Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Menangisi Kepergian Anaknya


__ADS_3

Setelah kejadian mengenaskan itu, kini Baker hanya bisa terbaring di atas brankar rumah sakit. Meratapi segala dosa dan perbuatannya. Hingga ia berpikir, dosa seperti apa yang sudah ia lakukan di masa lalunya hingga di hari tuanya ini, keluarganya ada dalam kehancuran, terlebih menganai anak bungsunya.


“Jackson,” lirih Baker, yang sejak tiga hari lalu masih menangisi kepergian anaknya itu.


Pikiran Baker benar-benar sangat kalut. Sejak saat itu pun ia tidak mau makan atau pun minum. Hanya cairan infus saja yang masuk ke dalam tubuhnya, yang masih membuat tubuhnya bertahan hidup.


Dunianya terasa sangat hancur, cucu yang diharapkannya selama ini pun, harus terbaring di dalam inkubator, karena menantuya itu harus lahiran bukan di rentan waktu yang seharusnya. Atau mungkin orang bisa menyebutnya, prematur.


Dan sesekali ia ingat akan perbuatan istrinya yang benar-benar diluar nalar. Perbuatan yang tidak akan pernah ia maafkan walaupun hingga dirinya mati. Karena bagi Baker, Akash dan Jackson adalah harta kesayangannya.


Jika bisa jujur, di lubuk hati terdalam Baker, jika dibandingkan antara Akash dan Jackson, mungkin kasih sayangnya sedikit lebih tumpah kepada anak bungsunya itu. Entah kenapa, tapi sejak dulu Baker selalu merasa kalau Jackson tidak seberuntung anak sulungnya. Dan karena perasaan itu lah, ia selalu sedikit memanjakan Jackson dibanding Akash. Meski ia menyayangi keduanya.


Dokter pun masuk ke dalam ruang rawat VVIP yang cukup luas tersebut. Dokter itu kembali memeriksa detak jantung Baker, dan beberapa hal lainnya, juga menanyai beberapa pertanyaan soal rasa sakit di perut Baker setelah operasi dan penjahitan tiga hari yang lalu.


“Dokter ... kapan saya bisa keluar dari rumah sakit ini? Saya ingin menyusul anak saya, Dokter,” lirih Baker meneteskan air matanya, teringat akan Jackson.


Dokter menghela nafas, merasa ikut sedih mendengar pertanyaan pasiennya itu. “Yang sabar ya, Pak. Sebentar lagi Bapak pasti bisa pulang. Tapi ingat, kalau Bapak ingin pulang, Bapak harus sehat dulu.”


Baker menggelengkan kepalanya pelan. “Dokter ... apa sebenarnya salah saya? Kenapa nasib keluarga saya jadi seperti ini? Dan anak saya ... kenapa ... kenapa semua ini harus terjadi kepada anak saya, Dokter?” lirihnya dengan suaranya yang lemah dan mulai sesenggukkan menangis.


Dokter melirik ke arah suster yang ada di sampingnya, memberi kode untuk menyuntikkan cairan penenang ke dalam tubuh Baker.


“Dokter ... saya harus bagaimana, Dokter? Saya tidak ingin berpisah dengan anak saya, saya ingin Jackson kembali ke sini, Dokter!” tanyanya lagi dengan tangis dan emosional yang tidak terkendali.


“Tenanglah, Pak. Bapak yang sabar ya, anak Bapak pasti akan sembuh,” ucap Dokter itu menenangkannya.


Baker semakin emosional, akibat tekanan batin dan pikirannya yang akhir-akhir ini sering depresi, Baker sering kali menangis dan marah-marah tidak jelas kepada siapa pun yang ada di sekelilingnya. Dan saat ini pun, pria tua ini kembali menarik-narik jas sang Dokter.


Namun, setelah beberapa saat sang suster menyuntikkan cairan penenang ke dalam tubuh Baker dengan dosis yang cukup tinggi, hanya dalam hitungan tiga menit, Baker langsung terdiam dan mulai berhenti dari ocehannya soal Jackson. Dan 10 menit dari itu, Baker pun kembali tertidur tidak sadarkan diri.


Tessa yang sejak tadi memperhatikan Baker di luar jendela, ia hanya bisa menangis, sesekali menyeka air matanya, melihat mantan suaminya yang begitu menyedihkan.


“Dokter, bagaimana keadaan suami saya? Apakah keadaannya lebih baik?” tanya Tessa saat dokter keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Tessa juga terpaksa mengaku sebagai istrinya Baker, karena segala keperluan rumah sakit serta surat izin apapun harus ia yang menanganinya. Bahkan ia juga tidak segan mengaku sebagai orang tua Jackson, saat Jackson harus dibawa pergi ke rumah sakit di Singapura.


“Keadaan Pak Baker hingga saat ini belum ada perubahan yang signifikan, masih sama seperti sebelumnya. Kita doakan saja, semoga beliau bisa cepat pulih.”


Tessa kembali menyeka air matanya, merasakan sesak dan sakit di hatinya. “Baik, Dokter, terima kasih.”


***


Sementara itu, Akash kini tengah berada di salah satu rumah sakit di Singapura. Saat malam kejadian waktu itu, Jackson dirujuk untuk pergi melakukan operasi tulang belakang di Singapura. Dan terpaksa harus meninggalkan Indonesia. Dan di saat yang bersamaan pula, Akash terpaksa harus meninggalkan Shira, padahal waktu itu Shira tengah di operasi, berjuang menyelamatkan anaknya.


Memang itu bukanlah pilihan yang mudah bagi Akash untuk meninggalkan istrinya dan tidak mendampinginya. Tapi, ia juga tidak bisa membiarkan Jackson harus ditemani oleh orang lain. Karena saat itu juga Edwin tengah melakukan operasi pengangkatan peluru. Dan semua orang ada dalam situasi darurat kecuali  Kalala dan dirinya.


Dan saat itu, Kalala lah yang menjaga Shira saat lahiran dan Akash pergi ke Singapura menemani Jackson.


Dan saat ini, keadaan Jackson masih kritis, pria itu masih terbaring di atas brankar, dengan berbagai selang dan alat yang menempel di tubuhnya. Bahkan di ruangan ICU itu hanya ada suara alat peremam jantung yang terdengar.


“Kalala, bisa tolong berikan handphonemu kepada Shira,” ucap Akash, saat ia tengah melakukan video call.


Di rumah sakit, Kalala langsung pergi menuju ruang rawat Shira, lalu memberikan ponselnya kepada sahabatnya itu.


“Sayang ... kau baik-baik saja ‘kan? Bagaimana keadaanmu sekarang apa jauh lebih baik?” tanya Akash begitu khawatir.


Shira mengangguk tersenyum. “Iya, Sayang keadaanku sekarang sudah jauh lebih baik, kata Dokter lusa aku sudah bisa pulang.”


Akash terlihat bernafas lega. “Syukurlah kalau begitu. Besok aku aka segera pulang, hanya saja ada yang perlu aku bicarakan dengan Kalala.”


“Bicara soal apa?”


“Aku membutuhkan bantuannya. Sementara waktu aku ingin pulang untuk melihat kondisimu, kondisi anak kita dan ayah. Jadi aku akan meminta Kalala agar dia bisa menjaga Jackson di sini untuk beberapa hari.”


Shira melirik ke arah Kalala yang duduk di atas sofa tengah fokus menonton TV.


“Hm, baiklah, kalau begitu kamu bicaralah dengannya.”

__ADS_1


Shira pun memanggil Kalala, lalu memberikan kembali ponsel tersebut kepada Kalala. Dan mereka pun berbicara soal pergantian mereka dalam menjaga Jackson.


Kalala sebenarnya agak sedikit bingung, ia takut kalau dirinya tidak bisa mengurus Jackson sebaik Akash. Dan ia pun tidak terlalu mahir dalam bahasa Inggris. Akan tetapi Akash terus membujuknya dan meyakinkan Kalala kalau wanita itu pasti bisa melakukannya.


“Saya mohon, Kalala. Kali ini saja, bantulah saya.”


Kalala semakin tidak tega saat Tuannya itu memohon dengan sebegitunya padanya.


“Baiklah, kalau begitu saya siap melakukannya. Tapi, saya juga membutuhkan bantuan, jika nanti saya menelepon Tuan, tolong angkat telepon dari saya.”


“Baik, Kalala saya akan melakukannya. Kalau begitu malam ini saya akan mengurus kepergianmu,” ucap Akash, Kalala pun mengangguk mengiyakan.


Setelah itu, Kalala kembali mendekati Shira, ia memandang sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Terlalu banyak beban di pikirannya saat ini.


“Kalala, maafkan aku ya, Kal. Karena aku, kamu jadi menanggung banyak beban.”


Kalala memeluk Shira, mendekapnya dengan begitu lembut. “Sudah, tidak apa-apa, Shira. Susah senang aku pasti akan ada bersamamu, karena bagiku kamu bukan sekedar sahabatku, tapi kamu adalah saudariku, Shira.” Kalala menangkup kedua pipi Shira.


Shira mengangguk terharu mendengarnya. “Kau memang keluarga terbaikku, Kalala.”


Lalu tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terlihat seorang lelaki tengah berdiri di ambang pintu sana, membuatnya langsung menoleh ke arahnya.


.


.


.


Bersambung...


jangan lupa ramaikan komentarnya gaes... like dan votenya juga jangan ketinggalan ya

__ADS_1


__ADS_2