Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
107. Rahasia Ina #4


__ADS_3

Mama Yulia duduk disamping Ina yang seharian mengurung diri dikamar. Sebagai seorang kakak dia paham yang dirasakan adiknya. Apalagi usia Ina yang masih sangat muda, masih labil dalam urusan percintaan. Mama Yulia ingat bagaimana menghadapi Gita yang terombang ambing antara Ilham dan Alam. Bagaimana putri semata wayang lebih memilih Alam yang sudah banyak menyakitinya. Mama terkadang tidak mengerti pemikiran Gita saat itu. Karena bagi mama Yulia menantu yang diharapkannya adalah Ilham bukan Alam.


"Na.." ucap mama Yulia duduk diranjang Ina.


Tangannya membelai rambut adiknya, menatap wajah Ina yang masih pucat. Ina merebahkan kepalanya di bahu mama Yulia. Air matanya menetes sedikit demi sedikit.


"Apa aku terlihat menjijikan dimata Kak Lia?Apa kak Lia membawaku kesini karena kasihan padaku?" Tanya ina pada mama Yulia.


Pertanyaan yang membuat dirinya terdiam sejenak.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kakak ikhlas mengajakmu kesini, Ina. Kamu adikku sedarah kita punya ayah yang sama, wajar kalau kakak membawamu kesini." Mama Yulia mencoba memberi pengertian pada Ina.


Saat dirinya mendengar kabar kalau mamanya Ina meninggal dunia, dengan cepat dia datang ke kediaman Ina. Tapi saat dia tahu bahwa Ina adalah anak Kania, perempuan yang sempat dinikahi papanya, batin Yulia bergejolak. Awalnya dia tidak ada keinginan membawa Ina kerumah, karena selama ini dia tidak menyukai segala yang berhubungan dengan Kania.


Namun, saat bibi pekerja rumah kania menceritakan bagaimana perlakuan kania pada Ina.


Hatinya tergerak untuk mengajak Ina tinggal bersamanya. Terselip rasa kasihan pada gadis itu, apalagi rupa Ina mirip mendiang putrinya, membuatnya semakin yakin kalau Ina masih ada hubungan darah dengan dirinya.


"Aku ini kan anak simpanan papa Gunawan. Apa kak Lia tidak jijik padaku?Secara pasti kak lia masih benci sama mama." jelas Ina.


Mama Yulia memeluk Ina dengan penuh kasih sayang.


"Ina dengar, ya? Kamu bukan anak simpanan. Mama dan Papamu menikah resmi bukan siri."


"Lalu kenapa papa ceraikan mama? Apa papa tidak kasihan sama mama yang harus pontang panting menghidupiku. Apalagi aku dengan kondisi kelainan jantung."


Mama Yulia sedikit terkejut "Kamu punya kelainan jantung?" Ina mengangguk.


Mama Yulia kembali memeluk Ina dengan erat. Terbayang olehnya hari- hari yang dilalui gadis itu. Sama seperti yang pernah dilalui Gita. Teringat putrinya berjuang melawan kanker, masalah yang tak kunjung selesai.


"Kak bisakah tinggalkan aku sendiri?" Ucap Ina.


Mama Yulia ragu meninggalkan Ina sendirian. Apalagi dengan suasana hatinya yang sedang kalut. Mama Yulia takut kalau Ina berbuat yang aneh-aneh.


"Kakak tenang saja. Aku nggak akan aneh-aneh kok, lagian kalau mau bunuh diri udah dari dulu kali..


dari sejak aku tahu mama selingkuh dengan kekasihku, sejak mama bilang aku anak..."


Mama Yulia langsung memeluk Ina dengan erat "Please, jangan dibahas lagi .. kamu ngga sendiri, na. Ada kak lia dan kak dul, ada shasa, ada alam dan semua yang tinggal dirumah ini sayang sama kamu,na. Jadi jangan pernah merasa tidak ada yang sayang sama kamu."

__ADS_1


Ina tersenyum simpul saat mendengar ucapan kakaknya. Setidaknya perasaannya tenang dan punya tempat berlindung. Disandarkannya kepalanya dibahu Yulia, dipeluknya erat tubuh wanita 57 tahun tersebut.


"Terimakasih kak. Terimakasih sudah menerimaku sebagai adikmu."


"Kamu masih muda, na. Perjalananmu masih panjang, lebih baik kamu fokus dengan karier dan pendidikan saja. Jangan mikirkan soal pacaran lagi. Lupakan lelaki itu. Kejarlah cita-citamu, nak."


Ina mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan kakak. Bagi itu, urusannya dengan Rangga sudah selesai. Walaupun masa pacaran mereka masih seumur jagung.


"Kakak tidak mau kamu seperti Gita. Mencari lelaki sesuai kata hatinya hingga pada akhirnya banyak masalah yang membuatnya tertekan. Kakak nggak mau kamu menemukan lelaki seperti itu, Kalau kamu tidak menemukannya, biar kakak yang carikan."


"Apakah yang kakak bicarakan soal Alam? Kakak tenang saja aku nggak suka sama duda."


Ina menghela nafas panjang. Sepertinya dia paham mengapa kakaknya tidak terlalu dekat dengan Alam.


...****...


Ooooweeeeeee ooooweeeeee


Alam bingung menenangkan Shasa yang menangis terus. Padahal badan putrinya sehat-sehat saja, malah barusan habis makan jus buah dengan lahap. Mama marni membantu putranya menenangkan sang cucu, tapi tetap saja sang anak rewel.


"Lam, biasanya kalau disana Shasa lebih sering sama siapa?"


"Ina? siapa itu? baby sitter shasa, ya?" tanya mama Marni yang masih asing dengan nama yang disebutkan.


"Adiknya mama Yulia, bu." jelas Alam.


"Oh, dah tua ya." Tebak mama Marni.


Alam tertawa mendengar ucapan mama Marni yang menebak status usia Ina.


Kalau Ibu tahu seperti apa rupa Ina, gimana ya reaksinya. Ah, apa aku jemput Ina kesini ya? pengen tahu reaksi ibuku? Tapi bukannya Ina sedang kurang sehat, ya.


Ah, ngapain aku ajak dia? yang ada makin besar kepala tuh anak! Mending aku minta mama Yulia datang."


Alam menghubungi mama Yulia agar datang menengok Shasa. Tangannya tak berhenti menengok jam, dimana akan ada rapat penting dikantornya. Sesekali matanya menatap sang putri yang sudah lelah mengeluarkan air mata.


Ayah kerja dulu, ya nak. Kamu baik-baik disini sama oma Marni, ada tante Rere, ada kak jenny pokok banyak teman kamu disini.


"Bu, aku kekantor dulu, ya. Nanti kalau ada mama Yulia datang kesini ajak langsung ke kamar Shasa." Alam pamit pada mamanya untuk pergi ke kantor.

__ADS_1


Saat mobil Alam keluar rumah, tak lama kemudian mobil keluarga Gunawan memasuki halaman rumah kediaman Spencer. Tampak seorang gadis muda turun dari mobil, dari penampilannya terlihat girly. Itulah Karina seorang gadis muda berusia 19 tahun, Ina diutus mama Yulia untuk menjaga Shasa. Mama Yulia beralasan ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan, sehingga meminta adiknya yang datang ke kediaman Spencer.


*


*


Assalamualaikum


Tak ada sahutan dari dalam rumah besar tersebut. Mata Ina terus memandang kearah sekitar rumah gedongan tersebut. Ada rasa kagum saat berdiri di kediaman spencer. Bahkan menurutnya lebih besar dari rumah kediaman Gunawan.


Waaaaaaaw, rumahnya keren sekali. Lebih besar dari rumahku dan rumah keluarga kak Yulia. Hmmm... benar kata tante Raya, mereka keluarga konglomerat no 5 se-jakarta.


Andai mereka punya menantu bujangan, aku akan jadi pendaftar yang pertama.


Ina memberanikan diri kembali mengetuk pintu rumah kediaman Spencer.


Ceklis


"Assalamualaikum, mbak saya Ina yang ditugaskan ibu Yulia menjaga Shasa." Sapa Ina pada si pembuka pintu.


Mbak Dia menatap Ina dengan rasa terkejut. Wajahnya mendadak pucat saat melihat Ina yang masih berdiri didepan pintu.


Ya Allah apa itu mbak Gita. Tapi namanya beda, ya.


Subhanallah mirip sekali.


...****...


Ada yang rindu dengan cerita Siti Ilham. Insyaallah nanti malam akan up


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2