
Akibat pertengkaran Shira, Kalala dengan Haris pagi kemarin, akhirnya kini mereka berdua dipanggil menghadap ke Pak Haru di ruang khusus, dekat ruang dosen.
“Shira! Kau bukan sekali dua kali melakukan hal heboh di kampus ini! Baru saja kasus kamu dengan Luna selesai, kini kau berulah lagi!” Pak Haru berbicara penuh amarah, menatap mereka berdua dengan penuh kekesalan.
“Dan kau, Haris! Kuliah dan belajar yang benar, jangan menguruskan soal wanita saja! Kau mau berita kau dengan Luna sampai ke telinga orang tuamu?”
Haris hanya duduk terdiam dengan kepala yang menunduk dalam.
“Bapak tidak ingin masalah ini sampai ke kampus lain ya! Kalau kalian masih ingin kuliah di sini, jaga sikap kalian, jaga image kampus ini, dan jangan berbuat seenaknya!”
“Kau juga Kalala! Lain kali, kalau temanmu membuat kekacauan, kau seharusnya mencegah mereka!”
Semuanya hanya terdiam, mengakui kesalahannya masing-masing.
“Ya sudah, mulai hari ini sampai enam hari ke depan, kalian harus membersihkan dan merapikan ruang seni dan gudang perpusatakaan!” seru Pak Haru penuh emosi.
“Apa? 7 Hari?” Haris seolah tidak terima.
“Iya, kenapa? Kau mau Bapak tambah jadi sebulan?”
Kalala langsung menginjak kaki Haris yang ada di sebelahnya, memberi kode kepada lelaki itu agar tidak protes dan manggut saja.
“Tidak, Pak. Kami setuju kok, cuma tujuh hari ini ‘kan, iya enggak mentemen?” tanya Kalala kepada Haris dan Shira.
Haris dan Shira sebenarnya keberatan, tapi mereka tidak ada pilihan lain.
“Iya, Pak, kami bersedia,” jawab Shira dan Haris bersamaan.
“Lagian! Kau juga, kenapa kamu sampai mendorong tubuh Shira, jadi deh kemarin ribut di atap!” Kalala menggerutu kesall jika mengingat bagaimana kejadian kemarin pagi itu berlangsung.
Flash back on
Jadi pagi itu, Haris yang sudah menunggu kedatangan Shira, ia sudah bersiap duduk manis di atas kursi kayu di atap gedung kampus. Dan saat Shira datang ia tersenyum menyambut kedatangan Shira.
Akan tetapi nampaknya, wajah Shira jauh dari apa yang Haris harapkan.
Wajah wanita itu tampak tengah murka padanya, apalagi sorot matanya yang seolah menunjukkan kekesalan yang begitu teramat dalam.
__ADS_1
Dan saat Shira sampai selangkah di depan Haris, wanita itu tidak segan melayangkan tamparan keras di wajah mantan kekasihnya itu.
Plak!
Wajah Haris langsung terbanting ke kiri. Lelaki meringis pun terkejut bukan main, menerima tamparan tanpa sebab dari wanita yang masih dicintainya itu.
“Kurang ajar ya kamu! Berani-beraninya kamu mutusin Luna disaat kamu sudah mendapatkan segalanya dari dia!” seru Shira.
“What the hell? Apa maksudnya ini, Shira?!” Kedua mata Haris membeliak, mengerungkan dahinya menatap Shira tidak percaya.
Shira sudah dikuasai oleh amarah yang menggebu-gebu di dadanya. “Kamu yang apa! ... Kamu jadi cowok gampang banget ya mutusin orang lain hanya karena tubuh!”
“Heh, Shira! Itu kau sendiri ‘kan yang menulisnya untukku?” Haris bertanya kebingungan.
Karena sebenarnya di surat yang pernah Luna lemparkan pada Shira itu adalah surat yang berisi ajakan, kalau Shira mau kembali lagi menjalin hubungan dengan Haris, dan Shira siap untuk menyerahkan segalanya termasuk tubuhnya. Dan di surat tersebut, Haris harus menemuinya hari ini tepat pagi ini di atap gedung kampusnya.
“Pikir dong! Gak mungkin aku ngirim hal beginian sama kamu! Lagi pula aku udah gak mau ya balikan sama lelaki kayak kamu!” seru Shira.
"Apa kamu bilang? Jangan mainin perasaan aku ya!" Haris langsung mendorong dada Shira karena kesal dan merasa dipermainkan olehnya.
“Heh! Culun minggir lo! Gue urusannya sama Shira ya, bukan sama elo!” Haris menatap Kalala tajam.
“Ya tapi, lo juga gak perlu pake dorong-dorong Shira dong!” teriak Kalala penuh emosi.
“Udah, Kal, udah. Biarin aku yang ngomong sama dia.” Shira mengambil alih posisi Kalala.
Dan kini ia berdiri tegap di depan Haris dengan wajah yang penuh tantang.
“Dengerin ya! Ini peringatan terakhir dari aku, Haris! Kalau Luna masih nyalahin aku karena putusnya hubungan kalian, aku enggak akan tinggal diem, Har! Aku muak dijadikan bahakn olok-olokan Luna, aku selama ini udah diem ya dengan tingkah laku kalian. Aku udah nahan diri biar aku enggak bilangin yang sebenarnya tentang kalian ke temen-temen!”
“Dan aku juga enggak mau tahu, kamu mau nganggap surat ini beneran dari aku atau enggak, yang pasti aku udah jelasin semuanya, kalau surat ini bukan aku yang mengirimnya! Dan kau juga, urus sana hubunganmu dengan Luna. Terlalu pengecut kalau kamu sampai ninggalin Luna hanya karena kertas tidak jelas ini!” Shira langsung merobek surat itu di depan wajah Haris, merobeknya beberapa kali hingga menjadi ukuran yang sangat kecil lalu di saat itu pula ia melemparkan potongan surat itu ke wajah Haris.
Potongan surat itu berjatuhan dan sebagain mengenai wajah Haris. Haris terpaku melihat perlakuan Shira padanya.
“Tunggu!” Haris memegang pergelangan tangan Shira, menatapnya dengan penuh harap. “Tapi, Shira! Masalah aku ingin kembali padamu itu, aku serius!” ucapnya dengan penuh keyakinan.
“Lepas gak?” Shira menajamkan kedua matanya, menyorot tangan Haris yang masih memegang lengannya. Wanita itu seolah tidak mempedulikan ucapan Haris padanya barusan.
__ADS_1
“Enggak! Aku enggak akan lepasin tangan kamu, sebelum kamu jujur kalau kamu masih nyimpen perasaan sama aku ‘kan?”
Shira tersenyum miring mendengar ucapan Haris barusan. Sungguh, rasanya ia ingin terbahak mendengarnya. “Cih! Jangan harap ya! Lagi pula aku sudah mendapatkan lelaki yang jauh, jauh, jauhhh lebih baik dari kamu! Dalam segala hal!” Tegas Shira penuh penekanan.
“Gak! Aku enggak percaya!” protes Haris.
"Terserah!"
Shira yang sudah muak dengan segalanya, ia pun terus mencoba menepiskan tangannya dari genggaman Haris. Selain itu, Kalala pun ikut membantunya agar Haris melepaskan tangan Shira.
“Udah cukup Haris, gila lo ya! Dasar cowok freak!” Seru Kalala begitu ia berhasil melepaskan tangan Shira dari genggaman Haris. Kalala pun menarik Shira, menjauhkan sahabatnya itu dari jangkauan Haris.
Akan tetapi, lagi-lagi Haris kekeh, ia masih berusaha untuk menarik lengan Shira, namun Kalala sebisa mungkin menghalanginya. Hingga tiba-tiba suara seseorang mengejutkan mereka semua.
“Haris!” teriak seseorang, membuat mereka langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Luna?!” pekik Shira membeliakkan kedua matanya.
.
.
.
Bersambung...
Akankah urusan mereka selesai sampai di sini???
Ramaikan kolom komentarnya dong.
__ADS_1