
Kini mereka pun sampai di rumah Akash. Sejak turun dair mobil, Edwin kembali menggenggam tangan Kalala, seolah tidak ingin jauh-jauh apalagi sampai melepaskannya. Bahkan sampai masuk ke dalam rumah sekali pun, mereka masih saling bergenggaman tangan.
Namun, langkah keduanya langsung terhenti saat mereka melihat kehadiran seseorang yang tengah duduk di ruang tamu sendirian, sambil menggengam satu buket bunga di tangannya.
“Kau!” Edwin merengutkan wajahnya, menatap tidak suka kepada lelaki yang ada di hadapannya.
“Tuan Jackson, kamu sedang apa di sini?” tanya Kalala gugup.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Kalala, Jackson terlebih dahulu melirik ke arah tangan mereka yang tengah bergandengan.
Miris, sedikit menyesakkan dada melihatnya.
Jackson mencoba biasa saja, ia melemparkan senyumannya ke arah Kalala. “Merayakan kelulusanmu. Selamat ya,” ucapnya semakin menarik senyumannya dari pipi ke pipi.
Lalu Jackson menyerahkan buket bunga tulip warna-warni itu kepada Kalala. Kalala hendak menerimanya, akan tetapi, tangan Edwin lebih dulu meraihnya.
“Terima kasih, Tuan atas perhatiannya, tapi sepertinya buket bunga ini lebih cocok saya simpan di kamar saya, lagi pula kekasih saya tidak menyukai bunga tulip,” ucap Edwin masih berusaha sopan.
Jackson tersenyum sinis mendengar ucapan Edwin. “Benarkah?” tanya Jackson memastikan, sambil tersenyum mengulum lidah.
Edwin menoleh kepada Kalala. Kalala menatap binar mata kekasihnya itu dengan ragu, lalu ia pun mengangguk pelan sambil mengiyakan, meski sebenarnya ia berbohong.
“Haha, dasar gadis polos, apa harus kamu berbohong seperti itu demi menyenangkan kekasihmu itu,” gumam Jackson dalam hati.
Karena sebenarnya, Jackson sangat tahu, Kalala menyukai bunga tulip dibanding dengan bunga mawar. Karena dulu, Kalala pernah mengatakan kepada Jackson, kalau di antara banyaknya bunga ia paling menyukai bunga tulip yang berwarna-warni.
Dan di kesempatan ini, Jackson bermaksud untuk memberikan bunga kesukaan Kalala, tidak ada maksud lebih, meski sedikitnya ia juga ingin mencari perhatian Kalala.
“Baiklah, tidak apa-apa jika Kalala tidak menyukainya. Kau boleh membuangnya,” ucap Jackson dingin.
“Kamu dengar ‘kan, Sayang? Dia bilang kalau kamu tidak menyukai bunga ini, kamu bisa membuangnya,” ucap Edwin menatap Kalala.
Kalala sebenarnya sangat menginginkan bunga tulip itu, ia benar-benar sangat suka, bahkan baru kali ini ada orang yang memberinya bunga tulip warna-warni untuknya. Tapi, demi menghargai perasaan Edwin, tidak mungkin ia meminta kekasihnya itu untuk menyimpan bunga pemberian dari Jackson tersebut. Tapi, jika harus di buang itu terlalu menyayangkan.
“Edwin, bukankah tidak baik jika ada yang memberi sesuatu tapi langsung di buang?”
“Kenapa? Kau menginginkan ini?” tanya Edwin mulai posesif.
“Tidak, bukan begitu, tapi lebih baik bunganya di simpan di ....” Kalala tampak mencari sesuatu sebagai bahan alasan agar bunga tersebut tidak dibuang.
“Di .... di vas bunga aja, di sana,” tunjuknya ke arah ruang TV.
__ADS_1
“Kan di sana bisa sebagai hiasan ruangan, dari pada dibuang begitu saja,” ucap Kalala menampilkan tatap matanya yang seolah memohon.
Edwin sadar, kalau Kalala sepertinya menyukai bunga tersebut. Ia tahu, di saat seperti ini ia harus sebisa mungkin menurunkan egonya. “Baiklah, aku akan menyimpannya di ruang TV.”
Kalala tersenyum sumringah, ia begitu senang karena Edwin dapat mengerti akan keinginannya.
“Oh ya Tuan Jackson, terima kasih untuk hadiah bunganya. Tapi sebenarnya, kamu tidak perlu repot-repot membawakan aku buket bunga yang bagus seperti itu,” ucap Kalala kepada Jackson. “Itu terlalu mahal buat aku,” lanjutnya tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit mengingat obrolan kita waktu lalu. Dan aku hanya bisa membawakan bunga itu sebagai rasa ikut berbahagia atas kelulusan dan wisudamu,” ucap Jackson, tersenyum tipis.
Kedua netra Edwin, masih menilik fokus wajah Jackson, jangan sampai lelaki itu terlalu berlebihan menebarkan senyumannya pada gadis yang ada di sampingnya.
Namun, pikiran Edwin kini terfokus akan ucapan Jackson. “Obrolan waktu itu?” gumam Edwin dalam hati. “Obrolan apa yang mereka bahas?”
“Ya ampun, kenapa Jackson masih ingat soal bunga tulip waktu itu sih!” gumam Kalala dalam hati. Mengingat selintas moment saat dirinya curhat dengan Jackson di malam pertama pertemuan mereka waktu itu di hotel.
Ditengah ketegangan suasana antara mereka, Shira dan Akash pun akhirnya datang menuruni anak tangga dan menghampiri mereka semua.
“Loh, Jackson, kamu ada di sini? Sejak kapan?” tanya Akash dengan heran.
Jackson menoleh. “Sejak tadi,” jawabnya asal.
Akash berdecak pelan. “Ya aku tahu kalau kau sejak tadi ada di sini! Tumben banget, ada apa memangnya?” tanya Akash.
“Cie ... jadi bunga tulip itu kamu yang berikan ya?” tanya Shira pada Jackson, yang tanpa sadar kata ‘cie’ yang diucapkannya, sudah menyinggung perasaan Edwin.
“Hm tentu,” jawab Jackson dengan penuh percaya diri.
“Wah, Kalala, akhirnya impian kamu ada—”
Sebelum Shira melanjutkan ucapannya, Kalala terlebih dahulu memberikan kode, kepada sahabatnya itu dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya berulang kali.
Shira yang paham akan kode kedipan dari Kalala, ia pun langsung memutar otak untuk mengganti kalimat yang akan diucapkannya. “K-kamu ada kekasih, eh kamu punya kekasih di hari wisudamu akhirnya terwujud, ya,” ucap Shira sambil menyengir kaku.
"Hehe, iya, Shir." Kedua gadis itu saling melemparkan tawa kaku mereka. Sambil bisa bernafas lega karena Shira tidak sampai bablas mengungkapkan impian sesungguhnya.
“Benarkah, itu impian kamu, punya pasangan di hari wisudamu?” tanya Edwin, tersenyum mesem menatap Kalala.
Kalala tertawa kaku, dan dengan terpaksa ia pun mengangguk mengiyakannya. “Haha, i-iya dong. Makanya, aku bahagia banget, impianku bisa terwujud,” jawabnya sedikit gugup.
Edwin tersenyum sumringah mendengarnya, sepertinya, pengakuan Kalala barusan sudah cukup menjadi penegasan kepada Jackson, bahwa Kalala adalah miliknya.
__ADS_1
Jackson menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, tersenyum sinis sambil membuang wajah. Ia melipat kedua tangannya di dada. “Haha, dasar, sudah jelas impiannya itu diberi bunga tulip warna-warni di hari wisudanya, masih saja berkilah. Pandai sekali dia akting di depanku hanya untuk menyenangkan si sekretaris posesif ini,” batin Jackson, tidak habis pikir.
Keadaan dalam beberapa detik hening, sebelum akhirnya, Jackson teringat akan pesan dari ibunya, yang menyuruh untuk mengajak Akash dan Shira agar hadir di acara dinner, malam ini.
“Oh ya, ibu dan ayah meminta kalian untuk hadir malam ini di acara dinner keluarga. Tante Tessa juga boleh ikut,” ucap Jackson memberi tahu.
Akash menautkan kedua alisnya, merasa sedikit heran. “Dinner? Memang ada acara apa?” tanya Akash penasaran.
“Tidak ada acara apa-apa, hanya saja, Ayah bilang itu sebagai rasa tanda bahagia karena istrimu sudah hamil, sekaligus untuk merayakan hari wisuda istrimu,” jawab Jackson.
Akash tidak terlalu yakin. “Apa yang tengah mereka rencakan?” gumam Akash dalam hati, sedikit merasa curiga, apakah ini benar undangan dinner dari ayahnya atau bukan.
“Oh ya Jackson, apa aku boleh mengajak Kalala?” tanya Shira begitu antusias.
Shira yang polos, ia tampak bahagia saat mendengar kalau ayah mertuanya akan mengadakan acara makan malam untuk merayakan hari wisudanya.
Jackson menyeringai. “Tentu saja, tapi hanya Kalala saja yang bisa ikut, jika yang lainnya ingin ikut, mungkin hanya bisa menunggu di luar, tidak bisa masuk ke ruang dinner,” jawab Jackson, sedikit melirik ke arah Edwin.
“Yeay!” Shira terlihat sangat bahagia.
“Kalala, kau bisa ikut menemaniku dinner,” ucap Shira.
“Tuan Edwin, tidak apa-apa ‘kan, kalau aku ajak Kalala untuk dinner bersama?” tanya Shira, memohon.
Kalala mendongak menatap Edwin, seolah memberi pertanyaan boleh atau tidaknya, tanpa bersuara.
Edwin sebenarnya ingin melarang Kalala. Tapi ia sadar betul, kalau Shira pasti akan sedih jika sahabatnya itu tidak ikut dengannya. Akhirnya dengan berat hati, Edwin pun memperbolehkannya.
“Ya, tapi aku juga akan ikut, meski aku hanya menunggu di luar,” jawab Edwin.
.
.
.
Bersambung...
Hai readers tersayang, maaf ya baru bisa upload lagi. Kemarin Dela lagi pindahan rumah dulu, makanya sibuk banget sampe gak bisa nulis. Alhamdulillah sekarang udah selesai, insyaAllah akan rutin upload lagi, berhubung sebentar lagi ceritanya tamat.
Do'akan semoga sebelum akhir bulan Dela udah bisa tamatin novel ini ya.
__ADS_1
*Happy reading gengs... :**