
Tepat pukul 14.00 siang, waktu Paris, Boy sudah sampai di bandara. Ia segera menuju ke lokasi hotel yang sebelumnya sudah ia cari info, kalau Shira dan Akash stay di hotel tersebut.
Taksi itu kini berhenti di depan lobby hotel, Boy turun dari mobil tersebut lalu memberikan beberapa lembar uang kepada sopir tersebut.
Ia menengadah ke atas, memandangi nama hotel yang tertera begitu besar di atas sisi gedung sana—Shangri La Paris.
Boy pun melenggangkan kakinya memasuki area lobby, menarik koper hitam besar dan mendekat ke arah meja resepsionis.
Resepsionis itu pun menyambutnya dengan senyumannya yang cantik dan penuh kehangatan. Akan tetapi, sebelum Boy memesan kamar, ia terlebih dahulu mencari info kamar yang ditempati oleh Akash dan Shira.
Resepsionis tersebut tidak berani bilang apa-apa, karena itu termasuk pelanggaran. Boy pun menyerahkan beberapa lembar uang kepada resepsionis tersebut, dan resepsionis tersebut pun diam-diam mengambilnya, lalu mengecek kamar yang ditempati atas nama Atkinson.
“Mohon maaf, Tuan. Tapi mereka sudah cek out kemarin pagi.”
“Cek out?” tanya Boy mengerutkan kedua alisnya, resepsionis itu mengangguk mengiyakan.
Boy pun bergegas pergi dari sana, ia kembali keluar, lalu berdiam diri di depan lobby. Sambil berusaha menelepon Jackson.
“Argh! Sial, bagaimana bisa mereka pergi begitu saja!” gumam Boy begitu kesal.
“Oh, Hallo.”
“Ada kabar apa?” suara Jackson dibalik telepon.
“Tuan, ternyata Akash dan Shira sudah cek out dari hotel ini. Dan saya tidak tahu kemana mereka pindah lokasi,” ucap Boy.
“Argh! Sialan! Menyusahkan saja!” amuk Jackson. “Sia-sia saja, aku merencakan semuanya. Sudahlah kalau begitu hari ini kau pulang saja ke Indonesia. Percuma bekerja sama denganmu, kau memang tidak becus! Tidak bisa diandalkan!”
__ADS_1
Tut ... tut ... tut.
Panggilan pun berakhir. Boy termenung, dengan perasaan yang tiba-tiba terasa menyesakkan dada. Entah kenapa, tapi ia merasa kalau Jackson terlalu menyalahkannya. Padahal semua ini tidak lain karena perintah dirinya juga.
“Sialan! Bos macam apa dia ini. Bisanya menyalahkan saja! Argh! Buang-buang waktu saja aku bekerja sama dengannya!” gerutu Boy, lalu kembali ia memesan taksi onlen untuk membawanya ke Bandara.
“Game over! Tidak peduli dia membayarku atau tidak, yang terpenting operasi adikku sudah selesai,” gumamnya dalam hati, terus memandang lurus ke arah depan supir yang tengah membawanya pergi ke Bandara.
***
Sementara itu, di hari ini Akash dan Shira tengah menikmati hari terakhir mereka untuk berlibur, karena besok mereka sudah haru pulang kembali ke Indonesia.
Setelah berkeliling berwisata, menikmati berbagai macam kuliner dan membeli begitu banyak oleh-oleh, malam ini Akash mengajak Shira untuk pergi ke sebuah restoran yang terkenal dengan tempatnya yang sangat romantis.
“Akash, ini udah sampai mana?” tanya Shira yang duduk di samping Akash di dalam mobil.
“Tapi, gelap. Buka aja ya,” rengek Shira mencebik gemas, karena saat ini kedua matanya tengah di tutup menggunakan bandana berwarna merah.
“Jangan dulu, kalau dibuka sekarang, ya bukan surprise namanya,” ucap Akash.
Dan kini, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di tujuan. Akash membantu Shira untuk turun dari mobil. Perlahan Shira menjejakkan kakinya di tanah, dengan kedua tangan yang berpegang erat di lengan Akash.
“Ayo, jalan pelan-pelan ya, kamu ikutin langkah aku,” ucap Akash.
Créatures Paris Restaurant.
Mereka pun perlahan berjalan memasuki area restoran yang terlihat sangat megah. Di area lantai satu dan lantai dua, cukup banyak pengunjung yang hadir di malam ini, mengisi setiap meja yang berjajar di sana. Akan tetapi, khusus untuk area rooftop semuanya sudah di booking oleh Akash, jadi untuk dua jam kedepan, rooftop di restoran itu hanya dikhususkan untuk Shira dan Akash, tidak ada orang lain yang boleh memasukinya kecuali atas perintah Akash.
__ADS_1
Entah berapa banyak uang yang harus ia keluarkan untuk menyewa tempat ini, akan tetapi semua itu tidak ada apa-apanya. Bahkan mungkin bagi Akash itu hanya nominal kecil yang harus ia keluarkan untuk memebrikan kesan terdalam kepada istrinya itu.
Perlahan dan akhirnya sampai. Akash menarik satu kursi dan mempersilakan untuk duduk di atas kursi tersebut.
“Akash, kapan kamu akan membukanya?” tanya Shira.
“Oke, tunggu sebentar,” ucap Akash mempersiapkan segalanya.
“Oke, dengarkan aku ya, kalau kamu mendengar petikan jariku, kamu sudah boleh membuka penutup matanya,” ucap Akash.
Shira mengangguk, dengan perasaan yang tiba-tiba terasa berdebar tidak karuan. “Duh, kok jadi deg-deg-an gini sih,” gumam Shira dalam hati.
Sedikit lama, tapi entah kenapa, suasananya jadi terasa sangat sepi, seperti tidak ada siapa-siapa.
“Akash,” panggil Shira, dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi panik.
Bersambung...
__ADS_1