
Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya Luna mengetahui siapa Jackson sebenarnya. Ia juga penasaran dengan keluarga Atkinson yang sejak tadi dibahas oleh Bu Elis dan Pak Haru.
Ajang harga diri kali ini, Luna kembali dibuat malu, dan akibat dari fitnahnya pada Shira, akhirnya Luna pun di DO selama tiga hari oleh pihak kampus.
Setelah keluar dari ruangan itu, Luna dimarahi oleh Ibunya secara habis-habisan di depan umum. Membuat Luna harus menanggung malu berkali-kali lipat di hadapan teman-teman dan mahasiswa lainnya.
"Wah, ternyata gosip itu tidak benar ya."
"Iya ternyata, si Luna itu manipulatif ya."
"Enggak nyangka, dia bisa kejam sama si Shira, sampai fitnah gitu."
Begitu lah, bisik-bisik dari para mahasiswa, yang suaranya terdengar oleh kedua telinga Luna.
“Sialan si Shira! Awas saja dia ... aku enggak akan tianggal diam, aku bakalan malu-maluin dia lebih dari ini!” gumam Luna dalam hati, saat ia duduk di mobil, melipat kedua tangan dengan wajah yang beringsut menahan amarah.
Sementara itu, di ruang konseling, Shira dan Jackson akhirnya duduk di kursi khusus yang disediakan oleh Bu Ella.
Wanita setengah baya itu, selalu memperiotaskan orang-orang yang berduit tebal seperti Jackson. Karena Jackson termasuk orang yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan di kampus ini.
“Tuan Jackson, terima kasih sudah menyelamatkanku dari perkara ini,” ucap Shira sedikit malu.
Jackson mengangguk. “Tidak apa-apa, aku membantumu karena kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluargaku juga,” jawabnya, sedikit menyunggingkan bibirnya.
Shira mengangguk sopan. “T-tapi, kenapa Anda bisa ada di sini di waktu yang tepat? Apa ini sebuah kebetulan?” tanya Shira.
“Hm, mungkin ini lucky untukmu,” jawabnya simple.
Shira menganggapnya, ini adalah sebuah keberuntungan atas kebaikan Tuhan padanya.
Sedangkan di sisi lain, Jackson tentu sudah mempertimbangkan semua hal ini. Dia tersenyum menyeringai, meyiratkan sebuah arti yang begitu dalam.
“Akhirnya perangkap pertama sudah berjalan dengan lancar,” gumam Jackson dalam hati, memandang Shira dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
“Aku sangat berterima kasih sekali padamu. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih. A-aku pamit ke kelasku dulu ya,” ucap Shira sedikit gugup, tapi tetap mengembangkan senyuman manisnya.
“Hm, silakan, semoga harimu berjalan lancar dan menyenangkan,” ucap Jackson dengan ramah.
Shira mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Jackson di ruangan tersebut sendirian. Nammun, saat Shira hampir melangkah ke luar ruangan, Jackson kembali memanggilnya. Membuat kepala Shira langsung berputar, menoleh ke belakang.
“Shira! Jangan bilang kepada Akash kalau kamu bertemu denganku di sini ya."
Shira sejenak terdiam tidak mengerti. "Memangnya kenapa?"
"Dia tidak akan menyukainya,” jawab Jackson sedikit menaikan volume suaranya.
“Oh... baiklah, aku tidak akan mengatakannya pada Akash.” Setelah itu, Shira pun bergegas pergi ke kelasnya.
***
Bel pulang sudah berbunyi. Setelah selesai melakukan penelitian keuangan sebagai tugas dari dosennya. Shira mencari-cari keberadaan Kalala.
Gadis itu masih enggan untuk berbicara dengan Shira. Entah apa yang membuat Kalala bersikap dingin pada Shira seharian ini. Akan tetapi, Shira tidak bisa bertahan dalam kecanggungan seperti ini.
“Tuh, masih ada di dalam,” jawab mahasiswi itu lalu pergi begitu saja.
Shira menengok ke arah kaca jendela. Dapat dilihat di jajaran bangku yang sudah kosong itu, hanya tertinggal satu orang di sana, yaitu Kalala.
Kalala tampak sedang murung. Ia menenggelamkan wajahnya di atas lengannya yang bersidekap di atas meja.
Shira pun masuk ke dalam kelas itu menghampiri Kalala. Kalala masih tak bergeming, gadis itu terdengar tengah terisak. Membuat Shira merasa iba melihatnya.
Perlahan Shira mendudukan tubuhnya di samping Kalala, lalu membelai lembut sebelah bahu Kalala.
“Kala ... kamu kenapa?” tanya Shira lirih.
Tiba-tiba, Kalala terbangun dan langsung memeluk Shira dengan erat, seketika itu pula tangisnya pecah. Gadis itu menangis tersedu-sedu, air matanya tumpah membasahi baju Shira.
__ADS_1
Shira juga ikut menangis, menumpahkan air matanya. Meski ia tidak tahu akar permasalahan yang tengah melanda sahabat kesayangannya itu, tetapi dia dapat merasakan bagaimana dalamnya rasa sedih yang tengah dialami Kalala.
“Kala ... kamu yang kuat ya, kamu pasti bisa,” lirih Shira, mengusap punggung Kalala.
“Shira ....” Kalala masih terisak. “Aku sudah tidak kuat, Shira. Aku tidak bi-bi-bisa ....” Tangisnya semakin tersedu-sedu. Bahkan, bicara pun sampai harus terputus-putus.
Kalala melepaskan pelukannya. Matanya sudah sembab, hidungnya memerah di tambah dengan liur bening yang keluar dari lubang penciumannya. Wanita ini benar-benar tengah terpuruk.
“Shi-Shira, a-aku harus bagaima-na? Keadaan mamaku semakin memburuk, ma-maku harus segera di operasi, ka-kalau tidak ....” Kalala kembali mengeraskan tangisnya, dadanya semakin terasa sesak.
“Kalala, kamu yang sarar ya, Kala. Aku pasti akan membantumu, tenanglah ....”
“Bagaimana aku bisa tenang, Shira. Sedangkan nyawa ibuku kini yang jadi taruhannya,” balasnya.
Shira terdiam, ia tidak berkata-kata, selain hanya bisa memeluk erat tubuh sahabatnya itu untuk menenangkannya.
***
Shira baru sampai di rumah, wanita itu tampak begitu lesu. Ia masih kepikiran masalah mengenai mamanya Kalala. Ia bingung harus dengan cara apa ia membantunya. Sudah jelas, untuk masalah materi, ia tidak bisa membantunya begitu banyak.
Shira menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk di ruang tamu. Dengan pikirannya yang masih berkeliaraan mencari jalan untuk memecahkan masalah sahabatnya.
“Andaikan keuanganku masih seperti dulu, kamupasti tidak perlu menangis tersedu seperti tadi, Kalala,” gumamnya dalam hati.
“Ya Tuhan ... aku harus bagaimana?” Ia mengusap wajahnya kasar sambil menunduk.
Dalam penglihatannya yang gelap, tiba-tiba, sepintas ide terbesit di benaknya. Ia terbangun dari duduknya, lalu bergumam, “apa aku harus meminta bantuan kepada Akash ya?”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Kalau minta bantuan sama Akash? Akash mau gak ya?