
Sebuah mobil berjalan menuju dermaga di Ancol. Sepasang anak manusia saling terdiam mengikuti suasana hati mereka. Langit mulai kemerahan, menandakan senja akan tiba. Mobil terus melaju kencang.
Pria itu menatap paha mulus Tiara, sedikit menghela nafas kasar. Yang dia tahu gadis disampingnya tak suka berpakaian mini.
Dia lantas mengambil kain yang ada di dekatnya. Lalu menutup paha mulus Tiara.
Tiara kaget saat lelaki itu menutup pahanya dengan kain panjang. Senyum mengembang di wajah pria itu.
"Aku tidak suka cara berpakaianmu yang sekarang. Siti yang aku kenal orangnya suka malu, dan itu yang aku suka dari dirinya. Kenapa cara pakaianmu seperti ini sekarang?"
Tiara hanya terdiam. Dia hanya menyesuaikan dengan kehidupannya yang sekarang. Saat ini dia menjadi Tiara, bukan siti lagi. Baginya Siti sudah mati.
"Ham."
"Hmmm.."
"Maaf, ya."
"Soal apa? Kalau soal kak jihan, sumpah aku sedikitpun tidak menyentuhnya. Kamu tahu hatiku hanya buat satu orang."
Tiara menghela nafas panjang "Aku tahu! Hanya ada Gita dihatimu. Kamu jelaskan panjang lebarpun aku sudah tahu jawabannya."
Tangan ilham menggenggam erat. Ilham menghentikan laju mobilnya. Menatap wajah cantik didepannya, tangannya memegang wajah mulus Tiara.
"Tatap mataku, siti. Apakah kau mencintaiku? Apakah kau mau berjuang kembali bersamaku?"
Siti atau Tiara melepas tangan ilham pelan--pelan. Terlintas di benaknya saat melihat photo gita dilaci ilham, terbayang diingatanya bagaimana mesranya ilham dan ina di rumah sakit, bagaimana jihan minta pertanggungjawaban ilham. Semua bukti itu berputar diingatannya.
"Tapi..."
Cup!
Bibir ilham mendarat dikening Tiara, lama mereka meresapi momen ini.
"Aku mencintaimu, siti. Aku mau menjadi imammu, meskipun aku masih jauh dari pria yang kamu idam-idamkan.
kamu masih ingat saat aku berjanji padamu, bahwa hubungan kita ini serius. Ingatkan kamu, hubungan kita sejak awal sudah dilandasi komitmen. Aku harap kamu tidak melupakan itu. Kita juga melewati ujian yaitu orang yang meragukan hubungan kita.
"Aku.. aku .. aku mau kamu menyelesaikan urusanmu dengan kak jihan. Kamu harus tanggung jawab, ham." Suara Siti terbata-bata, terdengar sangat berat.
"Ti, berulangkali aku bilang, aku tidak pernah menyentuh kak jihan. Apalagi sampai buat dia hamil. Kenapa sih kamu kayaknya susah percaya sama aku?" Ucap ilham dengan nada kesal.
Ilham memegang tangan Tiara. Mencoba meyakinkan gadis itu, mencoba membangkitkan semangat pada gadis yang dicintainya untuk masa depan hubungan mereka. Walaupun dia tahu, itu tidak mudah, pikiran siti yang selalu diselimuti rasa curiga, rasa minder, dan pesimis.
"Aku tidak mau perempuan manapun, ti. Aku maunya kamu. Iya kamu, Siti Marlina. Aku jatuh cinta sama kamu sejak keakraban kita di resepsi pernikahan Gita dan kak Ronal. Aku sudah lama memendam rasa, tapi aku lihat kamu semakin dekat dengan Kak Jo. Dan aku memberanikan diri membuka hatiku buat kamu, Siti. Aku ingin membangun komitmen sama kamu.
__ADS_1
Siti, maukah kamu dan aku memulai semuanya dari awal lagi. Berjuang bersama mendapatkan restu dari ibu. Menghempaskan semua yang menghalangi perjalanan cinta kita. Tidak ada lagi saling curiga diantara kita."
Ilham menatap lekat wajah itu, Wajah selalu ada dalam doanya, wajah yang selalu hadir dalam mimpinya, dan Wajah yang menjadi jawaban dalam istiqorohnya.
Tiara berusaha menahan rasa harunya atas ungkapan perasaan ilham. Air matanya jatuh membasahi wajahnya, lelaki itu menghapusnya dengan tangan kosong.
"Mau kah kamu.." Belum selesai ilham mengucapkan.
"Iya...Aku mau.." Ilham langsung memeluk tubuh Tiara.
Ilham mendekatkan bibirnya kearah Tiara. Bibir mereka menyatu. Kali ini Tiara membuka kesempatan lelaki untuk mengakses bibirnya lebih dalam.
Monolog Ilham
Kamu masih ingat awal hubungan kita yang dilandasi komitmen.
Dimana aku bukan hanya mengajakmu sekedar pacaran.
Tapi untuk hubungan yang lebih serius lagi. Walaupun aku tahu banyak rintangan dalam hubungan kita.
Membangun komitmen tidaklah mudah. Dimana kita saling menjaga hati satu sama lain. Walaupun jarak membentang diantara kita.
Begitu banyak yang kita hadapi saat ini. Kecemburanmu pada Gita, Tidak direstui oleh keluargamu, kehadiran Kak jo dan Kak Jihan, hingga sampai sekarang pun masih ada masalah diantara kita.
Tahukah kamu? Bagaimana rasanya menjalani hari hari tanpamu? Berat sangat berat.
Namun aku yakin kamu tetap menjaga hati yang sudah kutitipkan padamu.
ilham meresapi waktu kebersamaan dengan siti. Dia berjanji tidak akan meninggalkan siti lagi.
"Ham..."
"Apa sayang?" ilham menatap Tiara sambil membelai rambut gadis itu.
"Bagaimana dengan kehamilan kak jihan? Apa yang akan kita lakukan?"
"Ti, Kalau aku ngajak kamu kawin lari, kamu mau kan?"
Tiara mendorong tubuh ilham dengan kasar. Menurutnya ide ilham itu tidak seiringan dengan keinginannya.
"Kalau masih bisa baik-baik kenapa harus kawin lari?"
"Kan seandainya, ti."
"Itu tandanya kamu tidak mau berjuang, ham. Lari bukanlah solusi yang tepat. Kita bisa menemui mereka baik-baik, ham. Jangan gegabah!" ucap Tiara meninggalkan ilham yang masih diam.
Tiara kesal saat ilham mengajaknya kawin lari. Baginya tidak ada kamus menikah sambil kawin lari. Dia ingin menikah baik-baik. Di restui ibunya, itu yang paling utama.
__ADS_1
"Kalau kamu berpikir aku mau ikuti kemauanmu untuk kawin lari, lebih baik kita tidak usah bertemu lagi. Cuma pengecut yang mau mengambil langkah itu."
Ilham menunduk. Karena sejujurnya dia sudah hampir di titik menyerah. Tapi entah kenapa semangatnya kembali datang sejak pertemuannya dengan siti malam itu.
"Aku rindu Gita. Bagaimana keadaannya sekarang?"
Ilham menoleh kaget saat Tiara membahas soal Gita.
"Gita sudah bahagia, ti."
Tiara menoleh dengan tersenyum "Aku tahu kalau Gita bahagia. Apalagi bersama dengan lelaki yang dicintainya. Kita tidak lupa bagaimana perjalanan cinta mereka yang berliku-liku."
Siti, gita sudah bahagia di surga.
"Besok kamu ada acara nggak?" Tanya ilham saat Tiara masih menatap langit yang semakin gelap.
"Tidak. Kenapa?"
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat."
"Emang kamu nggak kerja?"
"Besok kan minggu, sayang." Ilham mencubit hidung Tiara.
"Oke."
"Tapi janji?"
Tiara mendengus kesal. "Apalagi!"
"Aku tidak mau lihat kamu berpakaian seperti ini lagi. Pakailah pakaian yang sopan. Jadilah sitiku yang dulu."
"Iyaaa! Bawel!"
"Dan mulai sekarang, kita kembali menjalin hubungan seperti awal lagi."
"Kamu ini, ya! Jangan mengambil keputusan yanb sepihak!" protes Tiara.
"Loh, bukannya kamu setuju tadi?"
"Emang aku ada bilang begitu? Aku kan bilang kalau kamu harus menyelesaikan urusanmu dengan kak Jihan."
Tiara menampakkan wajahnya sedikit manyun
"Jangan, ti."
Tiara melototkan matanya "Apa!
__ADS_1
"Jangan buat aku tidak kuat iman jika melihatmu"
Tiara mencubit perut sixpack ilham. Lalu berlari meninggalkan lelaki itu. "Dasar duda mesum"