
“Tes urine?” tanya Tessa. “Kenapa harus tes urine?”
“Iya, dilihat dari gejalanya, kemungkinan besar Nyonya Shira sedang hamil, tapi untuk memastikannya kita harus tes urine terlebih dahulu.”
“Hamil?” Tess cukup terkejut mendengarnya. “Benarkah? Ah... ya Tuhan, semoga saja menantuku ini benar-benar hamil,” ucap Tessa begitu senang.
“Shir, kamu hamil,” ucap Kalala yang mematung di belakang Tessa, sambil tersenyum senang mendengar kabar kehamilan sahabatnya itu.
Sedangkan Shira wanita itu hanya tersenyum simpul, entah apa reaksi yang ia tunjukkan saat ini, akan tetapi sepertinya Shira tidak begitu siap dengan semua ini.
Dokter pun menyerahkan satu lembar tespek kepada Shira.
“Silakan, di cek dulu di kamar mandi,” ucap Dokter, Shira pun mengangguk.
Kalala mendekat, membantu Shira untuk bangun dari tempat tidurnya.
“Mau aku temani?” tanya Kalala.
Shira menggeleng lemah, menolaknya. “Tidak perlu, aku akan ke kamar mandi sendiri,” jawabnya.
Shira melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Menutup pintu lalu menguncinya dengan rapat.
Hatinya berdebar tidak karuan. Berbagai macam kemungkinan kini tengah mememnuhi otaknya. Ia bingung, jika sampai dirinya benar-benar hamil, lantas bagaimana dengan kuliahnya? Bagaimana dengan tanggapan orang-orang disekitarnya? Dan jujur saja, ia pun belum siap seutuhnya untuk menjadi seorang ibu.
“Ya Tuhan, bagaimana ini?” gumamnya begitu gundah.
Ia menunduk, memandangi lembar tespek yang ada di tangannya. “Apa benar aku hamil?” batinnya.
__ADS_1
Setelah beberapa detik melamun, memandangi tespek yang ada di tangannya, akhirnya Shira pun memberanikan diri untuk mengetesnya secara langsung.
Begitu alat tespek itu diangkat dari air seni yang ada di dalam wadah kecil, kini dua garis merah pun tampak muncul di sana.
“Dua garis merah?” gumamnya.
Buru-buru ia kembali membaca aturan dan kegunaan di kemasan tespek yang sudah dirobeknya itu. Ia pun membeliakan kedua matanya saat tahu, jikalau garis dua yang muncul itu artinya ia positif hamil.
Ia melemaskan badannya, terduduk di atas toilet. Memegangi tespek yang menyatakan bahwa dirinya hamil.
Ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri atas kenyataan yang dihadapinya saat ini.
“Shira ....”
“Shira.” Panggilan Kalala di luar pintu kamar mandi terdengar memanggil namanya.
“I-iya, sebentar,” jawab Shira dari dalam kamar mandi.
Sebelum keluar, ia memastikan terlebih dahulu kalau wajahnya tampak baik-baik saja, ia pun mencoba memaksakan senyumnya, agar tampak seperti biasanya.
“Gimana?” tanya Kalala yang sudah ada di depannya, saat ia baru membuka pintu kamar mandi.
Shira kembali tersenyum paksa. “Ini.” Shira menunjukkan tespek itu kepada Kalala.
“Garis dua?” Kalala membeliakan kedua matanya. Lalu Shira pun menyerahkan tespek itu kepada Dokter tersebut.
“Jadi gimana, Dok? Apa hasilnya positif?” tanya Tessa tidak sabar.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum mengangguk. “Iya, menantu Ibu positif hamil,” jawab Dokter tersenyum ikut bahagia melihat garis dua di tespek itu.
“Benarkah? Ah... ya Tuhan, terima kasih.” Buru-buru Tessa memeluk menantu kesayangannya itu dengan erat.
“Ah, Shira .... Ibu sangat senang sekali. Sebentar lagi, Ibu bakalan punya cucu dari kamu,” ucapnya sambil mengapit kedua pipi Shira memandanginya dengan haru bahagia.
Shira tersenyum, lagi-lagi senyuman itu tampak seperti dipaksakan. “Iya, Bu.”
“Dokter, kalau boleh tahu, usia kandungannya berapa ya, Dok?” tanya Tessa menoleh kepada Dokter yang ada di sampingnya.
“Untuk memastikan usia kehamilannya, bisa dihitung dari HPHT-nya. Atau lebih baik, Nyonya langsung periksakan ke dokter obgyn, nanti saya akan memberikan rujukannya,” ucap Dokter tersebut.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1