
“Jadi, sesuai perhitungan HPHT-nya Nyonya Shira, kandungannya sekarang sudah terhitung masuk ke 8 minggu,” ucap Dokter Obgyn yang tengah memerhatikan layak monitor, tengah meng-USG perut Shira.
“8 minggu itu berarti sekitar 2 bulan ya, Dok?” tanya Akash untuk memastikan.
“Benar, kantung dan bakal janinnya pun sudah terlihat, nanti bulan depan bisa dikontorol kembali,” ucap Dokter itu mengakhiri USG-nya.
Shira pun terbangun dari brankar. Lalu dudu menjuntaikan kedua kakinya ke tangga khusus yang ada di dekat brankar. Akash pun membantu terlebih dahulu istrinya itu untuk turun dari brankar.
“Ini, saya berikan resep untuk penguat kandungan sekaligus vitaminnya. Di minum rutin setiap hari ya. Dan pastikan, jangan sampai kelelahan, karena semester awal kehamilan itu masih rentan akan keguguran, jadi sebaiknya harus lebih hati-hati dalam aktivitas maupun menjaga makanan ya. Terus, pastikan juga, pikirannya harus bebas, bahagia, jangan sampai stress.”
“Baik, Bu Dokter, terima kasih,” ucap Akash tersenyum begitu senang.
_
Kini, Shira dan Akash sudah ada di dalam mobil, bersama Edwin yang sudah siap siaga untuk menyetir di depan.
Mereka bertiga masih menantikan seseorang, yang tak lain ialah Kalala. Asisten pribadi Shira yang sangat gesit dan bisa diandalkan. Wanita itu pergi untuk mengambil obat milik Shira, dan tidak berapa lama, akhirnya Kalala pun datang, membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam, dan menunjukkan obat yang ada di tangannya.
“Aku akan menjelaskan obatnya di rumah ya,” ucap Kalala.
Edwin pun langsung menancap pedal gas mobilnya. Melajukannya menuju kediaman rumah Akash.
Sesampainya di rumah, Tessa sudah menantikan kabar gembira dari anak dan menantunya itu.
“Gimana? Apa kandungannya baik-baik saja?” tanya Tessa kepada Akash yang baru datang menginjakkan kaki di pintu depan.
“Iya, Bu, kandungan Shira baik-baik saja, sekarang usia kandungannya sudah memasuki 8 week.”
“Oh, syukurlah, terima kasih Tuha,” ucap Tessa penuh syukur.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang TV, dan duduk bersama di atas sofa melingkari meja bulat yang ada di tengah-tengah.
“Tapi, kata dokter, Shira enggak boleh kecapekan, terus makannya juga harus dijaga tidak boleh sembarangan ... sama, jangan banyak pikiran.”
__ADS_1
“Oh iya iya, kalau begitu, selama Shira hamil, Ibu boleh tinggal di sini bareng kalian ‘kan? Ibu khawatir kalau Ibu enggak ikut jagain Shira, nanti menantu sama calon cucu ibu ini takut kenapa-napa lagi.”
Semua orang yang ada di sana, ikut tersenyum mendengar ucapan Tessa yang tampak sekali sayang dan khawatirnya pada Shira.
“Ibu ini, giliran ke Shira sama calon cucu perhatiannya sampai segitunya, kalau sama aku enggak tuh,” ucap Akash seolah merajuk.
“Ya kamu mah udah gede, bisa bela diri juga, jadi ibu enggak terlalu cemas. Kalau Shira ‘kan beda lagi,” jawab Tessa sambil mengusap pelan tangan Shira yang ada di pangkuan pahanya.
“Iya deh iya, gimana Ibu aja. Aku juga senang kok, kalau Ibu mau tinggal di sini sama kita. Mau selamanya juga boleh,” jawab Akash dengan serius, sambil tersenyum ke arah Tessa.
***
Malam pun tiba, setelah selesai makan malam bersama, Akash menyuruh Kalala untuk membelikan Shira rujak mangga. Karena istrinya itu tengah mengidam yang pedas-pedas.
“Rujak mangga?” tanya Kalala saat ini tengah berada di ruang TV.
“Iya, pelase ya Kalala, nanti kamu dianter sama tuan Edwin,” ucap Shira menyengir, memohon.
“Emh, baiklah, enggak diantar dia juga enggak apa-apa kok,” jawab Kalala tersenyum, lalu melirik sinis ke arah Edwin.
“Edwin!” Akash menatapnya tajam memberi kode.
“Baiklah, akan tetap saya antarkan sesuai perintah Anda, Tuan,” jawabnya terpaksa.
“Oh ya, Kalala Ibu juga mau minta tolong,” ucap Tessa yang tengah menginginkan sesuatu.
“Minta tolong apa, Bu?” tanya Kalala dengan ramah.
“Emh, minta tolong belikan Ibu sushi ya, yang ada di restoran Japanes, dekat kantor Bank itu.”
Kalala mengingat terlebih dahulu tempatnya, dan saat ia tahu ia pun mengangguk.
“Baik, siap, Bu. Apa ada yang ingin dipesan lagi selain rujak mangga dan sushi?” tanya Kalala.
__ADS_1
“Tidak ada, cukup segitu saja, jika kau dan Edwin menginginkan makanan yang lain, silakan beli saja pakai uang itu,” ucap Akash. Kalala pun kembali mengangguk siap. Lalu mereka berdua pun bergegas pergi keluar dari rumah.
“Duduk di depan! Jangan di belakang!” seru Edwin, saat Kalala hendak membuka pintu mobil belakang.
“Ish!” Kalala mencebikkan bibirnya.
Bukannya apa-apa, hanya saja Kalala enggan untuk duduk dekat Edwin, apalagi kalau hanya berdua seperti sekarang ini.
“Memangnya aku ini sopirmu apa!”
“Memang!” jawab Kalala pelan.
“Kau bilang apa?!” Edwin mengerungkan dahinya.
Kalala berdecak. “Mamang! ... Udah, ayo Mamang tampan kita jalan, nanti keburu malem lagi,” ucapnya ketus langsung membuka pintu mobil depan kemudian masuk, lalu duduk.
“Mamang tampan?” Edwin bergumam dalam hati sambil menahan senyum di bibirnya. Jangan sampai terlihat oleh Kalala yang baru saja memujinya.
“Dasar, Nona Cheetah, bisa saja dia menggodaku,” batinnya, melipatkan bibirnya ke dalam masih menahan senyumannya.
“Tuan Edwin! Kenapa masih diam di luar!” teriak Kalala dari dalam, membuat lamunan Edwin membuyar, lalu buru-buru ia pun masuk ke dalam mobil.
“Gak sabaran banget sih!” gerutu Edwin, dengan hati yang tengah berbunga-bunga.
Meski mulutnya masih bisa berkata ketus dan wajah bisa terlihat datar, tapi soal hati, Edwin tidak bisa berpura-pura, ia benar-benar suka dipanggil dengan sebutan Mamang Tampan oleh Kalala barusan.
“Eh, eh, eh, sadar Edwin, sadar!” batinnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Lanjut lagi enggak nih?