Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Sudahi Semuanya


__ADS_3

Akash baru saja keluar dari ruang rawat inap kelas VVIP. Gejolak kekesalan kini begitu semakin membara di hatinya, saat ia melihat seorang wanita setengah baya yang tengah berjalan menghampirinya.


“Dia benar-benar wanita tidak tahu diri!” batin Akash begitu kesal.


“Stop!” Akash langsung mencekal lengan Asten yang hendak memasuki ruang rawat Jackson.


“Lepaskan! Saya mau menengok keadaan anak saya!” seru Asten tidak terima, saat dirinya ditahan oleh Akash.


“Sebaiknya, Anda ikut dengan saya sekarang juga!” Akash semakin mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Asten, membuat wanita berkepala empat itu langsung meringis kesakitan.


Akash menariknya dan membawanya ke lorong tunggu yang ada di depan sana. Lalu Akash pun menepiskan lengan Asten dengan cukup kasar.


“Berani-baraninya kamu menyeret saya ke sini!” seru Asten begitu emosi.


Akash mengepalkan kedua tangannya, ia memejamkan matanya dengan kuat, sejenak. Lalu, kedua mata elangnya ia layangkan ke arah netra wanita tua yang ada di depannya.


“Cukup! ... Sudahi semua ini Nyonya Asten!” sentak Akash tiba-tiba. Membuat Asten langsung terperanjat mendengarnya.


“Apa kau tidak puas dengan apa yang kau miliki sekarang hah?! Cukup membuat banyak orang terluka!”


“Apa kau tidak pernah menyesali perbuatan jahatmu itu hah?! Lihatlah, akibat apa yang kau lakukan anakmu kini masuk rumah sakit!”


“Beraninya kau menuduhku, Akash!” seru Asten, menatap nanar kedua binar mata Akash.


“Terserah kau bilang aku menuduhmu atau bukan. Yang jelas, aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu! Dan kalau kau benci padaku, benci saja aku, tidak perlu kau melukai orang-orang disekitarku!” serunya, lalu Akash pun berlalu begitu saja setelah meluapkan segala emosi dan kekesalannya kepada Asten.


Asten terpaku di tempatnya, kedua wajahnya meringsut kesal, dengan tangan yang dikepal erat menahan emosi.


“Dasar, bocah gila! Berani-beraniya dia membentakku seperti itu!” Asten membuang wajahnya, mencoba mengontrol nafas dan emosinya.


Setelah beberapa menit berdiam di lorong itu, Asten pun kembali melanjutkan niatnya untuk menemui Jakson di kamar rawat.


Jackson terbaring sambil memainkan ponselnya, infusan di sebelah tangannya terlihat terpasang, mengalirkan sebuah cairan.

__ADS_1


“Jackson,” panggil Asten pelan, dengan mimik wajahnya yang sudah berubah sendu.


Jackson yang tengah fokus menonton sebuah film di ponselnya, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Ibunya.


“Jackson, bagaimana keadaanmu, Sayang?” Asten membelai pelan kepala Jackson dengan penuh kasih sayang.


“Seperti yang Ibu lihat,” jawabnya simple.


Sebenarnya, Jackson tidak marah kepada Asten, hanya saja ia terlalu kecewa kepada Ibunya itu, yang tiada hentinya berambisi untuk mencelakai Akash dan Shira.


Meski, kini dirinya yang menjadi korban dari kejahatan Ibunya, ia tidak menyesal sama sekali. Jackson menganggap ini sebagai teguran untuk Ibunya, agar Ibunya itu berhenti untuk menjalankan ambisinya. Dan meski Jackson tahu, Ibunya tidak akan mudah menyerah begitu saja, ia bahkan sudah siap jika suatu saat ia harus mengorbankan dirinya lagi untuk menghentikan aksi Ibunya.


“Maafkan Ibu ya, Sayang. Ibu terlalu ceroboh membiarkanmu melakukan permainan pertukaran makanan itu,” ucap Asten.


Karena sebenarnya, di penghujung acara makan kemarin malam, saat Baker mengajak Asten untuk melakukan pertukaran makanan dengan Shira, Jackson tidak tega jika harus membiarkan Ibunya memakan makanan yang sudah ia ketahui kalau makanan itu ada obatnya.


Dan saat Asten hendak memakan puding mangga milik, Shira, Jackson mengambilnya dan langsung memakannya. Sehingga jika ditotalkan, semua makanan Shira yang mengandung obat habis di makan oleh Jackson semuanya.


Dan dokter pun bilang, kalau Jackson hampir saja kehilangan nyawanya, karena racun yang ia makan di dalam makanannya waktu itu, hampir saja membuatnya kehabisan nafas karena paru-parunya yang terasa sesak. Namun, untungnya waktu malam itu Akash juga memberinya obat penetral racun. Dan berkat itu, Jackson hanya terkena gangguan pernafasan tidak sampai dengan ginjalnya.


“Bu.” Jackson menoleh.


Asten dengan sigap memandang ke arah anaknya. “Iya, Sayang ada apa?”


“Bu, apa aku boleh meminta tolong kepada, Ibu?” tanya Jackson menatapnya Ibunya dengan tatapan yang begitu dalam dan sendu.


“Minta tolong apa, Nak?”


Jackson sejenak terdiam, memandang kedua netra Ibunya yang sedikit memerah itu dengan penuh perasaan. “Bu,” ucapnya pelan.


Jackson meraih sebelah tangan Ibunya, lalu menangkupnya dengan kedua tangannya, menggenggamnya cukup erat.


“Bu, tolong hentikan semua ini, Bu,” ucapnya pelan. “Aku tahu, Ibu melakukannya karena ingin menjamin masa depanku, tapi aku mohon, Bu, lupakan ambisi Ibu. Hidupku sudah berkecukupan, Bu, Ibu tidak perlu melakukan apa-apa lagi untuk menjamin masa depanku.”

__ADS_1


Asten cukup terhenyak mendengarnya, ia mematut memandang Jackson dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


“Apa yang kamu katakan, Jackson?” tanya Asten pura-pura tidak paham.


Jackson mengehela pelan. “Aku memang tidak tahu, hal pahit apa saja yang sudah Ibu lalui di masa lalu hingga Ibu menjadi begini. Tapi Bu, aku benar-benar bersyukur, aku sudah bisa hidup dalam kemewahan dan serba berkecukupan, terlebih aku sangat bahagia karena aku bisa hidup satu atap bersama Ibu dan ayah. Jadi aku mohon, Bu, hentikan semuanya, terima lah yang sudah kita miliki,. Kesehatan, kekayaan, kesejahteraan ... ayah, dan aku, apakah itu semua tidak cukup untuk Ibu?”


“Aku ingin melihat Ibu menjadi pribadi yang lebih tenang. Bukankah Ibu tinggal menikmati semuanya? Tapi, kenapa Ibu selalu khawatir soal kekayaan yang ayah berikan kepada Akash. Bukankah Akash lebih berhak menerima semuanya. Dia anak pertama ayah, Bu. Kita sebenarnya yang harus berterima kasih kepada ibu Tessa dan Akash. Karena mereka, kita berdua masih bisa hidup nyaman.”


Asten semakin dibuat terpaku, tidak bisa berkutik apa-apa saat mendengar semua penuturan dari anaknya tersebut.


“Sudahi semuanya ya, Bu,” lanjut Jackson dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca menatap Asten dengan penuh kasih sayang. Asten hanya teridam, tenggelam dalam pikiran dan perasaannya.


“Maaf jika aku berbicara terlalu lancang kepada, Ibu. Tapi, aku mengatakan semua ini karena aku sayang sama Ibu, aku tidak ingin hal buruk terjadi kepada Ibu.”


“Cukup Jackson! Jangan berkata apa-apa lagi kepada Ibu,” jawab Asten melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jackson. Membuat Jackson sedikit tercenang melihat respon dari Ibunya.


Asten berdiri dari duduknya, lalu mengambil tasnya dengan wajah yang terlihat gelisah. “Ibu akan kembali lagi, besok. Kamu jangan lupa makan,” ucapnya mengusap sebelah pipi Jackson lalu pergi begitu saja.


“Bu!”


“Ibu!”


Asten memepercepat langkahnya, begitu teriakan anaknya itu terdengar di telinganya. Ia memejamkan matanya sejenak, sambil mengambil nafas begitu berat, lalu duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar rawat ruang lain.


Ia sebenarnya cukup terenyuh mendengar penuturan anaknya tadi, tapi jika mengingat semua usaha yang sudah ia lakukan, rasanya ia terlalu berat untuk menuruti permintaan Jackson.


“Maafkan, Ibu Jackson, Ibu tidak bisa,” lirihnya terisak, merasakan sesak di dada.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2