
Jackson kini tengah berada di hotel Aston, tempat di mana pengumuman pemenang tender akan diadakan. Acara pun berlangsung. Terlihat banyak para pengusaha muda maupun yang sudah cukup berumur hadir di sana. Semua orang yang hadir di dalam ruang rapat itu, serempak memakai jas hitam yang sangat elegant jika dilihat. Semuanya sangat gagah, duduk berbaris di kursinya masing-masing menantikan pengumuman yang paling penting.
MC di depan pun terlebih dahulu menerangkan soal tanah dan wilayah yang menjadi bahan tender kali ini. Sekaligus menjelaskan berbagai macam hal terkait pekerjaan nanti, termasuk dari target wilayahnya.
“Baiklah, jadi untuk tender kali ini dimenangkan oleh ....”
Semua orang fokus ke depan, menunggu perkataan selanjutnya yang mungkin akan cukup mengejutkan. Begitu pun dengan Jackson yang sedari tadi terus berharap dan berdoa, agar tender kali ini di menangkan olehnya.
Dan pengumuman pun berlanjut, dengan gelegar suara yang mengejutkan untuk semua orang.
“Tuan Jackson dari Atkinson Group ....” Sang MC berucap cukup keras.
Jackson yang duduk di kursinya, ia termenung mendengarnya, kedua matanya membulat sempurna dengan mulut yang setengah menganga.
“Na-namaku.” Jackson menoleh kepada Eru—sekretarisnya yang duduk di sampingnya.
“Tuan, Anda menang Tuan,” ucap Eru begitu semangat.
“Benarkah?” tanyanya dengan ekspresi wajah yang tampak sangat antusias tidak menyangka.
Eru mengangguk semangat. “Iya, Tuan, Anda memenangkan tender ini.”
Jackson pun bersorak atas kemenangkannya, menarik lengannya dari atas ke bawah pinggang dengan semangat, sambil berteriak. “Yash!”
Sedangkan para pengusaha lain yang ikut dalam tender ini tapi tidak memenangkannya, mereka semua tampak kecewa, tapi ada sebagian yang memberikan selamat kepada Jackson atas kemenangannya.
“Haha, aku tidak menyangka, bocah kecil dari keluarga Atkinson yang menjadi pemenangnya,” ucap seseorang dari belakang yang iri atas keberhasilan Jackson.
Eru dan Jackson menoleh kepada orang itu, lalu orang itu pun tersenyum sinis dan melengos pergi dari sana, mengikuti orang-orang yang langsung bubar atas kekecewaan mereka.
***
Sementara itu, Kalala dan Edwin kini tengah berada di sebuah mall. Mereka pergi jalan-jalan sengaja atas perintah Sarah.
Entah apa yang sudah diobrolkan oleh Sarah dan Edwin saat Kalala tengah tertidur, tapi sikap Sarah kepada Edwin seolah ada maksud tertentu, bahkan saat ini pun Kalala malah di suruh untuk mengajak Edwin jalan-jalan ke mall.
“Kamu sebenarnya ada kepentingan apa hingga datang kemari?” tanya Kalala, sambil terus berjalan menuju lantai dua mall. Hendak pergi ke XXI untuk menonton.
“Memangnya kenapa? Apa aku harus punya alasan untuk datang ke kotamu ini?” tanya Edwin.
Kalala membuang muka, lalu tangannya memainkan tali slingbag yang digunakannya. Entah kenapa, tapi jalan berdua seperti ini membuat Kalala sedikit tidak nyaman.
“Ya, enggak juga sih. Aku hanya ingin tahu saja ... soalnya aneh banget, tiba-tiba kamu datang ke rumahku membawa titipan Shira, padahal sebelumnya Shira enggak bilang kalau dia mau nganterin oleh-oleh buat mamaku,” jawabnya.
“Apa kau tidak sadar?” tanya Edwin selangkah lebih maju, lalu diam mematung di depan Kalala, membuat Kalala menghentikan langkahnya dengan mendadak.
“Tidak sadar apa?” Kalala tidak mengerti.
“Maksud dan tujuanku kemari.”
“Ya mana aku tahu maksud dan tujuanmu kemari untuk apa, kau saja tidak bilang apa-apa!”
Edwin menunduk, lalu kembali menatap Kalala sambil menebarkan senyum manis nan penuh pesona itu.
“Baiklah, aku akan mengatakannya nanti, ayo, kita beli tiket dulu,” ucap Edwin kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya memasuki area studio XXI.
__
Setelah memesan tiket menonton, Edwin mengajak Kalala untuk makan terlebih dahulu, ia mengajak Kalala ke sebuah restoran kesukaan Kalala. Lalu setelah mereka menemukan meja kosong, Edwin pun memanggil pelayan untuk memesan makanannya.
“Sate udang pedas satu porsi sama nasinya dikasih acar, satu porsi steak, waffle coklat oreonya dua, sama minumnya ....” Edwin terdiam sejenak, lupa akan minuman kesukaan Kalala yang sudah dihafalkannya.
“Lechyee mojitonya satu,” seloroh Kalala.
__ADS_1
Edwin memandang Kalala sejenak. “Iya, sama lemon tea satu,” lanjut Edwin, lalu menunduk gugup karena hafalannya tiba-tiba menghilang begitu saja.
“Apa kau menghafalkannya?” tanya Kalala curiga.
“Tidak, a-aku—”
“Sudah jujur saja, kau pasti menghafalkan makanan kesukaanku dari Shira ‘kan? Termasuk info restoran ini?” tanya Kalala.
Edwin tidak bisa berkutik lagi selain menjawabnya dengan jujur. Lelaki itu tampak ragu untuk mengakuinya, tapi sekarang dirinya sudah tertangkap basah, ia pun mengangguk pelan.
“Hm, maaf, aku tidak bisa mengingat semuanya,” ucapnya pelan.
Melihat wajah Edwin yang menunduk sedih, Kalala jadi merasa geli, kenapa sebenarnya dengan lelaki yang ada di depannya itu. Kenapa tingkahnya hari ini sangat berbeda sekali. Bahkan, Kalala dapat merasakan kalau Edwin kali ini lebih bertutur kata lembut padanya, jauh dari biasanya yang suka sedikit jutek dan kasar.
“Hei sekretaris kaku! Tumben sekarang kau berbicara lembut padaku,” ucap Kalala mencoba mencarikan suasana yang sejak tadi membuatnya kurang nyaman.
Edwin kembali mendongak menatap wajah Kalala dengan bingung. “Lembut? Maksud kamu?” Lelaki itu sepertinya sedikit tidak mengerti ucapan Kalala.
“Apa Shira juga mengatakan padamu kalau aku menyukai lelaki yang lembut?” tanya Kalala langsung to the poin.
“T-tidak,” jawab Edwin sambil menggelengkan kepalanya.
“Lantas, kenapa kamu merubah sikapmu padaku? Bukankah, ini terasa sedikti tidak nyaman?”
Edwin terhenyak mendengarnya. “Tidak nyaman?” batinnya.
“Apa kamu tidak nyaman dengan kehadiranku di sini?” tanya Edwin, seolah kecewa.
“Tidak, bukan itu, maksudku, sikapmu yang jauh berbeda dari biasanya memb—”
Kalala menatap Edwin yang tengah menantikan ucapan selanjutnya dari mulutnya, namun Kalala memilih untuk tidak melanjutkan perkataanya itu.
“Tidak, lupakan saja.”
Edwin membeliak, masih menatapanya dengan heran.
Edwin tiba-tiba terkekeh. “Boleh,” jawabnya dengan enteng.
“Buta tau rasa nanti!”
“Enggak apa-apa, kalau aku kehilangan penglihatanku karenamu, cukup kamu yang jadi mata untukku saja,” jawabnya tersenyum tipis.
“Ekhem, maaf ... gombolannya enggak kena,” jawabnya sambil mengerlingkan matanya dan membenarkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Edwin membuang muka sambil tersenyum menyeringai mendengar jawaban pedas dari mulut wanita yang ada di depannya itu.
“Lihat saja nanti,” jawabnya penuh maksud.
***
Malam pun tiba, tepat di kediaman keluarga Atkinson, di jam 7 malam ini, Shira, Akash, Tessa, Asten dan Baker sudah duduk di kursinya masing-masing di ruang makan.
Makanan mewah pun sudah tersaji di atas piring-piring yang berjajar dan tersusun rapi di atas meja makan yang megah itu. Mulai dari steak, acar, salad, dan beberapa kue serta buah-buahan sudah tersaji di sana, dan minuman dingin maupun hangat pun ada juga di atas meja makan.
Makan malam pun berjalan lancar sebagaimana mestinya, sambil diselingin dengan beberapa obrolan kecil mengenai kabar Akash dan Shira. Dan setelah selesai makan, Baker juga menanyai soal Tessa—mantan istrinya.
“Apa kau sekarang tinggal dengan Akash dan Shira untuk selamanya?” tanya Baker dengan nada suaranya yang cukup berat dan sedikit menakutkan.
“Hm, sepertinya akan begitu,” jawab Tessa yang baru saja selesai mengelap bibirnya menggunakan tisu.
“Tumben sekali, apa ada sesuatu hal yang terjadi sehingga kau harus tinggal dan menumpang di rumah Akash?” tanyanya, sedikit membuat hati Tessa tersentil karena dianggap menumpang.
“Biar Akash dan Shira saja yang menjelaskannya, kenapa aku tinggal bersama mereka,” jawab Asten.
__ADS_1
Membuat semua orang yang ada di meja makan langsung saling bertatap-tatapan bingung.
“Akash,” panggil Baker. “Jelaskan apa yang dimaksud oleh ibumu ini?” titahnya.
Akash dan Shira saling bertatapan sejenak, lalu melirik ke arah Asten yang tengah memantau mereka dengan tajam.
“Baiklah, tapi sebelum itu, aku harap Ayah akan menepati semua janji Ayah padaku,” ucap Akash.
“Janji?” Baker tampak kebingungan.
Hening dalam beberapa saat, lalu.
“Istriku hamil,” ucap Akash tegas, langsung membuat Asten dan Baker membulatkan matanya begitu mendengar lontaran kata yang keluar dari mulut Akash.
“Apa! Istrimu hamil?!” pekik Asten begitu sangat terkejut mendengarnya. Mendengar kabar ini, rasanya ia bagai disambar petir dan guntur yang membuat hatinya langsung risau dan membuat jantungnya hampir copot dari tempatnya.
Dan tentunya, jika Asten sudah mengetahui semua ini, ia tidak bisa tinggal diam, ia harus bertindak.
Akash tidak mengiyakan ucapan Asten, dia hanya diam, menunggu respon dari ayahnya.
“Shira menantuku hamil?” tanya Baker, dengan tatapan mata yang sedikit berkaca-kaca mengetahui menantunya itu akan segera memberikan ia seorang cucu.
“Iya, sudah jalan 18 minggu,” jawab Akash.
“Ya Tuhan ....” Baker langsung menengadahkan kedua tangannya ke atas, ia benar-benar sangat bersyukur, akhirnya generasi penerus kelaurga Atkinson akan hadir.
“Kemari,” titah Baker kepada Shira.
Shira ragu, untuk menuruti permintaan ayah mertuanya itu, akan tetapi Tessa membisikkan kalimat agar menantunya itu pergi dan menghampiri Baker di depan sana.
Perlahan Shira pun melangkah mendekati ayah mertuanya, sambil sedikit menunduk ragu dan takut.
Baker berdiri dari duduknya, ia memandangi wanita bertubuh mungil yang ada di depannya. Menantu pertama yang sangat ia sayangi.
“Bolehkah Ayah memelukmu?” tanya Baker sambil menahan haru biru kebahagiaannya.
Shira menoleh ke arah Akash, Akash mengangguk memberikan kode ‘boleh’ kepada istrinya itu. Shira pun mengangguk pelan.
“Silakan, Ayah.”
Dan seketika itu pula, untuk pertama kalinya Shira dipeluk oleh Ayah mertuanya sendiri. Baker benar-benar merasa sangat bahagia sebahagia-bahagianya.
“Terima kasih, terima kasih karena sudah mengandung cucuk untukku,” ucap Baker dengan mata yang berkaca-kaca, lalu setelahnya ia pun mengecup pelan puncak kepala Shira, membelainya lembut lalu melepaskan pelukannya.
“Ayah benar-benar bahagia. Terima kasih, Shira,” ucapnya pelan, membuat Shira yang berdiri di depannya merasakan sesak di dadanya saking terharu mendengar ucapan terima kasih dari mertuanya.
Entah kenapa, memeluk Baker barusan, membuat Shira jadi teringat akan ayahnya yang sudah tiada. Ada rasa rindu yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Pelukan dari Baker, benar-benar terasa hangat layaknya pelukan ayah Davies dahulu.
“Semoga, cucukku ini kelak lahir sebagai anak yang sehat, cerdas dan apa adanya,” ucap Baker, memegang kedua lengan Shira.
“Iya, Ayah, semoga do’a Ayah terkabul,” balas Shira tersenyum.
Sementara itu, di sisi lain, Asten benar-benar terasa terbakar, suasana yang sangat memabahgiakan ini, baginya adalah sebuah petaka dan pertanda memulainya perang. Ia tidak bisa jika harus membiarkan Akash mendapat setengah dari kekuasaan Baker.
“Ini tidak bisa dibiarkan! Tidak bisa! Aku harus melakukan sesuatu agar bayi di dalam perut wanita itu hancur dan tidak terlahir ke dunia!” gumamnya penuh tekad di dalam hati.
“Kau penghancur sebenarnya, Akash! Lihat saja, apa yang akan aku lakukan agar kau gagal mendapatkan harta ayahmu itu,” batin Asten begitu emosi, seolah ada api yang membakar hatinya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Udah hari senin nih guys, jangan lupa bantu vote ya... terima kasih.