
Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 malam, Edwin dan Kalala baru saja turun dari taksi tepat di depan halaman rumah bibinya.
Dan begitu Kalala masuk ke dalam rumah, kedua matanya langsung membeliak sempurna saat melihat kehadiran Jackson yang tengah bercanda bersama Ardian di tengah rumah. Begitu pun dengan Edwin, lelaki itu tidak kalah terkejutnya saat melihat kehadiran Jackson di sana.
Sementara Jackson, lelaki itu langsung mengerungkan dahinya, kedua alisnya saling bertautan dengan tatap mata yang merasa begitu kebingungan. Bingung dan heran, kenapa sekretaris Edwin ada di sini.
“Sekretaris Edwin,” ucap Jackson langsung berdiri dari duduknya.
“Apa kau mengenalnya?” tanya Ardian, mendongak ke arah Jackson yang berdiri di sampingnya.
Jackson menoleh, lalu mengangguk mengiyakan.
“Eh, Kalala dan Nak Edwin, udah pulang ya, ayo kalau gitu kita makan malamnya rame-rame aja ya, kebetulan masakannya udah siap semua,” ucap Nissa dengan semangat.
“Hah? Makan malam?” gumam Kalala, ia benar-benar lupa, kalau tadi siang mamanya sempat mengajak Jackson untuk makan malam bersamanya.
“T-tapi, Bibi a-aku dan Edwin tadi udah makan di luar,” jawab Kalala sedikit pelan, karena merasa tidak enak dengan Jackson.
“Itu ‘kan tadi, sekarang beda lagi, udah ayo, semuanya ke ruang makan, kita makan dulu,” ajak Nissa kekeh.
Ardian pun bangkit dari duduknya. “Ayo, Kal, bawa juga nih dua buayamu,” ucap Ardian sompral sambil terkekeh, membuat Jackson dan Edwin merasa tersindir olehnya.
“Emh, maaf ya, a-ayo kita ke ruang makan dulu,” ajak Kalala gugup, buru-buru berlari mengikuti Ardian ke ruang makan. Sementara Jackson dan Edwin, mereka berdua saling memandang sinis satu sama lain, sebelum mereka melangkahkan kakinya mengikuti Kalala.
“Kalala, nasi dan lauk untuk Nak Edwin dan Nak Jackson, tolong kamu ambilkan ya, Bibi mau ngambil jeruk dulu di kulkas,” ucap Nissa berlalu pergi mendekati kulkas yang ada di sudut dapur.
Kalala pun menyendokkan nasi dan lauk untuk Jackson terlebih dahulu.
“Jackson, kamu mau lauk apa?” tanya Kalala.
“Terserah kamu saja, aku suka semuanya kok,” jawabnya.
Kalala mendengus, lalu mengambilkan satu rendang beserta kuahnya, lalu menambahkan sambal dan bawang goreng di atas nasinya. Kemudian menyodorkannya kepada Jackson.
“Edwin, kamu mau lauk apa?” tanya Kalala, giliran ia mengambilkan nasi dan lauk untuk Edwin.
“Aku ingin pepes ikan saja,” jawabnya.
“Mau tambah sambal?” tanya Kalala.
“Emh, tidak perlu, aku tidak terlalu menyukai sambal,” jawabnya, karena jujur saja, Edwin memang tidak menyukai pedas, saat makan bakso dengan Kalala waktu itu saja, Edwin memilih bakso yang bening dari pada bakso yang pedas.
“Oh, iya aku lupa kalau kau tidak menyukai pedas.”
“Kalala tahu kalau Edwin tidak menyukai pedas? Apa mereka memang sedekat itu? Lalu tadi, dari mana mereka hingga bisa pulang berduaan?” gumam Jackson dalam hati.
Makan malam pun berlangsung sebagaimana mestinya. Cukup hening dan hanya ada beberapa kali obrolan yang terdengar di antara mereka semua.
“Astaga! Bibi lupa!” pekik Nissa di tengah-tengah aktivitas makannya.
Semua mata kini memandang ke arah wanita berusia 35 tahun itu. Nissa pun pamit untuk mengambilkan timun potong yang sejak tadi ada di dekat westafel. Lalu kembali lagi dan menyajikan timun potong itu di tengah-tengah meja.
Jackson yang memang suka sekali dengan mentimun, ia pun memintanya kepada Kalala.
“Kalala, boleh ambilkan mentimun untukku?” pinta Jackson menyodorkan piringnya ke dekat Kalala.
“Oh, boleh,” ia pun mengambilkannya tiga potong di atas piring Jackson.
Edwin yang melihatnya, ia merasa sedikit tidak senang. Ia pun mengikutinya. “Kalala, aku juga mau,” ucap Edwin sambil melirik sinis ke arah Jackson.
__ADS_1
Jackson merasakan hawa-hawa pertarungan dari tatapan mata Edwin itu. Buru-buru Jackson melahap ketiga potong mentimun bulat itu, dan setelah habis, ia pun memintanya lagi kepada Kalala.
“Kalala, timunnya boleh nambah?”
“Hah? Oh boleh-boleh,” ucap Kalala, kembali mengambil piring milik Jackson, lalu menaruh beberapa potong mentimun di atasnya.
“Apa segini cukup?”
“Hm, cukup. Aku memang suka sekali dengan mentimun,” ucap Jackson.
Edwin kembali meliriknya sinis. “Hih! Dasar menyebalkan, kenapa harus mengatakan makanan kesukaannya di depan Kalala? Apa dia sedang mencari perhatian?” batin Edwin tidak suka.
“Kalala, aku juga mau timunnya lagi,” ucap Edwin sambil tersenyum menyodorkan piringnya.
“T-tapi, di piringmu 'kan masih ada,” ucap Kalala melihat di piring Edwin masih ada dua potong timun.
“Benar, itu masih ada, kenapa kau tidak menghabiskannya dulu,” timpal Jackson.
Edwin yang merasa kesal dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh mulut Jackson, ia pun langsung mengambil kedua potong mentimun itu dan melahapnya sekaligus.
“In(g)i su(dwh)ah habies)” ucapnya tidak terlalu jelas, karena mulutnya kini tengah penuh oleh mentimun, bahkan kedua pipinya tampak menggembung.
Kalala menatapnya dengan tatapan aneh. “B-baiklah.” Lalu ia pun kembali menaruh tiga potong mentimun di atas piring Edwin.
Lagi dan lagi, giliran Jackson yang kini melahap semua mentimun yang sudah diberikan oleh Kalala barusan.
“Kalala, aku mi(ng)ta tam(bwa)h,” ucapnya, sama tidak jelasnya seperti Edwin tadi.
“Aku juga, aku mi(ng)ta tam(bwa)h,” pinta Edwin.
Kedua lelaki itu layaknya anak ayam yang meminta makan pada induknya. Begitu rebutan dan minta didahulukan.
“Aku dulu!” jawab Edwin.
“Tapi aku yang memintanya duluan!”
“Tapi piringku yang lebih dekat dengannya!” seru Edwin.
Sarah, Nissa dan Ardian memandang dua lelaki aneh di depannya itu dengan tatapan yang membingungkan.
“Bisa-bisanya dua buaya ini ngerebutin Kalala seperti itu,” batin Ardian merasa kesal, karena di penghujung makan malam ini mereka berdua malah asik meributkan mentimun.
“Astaga dragon! Kalian ini! Ambil saja nih sendiri!” seru Kalala yang tiba-tiba kesal melihat keributan Edwin dan Jackson yang ada di depannya.
“Eh, Kalala!” seru Sarah. “Enggak boleh kasar begitu, mereka kan tamu di sini,” ucap Sarah dengan lembut.
“Tamu sih ... tapi mentimun aja sampai diributin,” ucap Ardian pelan, ikut memprovokasi.
“Ardian!” Nissa menatapnya tajam. Ardian langsung menunduk ketakutan.
Sementara Jackons dan Edwin, kini mereka terdiam merasa malu, tapi tetap saja, perang dingin di antara keduanya masih belum selesai.
“Sudah ah! Aku udah selesai makannya.” Kalala mengambil wadah yang berisi mentimun itu, lalu menaruhnya dengan kasar di tengah-tengah antara Edwin dan Jackson.
“Nih! Makan mentimunnya sampai kenyang!” serunya, lalu pergi meninggalkan meja makan.
Edwin dan Jackson akhirnya saling bertatapan kesal, sambil beradu sikut saling menyenggol satu sama lain.
“Astaga ... Kalala, Kalala.” Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Maaf ya Nak Jackson, Nak Edwin, Kalala memang suka gampang ngambek kayak begitu,” ucap Sarah tidak enak hati.
Jackson dan Edwin pun jadi merasa tidak enak hati.
“I-iya, Tante, maaf kami juga sudah membuat suasana tidak nyaman,” jawab Jackson dengan sopan.
“Iya, Tante, maaf. K-kalau begitu, saya akan menyusul Kalala dulu, Tante. Saya sudah selesai kok makannya,” ucap Edwin.
“S-saya juga, Tante,” ucap Jackson, mereka berdua pun buru-buru keluar untuk mengejar Kalala.
Ardian yang melihat tingkah mereka, dia hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Haha, Budhe, ternyata anak Budhe punya aura yang kuat ya, dua buaya saja sampai jinak mengekorinya,” ucap Ardian asal.
“Ardian! Kamu minta dijewer sama Mama hah?” Nissa tidak segan menjewer sebelah telinga anaknya itu, hingga Ardian mengaduh kesakitan dan meminta ampun kepada mamanya itu sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Ampun, Ma, ampun!”
“Nissa ... sudah, kasihan anakmu, jangan kasar-kasar begitu ah,” ucap Sarah lembut.
“Enggak apa-apa, omongannya yang kasar, memang cocok buat dijewer,” ucap Nissa kesal.
Sementara itu, kini Jackson dan Edwin sudah keluar dari rumah, ia melihat Kalala yang tengah berjalan, menuju pos keamanan di depan sana.
Jackson dan Edwin pun saling menoleh terlebih dahulu.
“Sepertinya dia memang ke sini ada maksud dan tujuan lain kepada Kalala, aku tidak bisa membiarkannya. Aku harus menyelesaikan rencanaku terlebih dahulu,” batin Jackson.
“Sepertinya dia masih berambisi untuk menjadikan Kalala sebagai calon istrinya. Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu kepada Kalala,” batin Edwin.
Setelah saling bertatapan dengan menyorotkan mata elang mereka yang sangat tajam, langkah selanjutnya adalah, mereka mempunyai maksud dan tujuan yang sama, yaitu berlari sekencang mungkin mengejar Kalala.
“Kalala! Tunggu!” Edwin dan Jackson berteriak kencang sambil berlari layaknya anak kecil yang tengah bertarung di tujuh belas Agustusan.
Kalala yang melihat mereka berdua berlari hendak mengejarnya. "Sial! Kenapa mereka malah mengejarku!" umpatnya.
Eentah kenapa, tetapi saat ini Kalala mempunya firsat buruk akan Jackson dan Edwin. Kalala yang tidak ingin didekati oleh dua lelaki aneh itu, ia pun malah memilih untuk berlari meninggalkan mereka.
“Aku harus kabur,” ucap Kalala, berlari sekencang mungkin seolah tengah dikejar pencopet. Pencopet hati.
Dan akhirnya di bawah langit malam seperti ini pun, mereka malah bermain lari-larian, seolah Kalala yang menjadi buronannya. Kalala mempercepat langkahnya, Edwin dan Jackson pun masih terus berusaha mengejar Kalala, meski mereka begitu bingung kenapa wanita itu malah ikut berlari meloloskan diri dari mereka.
Apakah Kalala ketakutan, atau Kalala ingin ikut bermain lomba lari dengan mereka? Namun, ada hal mengejutkan yang baru Jackson dan Edwin sadari, setelah berlari sekitar 20 menit, Kalala benar-benar sulit untuk di dekati. Bahkan langkah wanita itu benar-benar sangat luas, dan cepat.
Jackson dan Edwin melambatkan langkah lari mereka, lalu menunduk seperti orang rukuk, sambil mengatur nafas dengan keringat yang sudah bercucuran deras di dahi dan tangan mereka.
“Gila! Kenapa dia bisa lari sekencang itu,” gumam Jackson sambil membuang nafas kehabisan oksigen.
Edwin menggeleng pelan. “Entahlah, rasanya lututku hampir copot demi mengejar dia,” ucapnya sambil hah-heh-hoh membuang nafas.
Tiba-tiba, sebuah gelak tawa terdengar di belakang mereka.
“Ahahahaha .... Payah sekali!”
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1