
"Alhamdulillah" Seru Akbar saat mengurus syarat untuk resepsinya.
"Kenapa, mas?"
"Ini, han. Aku pikir tadi bakal ribet mengurusnya. Ternyata banyak yang dipermudah karena kita sudah menikah."
Jihan mengeryitkan dahinya. Sedari tadi suaminya berbicara sendiri menjawab sendiri. Jihan takut suaminya mengalami gangguan jiwa.
"Mas nggak papa, kan?" Jihan menempelkan tangan dikening suaminya.
"Nggak papa, kok. Kenapa sayang?" Akbar merapatkan wajahnya membuat Jihan salting.
"Aaaaku ... mau ... ke ... da ...pur dulu?" Jihan meninggalkan Akbar lalu berjalan ke dapur.
"Aku mau memberikan ini"
Jihan membaca lembaran yang dipegangnya.
"Ini apa, mas."
"baca aja, sayang"
Surat Pengantar RT/ RW.
Fotokopi KTP Calon Suami & Istri 2 Lembar.
Fotokopi Kartu Keluarga Calon Suami & Istri 2 Lembar.
Fotokopi Akte Kelahiran 2 Lembar.
Fotokopi Ijazah Terakhir 2 Lembar.
Fotokopi Surat Nikah Orangtua 2 Lembar.
Surat Pernyataan Belum Menikah/ Belum Menikah Kembali.
"Ini syarat untuk pernikahan kita di tempat sekolahku."
Jihan masih belum paham "Sekolah?"
"Aku ini TNI, han. Jadi aku masih terdaftar anggota mereka."
"Haah! TNI" Jihan belum bisa percaya dengan omongan suaminya.
Selama ini yang dia tahu kalau Akbar hanya bodyguard tamatan SMA. Bukan seorang TNI, Jihan merasa takut. Pasalnya dia pernah mendengar kalau menikah dengan TNI atau Polisi harus melalui tes keperawanan. Sedangkan dirinya sudah tidak perawan lagi.
"Mas, kita pake resepsi biasa aja, ya."
"Han?"
"Mas, apa benar kalau di sana pake tes keperawanan?" Akbar mengangguk.
Jihan meninggalkan suaminya yang kaget dengan syarat dari pihak TNI. Sungguh dia sangat takut mengecewakan Akbar jika lelaki itu tahu keadaannya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Han? kamu nggak papa, kan, sayang. Buka pintunya, dong." Akbar terus menggedor kamar mereka. Masih bingung dengan perubahan sikap istrinya setelah tahu dirinya TNI.
Jihan keluar dari kamar dengan wajah sembab. Dengan cepat Akbar menenangkan istrinya. Walaupun dia masih mempertanyakan kegundahan istrinya.
"Han, kamu kenapa?"
"Mas, apakah kamu sudah tahu keadaanku yang sebenarnya? Jika aku jujur apakah kamu masih mau mempertahankan aku? Jika tak sempurna apakah kamu akan menceraikan aku."
"Manusia tidak ada yang sempurna, sayang. Aku punya kekurangan juga, kamu pun juga. Dimata Allah kita semua sama. Jadi apapun yang terjadi nggak masalah buatku."
Jihan memandang Akbar dengan takjub.
"Lagian, kita kan sudah menikah. Aku tadinya niat mau mengundang mereka. Eh, malah disuruh ngurusin resepsi ala AD. Ya, udah kuterima niat baik mereka."
"Mas, kita juga bakal punya tamu istimewa kayaknya."
Akbar duduk mendekati istrinya "Siapa?"
"Ntar aku tanya sama mbak Mel. Kan dia yang bikin kita jadi dekat."
"Bentar mbak Mel mana sih?" Akbar mencoba mengingat.
"Itu lo, Mas. Yang nulis Mengejar Cinta Siti."
"Ooooh iya. Tapi apa mereka mau datang. Mereka pendukung Pemeran utama. lah kita cuma figuran."
"Doakan saja, mas. Semoga mbak Mel bisa mengundang mereka."
Akbar dan Jihan saling mendekat. Jantung mereka saling berpacu. Lama mereka saling memandang, tangan Akbar mulai menjalar ke salah bagian tubuh jihan. Jihan belum memberikan respon apapun, bagi Akbar itu tanda Jihan tak menolak. Akbar langsung menurunkan tubuh Jihan keatas ranjang. Sayangnya Jihan kembali menolak sentuhan suaminya. Ketakutan itu kembali menyerangnya.
"Ma...maaf" suara Jihan terdengar bergetar.
"Sayang, kamu kenapa?" Akbar kembali dibuat bingung dengan sikap jihan.
Kenapa Jihan seperti ini, ya? Bukankah kami sudah menikah. Sah sah saja dong kalau aku menuntut hak ku. Seharusnya dia sebagai istri tahu kewajibannya pada suami. Sudah satu minggu kami menikah, tapi kenapa dia terus menghindar.
Saat ini Akbar dan Jihan tinggal di rumah orangtua Jihan. Karena permintaan Alex agar tetap tinggal disana sampai selesai resepsi.
Flashback
"Satu yang harus kamu tahu Akbar. Jihan itu mencintaimu, hanya saja dia minder karena ...."
"Karena apa?"
"Karena putri kami pernah hamil diluar nikah, nak. Tapi terserah nak Akbar. kalau keberatan silahkan pulang, kami tidak memaksa." ucap mama Kiki.
"Tante, om dan Clara. Saya mencintai Jihan apa adanya, saya menerima masalalunya. Saya siap menikahinya."
Clara tersenyum menang
"Oke. Kalau begitu kamu siap untuk menikahi Jihan."
"Aku siap."
__ADS_1
Akbar keluar dari kamar pengantin diikuti oleh kedua orangtua Jihan, Clara dan Sari.
"Saudara Akbar Syahputra, saya nikahkan dan kawin putri saya yang bernama Jihan Almira binti Alex prasetyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Jihan Almira binti Alex Prasetyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saaaah"
"Saaaaaah" Teriak para undangan.
Ijab kobul yang tadinya tertunda akhirnya berbuah manis. Semua serba dadakan, Akbar pun merasa harus berterimakasih pada Rangga. Karena baginya kalau ini adalah takdir hidupnya.
"Ma."
"Aku tadi tidak salah dengarkan?" Jihan mencoba meyakinkan yang didengarnya.
Itu suara Akbar, kan?
Apa aku sedang bermimpi?
"Iya, nak. Kamu tidak salah dengar."
Jihan langsung memeluk mama Kiki. Rasa haru tersemat dihatinya. Ada rasa syukur karena masih ada pria yang mau menikahinya.
Flashback Off
Akbar terbangun. Mimpinya barusan mengingatkan dirinya tentang keadaan Jihan yang sebenarnya. Dia terus merutuki diri, bagaimana bisa dia membahas soal ranjang, padahal dia tahu istrinya sangat trauma.
Ya Allah maafkan aku. Aku bukan suami yang peka. Bagaimana mungkin aku lupa kalau Jihan masih trauma dengan masalalu.
Akbar keluar kamar mencari keberadaan Jihan. Perasaan kalut takut istrinya berbuat yang diluar nalar. Kakinya terhenti saat melihat Jihan sedang duduk digazebo dekat kolam renang. Dia mendekati istrinya, tangannya mendekap Jihan dari samping. Memindahkan kepala jihan keatas pundaknya, tangannya merayap ke rambut.
Malam telah menyelimuti langit biru jakarta. Terasa udaranya semakin menusuk tulang. Jihan terdiam menatap gulungan air kolam renang.
Pikirannya melayang saat beberapa bulan yang lalu, dirinya menyadari tubuhnya tanpa busana dengan lelaki itu. Mereka tertidur berdua dikursi belakang mobil milik Dodo. Entah apa mereka lakukan berdua yang disana, dirinya pun tak bisa mengingatnya.
"Kamu bahagia sekali tadi, han. Kita saling menikmati bersama. Terima kasih, han, kamu sudah menemaniku."
Jihan bangun dari tindihan tubuh Dodo. Rasanya sakit sekali. Matanya meratapi cairan lendir miliknya. Dia tak bisa marah, karena ini bukan yang pertama buat dirinya. Tapi dia tidak menyangka Dodo sepicik itu.
Kenangan itu yang membuatnya sakit. Saat dirinya mendapati sedang hamil. Mama Kiki langsung berasumsi bahwa dirinya hamil dengan Ilham. Tanpa mendengar penjelasan dirinya dulu.
"Sayang."
Suara Akbar mengagetkan dirinya.
"Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Tidak ada yang di dunia ini. Yang sempurna itu hanya Allah. Aku punya masalalu yang kelam juga. Kamupun begitu, lantas apa kita harus terus menengok kebelakang terus? han, aku tahu yang kamu takutkan. Saat aku menikahimu, keluargamu sudah menceritakan semuanya."
Jihan menoleh kearah Akbar.
"Jadi kamu sudah tahu kalau aku .."
Akbar mengangguk.
__ADS_1
"Mulai sekarang kita buka lembaran baru. Lupakan yang pernah membuatmu sakit. Kita menjadi sosok yang lebih baik lagi. Nggak bagus terut larut dalam keterpurukan. Aku selalu ada disampingmu dalam suka dan duka. Aku menerimamu apa adanya. asalkan kamu juga menerima aku apa adanya. Mulai sekarang kita memulai rumah tangga kita menuju sakinah." ucap Akbar sambil mengecup kening Jihan.
"Tidak ada hari dimana aku tidak bersyukur kepada Allah SWT karena telah memberiku suami yang peduli dan pengertian sepertimu. Terima kasih telah menerimaku, sayang.”