Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Jangan Meninggalkanku


__ADS_3

Cahaya mentari di pagi hari, masuk menelisik ke dalam kamar lewat jendela yang tirainya tersingkap oleh angin. Hembusan angin dingin itu, membuat seorang gadis yang masih terbaring itu menggeliat, lalu meringkukkan tubuhnya karena kedinginan. Akan tetapi, hembusan angin yang semakin lama semakin membuat tubuhnya merinding kedinginan itu, akhirnya membuat pertahanan gadis itu lenyap juga.


Shira terbangun dari tidur lelapnya, ia merentangkan kedua tangannya, menggeliat dengan sebegitu nikmatnya, meski ada beberapa titik di tubuhnya yang terasa sakit. Sebelah tangannya kini memegang pelan kepalanya yang masih terasa pening. Pandangannya masih tampak kabur, pun tubuhnya yang terasa begitu lemas.


Tiba-tiba, ia membulatkan kedua matanya saat ingat kejadian semalam. Dan sepintas bayangan kejadian semalam kembali tergambar dibenaknya bagai putaran film.


“Semalam itu ... itu bukan mimpi ‘kan?” pikirnya yang masih linglung.


Butuh beberapa waktu untuk Shira meyakinkan kalau kejadian yang semalam bukanlah mimpi. Ia kemudian mencari-cari tas miliknya yang di dalamnya berisi dompet dan handphone miliknya, tetapi ia tidak menemukannya.


“Benar, berarti kejadian semalam itu adalah benar. Akash ... dia ....” Pikiran Shira semakin tidak karuan.


Shira pun buru-buru beranjak dari tempat tidurnya, berlari mendekati meja rias, lalu memandangi pantulan tubuhnya di dalam cermin besar.


Wajahnya tampak bingung penuh keterkejutan, ia memeganng mulut dan pipinya. Ingatannya kembali menampilkan bayangan darah yang berlumuran di tangan Akash saat lelaki itu membekap mulutnya.


"Akash, dia ...."


Matanya berkeliling mengitari seisi kamar. Kamar yang selama beberapa hari ini ia anggap sebagai tempat ternyamannya, kini terasa berbeda, ia merasakan hawa tidak enak yang sedikit menakutkan. Ia takut, saat mengetahui pribadi Akash yang berada diluar pikirannya.


“Aku harus kabur dari sini. Aku tidak mungkin menikah dengan seorang pembunuh seperti dia,” gumamnya panik.


Ia pun berjalan mengendap-endap, mendekati jendela lalu membuka tirainya. Di halaman belakang tampak banyak pelayan yang tengah sibuk merapikan dan membersihkan halaman belakang.


“Kenapa begitu banyak orang di luar?” tanyanya pada diri sendiri.


“Tidak mungkin ‘kan, aku kabur sedangkan di luar banyak orang begitu,” gumamnya. Ia pun kembali berpikir.


Tiba-tiba, dirinya mendapat ide, ia harus berpura-pura menjadi pelayan rumah, yang memakai seragam hitam putih seperti pelayan-pelayan wanita di rumah ini.


Ia pun beranjak keluar kamar, akan tetapi, baru saja Shira hendak memutar gagang pintu, tiba-tiba dua orang pelayan wanita datang membuka kamar, mengejutkan Shira.

__ADS_1


“Selamat pagi, Nona,” sapa kedua gadis pelayan yang memakai setelan rok hitam putih.


Shira tampak panik. “Pa-pagi,” jawabnya gugup.


“Oh ya, Nona, kami diperintahkan oleh Nyonya Tessa untuk melakukan perawatan kepada Anda, maka dari itu, selama tiga jam ke depan kami akan menemani dan melayani, Anda.” Dua pelayan itu menebarkan senyuman manisnya pada Shira.


"Waduh bagaimana ini? Kenapa harus ada perawatan segala sih!" batinnya.


“Emh, kalau boleh tahu perawatan apa ya?”


“Perawatan sebelum menikah,” jawab pelayan itu, tanpa menjelaskan secara detailnya.


Tiba-tiba, Tessa datang menghampiri mereka, lalu mendekat ke arah Shira.


“Sira sayang ... syukurlah, akhirnya kamu sadar. Semalam kami semua sangat mengkhawatirkan keadaan kamu." Tessa memeluknya dengan erat, membuat Shira tidak bisa apa-apa.


Setelahnya Tessa melepaskannya, sambil bernafas lega, lalu menangkup wajah cantik Shira dengan kedua tangannya.


Shira tampak bingung. “Ibu,” ucap Shira pelan.


Kini, kedua tangan Tessa mengusap pipi Shira dengan pelan, wanita setengah baya itu memandang Shira begitu dalam, seolah takut kehilangan.


“Jangan pergi lagi ya, Shira. Kami sudah menyayangimu, terlebih setelah pernikahan besok, kamu jangan pernah meninggalkan Akash ya, Shira,” ucap Tessa dengan suaranya yang berat seolah menahan kesedihan.


Shira semakin dibuat tidak paham oleh keadaan. “Ibu, Akash ada di mana, Bu?” Shira memegang tangan Tessa yang ada di pipinya.


Tessa terdiam, dengan senyuman hambar yang terlukis di wajahnya. Lalu ia menurunkan tangannya.


“Untuk sementara kalian tidak akan bertemu dulu, tapi Akash akan menemuimu besok di altar,” ucap Tessa kemudian berlalu meninggalkan Shira dengan senyuman simpul yang sulit dijelaskan.


Lalu pintu kamar pun di tutup. Shira bergeming di tempatnya, pikirannya semakin terasa kacau. “Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa mereka malah membuatku semakin bingung,” gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Nona, mari ...." Suara pelayan itu kembali membuyarkan lamunan Shira.


***


Dan malam harinya, setelah menyelesaikan semua urusannya, Akash pun kembali ke rumah bersama Edwin—sekretaris pribadinya.


Keadaan di rumah di jam dua belas malam ini sangatlah sepi. Para pelayan semuanya sudah beristirahat di tempatnya. Hanya ada beberapa penjaga yang masih terjaga.


“Kau beristirahatlah di kamar ke tiga,” ucap Akash kepada Edwin yang berjalan di belakangnya.


Lelaki yang sejak tadi mengekori Akash itu, dia mengangguk lalu segera pergi menuju kamar ke tiga yang ada di rumah ini. Jujur saja, menangani kasus Shira membuat Edwin tidak bisa beristirahat selama beberapa hari. Bahkan sudah dua malam ia tidak tidur, apalagi saat tragedi malam kemarin, yang membuatnya ketar-ketir menyelamatkan Akash dan Shira dari orang-orang jahat.


Akash memutar gagang pintu kamar, kepalanya masuk mengintip ke dalam. Di sana Shira tampak tertidur pulas. Ia pun masuk dan berjalan mendekatinya. Lalu duduk di tepi ranjang, memandangi wajah polos Shira yang tengah terlelap nyenyak.


Lama sekali Akash memandangi Shira. Lalu tiba-tiba, bibir lelaki itu berucap, “besok, jika kamu sudah mengetahui siapa aku sebenarnya, aku harap kamu tidak akan meninggalkanku, Shira.” Suara itu terdengar jelas, akan tetapi sangat pelan.


Akash tidak ingin berlama-lama di dalam kamar, ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia pun pergi meninggalkan Shira dengan langkah yang pelan dan senyap. Lalu menarik pintu dan menutupkannya perlahan.


Setelah itu, Akash pun bergegas pergi ke kamar yang saat ini tengah di tempati oleh ibunya. Ada hal yang ingin Akash bicarakan kepada Tessa. Mengenai Shira dan kasus yang menimpanya.


Shira membuka mata begitu Akash meninggalkannya. Sebenarnya, sejak tadi Shira masih terjaga, ia belum tidur sama sekali. Bahkan Shira juga dapat merasakan, belaian lembut tangan Akash yang sempat mengusap kepalanya tadi.


Pikirannya kembali terfokus akan perkataan yang ia dengar dari mulut Akash. “Apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku? Kenapa dia berkata seperti itu? Dan siapa sebenarnya calon suamiku ini?” batinnya dengan pikiran dan sekian banyak dugaan yang terbesit di benaknya.


“Lalu ... siapa yang kemarin dia bunuh?” Pikirannya kembali merasa tidak tenang saat sepintas bayangan karung berdarah itu tergambar di pikirannya.


“Paman ....” gumamnya melototkan kedua matanya.


Bersambung....


Maaf ya gak bisa upload dua bab, suami author lagi sakit, mohon do'anya ya temen-temen. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2