Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
24. dua puluh empat


__ADS_3

"Kalau kamu mau membatalkan rencana pernikahanmu dengan Jo, ibu tidak masalah asalkan lelaki itu bukan Ilham. Apapun yang terjadi ibu tidak akan pernah setuju dengan Ilham!" Siti menelpon ibunya terkait masalah rencana pernikahannya dengan Jo.


"Ibu kenapa sebegitunya benci pada Ilham? salah Ilham apa, Bu? Aku tidak bisa meneruskan hubungan dengan Jo. Orangtua Jo tidak suka padaku Bu. Walaupun aku tahu kak Jo sayang padaku."


Siti terus menangis saat ibu tetap ngotot tidak merestui hubungan mereka. Dalam hatinya hanya ada satu orang. Siti menutup kepalanya kedalam lipatan tangannya. Meratapi yang terjadi akhir-akhir ini. Meratapi perjalanan cintanya yang sungguh rumit.


"Kamu lupa Siti, bagaimana kejadian-kejadian yang menimpa Gita terkait dengan Ilham. Kamu lupa, Siti! Ilham meninggalkan istrinya hanya demi menikahi Gita. Kamu lupa, Siti! Ilham yang membuat Gita trauma sampai di ungsikan ke Malaka. Dia meninggalkan istrinya yang sedang hamil demi menikahi Gita. Dia beberapa kali mencoba menjadi pebinor dalam rumah tangga Gita.


Itu yang kamu bilang laki-laki baik! Ibu tidak ingin kamu menderita,nak. kalaupun kamu tidak jadi dengan Jo, cari laki-laki lain! Ibu cuma ingin kamu bahagia,ti. Itu saja." Siti terduduk saat mendengar penjelasan ibunya tentang Ilham. Walaupun dia juga membenarkan semua ucapan Ibunya. Tubuhnya terasa lemas, seketika ambruk didalam toilet.


SELALU GITA! KENAPA MEREKA SEMUA LEBIH PEDULI GITA! APA KARENA GITA ANAK ORANG KAYA!


KENAPA SETIAP AKU DEKAT DENGAN LELAKI SELALU BERURUSAN DENGAN GITA!


Siti terus meratapi diri. Langkah kakinya terasa berat saat keluar dari toilet.


"Siti!" Sebuah suara yang pernah dia kenal. Siti menoleh ke arah suara.


"Lina." Panggil Siti menyebut nama temannya itu.


Lina adalah teman satu profesi Siti. Mereka berteman saat menjadi OB dulu.


Sedikit flashback dulu, Siti yang pernah bekerja di rumah sakit kasih bunda atas rekomendasi Ilham. Siti dan Ilham menjadi dekat saat Gita hilang di culik keisya.


"Kamu apa kabar,ti?" sapa Lina mengajak Siti duduk di salah satu kursi di depan ruang inap rumah sakit.


"Alhamdulillah baik, Lin. Kamu apa kabar? Neli pasti sudah besar." Siti ingat temannya bekerja untuk membiayai hidup berdua dengan anaknya. Lina adalah seorang janda karena suami meninggal kecelakaan.


"Neli udah TK, ti. Kamu main ke rumah dong." Lina menepuk paha Siti.


"Insyaallah, ya Lin. Aku duluan, ya." Siti meninggalkan temannya.


Siti berjalan kembali, dia tidak tahu tujuan berjalan.


"Kamu kemana saja,ti."


"Aku ke toilet."


Ilham menarik tangan Siti lalu keduanya berjalan masuk ke sebuah ruangan. Ada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk.


Netranya memancarkan kesedihan yang mendalam.


Siti berdiri di depan pintu kamar "Tante Mila." panggilnya pelan.


Wanita itu menoleh, rasa tidak percaya gadis yang dia rindukan ada didepan mata. Mama Mila memeluk Siti dengan erat. Keduanya melepaskan kerinduan yang mendalam. Tangan mama Mila membelai rambut Siti.


"Kamu kemana saja, nak. Mama kangen sama kamu, nak. Kenapa kamu pergi meninggalkan Ilham?"


"Tante... saya.."


"Kamu lupa, ti. Kamu janji sama mama tidak akan meninggalkan Ilham. Kenapa kamu pergi, oh ya selamat ya atas pernikahanmu dengan Jonathan. Semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan."


"Maafkan Siti, ya Tante."

__ADS_1


"Ti, walaupun kamu bukan sama Ilham lagi. saya masih ingin dengar kamu memanggil sebutan mama, bukan Tante. Mama sudah anggap kamu seperti anak mama sendiri."


Siti menunduk malu. wanita didepannya terlalu baik. Padahal berasal dari kalangan atas.


Mama Mila kamu sangat baik. baik sekali padaku. Padahal dulu aku sering dengar yang buruk tentangmu. Aku masih ingat saat mama Mila memaki Gita karena ada Raisa saat itu.


Pandanganku sangat negatif pada keluarga Ilham saat itu.


Tapi sekarang yang aku lihat adalah seorang ibu yang sangat sayang pada anaknya. maafkan Siti, Mama Mila.


Maafkan Siti yang dulu memandangmu sebelah mata.


Terimakasih sudah menganggap Siti seperti anak sendiri.


klik


Malam Di sebuah kamar kost


Jo terbangun dari tidurnya. Kepala sedikit berat karena seharian bekerja sebagai potografer wedding. Matanya menatap sebuah layar ponsel. Ada panggilan tak terjawab dari Sheila, adiknya.


Sebuah pesan tertulis di layar ponselnya. Jo membuka dengan pelan.


✉️ Sheila


Kak Nathan pulang dong. Sheila kesepian disini. Sampai kapan kakak akan seperti ini terus.


Kakak harus berusaha meyakinkan mama papa supaya menerima kak Siti. Bukan kabur kayak gini.


pesan kedua


Kak Jo dimana? aku diusir sama keluarga kak Jihan


✉️ Jihan


Kak Jo bisa kah kita bertemu?


Saat membaca pesan Siti Jo langsung mengambil motornya. Karena Jo yakin Siti membutuhkan dirinya saat ini.


Flashback on


Saat dinner keluarga yang rencananya membawa Siti. Jo sudah bersiap-siap, untuk menjemput pujaan hatinya di hotel Trans. Dengan gagahnya Jo menghidupkan motor gedenya.


Saat hendak menaikkan motor, tiba-tiba mamanya memanggilnya.


"Nak kita ganti lokasi. tidak jadi di hotel Trans."


Jo langsung turun dari motornya, menghampiri mama Linda. Perasaannya kesal karena mamanya langsung merubah tempat. Tanpa menunggu reaksi Jo papa menarik tubuhnya masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana? Jo bisa bawa motor. Nggak usah dikawal kayak gini. Jo udah gede ma, pa!" protes Jo.


"Sudah ikut saja!" gertak papa.


Mobil terhenti di sebuah gedung besar. Jo menatap gedung tersebut melihat keramaian disana. Beberapa orang menggunakan dress code black white.

__ADS_1


Ada Taufan adiknya Vika yang menyambut kedatangan mereka. Jo masih bingung dengan semua ini. Dengan pelan Jo melangkah masuk ke gedung tersebut. Matanya tertuju pada tulisan yang ada di depan.


...Hari pertunangan...


...Jonathan Abraham...


...&...


...Vika Yasmine...


Jo mundur perlahan meninggalkan tempat itu. Dia tidak peduli dengan semua ini. Karena ini bukan kemauannya.


"Nathan kamu mau kemana?" panggil Vika saat melihat lelaki itu keluar gedung.


"Pulang." jawab Jo dingin.


"Acaranya belum mulai kenapa pulang. Udah kamu disini saja. Ini acara kita." Vika menggelayut manja di lengan Jo.


Jo naik ke atas panggung sendirian. Dia harus menuntaskan semua ini. Agar Vika tidak salah paham lagi. Agar Vika tidak mendekatinya lagi.


Jo berdiri sambil memegang mic. Sesaat berdoa, lalu memulai bicara.


"Sebagai tuan rumah saya minta maaf. Saya tidak bisa bertunangan dengan saudari Vika.


Buat keluarga Vika saya minta maaf sedalam dalamnya.


Saya Jonathan Abraham Hermawan menolak pertunangan ini."


Jo langsung turun dari panggung. Hatinya lega setelah menyelesaikan semuanya.


"Jahat kamu, Than!"


"Vika, kamu kan tahu, kalau kita sudah lama putus."


"Nathan, tapi pikirkan perasaan keluargaku. Mereka berharap banget sama hubungan kita. Terutama ibuku. Ayolah, Jo. demi ibuku yang sedang sakit." Vika masih membujuk Jo. Tapi percuma Jo tetap pergi.


"Nathan! Jangan pergi! aku mohon!" Vika terus berlari mengejar Jo yang sudah pergi keluar.


Semenjak kejadian itu Jo bertengkar dengan orangtuanya.


"Jo kalau kamu tidak mau menuruti pilihan papa. Kamu keluar dari rumah ini! di coret dari pewaris utama."


Jo masuk kamar mengambil barang-barangnya.


"Oke, pa! Jo pergi! Jo juga tidak butuh warisan papa!"


Flashback off


Jo sampai di rumah sakit kasih bunda. Sesuai dengan alamat yang diberikan Siti.


Tapi saat berada di sebuah ruang kerja Ilham. Jo melihat sebuah pemandangan yang menyakitkan hatinya.


Apa yang Jo lihat!

__ADS_1


...#####...


Bersambung


__ADS_2