
Shira terkekeh kembali mendengar celoteh temannya itu. “Ya ampun, Kalala. Tenang aja kok, kalau kamu naik pesawat itu enggak bakalan sampai salah naik, emangnya naik kereta, salah gerbong atau salah turun statiun!” ucap Shira semakin mengeraskan tawanya.
“Bareng Jackson saja.” Suara seseorang di belakang, langsung membuat keduanya menoleh.
“Jackson juga lusa akan ke Surabaya di suruh sama ayah,” ucap Akash yang kini sudah mendudukan tubuhnya di samping Shira.
“Jackson?” tanya Shira menautkan kedua alisnya.
Akash kembali mengangguk. “Hm, lagi pula, kau dengan adikku itu sudah lama kenal bukan? Kalau kau mau, biar aku menghubunginya sekarang, dia paling sigap kalau di suruh untuk memesan tiket pesawat,” ucap Akash pada Kalala.
Kalala masih terdiam, tidak langsung membalas ucapan Tuannya tersebut.
“Ti-tidak perlu, Tuan, saya tidak ingin merepotkannya,” ucap Kalala begitu segan.
“Sudah tidak apa-apa, dia pasti senang jika tahu kamu akan pergi ke tujuan yang sama,” ucap Akash penuh maksud, seolah mengisyaratkan sesuatu.
Karena bagaimana pun, Akash termasuk orang yang paling peduli terhadap orang-orang di sekitarnya, termasuk pada Jackosn—adik tirinya. Meski mereka tidak kerap akur, akan tetapi, Akash masih menganggapnya sebagai adik sungguhannya, meski ia tahu, kehadiran Jackson merupakan salah satu bibit penyebab retak dan hancurnya rumah tangga ibu serta ayahnya dulu.
***
Esok harinya, Edwin datang pagi-pagi sekali untuk menjemput Akash. Ia melenggangkan kakinya memasuki area rumah luas nan mewah milik tuannya tersebut.
Di atas sofa sana, terlihat Kalala yang tengah sibuk memainkan laptop di pangkuannya. Tampak tengah fokus dan terlihat begitu sangat serius.
Senyuman tipis di bibir Edwin tampak menyungging ke atas. Sebuah paper bag yang ada di tangannya semakin ia kepal erat begitu bersemangat, lalu ia pun menghampiri Kalala.
“Ini,” ucap Edwin tiba-tiba menaruh paper bag kecil itu di atas meja.
Kalala yang melihat kehadiran Edwin di depannya, ia pun mengalihkan fokusnya sejenak dari pada laptopnya.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Kalala mendongak bingung.
“Sarapan,” jawabnya simple.
“Untuk?”
“Kau lah! Me-memang untuk siapa lagi,” jawab Edwin sedikit ragu.
Kalala langsung mengerutkan dahinya. “Aku?” tanyanya menunjuk diri sendiri.
Edwin kembali mengangguk dengan wajahnya yang tampak begitu datar tidak berekspresi.
Kalala tersenyum menggoda, penuh maksud, memberikan tatapan genit pada lelaki dingin yang ada di depannya. “Cie... tumben banget ngasih sarapan sama aku. Mau coba deketin aku ya....?” tanya Kalala dengan sengaja, sambil menjentikkan kedua alisnya secara bersamaan.
“Ih, apaan! Jangan geer ya, lagi pula itu makanan sisa!” sangkal Edwin, karena gengsi.
Buru-buru Kalala membuka paper bag itu. Dan saat ia melihatnya, ternyata itu adalah satu box mentai rice yang masih terasa begitu hangat, bahkan kotak boxnya saja masih tersegel dengan sempurna, sendok bahkan garpunya pun masih di bungkus pelastik.
Edwin kebingungan, ia ingin menyangkalnya, tapi memang itu kenyataannya, bahwa dirinya memang sengaja membelikan mentai rice untuk Kalala, hanya saja ia terlalu malu untuk mengakuinya.
“Terserah! Yang pasti, aku hanya memberikan nasi sisa untukmu!” seru Edwin kemudian segera berlalu naik ke lantai dua untuk menemui tuannya.
Sementara Kalala, gadis itu tampak begitu senang pagi-pagi seperti ini sudah mendapat kiriman makanan kesukaannya. Dan wanita ini pun segera melahapnya dengan semangat, tidak lupa lemon tea hangat yang ada di paper bag itu ikut ia keluarkan untuk diminumnya.
Kini sebuah senyuman lebar nan tampak manis pun terlukis di wajah Edwin. Lelaki itu tampaknya begitu senang, melihat Kalala melahap dengan semangat makanan yang diberikannya.
“Dasar, Cheetah rakus,” gumamnya senyum-senyum sendiri.
“Kau kenapa?” tanya Akash mengejutkan Edwin.
__ADS_1
Edwin langsung menoleh dan memutar tubuhnya menghadap Akash.
“T-tidak apa-apa, Tuan,” jawabnya dengan wajah kaku yang sedikit memerah karena merasa malu ketahuan oleh Akash.
Akash sejenak menoleh ke bawah, melihat Kalala yang tengah asyik menikmati makanannya.
“Oh, seperti itu,” ucap Akash berjalan menuruni anak tangga, sambil senyum sekilas, paham akan apa yang tengah dirasakan oleh sekretarisnya.
Langkah kaki Akash dan Edwin terhenti di anak tangga paling bawah. Lelaki pemilik rumah mewah ini, menoleh sejenak ke arah Kalala.
“Hey, kau,” panggil Akash, membuat Kalala yang tengah asyik mengunyah makanan di mulutnya langsung menyekanya, dan menyimpan box mentai rice itu di atas meja, lalu berdiri mengarah ke arah Akash dan Edwin.
“Jackson sudah mengatur jadwal keberangkatanmu, besok kau akan berangkat bersamanya. Nanti, Shira akan mengirimkan nomor ponsel Jackson padamu. Kalau kau sudah menerimanya, cepat hubungi dia,” ucap Akash begitu jelas.
Kalala mengangguk, sambil menelan dengan kuat makanan yang ada di mulutnya. “Ba-baik, Tuan. Terima kasih,” ucap Kalala.
Edwin yang berdiri satu langkah di belakang Akash, lelaki itu tampak sedikit kebingungan, ia ingin tahu hal apa yang tengah direncakanan oleh Kalala dan Jackson sehingga mereka akan pergi bersama.
“Mereka mau pergi bersama? Pergi ke mana?” gumam Edwin dalam hati, merasa kepo.
.
.
.
Bersambung...
Waduh gimana nih, Tuan Edwin mau ditinggal? Hahaha ngikut jangan ya?
__ADS_1
Udah hari senin jangan lupa bantu votenya ya mentemen, terima kasih.