Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Menyelamatkan Kalala


__ADS_3

“Tidak, jangan mendekat!” teriak Kalala bergetar ketakutan.


Lelaki itu menyeringai, mengusap dagunya sambil menatap Kalala dari atas hingga bawah.


“Kamu, sexy banget ya, Beby.”


Dan saat lelaki itu berkata menggodanya dengan tatapan penuh nafsu, saat itu pula Kalala langsung melarikan diri, berlari sekencang mungkin meninggalkan lelaki jahat itu.


“Tolooooong....” Kalala masih terus berlari sambil berusaha meminta tolong. Akan tetapi, naas, karena dirinyan yang tidak tenang dan tidak fokus, kakinya tersandung sebuah batu yang membuat ia langsung terjembab di atas aspal, tepat di bawah pohon kelapa yang ada di pinggir jalan.


“Kau mau ke mana gadis cantik?” ucap Lelaki jahat itu yang sedari tadi mengejar Kalala.


Lelaki itu mendekat pelan. Kalala mendongak, menatap takut wajah lelaki itu. Ia berusaha bangkit, akan tetapi rasa sakit di kakinya, sulit membuatnya untuk bisa berdiri.


“Tidak, Bang, jangan sakiti aku, lebih baik kau ambil saja semua barangku, jangan mendekat,” ucap Kalala yang sudah berderai air mata saking takutnya.


Lelaki itu tidak menghiraukan perkataan Kalala, ia terus mendekat sambil menyeringai, lalu ia pun melipat kembali pisau kecil yang ada di tangannya.


“Malam ini, kau milikku, cantik,” ucap Abang ojek tersebut.


“Tidak! Jangan nodai aku.” Kalala semakin mengencangkan tangisannya. “Toloooong....” Ia sebisa mungkin berteriak, meski suaranya kini sudah terdengar sedikit serak.


Abang ojek yang seperti preman itu, mencolek dagu Kalala, mengangkatnya dengan satu telunjuknya. Lalu berjongkok dengan satu lutut yang ditekuk tepat di depan Kalala.


“Kau memang cantik, Beby,” ucapnya langsung menjepit dagu kalala dengan sebelah tangannya.


Kalala memejamkan tangannya, dengan kedua tangan yang meremas tas di dadanya. Dan saat lelaki itu hendak mendaratkan ciumannya di bibir Kalala, Kalala lebih dahulu mengadukan jidatnya dengan hidung lelaki itu begitu kencang dan keras.


“Aw! Sialan! Beraninya kau!” Lelaki itu semakin menggeram penuh emosi, dia langsung menarik kemeja Kalala, dan merobeknya dengan kencang.


Brett!


Hingga kini, sebagian dada Kalala tampak terlihat, apalagi BH hitam yang digunakannya kini sudah tampak di kedua mata si lelaki jahat itu.


Kalala semakin memberontak, tas miliknya sudah dilempar jauh oleh lelaki jahat tersebut. Teriakan Kalala seolah tidak ada yang mendengar, karena jujur saja, jalanan ini sangat-sangat sepi dan jauh dari perumahan warga. Hanya ada kebun dan pohon-pohon kelapa di sekelilingnya.


“Tidak! Jangan!” Kalala masih terus berusaha, ia memberontak, akan tetapi berontakkannya itu sia-sia, ia kalah tenaga oleh lelaki jahat itu.


Karena Kalala yang tidak mau diam dan terus memberontak, Kalala pun ditampar keras oleh lelaki itu.


Plak!


Wajah Kalala langsung terbanting ke kiri. Ia semakin meringis menahan sakit di pipinya, pandangannya sudah semakin kabur. Dan Kalala pun di seret ke sisi kebun oleh lelaki itu. Kalala sudah lemah tidak berdaya, ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena saat ini seluruh tubunya terasa lumpuh.


Ia hanya bisa menangis meratapi semuanya. Hati kecilnya benar-benar tengah menjerit, berharap Tuhan akan menolongnya.

__ADS_1


Lelaki itu berdiri segera membuka sabuk celananya, ia tertawa tidak sabar, untuk segera menikmati gadis cantik yang tengah terbaring lemah di bawahnya.


“Ahaha, tenang saja, Cantik, malam ini aku akan memuaskanmu di sini, hahaha,” ucapnya, melempar sabuk itu ke sembarang arah.


Kalala memejamkan matanya, dengan tangisnya yang semakin memecah. “Tuhan ... tolong aku,” lirihnya dengan suaranya yang terdengar lemah.


Lelaki itu kini sudah mengungkung tubuh Kalala, menatap Kalala dengan penuh nafssuu.


Dan saat lelaki itu hendak mencium bibir Kalala, tiba-tiba ....


Bugh!


Sebuah pukulan keras dari botol melayang di kepala lelaki itu. Bahkan botolnya pun sampai pecah, membuat kepala lelaki itu langsung berdarah.


Tukang ojek itu langsung memegangi kepalanya yang terasa sakit luar biasa.


“Sialan!” geramnya saat melihat darah di tangannya, ia langsung berbalik menatap sesosok lelaki yang sudah berdiri memegang botol pecah di tangannya.


“Brengsek! Siapa kau hah? Beraninya kau melukaiku! Hiarghhh!” Tukang ojek itu berteriak penuh emosi, dengan tatapan tajamnya yang seolah penuh api.


Dan tanpa aba-aba, satu kepalan besar dari tangan tukang ojek itu melayang ke arah wajah lelaki tampan yang sudah melukainya itu.


Wosh ....


“Sialan!” Tukang ojek itu, kesal sendiri karena ternyata lelaki yang akan dilawannya itu pandai menghindar. Ia kembali bangkit dan masih berusaha untuk memuku wajah lelaki asing yang ada di depannya itu.


Namun, bukannya mengenai sasaran pukulannya itu malah di tahan oleh tangan lelaki tampan itu. Keduanya saling bertatapan, dengan tangan yang masih beradu kekuatan.


Sorot mata keduanya sama-sama menajam, dengan keringat di dahi mereka yang perlahan bermunculan.


Dan lelaki tampan yang memukul tukang ojek dengan botol minuman itu tidak lain adalah Edwin, sekretaris pribadi Akash.


Dan dalam hitungan detik, tangan Edwin sudah bergerak cepat memegang pergelangan tangan tukang ojek itu, lalu dengan santainya ia memutar pergelangan tangan tukang ojek itu hingga 90 derajat, membuat si tukang ojek itu berteriak kesakitan sambil mengumpatinya dengan kata-kata kasar.


Tidak ingin kalah begitu saja dari Edwin, tukang ojek itu mencoba memukul kaki Edwin menggunakan kakinya. Ia hendak menendang kaki Edwin, akan tetapi Edwin yang jago bela diri, tentu ia sudah ahli dalam menghindarinya. Dan lagi-lagi usaha tukang ojek itu gagal.


Dan crack! Terdengar suara retakan tulang patah, yang tak lain berasal dari pergelangan tangan tukang ojek itu. Dan saat  itu pulan tukang ojek itu langsung berteriak sekencang mungkin, sudah menyerah dan akhirnya ia kesakitan sendiri karena kini tangannya sudah berbalik menjadi 180 derajat dari posisi awalnya.


“Arghh... tanganku!” teriaknya merasakan sakit yang sangat luar biasa.


Tanpa menghiraukan sakitnya si tukang ojek penjahat itu, Edwin bergegas menghampiri wanita yang saat ini tengah duduk sambil memeluk kedua lututnya di dekat semak-semak.


Dan betapa terkejutnya Edwin saat melihat wanita itu tidak lain adalah Kalala, wanita galak temannya Shira.


“Kau?” pekik Edwin.

__ADS_1


Edwin langsung mendekat dan memegang kedua pundak Kalala, namun Kalala langsung memundurkan tubuhnya ia kembali mengencangkan tangisnya, menjerit agar tidak ada orang yang menyentuhnya.


“Tidak! Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!” teriaknya histeris ketakutan.


“Hey, Nona galak, tenanglah, ini aku Edwin.”


“Tidak! Jangan mendekat!” teriaknya tidak menghiraukan suara Edwin.


Edwin tahu betul, wanita itu kini tengah di rundung oleh katakutan yang sangat luar biasa. Edwin tidak tega melihat Kalala yang sudah berpenampilan acak-acakkan itu, apalagi saat melihat baju dia yang sudah di robek hingga dadanya terlihat jelas.


Edwin pun langsung melepas jaket boombernya, lalu menutupannya di bagian dada Kalala. Kalala mengusap kedua matannya, ia sedikit lebih tenang karena ternyata lelaki yang ada di depannya itu hanya ingin membantunya.


Edwin sebenarnya bingung harus memanggil nama gadis yang ada di depannya itu dengan sebutan apa, karena sejujurnya ia juga lupa tidak pernah bekenalan dengan gadis galak ini.


“Kalala,” gumamnya saat melihat name tag yang terpasang di kemeja Kalala.


“Kalala, tenanglah, aku Edwin temannya Shira, kau ingat bukan denganku?” tanya Edwin masih berusaha membujuk Kalala agar wanita itu merespon dirinya.


“Edwin temanya Shira?” tanya Kalala tiba-tiba dengan suaranya yang sudah lemah dan mata yang sudah sembab tidak bisa melihat jelas wajah lelaki yang didepannya.


“Iya, kau ingat aku bukan? Sekarang, ayo aku akan mengantarkanmu pulang,” ucap Edwin begitu khawatir.


“Apa? Pulang?” tanyanya lemah, dan tiba-tiba, bruk ....


Kalala jatuh pingsan dan kembali terkapar begitu saja di atas semak-semak.


Sementara lelaki jahat tadi, lelaki itu sudah pergi mencari pertolongan meski hanya dengan jalan kaki,karena tangannya sudah tidak bisa digunakan untuk membawa motor.


“Hey, Kalala sadarlah,” ucap Edwin menepuk pipi Kalala mencoba membangunkannya, namun tetap tidak ada respon.


Dan pada akhirnya, Edwin pun membawa Kalala ke dalam pangkuannya, lalu memasukkannya ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


“Baiklah, aku akan membawamu pulang, Kalala,” ucap Edwin langsung menancap gas mobilnya melaju dalam kecepatan tinggi di atas rata-rata.


 


 


Bersambung...


Waduh kira-kira gimana nih kelanjutannya? Kalala mau dibawa kemana ya?


 


 

__ADS_1


__ADS_2