Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
97. jihan story 1#


__ADS_3

Kediaman Alex


Pukul 20:00 wib


POV JIHAN


"Ji"


Aku memandang seorang wanita yang berdiri didepan. Meskipun usianya 50-an tapi dia tetap menawan bagiku. Badannya masih mulus dan seksi. Masih pantas menggunakan gaun-gaun anak muda.


"Kamu sudah siap?"


Aku mengangguk. Lalu aku berdiri di depan mamaku, mama melenggangkan tangannya untuk ku gandeng.


"Anak mama sebentar lagi akan menikah. Mama sepertinya bakal kesepian kalau kamu ikut sama suamimu ke jepang nanti."


Aku hanya memeluk mama. Perempuan yang melahirkanku, membesarkanku dan aku akan meninggalkannya. Sedih juga,sih. Tapi mau bagaimana lagi. Bukankah sejatinya seorang istri mengikuti suaminya kemanapun pergi.


Siapa lelaki itu?


Dia adalah Rangga, Putra tiri pengusaha yang bernama Donald, sahabat papaku. Kulihat Rangga anaknya baik, santun dan nggak sombong. Kenapa aku bilang nggak sombong? Pernah suatu aku ke mall bareng Rangga, dia masih meluangkan kantongnya memberi uang pada seorang kakek yang jualan di emperan.


Dia pernah bilang begini "Kakek itu harusnya menikmati masa tuanya bersama cucu-cucunya. Bukan menjadi pencetak uang oleh anak-anaknya."


Ah, Rangga kamu baik. Tapi kalau kamu mengetahui aku sudah pernah hamil diluar nikah, apakah kamu masih mau menerimaku?


"Ji."


Panggilan mama mengagetkan ku. Aku langsung berjalan mendekati mama.


"Sepertinya sudah datang." ucap mama saat kami hendak turun dari tangga.


Seorang lelaki tampan berdiri menungguku dipinggir tangga. Tangannya menyambutku dengan sopan.


Usia kami tak jauh beda, Rangga 35 dan aku 33. Kami berjalan menuju ruang utama. Tangannya tak lepas dari ku.


"Ji"


"Iya, Rangga." Aku menatap lelaki yang masih berdiri disampingku.


"Bisakah kita ngobrol di tempat lain. Supaya kita bisa lebih leluasa saling mengenal." Ajaknya sambil mengikuti langkahnya ke dalam mobil.


Entah kemana dia akan membawaku, pastinya aku yakin dia bukan tipe laki-laki yang suka macam-macam dengan perempuan. Semoga dugaanku nggak meleset.


Mobil kami berhenti disebuah pantai. Ada sebuah bangku kosong dan kami menempatinya. Rangga menatap langit yang bertabur bintang.


"Rangga, kamu mau ngomong apa?"


"Ji.."


"Iya"


"aku mau membatalkan rencana perjodohan kita."

__ADS_1


Entah kenapa aku tidak merasa kecewa saat dia mengatakan hal itu. Rasanya biasa saja.


"Kalau boleh tahu apa yang membuat kamu ingin membatalkan rencana ini?"


"Aku mencintai perempuan lain, ji. Aku tahu perasaan ini salah. Tapi dengan selalu ada didekatnya, melindunginya dan memberikan rasa nyaman buatnya. Itu sudah cukup buat dia?"


Aku duduk menghadap lelaki itu, lalu mencoba menenangkannya. Tampaknya dia memang cinta dengan gadis itu.


"Lalu kenapa kamu tidak bilang pada keluargamu soal cewek itu?"


"Nggak mungkin aku mengatakan itu sama mereka"


"Kenapa?"


"Karena perempuan itu adik tiriku."


"Karina?"


Rangga hanya mengangguk lemah. Aku menatap lelaki itu dengan perasaan senang. Senang karena aku tidak akan mengecewakan dia ketika menikah nanti. Senang karena Rangga sudah menemukan cinta sejatinya.


"Berjuanglah, ga. Karina itu anak baik. Aku dukung kamu."


"Ji, kamu nggak marah sama aku."


Aku menghempas nafas kasar. Ku tatap lagi Rangga yang masih menunggu jawabanku.


"Enggak. Aku nggak bisa maksain perasaan oranglain, karena semakin kita berjuang untuk orang yang tidak mencintai kita. Semakin sakit yang kudapat nantinya.


Dulu sekuat tenaga aku mempertahankan Ilham, tapi tetap saja hatinya terarah pada siti.


"Ji, setiap manusia pernah punya masa lalu yang kelam. Sekarang tergantung kamu, apakah kamu masih mau tenggelam dengan ratapan? Atau kamu mau bangkit dari keterpurukan. Itu semua kamu yang harus bergerak." Rangga memelukku seperti seorang kakak terhadap adiknya.


"Ga, apa yang mau lakukan sekarang?"


"Mencari ina"


"Jadi kamu tidak tahu dia dimana?"


Rangga menggeleng "Sejak mama Kania meninggal, rumah ina sudah kosong."


Aku rasa aku bisa bantu dia "Aku tahu Ina dimana?"


"Bener, Jihan!"


Aku melihat wajahnya berbinar saat kukatakan keberadaan Ina. Kelihatan dia sayang banget sama Ina.


"Dimana?"


"Besok kita kesana, gimana?" Lelaki itu menggangguk.


"Ji, aku dengar kamu lagi dekat dengan anak om hermawan, ya"


Deg! Aku sudah lama tidak mendengar kabar kak Jo.

__ADS_1


"Nggak kok cuma teman biasa aja. kenapa?"


"Aku mohon hati-hati ya.Kamu tahukan kalau om Alex dan Papa tiriku terlibat dalam ambil alih perusahaan om Hermawan. Aku takut dia punya maksud tertentu."


Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Bukan satu dua orang yang bilang begitu, tapi sudah banyak. Aku bersyukur punya keluarga dan sahabat yang masih biasa mengingatkan aku.


Ngomong-ngomong soal kak Jo, dia apa kabarnya, ya. Sejak terakhir pergi ke nikahan Siti, aku tidak pernah melihatnya. Waktu pulang pun aku juga tidak bertemu dengannya, malah Akbar yang mengantarku pulang.


Aaahhh, lega sih karena nggak dibuntuti lagi.


"Yuk, kita pulang" Rangga menggandeng tanganku.


Kami berjalan memasuki mobil. Rangga sesekali tersenyum padaku, Ina kamu beruntung jika mendapatkan lelaki seperti Rangga. Ketimbang Ina sama Dodo.


POV author


Pagi ini jihan ada rapat penting tanpa sempat sarapan dia berlari ke mobil. Papa Alex mengingatkan ada sekretaris baru untuk jihan. Jihan mengiyakan sambil berlalu dari hadapan papanya.


Dia takut papanya membicarakan soal pernikahannya dengan Rangga. Karena Rangga sudah membatalkan rencana pernikahan mereka. Hanya saja, Rangga belum membicarakan hal ini.


Mobil Jiham melaju kearah kantor. Sekarang yang mengurus perusahaan adalah Jihan. Papa Alex hanya mengawasi melalui daring. Tampak Rangga sudah menunggu di depan mobilnya. Lalu menggandeng Jihan masuk ke kantor.


"Wah, mereka serasi ya?" Bisik para staf saat melihat Jihan dan Rangga berjalan menuju ruang rapat.


Jihan hanya tersenyum kecut. Karena yang mereka puji-puji hanya semu semata. Tidak ada rencana pernikahan, tidak ada pasangan serasi dan jihan hanya bisa meratapi bahwa dirinya akan menjadi gadis tua.


Semalam setelah bicara dengan Rangga, jihan menangis di kamar. Bukan soal pembatalan tapi soal statusnya yang belum menikah. Pastinya dia akan malu untuk ikut kumpul dengan temannya.


"Ji."


Panggilan Rangga membuyarkan lamunannya. Semua staf di ruang rapat ternyata menunggu dirinya untuk membuka rapat.


Helaan nafas panjang terdengar dari wanita itu. Jihan memulai rapat dengan lancar. Rangga tersenyum melihat kinerja Jihan.


"Ji, aku ada urusan. Nanti sore jadikan menemui Ina." Tagih Rangga.


"Bu, sekretarisnya sudah menunggu di ruangan."


"Perempuan?" tanya jihan


"Bukan, bu. Laki-laki."


Jihan berjalan menuju ruang kantornya. Ada sedikit pertanyaan dibenaknya.Kenapa papanya mempercayakan sekretaris laki-laki?


Jihan membuka pintu ruangannya. Tampak dari belakang jihan merasa mengenal lelaki itu. Dengan penuh wibawa jihan memanggil lelaki yang berdiri menatap kaca.


"Apakah anda sekretaris yang dikirim papa saya?"


"Iya, saya sekretaris baru anda."


Jihan terkejut melihat siapa yang menjadi sekretaris. Tangannya gemetar menatap lelaki itu.


Dia masih menguntitku

__ADS_1


Siapa sekretaris baru jihan?.


__ADS_2