
“Jadi bertanya atau tidak?” seru Kalala berkata sedikit galak seperti biasanya.
“Baiklah, lebih baik aku menanyakannya saja,” gumam Edwin dalam hati.
“Oh ya, semalam apa kau yang memindahkanku ke tenda?” tanya Edwin.
“Ya, kenapa memangnya?”
“Apa kau juga yang memberikan bantal di kepalaku?”
Perasaan Kalala semakin tidak tenang, ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menampilkan keresahannya. “Ya.”
Tring .... Suara microwave mengalihkan sejenak obrolan mereka, buru-buru Kalala mengambil sarung tangan dan membuka microwave itu lalu mengeluarkan mentai rice di dalamnya.
Kini mentai rice yang sudah Kalala sajikan di atas piring, tampak mengepulkan uap panas yang menggugah selera, apalagi ketika mencium wanginya, rasanya cacing-cacing di perut Edwin sudah tidak sabar untuk menyantapnya.
“Ini, makanlah,” ucap Kalala menyodorkan piring tersebut kepada Edwin.
Obrolan mereka belum berakhir, tapi sikap Kalala yang buru-buru ingin keluar dari dapur, membuat Edwin semakin curiga.
Edwin sejenak melirik ke arah piring yang berisi mentai rice itu, lalu mengalihkannya ke arah Kalala yang tengah berjalan ke arah pintu.
“Tunggu!” teriak Edwin, berhasil menahan lengan Kalala.
Kalala semakin dibuat deg-degan. Wanita itu sepertinya sudah tahu, maksud dari Edwin memegang tangannya, pasti lelaki itu ingin mengkonfirmasi masalah semalam.
“Ya Tuhan, semoga saja dia tidak ingat,” batin Kalala.
“Obrolan kita belum selesai, masih ada yang ingin aku tanyakan padamu, Kalala.”
“Ya Tuhan, apalagi ini?” batinnya menggigit bibir bawah sambil sejenak memejamkan matanya.
Kalala memutar tubuhnya menghadap Edwin. “Ya sudah apa?! Jangan lama-lama membuang waktuku dong,” ucapnya begitu ketus.
“Setelah kau membantuku tidur di tenda, apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Ya ampun! Dia pasti mengingatnya.” Kalala semakin ketakutan, ia pun berpikir sejenak untuk mencari alasan lain, karena tidak mungkin ia jujur dan mengatakan kejadian semalam yang sebenarnya.
“Sesuatu apa? Aku hanya membawamu ke tenda saja, setelah itu ya aku pergi lah,” jawabnya.
“Apa mungkin ciuman semalam itu aku hanya mimpi ya?” batin Edwin.
__ADS_1
“Oh, syukurlah kalau memang seperti itu.”
“Memangnya kenapa? Apa kau memimpikanku?” tanya Kalala menggoda, sambil tersenyum mesem, mencoba mencairkan suasana.
Edwin membulatkan matanya. “Hah iya, eh ... enggak,” jawabnya buru-buru membalikkan badan dan pergi kembali duduk di kursi meja makan untuk menyantap mentai rice yang masih panas itu.
Melihat Edwin yang tengah fokus menyantap makanannya, membuat Kalala sedikit bernafas lega. “Huft, untung saja dia mengira semuanya mimpi.”
***
Drap ... drap ... drap.
Suara pentofel yang berbenturan dengan lantai marmer itu terdengar di telinga Akash. Dan tidak lama kemudian, pintu ruangan yang terbuat dari kayu jati berwarna cokelat tua itu terbuka, menampilkan seseorang yang bertubuh besar lengkap dengan jeans hitam dan boomber, kaca mata serta topi yang serba berwarna hitam.
“Maaf, Tuan, saya terlambat,” ucapnya menunduk sopan, di depan Akash.
“Duduklah,” titah Akash kepada lelaki bernama Jero itu. Jero pun mengangguk dan duduk di atas sofa yang ada di sampingnya.
Jero adalah seorang pemuda berusia 25 tahun, bekerja sebagai pegawai instansi pemerintahan, lebih tepatnya ia bekerja di dinas kependudukan. Dia di undang oleh Akash ke markas pribadinya untuk memintainya bantuan.
“Apa Edwin sudah menjelaskan semuanya padamu?” tanya Akash to the point.
“Kau yakin datanya tidak akan bocor?” tanya Akash untuk memastikan dan meyakinkan kembali bahwa Jero ada orang yang tepat untuknya dimintai bantuan.
“Saya berjanji, Tuan, datanya tidak akan bocor,” jawabnya.
“Baguslah kalau seperti itu.”
“Ini.” Akash menyerahkan satu map berwarna cokelat kepada Jero, yang di dalamnya berisi berbagai macam data penting miliknya dan juga Shira.
Akash berniat untuk mengubah identitasnya, karena ia harus menyiapkan semuanya sebelum ia melepaskan diri dari para mafia organ itu. Meski konsekuensinya ia tidak bisa menikmati fasilitas keluarga Atkinson, tapi itu lebih baik dari pada terus-terusan berada di dalam lingkup yang membahayakan dirinya pun keluarganya.
“Ubah semuanya sesuai apa yang saya tuliskan di dalamnya. Kau boleh mengeceknya terlebih dahulu untuk memastikan kelengkapannya,” ucap Akash.
Jero pun membuka map berwarna cokelat itu, lalu ia memeriksa kembali satu persatu data-data yang diberikan oleh Akash padanya.
“Semuanya sudah lengkap, Tuan. Hanya saja, nanti jika semuanya sudah selesai, Tuan harus tetap datang ke kantor untuk sidik jari,” ucap Jero memberi tahu.
“Baiklah, untuk itu semuanya gampang. Tapi tolong kau pastikan terlebih dahulu, bahwa semua riwayat lahir, sekolah dan semuanya mengenaiku harus sudah diubah, dan jangan sampai ada orang lain yang tahu.”
“Siap, Tuan.”
__ADS_1
“Kau tahu bukan, jika sampai ada yang tahu aku merubah identitasku, kau ....” Akash tidak melanjutkan ucapannya, tapi tatapan serta gerak bibir Akash yang seolah mengucapkan kata ‘mati’ itu cukup membuat Jero terpaku ketakutan.
Bahkan sekedar menelan salivanya saja, Jero kesulitan. “Ba-baik, Tuan,” jawabnya.
Ini adalah pengalaman pertama Jero menangani pengubahan keseluruhan data dari seorang yang cukup menakutkan baginya. Meski begitu, imbalan yang diberikan oleh Akash sangatlah diluar dugaan Jero, bahkan bayarannya sama seperti satu tahun Jero bekerja di instansinya.
“Ya sudah, kau boleh pergi sekarang, jika ada kendala hubungi sekretasiku,” ucap Akash, Jero kembali mengangguk, lalu pamit meninggalkan ruangan tersebut.
Akash kini memainkan jari jemarinya, sambil memutar-mutarkan kursi kerja yang tengah didudukinya. Ia menengadak menatap jendela luar, sambil membayangkan bagaimana rencananya itu akan berjalan.
“Hm, aku sudah tidak sabar untuk meninggalkan kota ini,” gumamnya, tersenyum sinis.
***
Hari ke hari terlewati begitu saja. Shira masih menikmati masa-masa trisemester pertama kehamilannya. Dan Kalala masih setia merawat sahabatnya itu dengan begitu baik, begitu pun Tessa, sebagai mertuanya ia selalu melimpahkan perhatiannya kepada menantu dan calon cucunya itu.
“Shir, kamu yakin enggak apa-apa kalau nanti aku pergi ke Surabaya terus kamu di kampus enggak ada yang jagain?” tanya Kalala menatapnya sendu.
“Enggak apa-apa kali, Kal. Emangnya aku ini anak TK apa, sampai dikhawatirin seperti itu.” Wanita ini terkekeh menatap wajah Kalala yang tengah cemberut padanya.
“Lagian, mamamu juga kasian, udah dua bulan loh kalian enggak ketemu,” ucap Shira. Mencoba meyakinkan Kalala agar sahabatnya itu mau menemui orang tuanya di Surabaya.
“Iya sih, aku juga udah kangen banget sama mamaku,” jawabnya memasang wajah melas.
“Eh, tapi, Shir, aku ‘kan enggak pernah naik pesawat, kalau misalkan nanti ada apa-apa atau aku salah naik pesawat gimana ya?” ucapnya bimbang.
Shira terkekeh kembali mendengar celoteh temannya itu. “Ya ampun, Kalala. Tenang aja kok, kalau kamu naik pesawat itu enggak bakalan sampai salah naik, emangnya naik kereta, salah gerbong atau salah turun statiun!” ucapnya semakin mengeraskan tawanya.
“Bareng Jackson saja.” Suara seseorang di belakang, langsung membuat keduanya menoleh.
.
.
.
Bersambung...
Mohon maaf ya, kalau endingnya nanti tidak sesuai harapan. Do'akan saja, semoga semuanya lancar, biar author bisa namatin cerita ini di bab 150.
Jangan lupa, bantu like, komen dan votenya ya mentemen. Terima kasih.
__ADS_1