Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
17. Tujuh Belas


__ADS_3

Ting tong


Ting tong


Bel rumah Jonathan terus berbunyi. Tidak ada yang menyahut ataupun menyambut si pemencet bel.


Jo yang baru bangun, menggeliat lalu melihat jam.


"Emmmm, baru jam 10 pagi. Siapa sih yang mencet bel jam segini. bibi mana sih?" dengan malas Jo bangkit dari tempat tidur.


Masih menggunakan boxer pendek dengan kaos dalam. Jo mengambil korek kuping sambil membuka pintu.


"Assalamualaikum." sapa seseorang yang Jo kenal berdiri di depan pintu.


Antara setengah sadar, Jo coba mencubit pipinya "Siti?"


"Iya, emangnya siapa?" Siti tersenyum melihat penampilan Jo yang baru bangun tidur.


Jo melihat dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Langsung lari terbirit-birit, saking malunya.


"Oh, jadi tamu nggak diajak masuk nih. Aku berasa jadi orang minta sumbangan.Ya, udah aku pulang."


Jo langsung datang kembali menemui Siti. Kali ini sudah memakai kaos dan celana sopan. Dia masih tidak enak pada Siti.


"Masa calon kepala rumah tangga bangunnya baru jam segini, sih." Goda Siti.


"Kamu.. ngapain kesini?" tanya Jo yang masih tidak percaya Siti datang kerumahnya.


"Mau, Jenguk Sheila." jawab Siti simple.


Siti berkeliling mengitari isi rumah kediaman Jonathan.


Dia melihat photo keluarga. Bahkan photo pernikahan Raisa pun masih ada. Jo melingkari tangannya di pinggang Siti.


"Tenang, sebentar lagi kita nyusul." bisiknya


Siti melepas tangan Jo, takut ada yang melihat. Lalu menanyakan kamar Sheila.


"Kamar Sheila yang mana?" tanyanya sambil menatap lelaki didepannya.


"Jangan gitu dong lihatnya. Ntar rindu Lo." Siti terkekeh mendengar ocehan Jo. Di cubitnya perut Jo, sambil berlari masuk ke kamar Sheila.


Sheila melihat keduanya sambil tersenyum "Kakak iparku datang." Siti memeluk Sheila dengan erat.


"Sudah lama sekali kak Siti nggak kesini."

__ADS_1


"Iya, terakhir waktu ngantar kamu ke rumah." Siti terkenang saat pertama kali mengantarkan Sheila pulang.


Saat itu Siti belum tahu kalau Sheila adalah adik Jo. Tapi saat masuk ke rumahnya, Siti baru mengetahui Jo juga anggota keluarga Sheila.


"Dan kakakku ini pasti belum mandi. Nggak malu apa di depan calon istri penampilannya urakan kayak gitu." omel Sheila melihat Jo sangat kusut.


"Justru itu daya tarikku yang bikin klepek-klepek wanita." puji Jo


"Udah sana mandi." Siti mendorong Jo keluar dari kamar Sheila. Karena keseimbangan kurang kuat Siti hampir saja terjatuh dan di tahan oleh tangan Jo.


"Emmmm ..." deheman Sheila mengagetkan mereka. Jo mengangkat tubuh Siti ke posisi semula. Mereka malu-malu, Jo ingin keluar kamar tapi malah masuk kamar mandi Sheila.


"Kak Jo emang gitu, kak. Kak Siti nginap sini ya, kan ntar malam kita dinner. Temenin aku disini kak." bujuk Sheila yang ingin sekali bermalam bersama Siti.


"Lain kali ya, dek. Kakak mau siap-siap nih, katanya nanti malam ada dinner keluarga."


Dinner? Kok aku nggak tahu sih? Seingat aku mama sempat bilang dinner bareng keluarga kak Vika. Kok kak Siti ikut juga. Jangan sampai deh mama kembali mau menikahkan kak Vika dengan kak Nathan.


Yang aku tahu. Kak, Nathan cintanya sama kak Siti, bukan kak Vika. Masa iya kak Nathan mau bawa kak Siti ke acara pertemuan keluarga kak Vika. Ah, ada yang tidak beres ini. Aku harus bicarakan dengan kak Nathan.


Sementara itu mama Jonathan sudah pulang melihat ada seorang gadis di kamar Sheila. Mama mengenal gadis itu sebagai kekasih Jo.


Senyum mengembang melihat sosok yang tidak disukainya.


"Eh, ada nak Siti. Apa kabar nak?" sapa mamanya Jo


Mama menerima salam dari Siti. Tapi dari belakang tangannya seperti di lap ke baju. Menandakan wanita itu jijik dengan bekas tangan Siti. Sheila melihat aksi mamanya cuma bisa menggeleng kepala.


Ya Allah mama, sebegitunya sama kak Siti.


tahu nggak kak Siti itu orangnya baik, rajin dan Sholehah. Aku Ingin kak Siti bisa membimbing kak Nathan untuk menjadi sosok yang religius. Bukan Jo yang masih suka bolong sholatnya, bukan kak Jo yang masih suka genit sama yang bening. Padahal usia kak Jo bukan muda lagi, sudah kepala empat.


Aku pengen lihat kak Jo menjadi sosok yang lebih baik lagi.


klik


Malam ini Siti dan Jo akan mengikuti pertemuan keluarga. Siti sudah di make over oleh Jihan menjelma menjadi gadis yang cantik. Jihan dan Siti berangkat bersama menuju hotel trans.


Jihan hanya diam, karena dirinya juga merasa deg-degan akan penentuan perjodohan itu. Beda dengan Siti yang masih terlihat biasa saja. Walau pun dia juga sedikit berdebar.


Jakarta malam ini masih memperlihatkan akvitas warganya. banyak yang masih berjualan dimalam hari, mulai dari kuliner, pakaian, sampai petugas parkir. Siti bersyukur dirinya masih menikmati hidup dengan baik.


Siti menatap Jihan yang menurutnya sangat sempurna. Dimatanya Jihan itu Malaikat setelah Gita, Sosok Jihan yang baik, tidak pandang bulu, kaya raya, pokoknya idaman setiap lelaki. Siti yakin laki-laki yang akan mendampinginya pasti bahagia.


"Kamu kenapa lihat aku seperti itu?" Jihan kikuk dipandangi terus oleh Siti.

__ADS_1


"Kakak cantik banget. Pasti calon kakak nggak akan nolak kakak deh." puji Siti tanpa melepaskan pandangannya ke arah Jihan.


"Terimakasih. Kamu juga cantik, beruntung Jo dapatin cinta kamu dek. Tapi suruh Jo cari pekerjaan tetap." Jihan ikut memuji Siti.


Siti tersenyum


Seingatnya Jo pernah bilang, kalau lelaki itu punya usaha photografi patungan di Bandung. Ya mungkin dirinya akan dibawa ke Bandung setelah menikah. Tapi ibu pernah memberi syarat kalau Jo buka usaha di Sarolangun, supaya ibu sering mengunjunginya. Siti pun melihat Jo tidak keberatan.


Hp Jihan bergetar


"Assalamualaikum, ma."


"Iya aku sudah di jalan sama Siti."


"Masa sih, ma. iya...iya..."


Jihan menutup telponnya. Wajahnya kembali berseri. Siti menggoda jihan yang sedang berbunga-bunga.


"kenapa kak? Senang banget kayaknya."


"Ini, kata mama ... calonku itu yang akan menjemput kita di pintu depan."


"Aku penasaran, deh. Seperti apa calon Kakak. Apakah dia lebih tampan dari kak Jo."


"Pasti dong. Jo itu sebenarnya ganteng, ti. kalau dia mau membersihkan diri. Tapi gondrongnya itu yang bikin Jo kelihatan macho."


Mobil telah sampai di parkiran hotel. Siti menelpon Jo untuk mengabari dirinya sudah sampai. Tapi tidak diangkat. Jihan mengajak Siti turun beraama, tapi Siti tetap menunggu kabar Jo.


"Ya, udah. Kalau begitu aku turun duluan. Nanti kabari aku kalau Jo sudah datang." kata jihan yang langsung turun ke mobil.


Sudah satu jam Jo belum memberinya kabar. Siti memilih pulang memakai mobil Jihan. Dadanya terasa sesak. Kepalanya tiba-tiba sakit. Siti memilih pulang ke rumah Gita, daripada pulang ke rumah Jihan.


Zreeeeet zreeeeet zreeeeet


"Siti kamu dimana, dek." telpon Jihan.


"Aku...aku kurang enak badan, kak. Aku pulang duluan ya." Siti menutup telponnya.


Apa yang terjadi?


Bagaimana dengan dinnernya bersama Jo?


Apa yang membuat Siti mengurungkan niat berkumpul bersama keluarga Jihan?


######

__ADS_1


bersambung


__ADS_2