buang semua prasangka burukmu. Yakinlah Siti perasaan cintaku cuma buat kamu. Seminggu lagi kita akan menikah."


"Kak ..." Siti menarik kemeja Jo.


Tubuh Siti terjatuh menimpa tubuh Jonathan.


Jo tersenyum melihat tubuh Siti diatas dirinya.


"Sabar, ti. Seminggu lagi." goda Jo.


Wajah Siti memerah. Maksud dirinya menarik kemeja Jo agar tidak meninggalkan dirinya sendirian di dapur. Sekaligus menanyakan kenapa keluarga Jonathan belum ada yang datang. Karena sejak Jo melamarnya sampai saat mereka akan menikah, mama Linda dan papa Hermawan belum pernah mencoba berbicara dengannya maupun keluarganya.


"Kaak..." Siti menjitak kepala calon suaminya.


"Sumpah kak Jo kalau bahas yang kayak gitu, otaknya langsung encer. Dasar laki-laki!" umpat Siti dalam hati.

__ADS_1


Jo hanya tersenyum nakal menatap calon istrinya "Kamu sabar ya, sayang. Orang sabar disayang suami." Jo mengecup kening Siti , dengan lembut.


Dari luar dapur sebuah mata menatap kemesraan keduanya. Ada hati yang terbakar melihat Jo dan Siti semakin lengket.


Sabar Vika. Ingat, mereka bisa bahagia sekarang. Tapi lihat saja nanti, mereka akan bertangis ria saat kehancuran itu tiba.


Flashback On


"Gila! benar-benar gila!" Vika membanting berkas yang ada dihadapannya.


Bagaimana tidak dia stress. Ada dua job acara dengan lelaki yang sama. Vika tidak habis pikir, dengan apa yang dia dapatkan beberapa hari ini.


"Kenapa kak?" Nana menyamperin Vika yang sedari tadi uring-uringan.


"Na, bagaimana bisa? Keluarga Alex meminta aku menjadi WO dipertunangan putrinya. Nathan memintaku menjadi WO untuk pernikahannya." curhat Vika pada Nana.


"Terus? Masalahnya dimana, kak?" Nana masih belum paham dengan ucapan Vika.


"Masalahnya adalah calon menantu keluarga Alex adalah Nathan. Sementara itu, Nathan tetap akan menikah dengan gadis kampung itu. Kamu tahu jadwal pertunangannya kapan? Setelah resepsi pernikahan Jo. Gila kan!"


Nana tersenyum melihat kegelisahan kakak sepupunya.


"Intinya kakak merasa Jo sedang mempermainkan kakak gitu atau kakak belum terima kalau kak Nathan sudah punya dua tambatan hati."


Vika menjelit ke arah Nana. Karena kata-kata Nana ada benarnya. Mungkin dirinya masih belum bisa menata hatinya. Tapi yang bikin dia kesal bukan masalah itu. Bagi Vika ini masalah profesional kerja, yang dirasanya sedang dipermainkan oleh kliennya.


"Entahlah, na. Aku merasa kita sedang dikerjai oleh Nathan. Nanti aku tanya ke tante Linda yang sebenarnya."


Nana menahan tangan Vika "Jangan kak! Kalau kakak tanya ke Tante Linda kelihatan banget kakak kepo sama urusan pribadi kak Nathan."


Ucap Nana yang takut Vika mempermalukan dirinya sendiri.


"Bukan masalah kepo, na. Tapi ini soal reputasi WO kita. Kamu tenang saja, aku tahu Tante Linda berada di pihak kita." Vika langsung mengambil kunci mobil.


"Kamu yang bernama Vika?" Tanya jihan pada Vika.


"iiiiya ..." Vika gugup karena didepannya adalah wanita yang akan bertunangan dengan Nathan.


Jihan duduk di kursi ruang tunggu kantornya.


"Mbak Sari, tolong buatkan teh buat tamu saya." Vika memerintah OB nya untuk menghidangkan teh untuk tamunya.


"Mbak Vika, kan sekarang puasa." Sari mengingatkan bos nya.


"Maaf, kamu puasa?" Vika menanyakan pada kliennya.


"Saat ini saya sedang tidak berpuasa, kak. Tapi nggak perlu hidangkan saya minuman. Saya menghormati mereka yang sedang berpuasa." tolak jihan.


Vika langsung menyuruh OB nya untuk kembali ke perkerjaannya. Vika langsung duduk di depan Jihan.


"Ada apa kamu mencari saya? Apa mau membahas tentang pertunangan kalian? Maaf konsep seperti apa?" Vika langsung ke pokok bahasan.


"Kak Vika mantannya kak Jo, kan. Bahkan kalian pernah hampir menikah setelah kak Jo lebih memilih Siti." Jihan memulai pembicaraannya.


Vika menahan amarah. Sedikit terkejut kalau sudah tahu hubungan Jo dengannya dulu.


Apakah wanita ini ingin pamer padaku kalau dia akan bertunangan dengan Nathan.


Huuuuh! Jangan mimpi! Toh sebelum kalian bertunangan, Jo sudah menikah dengan wanita lain!


Jihan mengulum senyumnya. Lalu menatap tajam wanita didepannya.

__ADS_1


"Aku mau kita kerjasama untuk menyingkirkan Siti. Aku tahu kakak belum bisa melupakan Jo dan aku bisa menjauhkan Ilham dari Siti."


Vika mengerutkan keningnya. "Ilham?"


Lalu menatap Jihan dengan tajam "Apa kaitannya dengan Ilham, mbak Jihan?"


Jihan memainkan rambutnya sambil memutar matanya kearah ruangan kantornya Vika.


"Aku dan Jo memang dijodohkan. Tapi Jo tetap akan menikah dengan Siti. Tapi..." Jihan menghentikan ucapannya. Mengukir senyum liciknya.


"Siti dan Ilham saling mencintai. Dan aku ... mencintai Ilham. Paham!"


Vika tertawa mendengar cerita Jihan.


Seandainya Jihan tahu bagaimana Ilham meninggalkan Raisa demi menikahi Gita, apakah perempuan ini masih mau bertahan dengan lelaki itu. Memang, Jo sudah lama bersaing dengan Ilham terkait Siti.


Dan Jo juga sudah terlebih dulu mendekati Siti sebelum Ilham masuk ke kehidupan gadis itu.


"Menarik!" jawab Vika dengan singkat.


"Akan aku pertimbangkan."


Jihan membuka hp nya lalu menyerahkan pada Jihan. Tampak seorang wanita paruh baya yang sedang video call dengan jihan.


"Hai Vika, terimakasih kamu mau membantu Tante."


Vika menelan salivanya "Tante Linda!"


Flashback off


Siti dan Jo berjalan-jalan disekitar desa. Banyak warga yang melihat kebersamaan mereka seperti julid. Karena desa itu masih memegang teguh adat istiadat yang berlaku.


"Tuh, lihat Siti! Nggak etis masih berduaan dengan calon suaminya." umpat bu annin saat melihat Siti sedang jalan-jalan bersama Jonathan.


"Lah, mereka harus cepat menikah kalau tidak mau di gerebek warga." sambung Bu Vanda.


"Kita langsung tegur ke Bu Aisyah. Kalian nggak tahu, ya beritanya." Bu Vanda duduk didekat para ibu-ibu penggosip.


"Siti itu mau menikah dengan si gondrong karena dipaksa dengan bu Aisyah. Kan Siti katanya punya pacar tapi nggak direstui."


"Ih, Bu Aisyah kayak ngejual anaknya. Apa sih hebatnya si gondrong itu?"


"Kan si gondrong lebih kaya dari pacarnya Siti."


"Iiih matre..." timpal yang lainnya.


Siti yang mendengar ucapan mereka hanya menunduk malu. Netranya tak dapat disembunyikan kalau ternyata dirinya jadi bahan omongan warga.


Jo menggenggam erat tangan Siti. Seolah meminta gadis itu tidak memperdulikan ucapan mereka.


"Siti!" Suara salah satu komplotan penggosip.


"jangan sering-sering berduaan. Nanti baru sebentar menikah malah cepat punya anak."


Siti langsung melepaskan air matanya. Meminta Jo untuk mengantarnya pulang. Tawa para warga semakin membuatnya sakit.


Tak pelak ucapan mereka sudah menjadi pukulan buat Siti.


"Aku benci semua ini! aku tidak mau menikah!" Siti membanting barang-barangnya dikamar.


Bersambung!!

__ADS_1


sabar ya, Siti!


__ADS_2