
"Aku lapar." Siti memegang perutnya yang sudah keroncongan.
"Suster bisa minta tolong?" pinta Siti pada suster yang sedang mengecek kondisi Siti.
"Iya mbak." suster mendekati ranjang Siti.
"Saya pengen makan soto yang di kantin pak Surya. boleh nggak mbak?" Siti mencoba meminta bantuan kepada suster.
"Maaf, mbak Siti. Sebaiknya mbak makan dari yang disediakan rumah sakit. Masalah mbak tidak boleh sembarang makan."
Siti mengerucutkan bibirnya. Ia rindu soto pak Surya, zaman dia masih jadi OB di rumah sakit kasih bunda. Dulu, sering sekali sarapan disana. Kadang di traktir Ilham untuk makan disana ( Zaman masih jadi pacar Gita). Siti duduk memandang hp. Menunggu kabar dari Jonathan. Siti menghela nafas dengan kasar.
"Siti." suara Jihan memecahkan keheningan di ruang inap Siti.
"Gimana keadaanmu?" tanya Jihan sambil meletakkan box makanan di meja.
"Kepalaku masih berat, kak. Badanku masih lemas. Aku mau pulang kak. Aku takut, apalagi aku sendirian disini."
"Loh, emang Ilham nggak nyuruh suster buat ngejaga kamu, ti." Siti menggeleng.
"Gimana sih, Ilham? dikasih amanat kok nggak dikerjain." protes jihan.
Maaf kak Jihan, aku terpaksa bohong soal itu. Ilham memang tadi malam menjagaku. Tapi aku tidak mau kakak berpikiran negatif terhadap ilham. Aku sudah ikhlas kak, kalau kakak sama ilham. Mungkin kami memang tidak berjodoh, toh aku punya kak Jo yang sayang padaku.
Siti masih memegang perutnya, cacing terus berdemo. Jihan melihat Siti yang masih manyun karena tidak diperbolehkan makan soto di kantin.
"Kamu kenapa?" tanya jihan
"Aku pengen soto yang ada di kantin. Tapi kata susternya tidak boleh."
"Ya, udah biar aku yang pesan."
"Bener, kak. Asyiiik! Kalo begitu tolong pesankan soto pake nasi terus nasi nya pake bawang goreng sama kerupuk empingnya. Maaf kak aku jadi malah nyusahin kak Jihan."
Jihan terdiam sejenak. Dia teringat kalau itu makanan favorit Ilham. Sedikit mengendurkan nafas, Jihan menatap box makanan di bawanya tadi.
"Jangan!" Sebuah suara masuk ke ruang Inap Siti.
"Kamu tuh, ya. udah disediakan makanan rumah sakit masih minta yang lain." Omel Ilham memperlihatkan wajah dinginnya.
Siti hanya diam saja. Dia malas berdebat dengan Ilham. Di tatapnya box makanan yang dibawa Jihan. Jihan tahu siti sangat lapar, lalu membuka box tersebut.
Siti makan dengan lahap, entah kenapa dia sangat lapar sekali. Siti merasa lapar ini hanya kedok semata. Yang pasti dia merasa banyak bikin dirinya kesal dan makanan pelampiasan saja.
"Ti."
"Iya, kak." Siti mendelik ke arah Jihan. Tapi sekaligus ketangan jihan yang menggandeng tangan Ilham. Lama matanya terfokus dengan gandengan kedua pasangan tersebut.
"Kamu jangan pulang dulu, ya." kata jihan yang akhirnya duduk di samping Siti.
"Aku nginap di rumah sakit lagi ya kak."
"Bukan itu. Minggu depan kami mengadakan pesta pertunangan sekaligus ulang tahun pernikahan mama. Makanya kamu jangan pulang dulu, ntar aku temui jo deh."
Ya Allah, Minggu depan mereka mau bertunangan. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak bisa terus disini. Rasanya sakit melihat kemesraan mereka. Aku sudah coba kuat, tapi ternyata aku tidak bisa.
Tapi aku juga tidak mungkin mengecewakan kak Jihan. Kak Jihan sudah terlalu baik padaku. Mungkin memang sudah takdirnya Ilham dengan kak Jihan.
__ADS_1
"Aku nggak janji ya, kak. Kakak lupa kalau aku sedang dalam masa pingitan juga. Minggu depan rencana aku mau pulang ke Jambi. Sehabis itu nggak bisa kemana-mana lagi. Tapi kalau kakak nikah, aku pasti datang kok kak. Tenang saja."
Ilham kaget saat mendengar ucapan Siti. selama ini yang dia tahu Siti sudah menikah.
Sedang masa pingitan! Maksud Siti apa, ya? bukannya dia sudah menikah. Kenapa harus dipingit lagi. Tapi kalau sudah menikah kok Jihan bilang Siti tinggal sama dia, ya. Ah, membingungkan. Kenapa banyak sekali yang kau sembunyikan,ti.
"cuma..." siti menunduk membayangkan bagaimana ibunya menanyakan Jonathan. Siti tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku takut pulang, kak. Aku takut ibu nanyain kak Jo." Jihan memeluk Siti karena ikut merasakan apa yang Siti rasakan.
Braaaakkkk!!!
Ilham pergi keluar dari ruangan. Tujuannya mencari Jonathan. Dia tidak suka Jonathan mempermainkan Siti. Ilham masuk ke ruang kerjanya dan mengambil kunci mobil.
"Kamu mau kemana, ham?" Jihan mengikuti Ilham sampai ke ruang kerjanya.
"Menemui Jonathan."
"Bentar? Kamu kenal sama Jonathan." Jihan bingung dengan semua ini.
Ilham masih terdiam. Tangannya memijit keningnya yang tidak pusing. Ilham membuang nafas dengan kasar "Iya, aku kenal Jonathan! Aku kenal Siti!" Ilham menjawab dengan nada tinggi.
Tiba-tiba ada seorang perawat mendatangi Siti.
"Mbak Siti bisa ikut saya ke luar sebentar." ajak suster memindahkan Siti ke kursi roda.
"Kemana?" Siti bingung suster hanya diam saja.
Riuh suara parkiran rumah sakit. Terdengar musik berdentang.
Seorang lelaki memegang gitar, sambil berseru
Siti aku tidak peduli kalau mereka nantinya tidak merestui kita. Yang aku peduli cuma kamu. Dari dulu sejak awal kita dekat, sejak aku mengenal kamu dari Gita. Sejak itu pula aku jatuh cinta sama kamu. Walaupun aku tahu kamu masih mencintainya, tapi aku yakin kamu bisa buka hati.
Siti ini lagu ungkapan hatiku untuk kamu"
Tahukah kau apa yang kau lakukan itu?
Tahukah kau siksa diriku?
Bertahun 'ku nantikan jawaban dirimu
Bertahun-tahun 'ku menunggu
Kau sangka aku akan menyerah
Kau sangka aku akan pasrah
Dirimu tak perdulikan aku
Walau cinta hanya untukmu
Walau kasih hanya untukmu
Walau sayang hanya untukmu
Untukmu, untukmu, untukmu
__ADS_1
Kau mimpi-mimpiku, cinta gilaku hanya padamu
Hanya kau belahan jiwa, cinta membara tiada tara, ugh
Oh, tahukah kau apa yang kau lakukan itu?
Tahukah kau siksa diriku?
Bertahun 'ku nantikan jawaban dirimu
Bertahun-tahun 'ku menunggu
Kau sangka aku akan menyerah
Kau sangka aku akan pasrah
Dirimu tak perdulikan aku
Walau cinta hanya untukmu
Walau kasih hanya untukmu
Walau sayang hanya untukmu
Untukmu, untukmu, untukmu
Jihan dan Ilham yang mendengar suara mic dari Jonathan langsung berlari keluar. Ilham takut Jonathan menceritakan hubungannya dengan Siti.
"Kak Jo hentikan!" teriak Siti.
Siti berdiri mendekati Jonathan.Walaupun tubuhnya masih terasa lemas, tapi dia tetap memaksakan diri untuk mendekati Jo.
Aku mohon kak Jo jangan bicara soal itu di depan umum. Tolong jaga perasaan kak Jihan.
Aku mohon!
Siti berjalan pelan mendekati Jo. Menatap lelaki dengan senyuman terbaiknya. Tatapan demi tatapan dia lalui. Siti tidak peduli dengan hal itu.
"Kak Jo tau, kalau saat kak Jo melamarku dulu aku sedang membuka hatiku untuk kakak. Kak Jo tau, saat kakak memintaku menjadi belahan jiwa kakak dan aku menerimanya. Tapi kenapa kakak bicara seperti tadi, seolah kakak tidak percaya padaku.
Kalau aku tidak sayang sama kakak, mungkin aku sudah pulang duluan ke Jambi. Memang aku awalnya kecewa sama kak Jo, kenapa kakak tidak mengabariku. Tapi aku yakin kak Jo bukan seperti itu. Aku yakin ada sesuatu yang sedang kakak selesaikan. Jadi aku mohon jangan bicara seperti ini lagi kak."
Jo menatap Siti dari kejauhan. Air matanya menetes saat mendengar ucapan Siti
"Ti, aku mau kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu dari mama dan papa. Aku mau kita mengarungi hubungan tanpa menatap masa lalu. Aku cinta sama kamu, ti."
Tepuk tangan dari semua yang menonton adegan mereka. Jihan pun ikut terharu melihat kesungguhan Jo.
Bruuuukkk!!!
SITI!!!!!!
Dua pria langsung mendekati Siti yang pingsan di tengah terik matahari.
...####...
...bersambung...
__ADS_1
Alhamdulillah hari ini bisa post tentang Siti. Buat teman-teman yang masih bingung apa hubungan Siti dengan novel sebelah, mari mampir lagi ke novelku judulnya AKU KAMU DAN DIA