
"Memalukan! Kalian menggunakan jabatan kalian untuk foya-foya! Dalam sejarah kedokteran rumah sakit kita belum pernah mengadakan yang namanya arisan." Bentak Pak Wibowo, pemilik rumah sakit Kasih Bunda.
Pak Wibowo mendapat laporan tentang adanya arisan istri dokter. Dari informasi yang dia terima, arisan ini berjalan di luar kendali Ikatan Dokter Indonesia, yang artinya acara itu bersifat pribadi. Dia menyayangkan tindakan para wanita itu karena menggunakan nama instansi. Mereka lupa apa yang mereka lakukan akan berdampak pada pekerjaan suami mereka.
Berita tentang arisan berondong sudah tersebar luas seantero jakarta. Semua direksi rumah menyayangkan kejadian itu. Dokter yang istrinya terlibat terlihat ketar ketir. Mereka takut posisi mereka dimatikan. Walaupun sebagian dari mereka menyadari itu resiko yang harus ditanggung.
"Mana Ilham, saya dengar istrinya juga ikut." tanya pak wibowo.
Mereka menggeleng. Sejak kejadian kemarin tidak ada yang tahu keberadaan Ilham. Tapi sebagian dari mereka yakin kalau Ilham dalang dari pengaduan itu.
"Ini pasti aduan Ilham! Padahal istrinya ada disana tapi sikapnya seperti pahlawan. Munafik!" Protes dokter Ridho.
"Tapi istrinya korban juga. Makanya dia berani ngadu." sambung dokter Toni.
"Alaaaah...istriku bilang kalau istrinya Ilham mojok di toilet sama berondongnya. Ketahuan sama Ilham, si berondong babak belur. Tahu sendiri Ilham punya temperamen tinggi." sahut dokter Arman.
Toni menatap teman-teman sejawatnya penuh arti. Dia juga kecewa sama Ilham karena sudah mengadukan masalah ini pada pihak rumah sakit. Teringat kemarin memohon-mohon pada Ilham agar tidak membuat runyam masalah ini. Walaupun Toni sudah menegur istrinya agar minta pada Ilham dan Siti.
Kakinya melangkah meninggalkan teman-temannya. Sejak masalah kemarin rumah tangganya menjadi berantakan. Toni memulangkan Lani ke rumah orangtuanya. Sementara si kembar dititipkan pada orangtua Toni.
Flashback On
"Aku tidak menyangka kamu seperti itu, Lani. Kamu tega mencorengkan nama suamimu dengan kelakuan kamu." Ucap Toni masih di cafe.
Lani yang mendengar ucapan suaminya hanya sibuk mengotak-atik hp nya. Tak ada penyesalan diwajahnya.
"Kamu dengar aku tidak!" suara nada tinggi dari lelaki itu cukup mengejutkan wanita itu. Namun, itu cuma sementara saja, Lani kembali sibuk dengan ponselnya tertawa sendiri,entah apa yang sedang ditertawakan.
"Jangan cari ribut disini, Toni Atmaja, malu dilihat orang. Kita bicarakan dirumah saja." Lani berdiri mengajak suaminya pulang.
"Malu? Kamu masih bilang malu setelah kejadian barusan! Kamu lupa setelah kejadian ini bukan aku saja yang malu! tapi kedua orangtua kamu!" Balas Toni.
Lani memandang suaminya dari atas sampai bawah. Dia yakin kalau orangtuanya tahu masalah ini akan lebih cepat beres seperti sebelumnya. Saat lani belum hamil si kembar dia kedapatan sedang jalan dengan Jano. Si saksi mata mengancam akan menyebarkan berita tersebut pada media. Tapi ternyata sang ayah cepat bertindak dan membungkam si peneror. Entah apa yang dilakukan papanya, dia hanya menerima yang sudah beres.
"Oh, ya. Kamu lupa kalau kamu anak sopir papa. Masih mending papa mengangkat derajat kamu, sekolahkan kamu hingga kamu menjadi sekarang. Jadi nggak usah sok tahu tentang orangtua aku." Lani menatap suaminya dengan tatapan menantang.
"Tapi kamu juga lupa kalau kamu bermasalah lagi, maka papamu akan mencoret dari warisan. Kalau aku nggak masalah kalau nggak dapat warisan. Aku bisa bawa pekerjaanku pulang ke padang dan anak-anak ikut aku." Ancam Toni.
Lani menghela nafas panjang. Wajahnya yang tadi sangat berani berubah pucat. Memang benar yang dikatakan suaminya, pernikahannya dengan Toni karena namanya terancam dihapus dalam hak waris. Lani tidak mau kalau kakak tirinya yang kecipratan harta papanya.
Mereka kembali memasuki mobil. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
"Maaf, Ton." Ucap Lani memecahkan keheningan.
Toni hanya diam saja. Ini bukan pertama kalinya Lani ketahuan selingkuhan. Tapi yang kedua kalinya. Dia paham kalau Lani saat itu belum bisa menerimanya. Mereka menikah tanpa saling mengenal terlebih dahulu. Beda dengan sekarang, 7 tahun membina rumah tangga dan sudah dikaruniai sepasang anak kembar yang berusia 5,5 tahun.
"Kok ke rumah papa?" Lani kaget mobilnya berhenti di depan halaman rumah orangtuanya.
__ADS_1
"Sementara kamu tinggal disini. Kita saling intropeksi diri dulu. Menenangkan diri, maaf kalau aku bukan suami yang baik untuk kamu. Aku akan membawa orangtuaku menemani zian dan zita." Toni turun dari Ayla nya. Tanpa memperdulikan istrinya, lelaki itu melajukan kakinya mengetuk pintu rumah mertuanya.
"Eh mas Toni dan mbak Lani, apa kabar, mas? lama nggak kesini." sapa bi Uli yang bekerja bertahun-tahun di kediaman Donal.
"Papa dan Mama ada, bi?" tanya Lani langsung duduk disofa ruang tengah.
"Sedang keluar, non. beberapa hari ini mereka sibuk untuk pernikahan den Rangga, non."
Iiih enak bener anak kesayangan papa. Udah numpang, pernikahannya diadakan mewah pula. Beda dengan waktu aku nikah sama Toni dulu.
"Eh, Toni apa kabar?" Sapa Rangga yang mengenal Toni sebagai teman Dodo.
"Baik, kak. Ciyeeee yang mau nikah.. cewek mana yang beruntung dapat lelaki sehebat kamu."
Rangga tersenyum mendengar pertanyaan adik iparnya. Sekarang dia mencoba menerima rencana orangtuanya, apalagi saat Ina mengatakan tidak akan mau berurusan dengan dirinya lagi. Padahal saat ini dia masih berusaha memperjuangkan gadis yang dulunya adik tirinya.
"Kapan nikahnya?" Tanya Toni
"Insyaallah besok kami menikah. Kalian datang, ya."
Flashback off
klik
Setelah Ilham pergi ke mesjid, Tiara pamit masuk ke kamar. Dia yakin papanya akan memberikan segudang pertanyaan mengenai memar diwajahnya.
"Sini kamu!" Tangan papa Adolf melambai kearah dirinya.
"Iya, pa. Ada apa?" Tiara mencoba bersikap tenang.
"Ma, tolong ambilkan kaca." Perintah Adolf yang dituruti istrinya.
"Coba kamu lihat wajahmu?" Adolf menampakkan wajah memar sang putri yang tergambar jelas di kaca.
Tiara enggan menatap kaca. Dia takut melihat memar itu. Masih terasa pedih akibat Ilham salah sasaran kemarin.
"Itu apa?"
"Terpeleset, pa. Aku nabrak pintu. Hanya memar sedikit bentar juga hilang." Tiara menyembunyikan wajahnya yang memar dari pantulan cermin.
"Sakit?" tuntut Adolf yang khawatir dengan keadaan putrinya. Tiara tahu kalau orangtuanya pasti mencemaskan keadaannya. Tiara menggeleng.
"Pa, aku ke kamar dulu. Ngantuk." Elaknya.
"Duduk!" Papa Adolf menatap tajam.
"Pa, ini bukan apa-apa. Cuma kejedot pintu, aku yang nggak hati-hati jalannya." Tiara menunjukkan memarnya.
__ADS_1
"Oh, ya. Papa akan panggil dokter untuk memvisum memar kamu. Kita buktikan apakah ini adalah memar kejedot pintu atau memar dari suami kamu."
"Pa, kok jadi ribet gini, sih." Tiara mulai tak terima sikap papanya.
"Kenapa? Kamu takut,ti? kamu takut kalau ternyata suami kamu suka pukul. Iya!" suara papa adolf meninggi.
"Paaaa... bukan seperti itu kejadiannya."
Mama Fatimah mendekati sang putri yang terlihat ketakutan dengan interogerasi suaminya. Tangannya menggenggam erat seakan menenangkan perasaan Tiara.
"Nak, coba ceritakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi? Kamu jangan takut, nak. Ada mama, ada papa, ada ibunya Aisyah."
Tiara menatap kearah papanya beralih ke sang mama hingga ke sang ibu.
Pada akhirnya Tiara menceritakan tentang kejadian arisan kemarin. Tiara meyakinkan keluarganya dan terlebih sang papa yang masih mencari celah keburukan suaminya, agar tidak menyalahkan suaminya.
"Apapun alasannya, tidak etis seorang suami melakukan ini pada istrinya."
"Tapi, pa, dia tidak sengaja. dia melakukan itu untuk membela aku, pa."
Ceklek
Terdengar suara pintu ruang depan terbuka. Tiara yakin suaminya sudah pulang. Dengan cepat dia berlari menghampiri Ilham.
"Mas."
"Sayang, aku mau bicara penting.Bisa?" suara Ilham seperti habis menangis.
Tiara dan Ilham masuk kekamar. Membahas masalah mereka yang semakin rumit. Masuknya papa Adolf dalam urusan rumah tangga mereka membuat Ilham tak punya ruang.
"Mas, kamu menangis?" Tiara mengusap wajah suaminya dengan lembut.
"Ti, sepertinya kamu lebih nyaman bercerita dengan mereka ketimbang padaku. Tidak papa itu hak kamu. Aku tidak bisa melarang. Dimata mereka dan dimata kamu memang aku selalu salah. Aku minta maaf kalau aku bukan suami yang baik buat kamu dan buat mereka."
"Mas, kamu ngomong apa sih? kamu itu suamiku. Tidak ada yang kusembunyikan darimu. Apa gara-gara aku bicara sama papa kamu malah mikir seperti itu? Aku cerita sama mereka supaya tidak ada yang buruk sangka sama kamu."
Ilham memegang wajah istrinya. Wajah yang selalu dia rindukan setiap saat, Wajah yang mampu mengobati obsesi cintanya pada Gita. Bulir air matanya menetes.
"Ti, sementara kita tidak saling bertemu dulu. Kamu disini bersama mama dan papa."
"Mas, Please jangan tinggalkan aku lagi. Aku nggak butuh yang lain, aku butuhnya kamu." Tiara memeluk llham, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Wangi parfum lavender yang selalu membuatnya betah.
"Untuk saat aku butuh menenangkan diri, ti. Aku tidak bisa memutuskan sesuatu dengan kepala panas. Tolong ngerti perasaanku." Ilham meyakinkan Tiara kalau dirinya pasti akan kembali.
"Silahkan pergi. kalau itu membuatmu senang. pergilah! cuma satu selangkah kamu pergi itu artinya kamu siap kehilangan aku dan anak kita. Aku pikir kamu lelaki yang bertanggung jawab.
Ternyata bukan."
__ADS_1
bersambung