
19.00 malam.
Ditengah keramaian orang-orang yang ada di kafe, ada dua orang yang tengah bercengkerama asyik membiacarakan segala hal, yaitu siapa lagi kalau bukan Shira dan Kalala.
Setelah berpikir berulang kali, akhirnya Kalala menyanggupi diri untuk pergi menemani sahabatnya itu.
“Eh iya, untuk hari ini biar aku yang traktir kamu ya,” ucap Kalala penuh semangat.
“Serius, emang udah gajian?” tanya Kalala.
“Iya dong serius, kalau kamu mau nambah juga silakan, aku juga mau nambah ice creamnya. Tapi kalau masalah gajian, kayaknya baru sore ini uangnya masuk ke rekeningku.”
“Udah di cek?” tanya Shira memastikan terlebih dahulu, karena ia juga tidak ingin memberatkan Kalala dengan mentraktirnya jajanan yang cukup boros ini.
“Wait.” Kalala mengeluarkan ponselnya, ponsel yang ujung layarnya tampak retak akibat kejadian seminggu yang lalu saat dirinya hampir diperkosa orang.
Ia pun mengotak-atik ponselnya, lalu memasukkan pin untuk membuka m-banking miliknya.
Akan tetapi, sesuatu mengejutkan yang ia lihat langsung membuat kedua matanya membulat tidak percaya, bahkan Kalala langsung mengedip-ngedipkan matanya, menguceknya dan kembali memastikan jumlah nol yang tertera di layar ponselnya.
Shira yang tengah meneguk minumannya, ia terheran-heran melihat ekpsresi yang ditunjukkan Kalala saat melihat ponsel di tangannya. “Kenapa, Kal?” tanya Shira kepo.
Kalala menganga, melihat Shira dengan wajahnya yang cengo.
“Kal ....”
“Shira, tabok pipiku, Shir,” pinta Kalala masih dengan wajahnya yang cengo.
Shira tidak langsung menampar pipi sahabatnya, melainkan ia mencubit hidung Kalala cukup lama hingga dia kehabisan nafas.
“Huh, berarti aku enggak mimpi ‘kan, Shir?” tanya Kalala.
“Emangnya kenapa sih?”
__ADS_1
Kalala pun menunjukkan layar ponselnya kepada Shira. Shira langsung membeliakkan kedua matanya, melihat nominal yang tertera di layar ponsel sahabatnya itu yang berjumlah 34 juta.
Dan saat dilihat dari riwayat transaksinya, ternyata 4 juta itu dari gajinya, dan 30 juta itu dari pemberian bonus.
“Bonus apa ya?” gumam Kalala penasaran.
“Kamu dikasih bonus kali saya client kamu,” jawab Kalala.
Kalala pun berpikir dan ia ingat akan bonus yang pernah Jackson berikan padanya. Ia tidak tahu kalau Jackson memberikan padanya bonus sebanyak itu.
“Tuan Jackson,” ucap Kalala pelan.
“Jackson?” Shira mengernyitkan dahinya.
“Waduh! Gimana ini, Shira? Uangnya kebanyakan, aku jadi enggak enak sama adik iparmu itu,” ucap Kalala yang tiba-tiba ia teringat akan ajakan Jackson untuk membantunya menjadi calon istri bohongan.
“Ah enak aja kok. Udah tenang aja, kamu emang pantas mendapatkan bonus segitu dari Jackson, kemungkinan dia puas dengan pelayananmu,” ucap Shira.
Kini mereka berdua pun termenung dalam pikirannya masing-masing.
“Udah ‘kan? Ayo pulang,” ajak Akash, Shira pun mengangguk mengiyakan.
“Tapi, anterin Kalala pulang dulu ya,” ucap Shira.
Akash terdiam sejenak. “Boleh, tapi biar Edwin yang mengantarnya pulang, aku udah enggak enak badan nih, pengen buru-buru sampai ke rumah.”
“Enggak apa-apa ‘kan, Ed?” tanya Akash.
Ingin menolak, tapi tidak berani, akhirnya Edwin pun hanya bisa mengangguk mengiyakan perintan Tuannya. “Iya, Tuan, tidak apa-apa,” jawab Edwin.
“Eh, engga usah deh, Shir, aku pulang naik taksi aja,” ucap Kalala menolak, karena ia tidak ingin nanti di mobil berdua-duaan dengan Edwin.
“Kenapa?” tanya Edwin dengan peringai tatapannya yang tajam.
__ADS_1
“Hah? Em... Engga kenapa-napa, aku hanya tidak ingin merepotkan kalian saja,” ucap Kalala, tersenyum meringis.
“Terus, mau kejadian waktu itu keulang lagi?” tanya Edwin sinis, membuat Kalala terdiam kebingungan.
“Udah, kamu harus ikut aku pokoknya, tetangga yang antar jemput kamu juga hari ini enggak bisa jemput kamu ‘kan?”
Karena setelah kejadian itu, Kalala berinisiatif untuk menjadikan tetangganya yang tukang ojek sebagai ojek khusus antar jempuntnya, dan kebetulan hari ini ojek khususnya itu tidak dapat menjemputnya karena sedang sakit.
“Udah, ayo!” Akhirnya mau tidak mau Kalala pun ikut satu mobil dengan mereka. Dan seperti biasa, Kalala duduk di depan bersama Edwin, sementara Shira dan Akash duduk di belakang.
Edwin mengantarkan Shira dan Akash ke kediaman Baker, karena ada sesuatu hal yang perlu di urus oleh Akash di rumah ayahnya tersebut.
“Dah Kalala, hati-hati ya,” ucap Shira saat ia hendak keluar dari mobil.
Kalala mengangguk tersenyum kepada Shira, dan kini pandangannya pun sedikit teralihkan kepada sesosok lelaki yang tengah mematung di teras sana.
Jackson diam menunggu kedatangan Akash dan Shira, karena adanya hal yang perlu ia bahas. Ia juga melihat sejenak ke arah Kalala dan Edwin yang ada di dalam mobil.
Kalala jadi teringat kembali akan uang diberikan Jackosn padanya, ingin rasanya ia turun untuk berterima kasih kepada Jackson akan tetapi, Edwin terlebih dahulu melajukan mobilnya menjauh dari halaman rumah besar tersebut.
“Sekretaris Edwin, pastikan temanku sampai selamat di kostannya ya....” Teriak Shira saat mobil itu melaju menjauh darinya.
“Jadi benar, mereka serius berpacaran?” gumam Jackson dalam hati melihat kepergian Kalala dan Edwin.
Padahal jujur saja, harapannya begitu besar terhadap Kalala, ia ingin tahu seberapa banyak harta yang akan ayahnya berikan jika ia berhasil membawa Kalala ke hadapan ayahnya.
“Apa perlu aku merebut hatinya?” batin Jackson, tenggelam dalam pikirannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung