Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
86. Setelah Resepsi


__ADS_3

...Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian lagi." (HR. Thabrani dan Hakim)....


...*****...


Tiara benar-benar kesal dengan Ilham. Karena lelaki itu menahan dirinya untuk datang ke dinner yang diadakan keluarga mereka.


Kakinya melangkah memasuki kamar mandi. Masih terasa membekas dipikirannya saat lelaki itu menyentuh punggung. Geli! Iya, geli sekali. Tiara memegang perutnya yang mulai bernyanyi. Senyumnya merekah terlintas ide mencari alasan mencari makan.


"Sayang, masih lama?" Panggil Ilham dari luar.


Tak ada sahutan.


"Kamu nggak papa, kan."


Tiara yang didalam masih berpikir mencari alasan. Tapi tetap saja otaknya buntu.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka. Tiara menggunakan daster kaos yang biasa dia pakai. Sambil memegang perut,dirinya pura-pura lemas.


"Kamu kenapa? sakit? Perasaan tadi baik- baik aja deh."


"Aku ... kayaknya mag deh. Aku lupa tadi cuma ganjal sama biskuit." keluh Tiara sedikit menjelit kearah suaminya.


"Ya, udah kita sholat jamak dulu, ini udah lewat maghrib. Nggak papa kan?"


"Nggak papa, ham eeeh mas ilham." Tiara makin tidak karuan saat Ilham memegang tubuhnya.


"Ti"


"Eh, iya, kenapa?" Ilham melihat wajah istrinya memerah.


"Ti" Bisik Ilham menghembus ditelinga wanita itu.


"Aku .. aku ... Aku mau kekamar ibu. Boleh?"


Ilham paham kalau istrinya grogi dimalam pertama mereka. Akhirnya dia mengizinkan istrinya untuk bermalam dengan ibu Aisyah. Lelaki itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lama dia berdiam di kamar mandi.


Apa aku harus jujur padanya soal ini? Kenapa aku takut mengacaukan kebahagiannya?


Ya, Allah maaafkan aku. Aku belum siap mengatakan yang sebenarnya.


POV Ilham


Aku merebahkan tubuh diatas ranjang pengantin kami. Setelah membersihkan diri, meregangkan otot, karena sebelum pernikahan ini terjadi, pikiranku kacau. Ketidaksiapanku sebelum aku tahu yang sebenarnya. Sebelum aku tahu bahwa Lina dan Siti adalah wanita yang sama.


Terdengar suara air dari kamar mandi. Ah, istriku sedang membersihkan dirinya setelah kami harus merelakan kaki untuk berdiri. Bahagia? tentu. Siapa sangka gadis yang akan kunikahi adalah kekasihku sendiri.


Alhamdulillah ijab kabul tadi berjalan dengan lancar. Aku tidak menyangkan akan menjadi suami siti, wanita yang aku cintai. Pahitnya perjalanan hubungan kami, membuat rasa cintaku semakin kuat. Walaupun mungkin aku sering terlambat. terlambat menyadari kalau saat siti pergi, aku merasa hancur.

__ADS_1


Saat menuju altar pernikahan tadi, aku pasrah, jika memang aku dan siti tidak berjodoh. Ternyata, semua berjalan dengan penuh dramatis.


Saat sungkeman begitu banyak petuah yang diberikan oleh kedua orangtua kami. Tangisan dari mamaku saat aku bersujud dikakinya. Tangisan oma saat aku meminta restu. Papa Pramono, lelaki yang membesarkanku, walaupun dia tahu aku bukan anaknya tapi dia tetap memperlakukanku seperti anak kandungnya. Banyak nasihat yang diberikan papa.


"Ham, sekarang kamu sudah menikah. Apapun yang dilakukan istrimu adalah tanggung jawabmu.


Jadilah suami yang baik, bimbing istri dengan sabar, jangan sekali-sekali kamu kasar padanya."


Ya Allah kenapa aku jadi kalut. Aku ya Allah, takut tidak membahagiakan Siti. Apalagi dengan kekuranganku ini. Apakah dia mau menerimaku saat mengetahui aku mandul.


"Mas."


Kulihat Tiara masih memakai dasternya. Padahal tadi dia merengek untuk datang ke dinner keluarga.


Tapi kenapa dia malah santai saja? Ah, dia susah ditebak.


"Iya." jawabku masih setengah malas.


"Ini sudah mau setengah sembilan, mas."


"Terus?"


"Katanya tadi mau sholat isya."


Astaga aku tadi yang mengajaknya sholat isya. Aku berdiri mengambil sarung dan sajadah. Kulihat Siti sudah memakai mukena. Ah, cantiknya istriku kalah pakaiannya tertutup seperti itu.


POV Author


Selesai shalat Ilham menatap Tiara yang sepertinya mulai mengantuk.


Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allahummazuqnii minhum warzuqhum minni. Allahummajma' baynanaa maa jama'ta ila khairin, wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.


Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.”


"Ti, kamu capek sepertinya."


"Iya, aku mau tidur. Boleh?"


"Boleh, tapi tidurnya disini." Ilham menepuk pahanya.


Tiara tersenyum lalu merebahkan kepalanya dipaha suaminya. Beberapa kali ilham menghujani kecupan dipucuk rambut Tiara.


"Bagaimana perasaan setelah hari ini?" Ucap Tiara sambil mengelus wajah suaminya.


"Spechelles, nggak nyangka kita bakal jadi suami istri beneran. Papa bilang bakal nikahin aku sama perempuan yang bernama Lina. Nyuruh aku buat lupain kamu, saat itu aku syok. Di tambah kamu bilang mau nikah sama lelaki pilihan papamu."


"Ham, kamu lupa, ya. kalau namaku Siti marlina."


Ilham terkejut, tak pernah terpikirkan olehnya soal itu. Mungkin karena sudah down duluan. Ilham bergerak mengecup kening sang istri.

__ADS_1


Tiara tersenyum, ternyata dirinya rasakan saat itu sama persis dengan yang dialami Ilham. Bagaimana perasaannya kalut, karena akan menikah dengan zack, lelaki pilihan papanya.


"Mas. Kamu bilang sama mereka kalau dinnernya dibatalkan saja. Aku capek mas, lagi ingin istirahat dulu."


Ilham mengambil ponsel menghubungi keluarganya untuk membatalkan dinnernya. Matanya melirik sang istri yang sudah tertidur masih menggunakan mukena. Lelaki itu memindahkan istrinya keatas ranjang. Sengaja mukena tak dibukanya karena takut Tiara bangun.


Hujan mulai turun membasahi bumi. Ilham menatap kaca hotel yang menghadap jalan besar.


Jalanan yang mulai sepi, terlihat suasana disana tampak mencekam.


"Mas"


Sayup terdengar suara istrinya, entah mengingau atau sudah sadar. Ilham masih fokus memandang kaca jendela. Tubuhnya seperti ada yang memeluk dari belakang.


"Tidur." Tiara terlihat setengah mengantuk menarik suaminya ke tempat tidur.


Mereka saling memandang di pembaringan. Ilham mengecup kening istrinya.


" Aku mencintai siti, aku bahagia bisa menikahimu. Aku janji akan selalu ada buat kamu."


Ilham mencium dahi Tiara dengan lembut. Tangan saling memeluk. Hari ini mereka sudah resmi menjadi suami istri. Tiara mencoba meredam perasaannya yang tidak karuan.


Sebagai seorang suami yang mencintai istrinya, Ilham tak sabar melakukannya. Termasuk membahagiakan sang istri.


Ilham terus menghujani kecupan diwajah Tiara. Tiara memejamkan matanya menikmati tiap kecupan yang mendarat di pipi, mata, hidung hingga kemudian menyentuh lehernya. Tangannya menggenggam erat seprai.


" Apa kamu sudah siap, sayang?"


"Aku istrimu sekarang, aku akan serahkan jiwaragaku untuk suamiku. Apapun yang ada dalam diriku adalah milikmu."


Ilham memeluk Tiara.


"Aku adalah suamimu. Akan kujaga dirimu segenap jiwa ragaku. Apapun yang ada padaku adalah milikmu."


Ilham melerai pelukannya dengan pelan. Menatap sang istri yang hanya berjarak 1 cm. Saling bertatap dengan senyuman andalan mereka. Lalu dengan pelan ilham merebahkan Tiara. Ilham kembali mendaratkan ciuman ke bibir Tiara, tangannya menelusup kedalam daster, menyentuh buah dada istri, meremasnya dengan lembut.


Ilham meminta Tiara membuka kancing bajunya. Tiara membuka kancing baju suaminya. Matanya membulat saat tubuh kotak-kotak terpampang nyata, membuat dirinya harus menelan salivanya.


"Kalo mau pegang nggak papa, kok. Kan punyamu juga." Ucap yang mengarahkan tangan Tiara menyentuh perutnya.


Tok tok


"Ham, apakah kamu sudah tidur?"


Terdengar suara mengetuk pintu dari luar. Ilham langsung memakai baju sementara Tiara membuka pintu.


"Mama Mila, ada apa?" Tanya Tiara pada mama mertuanya.


"Papa, ti, jantungnya kumat." Jawab mama mila sambil menangis.

__ADS_1


Ilham langsung pergi ke kamar tempat mama papanya menginap, ilham memeriksa papa Pramono, merasakan denyutnya lemah.


Salah seorang keluarga menghubungi rumah sakit terdekat.


__ADS_2