
"Pa, Jika terjadi sesuatu pada saya. Aku titip Siti, ya." Ucap Ilham sambil menunduk lesu.
"Kamu mau kemana, ham? Mau ninggalin Siti lagi. Jangan gitu, ham. Kalau ada masalah biar papa bantu menyelesaikan. Siti butuh kamu, ham."
Ilham menghela nafas dengan pelan. Sebentar lagi pasti pihak rumah sakit akan menuntutnya. Kalaupun itu terjadi, dia sudah siap dengan segala resikonya, yang penting istrinya selamat. Kakinya berjalan menuju kursi panjang didepan ruang tunggu. Sesekali menatap dua lelaki yang berdiri dihadapannya.
"Penanganan yang dilakukan pada Siti itu llegal, Pah. Ilham bukan dokter disini lagi. Aku harus menanganinya, karena sebagian dokter sudah pulang, Kalau tidak Siti tidak selamat. Jika mereka benar - benar mau menuntut, aku siap bertanggung jawab." jawab Ilham menundukan kepalanya.
Papa Adolf memandang menantunya penuh haru. Ada kebanggaan tersendiri melihat sikap menantunya. Dia yakin akan ada kebenaran yang meringankan Ilham.
"Ham, terimakasih sudah menyelamatkan anak papa. Papa bangga sama kamu, ham. Mau menyelamatkan nyawa orang lain meskipun resikonya berat." Papa memeluk Ilham lalu menepuk pelan dipunggung menantunya.
Mereka berjalan kembali ke kamar inap Tiara. Tampak Tiara masih terlelap, lelaki itu duduk disamping istrinya dan menggenggam erat tangannya. Ilham terus mengusap tangan istrinya agar terasa hangat. Untuk saat ini kondisi Tiara sudah stabil, tapi belum bisa mengecek keadaan janin istrinya karena tidak punya alatnya.
Hari sudah berganti terang, langit pun mulai menampakkan cahayanya bersamaan dengan terbitnya matahari. Sepasang mata memandang ruangan disekelilingnya, menahan beratnya tangan yang tertutup dengan kekarnya lengan suaminya. Senyumnya mengembang, tangan lembut itu bergerak bersamaan dengan bangunnya Ilham.
"Ti, kamu sudah sadar, sayang." Tiara hanya menggangguk lemah.
"Kenapa denganku, mas. Kenapa bisa ada disini?"
Tiara masih bingung kenapa ada dirumah sakit.
"Panjang ceritanya, sayang, yang penting kamu sudah sadar."
"Mas, twins kita?"
"Kamu tenang saja. Twins kita sehat, sayang. Pokoknya kamu jangan mikir yang macam-macam dulu. Nanti kalau sudah sembuh, aku akan luangkan waktu 24 jam buat kamu."
"Mas?"
"Iya."
"Maafkan aku."
Ilham mengkerutkan dahinya "Maaf untuk apa? Kamu nggak pernah salah kok, sayang."
"Maafkan aku yang sudah banyak menyusahkanmu. Gara-gara nyelamatin aku, kamu dituntut sama om Alex, gara-gara aku kamu terancam mutasi, dan gara-gara aku kamu harus berhenti kerja dirumat sakit ini. Semua kekacauan ini gara-gara aku,mas."
Ilham menempelkan jari telunjuknya dibibir istrinya. Dia tak menyalahkan Tiara, karena yang diperbuatnya semua demi wanita yang sudah menjadi istrinya. Kepalanya menggeleng seakan meyakinkan bahwa semua yang terjadi sudah menjadi garisnya.
"Ti, ini bukan salah kamu, sayang. Ini semua sudah suratan takdir. Suratan takdirku berjodoh denganmu, suratan takdirku untuk harus melindungimu. Jadi please, jangan terus menyalahkan diri."
__ADS_1
Mereka saling menguatkan satu sama lain. Ilham senang bisa selalu ada untuk Tiara. Karena perjuangan mereka sangat berat untuk sampai ke titik sekarang ini.
"Kamu tahu, Ti. Perjuangan cinta kita sangat mahal, banyak hal yang sudah kita korbankan, ada tangisan orangtua kita, tangisan orang-orang kita lukai, dan kita melewatinya tidak mudah.
Jujur kalau wanita itu bukan kamu, aku masih jadi Ilham yang dulu. Ilham yang lupa akan Tuhannya, Ilham yang masih suka pergi clubbing, Ilham yang .... Pernah menyiakan istrinya hanya demi wanita lain."
"Mas. Setiap orang punya kesempatan kedua, kamu tahu mas, di novel yang terdahulu kamulah yang diharapkan pembaca untuk menjadi pendamping Gita. Tapi karena Raisa, banyak yang kecewa padamu.
Mas, kamu tahu kenapa aku mempertahankanmu daripada kak Jo?"
"Kenapa? karna kamu cinta sama aku, kan."
"Ih, pede banget." Tiara mencubit hidung suaminya.
"Terus."
"Nggak jadi ...." Tiara kembali merebahkan tubuhnya.
"Loh kok gitu? Aku udah kepo maksimal, lo."
"Dokter Ilham anda dipanggil dokter Sasono diruangannya." Panggil salah seorang suster.
"Udah mas, sana kamu temui dokter Sasono. Siapa surat Resignmu ditolak."
Ilham menghela nafas panjang, dia yakin pemanggilan ini terkait penanganan Ilegal subuh tadi. Dia pasrah kalau mereka memang menuntutnya.
Dari jauh sosok mata lentik terus memantau ruangan Tiara. Senyum merekah penuh arti menghiasi wajah itu. Ada harapan besar saat melihat Ilham keluar dari kamar itu.
Saat Ilham keluar dari ruang rawat istrinya, tanpa disadari Risma memantau dari jauh. Ilham pun tak menyadari kehadiran Risma yang sudah dekat dengan kamar Tiara. Kakinya terus melangkah ke kamar Tiara. Kali ini tanpa kursi roda dengan percaya dirinya memasuki ruangan itu. Tampak Tiara sedang terlelap indah, bahkan suara pintu pun tak membuatnya terbangun.
"Apakah aku harus melakukannya sekarang? Paling tidak mumpung kamar ini sepi? Kau tahu kalau Sakha itu milikku. Selamanya milikku! Jangan harap kamu bisa merebutnya dariku. Dasar pelakor!"
Tiara terkejut saat melihat seorang wanita terus mengumpat dihadapan. Asing, itulah penilaiannya pada wanita itu. Tatapannya yang membuat Tiara mulai ketakutan.
"Si...siapa kamu?"
Senyum itu menyeringai, kakinya mendekati tubuh wanita yang dianggap rivalnya. Tanpa basa basi Risma memukul wajah Tiara dengan tongkat infus. Beruntung Tiara bisa menangkis sambil berteriak.
"Tolong!Tolong!"
"Diam!kamu! Kamu sudah merebut Sakha dariku, aku yang keguguran kamu malah hamil anak Sakha." Tangan Risma berusaha mencekik leher Tiara.
__ADS_1
Plaaaakkk!
"Papa!" Pekik Risma saat tahu siapa yang menamparnya.
Beberapa orang masuk ke kamar rawat Tiara. Tampak wanita itu masih ketakutan atas kejadian barusan. Mama Yulia dan Mama Mila berusaha menenangkan Tiara yang shock.
Pak Barata menyeret sang putri dengan penuh amarah. Habis kesabarannya melihat tingkah putrinya. Jeritan suara Risma tak menggugah hati Pak Barata. Gurat kekecewaan terpancar diwajah tuanya.
Risma menatap papanya dengan pandangan menantang. Seakan dia tidak takut dengan kemarahan papanya. Sesekali merapikan rambutny yang sudah berantakan karena dijambak oleh Tiara.
Tak lama suara lirih terdengar dari mulut manisnya.
"Papa jahat, aku hanya menyelamatkan Sakha dari pelakor itu."
"Sakha punyaku, tidak ada wanita lain yang memilikinya selain aku!"
Lagi-lagi tamparan itu kembali mendarat di wajah cantiknya. Risma merasakan panas pipinya akibat tangan ayahnya. Sampai Ibu Barata bersujud pada suaminya agar tidak terus menyakiti putrinya.
"Mama, tahu apa yang dia lakukan! Dia mencoba membunuh istri dokter Ilham. Membunuh, ma! Membunuh!"
Ibu Barata tidak percaya dengan ucapan suaminya. Dia yakin anaknya tidak seperti itu. Ibu Barata malah menganggap anaknya pasti diserang istrinya dokter Ilham.
"Aku tahu anakku, pa.Dia tidak mungkin sebodoh itu."
Pa Barata menghela nafas, istrinya semakin membela putrinya.
"Kalau mama tidak percaya kita lihat cctv rumah sakit ini."
"Pak Barata ada polisi mencari mbak Risma." ucap suster yang mengantar beberapa polisi.
"Saudari Risma, anda kami tangkapan atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap saudari Tiara."
"Nggak, pak. Saya nggak salah! Dia ngambil suami saya! Dia pelakor!" Risma terus menjerit sambil memberontak.
"Barata!"
Pak Barata kaget saat tahu siapa lelaki memanggilnya. Tangannya gemetar saat tahu siapa yang menyapanya.
"Tuan Adolf" Ucapnya gemetar.
Kenapa Tuan Adolf ada disini? Bukannya dia pulang ke brunei. Aduh gawat kalau dia tahu skandal anakku, bisa dicabut investasinya nanti. Tuan Adolf kan tidak suka punya klien bermasalah.
__ADS_1