Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Memenangkan Hati Orang Tuamu


__ADS_3

Sepulangnya mengantar Akash ke rumahnya. Edwin kembali melajukan mobilnya menuju apartemen kediamannya. Selagi fokus mengendari mobilnya, pikirannya masih teringat akan perkataan Akash tadi pagi yang mengatakan kalau Jackson akan pergi bersama Kalala besok.


“Kemana mereka akan pergi?” gumamnya masih begitu penasaran.


Lampu merah di pertigaan jalan tampak menyala, Edwin menghentikan mobilnya sejenak di sana. Sambil menunggu lampu hijau kembali hidup.


Di depan zebra cross sana, terlihat seorang ibu-ibu tengah membawa beberapa pernak-pernik perhiasan. Dan ibu-ibu itu pun mendekat ke mobil Edwin.


“Permisi, Tuan. Dibeli Tuan lampu hiasnya,” ucap Wanita berwajah lusuh itu, menampilkan lampus hias berukuran sekepal tangan, yang di dalamnya terdapat patung kecil seorang putri juga dengan serigala putih yang ada di dekatnya.


Edwin membuka kaca mobil. “Berapa?”


“Lima puluh ribu aja, Tuan.”


“Saya beli dua ya, yang sama, putri dengan serigala kecil,” ucap Edwin menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan kepada si ibu itu.


Setelah di kemas, si ibu pun menyerahkan dua lampu hias itu kepada Edwin. “Tuan, uangnya kelebihan.” Si Ibu hendak mengembalikan satu lembar uang seratus ribu itu kepada Edwin, namun Edwin menolaknya.


“Sudah, buat Ibu saja, saya beli keduanya seharga itu,” jawabnya.


“Alhamdulillah, terima kasih, Tuan.”


__


Tepat pukul 22.00 malam, Edwin baru saja sampai di apartemnnya, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk di ruang TV.


Lalu ia pun kembali bangun dan membuka kantung plastik yang di dalamnya terdapat dua bola lampu hias yang sangat indah.


Edwin tersenyum memandanginya, sepertinya dirinya sudah tidak bisa menampik lagi perasaannya terhadap Kalala. Ia benar-benar menyukai wanita yang selama ini ia kenal sangat galak itu.


“Dasar Nona Cheetah, kenapa kamu betah banget sih tinggal di pikiranku,” gumamnya senyum-senyum sendiri, sambil memikirkan wajah garang Kalala.


Wajah cemberutnya, mata tajamnya, tingkah lakunya yang sedikit ceroboh, pun ucapannya yang pedas. Mengingat semua itu, perasaan Edwin seolah tengah terbang ke awang-awang.


“Biarlah, cukup aku saja yang merasakannya,” gumamnya. “Entah dia akan menyukaiku balik atau tidak, aku tidak masalah, selagi aku bisa menikmati rasa ini padanya, aku benar-benar sangat bahagia,” gumamnya dalam hati, menarik kedua sudut bibirnya semakin melebarkan senyumannya.


Tiba-tiba, pikirannya terhenti dalam bayang-bayang bagaimana mereka berciuman waktu itu. Bayangan yang selama ini ia anggap sebagai bunga tidur.


Edwin menarik nafas panjang, lalu mengembuskannya, sambil memejamkan matanya sejenak.


“Aneh banget rasanya, padahal cuma mimpi, tapi kenapa ciuman waktu itu terasa seperti nyata ya,” lirihnya pelan, merebahkan kepalanya di lengan sofa, sambil memandangi dua bola lampu hias di tangannya.


***

__ADS_1


Sementara itu, di kediaman Baker. Malam ini, tampaknya ada seseorang yang tengah benar-benar semangat dan begitu bahagia. Siapa lagi kalau bukan Jackson, si pengalah yang sering tertekan oleh ibunya.


Jackson baru saja selesai mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam koper.


“Yash! Akhrinya, Tuhan berpihak kepadaku,” gumamnya dalam hati begitu senang. Karena dengan begini, kedekatan antara dirinya dengan Kalala pasti akan berjalan lebih lancar.


“Emh, apa aku harus membawa oleh-oleh juga untuk orang tua dia nanti?” gumamnya. “Ahh, tapi oleh-oleh apa ya?” Ia berpikir sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, mengotak-atiknya, mencoba mencari barang yang bagus untuk mamanya Kalala.


Di pencarian mbah gugel, ia pun menemukan beberapa rekomendasi hadiah yang cocok untuk orang tua. Diantara yaitu, tas, dompet, sepatu dan bunga.


“Ah, iya, apa aku bawakan oleh-oleh tas saja ya?” gumamnya, tersenyum.


Tiba-tiba, ketukan pintu terdengar, Jackson menoleh, sambil berteriak. “Masuk.”


Ternyata Asten lah yang datang menghampiri anak kesayangannya itu.


“Kamu sudah siap, Jackson?” tanya Asten mendekat.


“Hm, iya, Bu, sudah siap,” jawabnya begitu semangat.


Asten menautkan kedua alisnya, menatap Jackson dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.


“Semangat banget, kamu. Kenapa?” tanya Asten yang begitu penasaran melihat ekspresi bahagia di wajah anaknya.


“Beruntung karena?”


“Karena aku bisa dekat dengannya, Bu. Tunggulah sebentar lagi, Bu. Aku pasti bisa membawa dia kehadapan ayah,” ucap Jackson bersungguh-sungguh sambil menampilkan senyuman manisnya.


“Ibu masih penasaran, gadis yang dimaksud kamu dan ayahmu itu seperti apa. Apa dia secantik Natasha Willona? Atau mungkin seperti Nia ramadani?”


“Dia tidak secantik itu, Bu. Tapi ....” Jackson terdiam, mengingat bagaimana ketusnya Kalala kalau tengah berbicara dengannya, tapi di balik ketusnya itu, Jackson dapat merasakan kalau Kalala termasuk orang yang peduli dan membawa hal positif.


“Tapi apa?” Asten masih menunggu ucapan selanjutnya dari bibir anaknya itu.


“Tapi dia benar-benar istimewa, Bu. Makanya ayah pun menyuruhku untuk mendapatkannya,” ucapnya pelan.


Asten bernafas panjang, lalu mengembuskannya pelan. “Hm, terserahlah, Ibu hanya bisa mendoakan saja, semoga gadis itu lahir dari keluarga berada dan mempunyai paras yang cantik, agar kelak, ibu tidak malu memperkenalkannya pada teman-teman, Ibu,” ucap Asten berdiri dari duduknya, lalu pamit pergi dari kamar Jackson.


Namun, sebelum ia membuka pintu kamar, Asten teringat akan sesuatu yang hampir saja ia lupakan.


“Jackson.” Panggilnya.


Jackson menoleh. “Iya, ada apa, Bu?”

__ADS_1


“Ibu berharap, kali ini kamu tidak akan gagal. Kau tahu ‘kan apa yang harus kamu lakukan di perusahaan itu? Menangkan tendernya, dan pulanglah sambil membawa kabar bahagia untuk kami,” ucap Asten memastikan.


Karena kepergiannya ke Surabaya tidak lain adalah karena urusan bisnis, dan ini adalah kedua kalinya Jackson dipercaya oleh Baker untuk memenangkan tander wilayah pembangunan. Meski dulu sempat ia kalah, tapi untuk kali ini, Jackson berharap besar ia akan memenangkannya.


“Hm, baik, Bu, aku yakin, aku pasti akan memenangkannya,” ucapnya penuh keyakinan.


“Baguslah, kalau kau yakin seperti itu. Ibu tidak ingin sampai kau kalah dan mengecewakan. Kau tahu sendiri bukan? Ibu paling tidak suka melihatmu kalah dari yang lain,” lanjut Asten. Jackson mengangguk ragu, karena sebenarnya ia pun tidak yakin 100% akan harapannya itu, ia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk keluarganya, termasuk agar Ibunya itu merasa bangga padanya.


Asten pun pergi dari kamar Jackson.


Lelaki itu kini terdiam di tepi ranjang, merenungkan dirinya sendiri, membayangkan hal apa yang akan terjadi padanya dan amukan seperti apa yang akan menyerang dirinya, jika ia sampai kalah yang kedua kalinya.


“Tuhan, aku mohon, sukseskan dan lancarkan semuanya. Jangan sampai, ibuku kecewa karena harapannya padaku,” gumamnya berdoa sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.


Karena Jackson sangat tidak ingin, kejadian satu tahun yang lalu kembali terulang, di mana, ibunya itu sampai mendiamkannya selama dua minggu lebih, hanya karena Jackson yang gagal memenangkan tender. Dan ia tidak ingin mendengar lagi kata-kata menyebalkan sekaligus menyakitkan di hati, ketika ibunya sudah membanding-bandingkan dirinya dengan Akash.


“Ya! Aku harus yakin, aku benar-benar yakin akan memenangkan keduanya, aku akan memendangkan tender itu dan aku pun akan memenangkan hati Kalala,” gumamnya penuh rasa percaya diri.


Ia pun kembali mengambil ponselnya, dan mengirimkan pesan singkat kepada Kalala yang tadi siang sempat mengubunginya untuk menanyakan soal penerbangan besok.


22.12 p.m


(Selain ingin memenangkan tender, aku juga ingin memenangkan hati orang tuamu—Jackson)


Ia pun mengirimkan pesan itu kepada Kalala via aplikasi chat berwarna hijau. Dan pesan itu adalah


sebagai balasa atas pertanyaan Kalala yang menanyakan.


13.40 p.m


(Apa tujuanmu ke Surabaya?—Kalala)


.


.


.


Bersambung...


Aduhai Bang Jack bisa aja nih, belum bisa dapatin hati si gadis eh mau dapetin hati orang tuanya dulu.


haha, lanjut enggak nih???

__ADS_1


Ramein kolom komentarnya dong....


__ADS_2