
Dua bulan kemudian
"Bang!" Panggil Tiara pada abang sayur yang mangkir di depan rumah.
"Eh, neng Tiara. Mau beli apa, neng?" tanya si abang sayur.
"Aku mau beli kentang bang sama ikan. Ada?" tanya Tiara sambil melihat apa saja bahan yang dijual abang sayur.
"Eh, mbak Tiara. Belanja juga, ya?" Seorang ibu datang memilih sayur.
"Iya, bu." jawab Tiara sambil memilih bahan-bahan.
"Sudah mulai belum?" timpal ibu-ibu yang lain.
dahi Tiara mengkerut "Mulai apa, ya, bu?"
"Itu lo, hamil."
"Belum, bu. Baru juga 2 bulan. Nikmati masa berdua dulu."
"Oh, iya ya. Tapi jangan lama-lama dek. Umur kamu berapa?"
"29, bu."
"Nah, apalagi umur sudah lumayan matang. Bilang ke suamimu, cepat diprogram, kalo udah masuk kepala 3 makin susah dapat anak."
"Makasih, bu atas sarannya. Nanti aku bicarakan dengan suami saya." jawab Tiara sambil berlalu dari para ibu-ibu.
Sesekali dirinya menghela nafas panjang. Ada rasa pilu yang dirasakannya. Ini bukan pertanyaan pertama yang diberikan padanya. Mama Fatimah pun masih mengirimkan beberapa jamu kesuburan.
Tiara membawa bahan makanan yang sudah dibelinya tadi. Dia mulai sibuk menentukan apa yang harus dimasaknya hari ini.
Sebagai seorang istri Tiara hanya memberikan yang terbaik untuk suaminya. Walaupun terkadang dia merasa jenuh hanya dirumah saja.
Lama Tiara menatap suaminya yang masih terlelap. Semalam Ilham pulang dari rumah sakit sekitar jam 3 pagi. Tiara yakin suaminya pasti sangat kecapekan, apalagi ada 2 jadwal operasi.
Tiara ingat nanti sore tante Tari mengajaknya shopping. Ilham pun sudah mengizinkan. Sejak pulang dari Bali, tante Tari sering mengajaknya hangout.Tiara senang tante Tari sangat baik padanya.
Sementara mama Mila sibuk dengan laptopnya. Sesekali melirik menantunya yang masih asyik di dapur.
"Ti, Ilham belum bangun?" tanya mama Mila berjalan mendekati Tiara.
"Belum, ma. Biarin aja, tadi dia pulang hampir subuh." Jawab Tiara masih sibuk memotong wortel.
Mama menatap menantunya dengan bangga. Cara masak Tiara yang cekatan. Bahkan lebih rapi dari cara masak bibi yang dulu kerja pada keluarga mereka.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus cari pembantu. Biar ada bantu pekerjaan Siti. Kasihan dia kerja sendirian." ucap mama Mila dalam hati.
Mama Mila beranjak membantu pekerjaan menantunya. Tiara merasa tidak enak saat mertuanya ikut turun tangan.
"Ma, nggak usah. Biar aku aja yang masak. Mama duduk saja bentar lagi selesai kok."
Mama kembali sibuk dengan laptop di ruang tengah. Lalu beranjak dari tempatnya berpindah ke kamar. Mama menatap putra semata wayang yang berjalan setengah sadar. Seperti akan mendekati Tiara.
Mama tersenyum menatap mereka "Dasar pengantin baru" ucapnya dalam hati.
Tiara merasa ada yang berat di punggungnya. Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Senyum mengembang di bibir wanita bermata coklat tersebut. Tangannya mengelus sosok yang masih menempel di punggungnya.
"Berat, mas." keluhnya.
Tapi tetap saja lelaki itu tak mau melepas pelukan dari tubuh istrinya. Ilham menarik wajah Tiara menikmati sarapan bibir di pagi hari. Tiara ingin melepaskan tapi tetap ditahan sama Ilham. Pada akhirnya Tiara mematikan kompor lalu Ilham menggendongnya ke kamar.
"Mas! Mandi dulu,gih! bauuuu!"
"Mandi berdua, ya!"
"Aku sudah mandi, mas. Udah mandi sana!" Tiara mencoba mendorong tubuh suaminya.
Kedua tangan Ilham bersidekap seraya menyandarkan di pintu kamar. Ilham yang hanya menggunakan oblong dan celana pendek menyilangkan kakinya dalam keadaan berdiri.Tiara yang masih membelakangi Ilham terkejut saat suaminya masih berusaha menahan tubuhnya.
"Maaaaaasss!" Pekik Tiara saat Ilham kembali mencuri start untuk menciumnya.
"Dasar mesum!" omel Tiara. Kakinya berdiri meninggalkan kamar. Sambil menatap kaca, membenarkan pakaiannya.
"Biar istriku nggak kena cipratan minyak." Ucapnya sambil memeluk istrinya.
"Ada ada aja kamu, mas." tawa Tiara saat melihat suaminya memasang payung.
"Sini biar aku yang masak." Ilham mendudukan istrinya di meja makan.
"Aauuuuuwww... aduuuuuh..." pekik Ilham saat muncrat minyak mengenai kulitnya. Tiara hanya tertawa melihat tingkah suaminya itu.
" Ti, ambilkan helm."
Tiara menatap heran. Untuk apa helm? Tapi tetap saja dia pergi ke garasi untuk mengambil helm. Dengan penuh percaya diri Ilham memakai helm tidak lupa sarung tangan motor.
Ilham masih berjarak saat masih menggoreng ikan. Sesekali melompat karena minyaknya muncrat. Tiara tertawa mendengar teriakan suaminya.
Kakinya melangkah ke garasi. Menatap sebuah motor gede yang mulai berdebu. Tiara mengambil kain basah untuk membersihkan motor. Setelah bersih dan kinclong, Tiara meninggalkan garasi.
"Mas, kok aku nggak pernah kamu pakai motor ini."
Ilham mendekati istrinya setelah menyelesaikan goreng ikan tawar. Menatap motor yang dulu dipakainya saat menjadi pengangguran akibat skandalnya dulu. Motor yang tadinya penuh dengan debu sekarang kinclong seperti baru. Dia yakin pasti istrinya yang membersihkan motor gede tersebut.
__ADS_1
Ilham mencoba menghidupkan motornya. Ternyata masih bisa menyala.
"Kita jalan, yuk!" ucapnya menatap istrinya.
"Aku siap-siap dulu ya, cantik." Ilham berlari sambil membelai wajah istrinya.
Tiara kembali ke dapur, matanya membulat penuh saat melihat hasil masakan suaminya. Kepalanya menggeleng, merasa tidak enak menghidangkan untuk keluarganya.
"Kenapa sayang?"
Ilham muncul memakai jaket kulit hitam. Penampilannya layaknya pembalap sejati. Tiara memandang suaminya dari atas sampai bawah. Belum pernah dia melihat penampilan suaminya seperti itu.
"Aku ganti baju dulu, mas."
Ilham menarik Tiara untuk tetap naik motor. Tapi tetap saja istrinya itu ingin menyesuaikan penampilan dengan suaminya.
"Aku nggak mungkin naik motor pake rok mas!"
Tak berapa lama Tiara mengenakan pakaian kemeja dengan celana jeans warna biru langit. Menenteng tas kecil layaknya anak ABG. Ilham mengkerut melihat penampilan istrinya. Dia takut dikira sedang berkencan dengan anak dibawah umur.
"Kita mau kemana, mas?"
"Ikut saja!"
"Emang kamu nggak ke rumah sakit hari ini?"
Ilham menggenggam kedua tangan istrinya. Menatap penuh cinta.
"Hari ini aku pengen punya waktu luang buat kamu. Semenjak kita pulang dari bulan madu, aku kembali ke rumah sakit dan semua kesibukanku yang menyita waktu. Maafkan aku sayang kalau dalam 2 bulan ini aku tidak punya waktu buat kamu."
Tiara menunduk. Dia membenarkan apa yang dikatakan suaminya. Sejak mereka pulang dari bulan madu, ilham kembali disibukkan dengan segudang aktivitas di rumah sakit. Menurut rumor yang beredar pasien covid mulai membludak. Terkadang suaminya pulang pagi. Dia memaklumi kesibukan suaminya yang berjuang menyelamatkan nyawa orang lain.
"Yuk!" Ilham ternyata sudah di luar menunggang motor gedenya.
Tiara menutup pintu garasi. Lalu pamit sama mama Mila yang masih ada dirumah.
"Mau kemana,ti?" tanya mama Mila yang melihat penampilan menantunya layaknya anak ABG.
"Mau pergi sama mas Ilham, ma." Tiara menyalami mertuanya lalu pamit.
"Hati-hati, ham, ti. Jangan ngebut, ham!" Mama melambaikan tangan saat kedua pasangan halal tersebut sudah berjalan jauh darinya.
"Indroooo! Keluarkan mobil saya mau ke kantor!"
Indro lari menemui majikannya yang masih menunggunya didepan pagar. Sambil menunggu mama membuka lemari penyimpan lauk. Matanya melotot melihat sesuatu hitam kering.
"Ini apa? masa masakan siti kayak gini, sih?" mama Mila cuma bisa menggeleng kepala.
__ADS_1
Ada yang mau ikan hasil gorengan ilham?