
Hai semuanya, maaf ya di bab sebelumnya ternyata ada pengulangan. Udah author perbaiki dan kalian bisa baca ulang bab 99 biar ceritanya nyambung. Maaf dan terima kasih.
Happy reading anda enjoy~~~
***
“Kalau begitu, gimana kalau Edwin pura-pura jadi pacar Kalala aja?” usul Shira, yang dengan mudahnya berpikir seperti itu.
Bukannya mendapat solusi yang baik, malah solusi itu semakin membuat jantung Kalala mau copot dari tempatnya.
“Loh! Kok jadi aku sih!” protes Edwin langsung duduk tegak menatap Shira seolah tidak suka.
“Ya, ‘kan cuma pura-pura jadi pacar doang! Dari pada sama Jackson, harus jadi calon istri,” jelas Shira dengan penuh percaya diri.
“Ya ampun, Shira! Bisa enggak sih, ngasih solusi itu yang agak bener dikit, masa aku harus pura-pura pacaran es balok ini sih! Yang ada orang enggak bakalan percaya!” seru Kalala.
Tanpa Kalala sadari, kini sudah ada dua mata yang tengah menatapnya tajam bak perisai yang ingin menusuknya.
“Kau bilang aku apa? Es balok?!” seru Edwin dengan tatapannya yang menantang.
Kalala menoleh kepada lelaki yang memang bisa dibilang dingin itu. “Ya emang bener! Mana ada orang yang sikapnya dingin bisa dapetin pacar!” jawab Kalala sambil mendelik.
“Aku orangnya!” jawab Edwin begitu percaya diri.
Kalala, Shira dan Akash langsung menatap heran ke arah Edwin. Setelahnya mereka langsung memandang satu sama lain, seolah mengatakan ‘seriously’ saat mendengar ucapan Edwin.
Keadaan tiba-tiba berubah menjadi hening. Shira berdehem dan kembali bersuara untuk mencairkan suasana.
“Jadi, diam-diam kamu udah punya pacar ya?” tanya Akash heran.
“Sudah, Tuan. Baru saja,” jawab Edwin dengan mimik wajahnya yang datar.
Kalala dan Shira langsung beradu pandang.
“Hah? jadi, maksud kamu, kamu mau jadi pacar bohongannya Kalala?” tanya Shira yang paham akan ucapan yang dikatakan Edwin padanya.
__ADS_1
Edwin terdiam, mata elangnya masih ia layangkan ke arah Kalala. “Hm,” jawabnya pelan dan malu.
“Hm, itu apa? Iya atau tidak?” tanya Shira untuk memastikan.
“Iya, Nona,” jawab Edwin sedikit jutek.
“Dih... ih, enggak ah! Lagian siapa juga yang mau pacara sama es balok kayak dia,” protes Kalala.
“Syukurlah kalau kau tidak mau,” ucap Edwin lurus.
“Eh, eh, eh, enggak jangan-jangan. Kalala mau kok, iya ‘kan Kalala?” tanya Shira sedikit memelototkan matanya, memberi kode kepada Kalala agar dia mau.
Kalala mencebik pasrah. “Iya deh, iya, dia jadi pacar aku, tapi bohongan ya,” ucap Kalala terpaksa, menatap sendu ke arah Shira.
“Nah, kalau udah begini, kan bagus. Tinggal kita susun aja rencana kedepannya,” ujar Shira dengan semangat.
***
Pagi ini, kampus tengah dihebohkan karena beredah berita kalau Luna dan Haris putus.
“Shir, kayaknya ada yang enggak beres deh sama gosip si Luna sama si Haris putus itu,” bisik Kalala menatap orang-orang yang dilewatinya dengan sinis, sambil sedikit menyipitkan matanya.
“Enggak tahu, tapi dari tatapan orang-orang ke kita, kok kayak aneh ya, aku ngerasa kayak di posisi aku sebelumnya, pas orang-orang gosipin aku bangkrut itu, tatapan mereka sama begitu, La,” jawab Shira.
Dan benar saja, tidak ada angin tidak ada hujan, tepat di depan kelas, tiba-tiba Nancy yang sudah berderai air mata dengan mata sembab dan hidung merah itu, tibat-tiba menampar pipi Shira dengan sebegitu keranya.
Plak!
Wajah Shira langsung terbanting ke kiri, ia langsung memegangi sebelah pipinya yang terasa sakit, dan sudah memerah itu sambil menoleh bingung ke arah Luna.
“Sialan! Beraninya lo nampar Shira!”
Kalala yang emosi melihat temannya diperlakukan seperti itu, ia langsung mendorong tubuh Luna tanpa segan, hingga Luna pun terjengkang kebelakang. Tidak langsung jatuh, karena tubuhnya itu ditahan oleh kedua sahabanya, Kea dan Sherly.
“Heh! Jangan ikut campur ya! Ini urusan gue sama Shira!” teriak Luna penuh amarah, dan kini tatapan itu beralih ke arah Shira yang masih bingung dengan apa yang terjadi pada teman sekelasnya itu.
__ADS_1
“Heh! Shira! Jelaskan ini apa hah?!” Luna melemparkan amplop merah dengan sticker berbentuk hati di ujung penutupnya itu ke tangan Shira.
Shira memegangnya kebingungan. “Apa ini?” tanya Shira tidak paham.
“Lo buka aja itu! Itu lo sendiri ‘kan yang ngirim sama Haris! Dan gara-gara itu gue yang udah bela-belain mertahanin hubungan gue sama Haris sampai rela ngorbain apapun untuk dia, ujung-ujungnya gue diputusin juga! Dan semua ini gara-gara lo, Shira!” serunya berucap dengan histeris.
Kini semua mata memandang ke arah Shira. Ia sudah menjadi pusat mata dari teman-teman sekelasnya.
Shira pun membuka amplop tersebut, mengeluarkan selembar surat yang ada di dalamnya dan betapa tekejutnya ia saat melihat tulisan di surat tersebut. Dan saat itu pula Shira langsung meremas surat tersebut, emosi di dalam dadanya kian memuncak, entah siapa yang sudah berani melakukan ini padanya, tapi saat ini yang ada di pikiran Shira adalah, pergi dan menemui Haris untuk menjelaskan semuanya.
“Kamu salah paham, Luna!” ucap Shira menatap tajam, lalu Shira pun pergi begitu saja meninggalkan mereka semua.
Kalala yang penasaran dan merasa tidak ada yang beres, ia pun ikut mengejar langkah Shira.
“Shira! Tunggu, Shir!” teriak Kalala berusaha mempercepat langkah kakinya, mengejar Shira yang jalannya sudah seperti orang lari marathon saja, saking cepatnya.
.
.
.
Bersambung...
Duh si Haris bikin ulah apa sih?
__ADS_1